
Haura mencocokkan kedua foto yang di genggamnya, Haura sangat terkejut, perasaannya melayang, tak percaya apa yang sedang dia lihat sekarang,"Fo..fo..foto ini? Bukankah ini Krystal? Kata haura dan berlutut, semua otot-otot kakinya melemas.
Ani berlari menaiki tangga mendengar teriakan Haura dari dalam kamar Dion, Ani melihat Haura berlutut di atas lantai, Ani mendekati Haura dengan penuh kecemasan,"Haura? Kamu kenapa sayang?
Haura menatap Ani senduh,"Bi...bi...bibi?
"Kamu kenapa Haura?
Haura menunjuk bingkai foto yang di gantung di pintu masuk kamar Dion, Ani berdiri dan memperbaiki foto itu,"Foto ini? Bibi kira anak itu sudah menyimpannya, mungkin dia lupa.
"Apa dia Wanita yang sangat di cintai Pak Direktur?
Ani mengangguk,"Iya, tapi dia hanyalah masa lalu.
Haura menangis dan berkata pada Ani,"Bibi apa yang harus aku lakukan? Aku telah melakukan kesalahan besar, Bi aku tidak pantas. Setelah mengatakan itu, Haura pergi meninggalkan Ani yang masih kebingungan dengan apa yang di katakan Haura padanya.
*****
Di jalan Haura terus menangis,"Aa..aa..aku sangat keterlaluan, ternyata Pacar yang sangat di cintai Pak Direktur adalah Krystal, gadis yang sudah sangat baik hati mau mendonorkan matanya untukku, apa yang akan aku lakukan? Apa Direktur akan marah padaku?
Beberapa tahun yang lalu, saat itu Dion ada kelas, dia menyuruh Krystal menunggunya di rumah, tapi karena bosan Krystal memutuskan jalan-jalan sementara menunggu Dion menyelesaikan kuliahnya, saat mengunjungi Mall Krystal tidak sengaja bertemu dengan Haura, Krystal mendekati Haura dan mulai berbincang dengannya,"Apa yang kamu lakukan di sini? Itu adalah pertanyaan pertama yang dia tanyakan padaku,"Kamu siapa? Tanyaku penasaran. "Hai namaku Krystal. Krystal menunggu Haura menjambat tangannya, tapi Haura mengarahkan tangannya ke arah yang berlawanan, Krystal mengangkat sebelah tangannya dan melambaikannya di depan mata Haura tapi Haura tidak merespon. Apa dia buta? Batin Krystal. Krystal meraih dan menjabat tangan Haura, dan membisikkan sesuatu padanya,"Aku akan mendonorkan mataku untukmu. "Apa? Kenapa? Kamu baru saja mengenalku, tapi bagaimana bisa dengan ikhlasnya kamu memberi matamu padaku? Tanya Haura semakin penasaran. "Hidupku tidak akan lama lagi, jadi dari pada aku di kubur tanpa melakukan apapun di usia muda, aku memutuskan memberi mataku ini padamu, lagipula kamu sangat pantas memiliki mataku, ku harap dengan mata yang aku berikan padamu, kamu bisa menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus. "Terima kasih, kamu adalah penyelamatku, kamu bidadari yang sangat baik. "Terima kasih, tapi aku minta satu hal padamu, apa boleh?. Haura mengangguk menyetujui, Kystal lalu membisikkan sesuatu pada Haura.
"Itulah awal mula aku bertemu dengan Krystal. Haura menepihkan mobil Dion dan terus menyesal,"Aku tidak tahu jika gadis yang mendatangiku itu adalah pacar Pak Direktur, aku tidak mengambil matanya tapi dia memberinya sendiri padaku.
Ponsel Haura berbunyi, Dion menelponnya, Haura tidak mengangkat telpon Dion,"Bagaimana aku bisa bertemu dan menatap Pak Direktur dengan mata ini, pantas saja aku selalu menangis saat melihat Pak Direktur, itu karena mata ini punya hubungan erat dengan Pak Direktur.
Dion cemas dan takut, jika terjadi sesuatu pada Haura di jalan, Dion ingin sekali menyusul Haura, tapi sebentar lagi akan ada launcing di Mall, Dion tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Haura kembali.
Tak lama kemudian Haura datang dan memberi Dion dokumen yang dimintanya, Dion menatap Haura, Haura terlihat tidak bersemangat berbeda saat dia pergi ke rumahnya. Apa terjadi sesuatu di rumah? Apa mama melakukan sesuatu padanya? Tidak, mama sangat menyukainya, dia tidak akan mengatakan hal-hal aneh...Pikir Dion.
Waktu pulang kerja akhirnya tiba, Haura mencoba pulang sendiri, dia berusaha menghindari Dion, dia tidak bisa bersama Dion setelah mengetahui kebenaran tentang Krystal, Haura merasa bersalah, karena berani mengganti posisi penolongnya itu, Haura melihat ke sekeliling dia tidak melihat sosok Dion di manapun, Haura berjalan dengan pikiran yang was-was, takut jika saja Dion menemukannya,"Semoga saja Direktur tidak menemukanku, Ya Allah kumohon. Sesuai permintaan Haura, dia tidak bertemu dengan Dion, Dion terus menelponnya tapi Haura tidak berani menjawabnya.
Dion melihat ponselnya dan bertanya pada ponselnya,"Kenapa dia tidak mengangkat telponku? Apa sebenarnya yang menganggu pikirannya? Kenapa dia seperti bertingkah seolah-olah menghindariku.
