Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 6 Terima Kasih Dion


__ADS_3

Dion yang kelelahan karena mengikuti lomba antar desa kemarin dengan Krystal, membuatnya masih tertidur pulas, bahkan sinar matahari yang mulai menyinarinya pun tidak dihiraukan olehnya, dia masih saja menikmati tidurnya, tetapi ditengah tidurnya yang pulas dan mungkin sedang bermimpi indah, tiba-tiba handphone Dion berbunyi nyaring, membuatnya harus bangun dan memaksanya untuk membuka matanya. Dion mengangkat telpon dan mendekatkan handpohenya pada telinganya dan kembali menutup matanya.


"Haloooo, met pagi Dion. Ayo bangunnnn.." suara nyaring dari seberang membuat Dion menjauhkan handphone dari telinganya.


Jam segini udah nelpon, tumben? Ada apa yah, biasanya dia jarang menghubungiku karena sibuk mengurus kedua orang tua dan juga adik-adiknya dikampung, apa dia ada masalah? Batin dion,"Ada apa Cintya?"


"Nggak, Aku Cuma kangen kamu. Apa kamu kangen aku juga?"


"Ehmmmm, Oh ya apa kamu sudah sarapan?"


"Belum, apa kamu terkejut? Maaf tapi ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.


"Hal apa? Katakan saja.


Mama ingin bertemu denganmu Dion. Kata mama, kapan Dion datang melamarku?"


"Apa?!?!" dion yang mendengar kata melamar membuka matanya, bahkan mengusir kantuknya dan membuatnya segar bugar karena terlalu terkejut atas pertanyaan mengerikan dari Cintya.


"Kenapa kamu teriak, Dion?"


"Maaf, Cintya. Tapi menurutku kamu salah paham, tapi bukannya mama kamu ada di kampung?"


"Kok salah paham? Kita kan pacaran. Wajar jika aku menanyakan keseriusanmu, Dion." Mama datang dari kampung, sekarang dia sedang menonton TV di dekatku.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan ini? Bagiku pertanyaan mamamu sangat mengejutkan, lagipula aku masih terlalu muda untuk membahas masalah seperti ini, Memang benar kita pacaran. Tapi soal nikah, aku tidak pernah berpikir untuk menikahimu."


"Ja.ja...jadi selama ini kamu hanya mempermainkan aku saja?" Tias mulai menangis.


"Maaf, Tias." Aduh, apa tingkah wanita yang sudah dewasa seperti ini? Bagaimana aku mengatasinya, harusnya wanita yang lebih dewasa lebih bijak dan menerima keputusan orang lain, tapi Cintya bertingkah seperti gadis ABG, apa karena mamanya? Pikir dion cemas.


"Kau jahat Dion! Dasar laki-laki tidak berperasaan. Sekarang juga kita putus!"


"Cintya? Tunggu dulu. Cintya memutuskan sambungan telepon sementara Dion terpaku menatap Krystal yang tiba-tiba saja telah berdiri di pintu kamarnya dan memegang gagang pintu.


"Pagi, Dion." Sapanya riang.


"Krystal? Sejak kapan kamu disitu?" Tanya Dion panik.


"Sejak tadi dan aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu."


"Jadi kamu mendengarnya? Aku baru saja putus dengan salah seorang pacarku. Dia adalah pacar keenamku." Tapi sekarang itu bukan permasalahannya, dengan konyol dion menutup bagian dadanya yang telanjang itu," kamu melihat semuanya, seolah dion adalah seorang korban.


Krystal mencoba mengalihkan pembicaraan dan juga pandangannya,"Kamu tidak terlihat sedih."


Dengan polosnya seorang dion pun berhasil teralihkan dan menjawab semua pertanyaan Krystal. "Benar. Aku merasa tenang dan terbebas dari beban. Ini baru satu orang yang aku putuskan tapi sangat menyenangkan. Apa kamu senang melihatku seperti pengecut?"


"Tidak. Menurutku tindakanmu sudah benar, hanya saja jangan terburu-buru memutuskan sesuatu. Tapi jika itu membuatmu tenang berarti tindakanmu sudah tepat."


"Syukurlah kalau kamu menilai tindakanku sudah benar."

__ADS_1


"Oh, ya Dion. Soal kemarin. Terima kasih ya sudah menolongku. Aku minta maaf karena tidak mendengarkan kata-katamu."


"Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu. Tapi aku penasaran dengan wajahmu, Krystal. Apa wajahmu selalu terlihat putih seperti salju?"


"Kulitku memang seperti itu."


"Pantas. Bahkan lalat saja malu hinggap di wajahmu."


Entah kenapa, setiap kata-kata dan kritikan yang diucapkan Krystal selalu benar. Membuatku semakin teguh dalam bersikap, Dion membatin.


"Oh, ya, Dion. Kakek mana?"


"Ada di taman." Dan sebaiknya kamu segera pergi dari kamarku Krystal, kau tahu? Tindakanmu tiba-tiba membuka pintu kamar seorang pemuda adalah tindakan yang tidak sopan, bagaimana jika aku tak memakai sehelai benang pun saat kau membuka pintu kamarku.


Tanpa menjawab, Krystal kemudian pamit ke taman menemui Kakek Faiz dan segera menutup pintu kamar dion.


*****


Tanpa sepengetahuan Krystal dan Kakek Faiz, diam-diam Dion memperhatikan mereka. Pemuda itu berdiri tidak jauh dari taman, mengintip dari balik tembok dan mulai mengambil gambar mereka.


"Kakek, mawarnya sangat wangi. Aku menyukainya." Krytal terus mencium bunga mawar yang diberikan padanya.