__ADS_1
*****
Keesokan paginya, Perjalanan Haura ke Perusahaan Sophie terasa lamban, apalagi sekarang pikiran Haura berkecamuk, mulai dari Dion yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya, dan menyuruh naik ke atas mobilnya, tidak cukup sampai di situ, Dion terus menanyakan kenapa Haura terus bertingkah aneh belakangan ini,"Kamu sebenarnya kenapa?
"Aku tidak apa-apa. Apa aku katakan saja, jika mata yang sekarang aku gunakan adalah mata Krystal? Pikir Haura.
Dion terlihat cemas, dia menepihkan mobilnya,"Kenapa Bapak berhenti?
Dion gemetar ketakutan, dia memberanikan dirinya menyentuh kedua pipi Haura, nafas yang terdengar jelas membakar hati Haura, Dion lalu menempelkan kening Haura pada keningnya,"Kamu sakit? Kamu terlihat pucat, badanmu juga panas.
"Aku baik-baik saja, hanya saja akhir-akhir ini aku banyak pikiran.
Dion kembali menatap Haura. Aku takut jika kamu sakit, kamu juga akan meninggalkanku seperti Krystal, kamu tidak sedang sakit parah kan, aku takut, bahkan sekarang tanganku masih saja bergetar...Batin Dion, Dia lalu memegang kepala Haura dan mengecup keningnya.
Menerima kecupan dari Dion, membuat pipi haura merah dan memanas,"Pak sebaiknya kita ke Mall saja, kita hampir terlambat.
"Kamu benar. Keduanya bertingkah kikuk, seolah seseorang sedang memorgoki mereka melakukan hal yang tidak-tidak.
Dion yang melihat tingkah Haura terkekeh. Lucu sekali...Pikir Dion.
"Kamu jangan terlalu memaksakan bekerja, Kata Dion sebelum Haura turun dari mobil.
"Terima kasih Pak.
Haura mempercepat langkahnya, agar Dion tidak menyusulnya, dia bergegas dan tiba di gudang, dia langsung masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintunya, Haura duduk dan memegang dadanya, dia merasakan jantungnya berdegup dan juga sakit tak tertahankan,"Apa lagi ini? Kenapa dadaku sesak, sakit sekali katanya dan membuat Haura tak sadarkan diri di atas mejanya.
*****
Vovi datang ke gudang dan menanyakan Haura kepada Denis,"Denis Ibu Haura ada di dalam?
"Iya Bu Vovi.
Vovi melanjutkan langkahnya dan terhenti di depan pintu tertuliskan Manajer Gudang, Vovi membuka pintu dan heran melihat Haura tertidur di atas meja,"Dasar bocah ini! Apa kau susah tidur lagi, atau karena memikirkan Pak Direktur semalaman membuatmu tak tidur? Aneh kenapa tak ada jawaban? Dia mempunyai telinga yang peka, bahkan tadi dia harusnya sudah terbangun saat aku membuka pintu. Vovi berjalan mendekati Haura, dan mengoyang bahu Haura pelan dan Haura nyaris terjatuh, beruntung Vovi segera menahan tubuh Haura,"Haura? Bangun, kamu kenapa, Denis? Apa kau masih di luar?.
__ADS_1
Tak ada jawaban, Vovi kembali meletakkan Haura di atas kursi putarnya, perasaan Vovi takut bercampur cemas menjadi satu,"Denis! Teriak Vovi.
Denis segera mendekati Vovi yang teriak seolah dikejar setan,"Ada apa Bu?
"Cepat bantu saya membawah Haura ke depan, cepat!
"Iii..iii..iya Bu.
Taksi yang di pesan Vovi, tiba sesaat mereka sudah mengotong tubuh Haura keluar dari gedung, Vovi membuka pintu taksi dan menyuruh Denis memasukkan Haura ke dalam mobil,"Denis kamu jaga di gudang dan jangan beritahu siapapun soal peristiwa ini kata Vovi sebelum taksi pergi.
Denis masih berdiri di depan Mall dan berpikir,"Tadi Ibu Vovi menyuruh saya untuk tidak memberitahu kepada siapapun soal keadaan Ibu Haura, tapi tadi saat aku mengotongnya keluar ada banyak pelanggan yang melihat, sudahlah lebih baik aku tutup mulut saja kata Denis dan kembali ke dalam gudang.
*****
Vovi dan Haura sudah tiba di depan Rumah sakit, kereta dorong dan beberapa perawat juga dokter magang menyambut Haura,"Ada apa dengan pasien ini? Tanya dokter muda itu.
Vovi menggeleng dan mengatakan,"Saya tidak tahu, saat saya masuk ke dalam ruangannya, dia sudah tak sadarkan diri.
"Baik, sekarang anda mengisi administrasi pasien, kami akan membawanya ke ruang UGD.
Vovi mengangguk dan segera menuju ruang administrasi.
Sementara dokter dan juga perawat membawa Haura segera ke UGD. Apa ini gagal jantung? Suara detak jantung yang kudengar tadi nyaris tak terdengar, aku tidak boleh berasumsi sendiri, aku harus segera memberitahu Dokter Panji.
Haura sudah berada di ruang UGD, dokter magang segera menghubungi Dokter Panji.
"Halo Dokter Panji?
"Iya ada apa?
"Dok ada pasien UGD sepertinya gagal jantung.
"Apa?
__ADS_1