Senyuman itu, rasanya aku ingin terus melihat dan memiliki senyuman itu selamanya. Aku benar-benar menyukainya, gumam Dion ketika melihat senyuman Krystal.


"Hei tukang khayal, apa yang kamu lakukan disitu? Apa gigitan semut tidak kamu rasakan?" Teriakan Krystal mengagetkan Dion.


"Semut apa? Aduh, dasar semut-semut nakal!"


"Makanya jangan mengganggu mereka...."


"Nona muda sok tahu!"


"Hahahahahaha.. Lumayan bagus juga panggilan itu untukku, Dion."


"Hei! Kamu mau kemana?" Teriak Dion ketika Krystal beranjak pergi.


"Bukan urusanmu!"


"Ayolah, Krystal. Kamu mau kemana?"


"Ke bukit. Kamu mau ikut?"


"Iya."


Dion kemudian mengikuti langkah Krystal menuju bukit. Diperjalanan mereka bertemu seorang nenek yang sedang memikul kayu bakar. Krystal kemudian menghampiri nenek tersebut lalu mengambil kayu yang dipikulnya.


"Nenek, kenapa nenek yang membawa kayu bakar ini? Kemana paman? Biasanya paman yang mengambil kayu."


"Terima kasih, Nak Krystal. Pamanmu pergi ke kota jadi nenek yang mencari kayu."

__ADS_1


"Nenek baik-baik saja? Nenek istrahat saja dulu. Nenek kelihatan lelah."


"Rumah nenek sudah dekat." Ucap si nenek sambil terus berjalan.


Gadis ini selalu baik pada setiap orang, rasanya aku makin sulit melepaskannya, kembali Dion merenung.


"Hei, tukang khayal! Apa kamu tega membiarkan gadis sepertiku membawa kayu bakar?"


"Aku akan membantumu." Ucap Dion lalu mengambil kayu dari Krystal yang menatap heran. Aneh, biasanya dia akan berceloteh panjang lebar dulu baru bertindak, pikir Krystal.


Setelah si Nenek tiba di rumahnya, Krystal dan Dion kemudian pamit melanjutkan perjalanan mereka menuju bukit.


"Hei, tukang bantu dan dermawan. Kenapa kamu sangat menyukai tempat ini?" Tanya Dion ketika mereka tiba di atas bukit.


"Saat pertama kali ke desa ini, ayah mengajakku ke tempat ini. Udara disini sangat segar. Saat itu aku bisa melihat wajah ayah yang tersenyum. Ayah bisa melepaskan masalah dan beban yang ditanggungnya. Saat ayah tiada, aku baru tahu jika ayah mengidap penyakit. Karena itu ayah selalu datang ke sini untuk mendapatkan udara segar agar sehat. Jika merindukan ayah, aku akan ke tempat ini. Aku bisa merasakan tangan hangat ayah yang menggenggam tanganku yang kecil. Ditempat ini pula aku merasakan kesedihan, karena ayah meninggal disini. Aku merasa bersalah karena terlambat menyusul ayah. Andai saja aku lebih cepat, aku tidak akan menemukannya terbujur kaku. Aku pasti bisa membawanya ke rumah sakit Ayah, maafkan Krystal." Krystal terduduk ditanah, menangis meratapi ayahnya.


Dion terharu melihat Krystal. Dia ikut bersimpuh lalu memeluk Krystal yang masih menangis.


"Aku merindukan ayah. Dion, apa ayah akan memaafkanku?"


"Dengar, Krystal. Ini sama sekali bukan salahmu. Kematian itu telah diputuskan oleh-Nya, tidak ada kaitannya dengan kita manusia. Bukan kamu yang membuat ayahmu meninggal tapi itu sudah menjadi takdir dan akhir dari hidupnya didunia ini."


Krystal lalu melepaskan pelukan Dion.


"Terima kasih, Dion."


Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa tenang saat bersama Dion? Apakah aku jatuh cinta padanya? Krystal refleks berdiri menyadari pikirannya telah salah arah.


"Ayo kita pulang Dion, hari sudah sore." Ajak Krystal dengan jantung berdebar kencang..


*****


Semalaman Dion gelisah memikirkan Krystal. Memikirkan perasaan aneh yang hadir dihatinya pada gadis itu.


Apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Lalu cinta seperti apa yang aku rasakan? Aku sendiri tidak tahu..


Dion menatap langit-langit kamar mencari jawaban atas pertanyaannya.


Hariini Dion memutuskan akan mengutarakan perasaannya pada Krystal. Kakek Faizsetuju ketika cucunya itu menyampaikan niatnya. Selama ini Dion dengan mudahnyamenyatakan cinta tanpa memahami maknanya. Dion terlebih dulu membersihkan badannya danmemakai pakaian yang rapi, dia memantapkan hati dan mulai menyusun kata-katayang akan dia ucapkan untuk Krystal nantinya, suara siulan yang bersenandungtak berhenti keluar dari mulut dion, dia begitu berharap jika gadis itu akanmenerima pernyataan cintanya, walaupun terlalu cepat tapi dion sudah yakinbahwa keputusannya tepat, berbincang dengan Cintya kemarin dan nasehat keras Krystalmembuatnya menyadari suatu hal, jika dia lelaki jantan, dia tidak seharusnyamempermainkan dan melukai hati seorang wanita. Dion yang sudah siap danberpenampilan menarik meminta restu dan izin dari kakeknya, kakek dengan senanghati member restu, dion pun melangkahkan kakinya ke rumah Krystal yang tak jauhdari rumah kakeknya, setiap langkah kakinya dion terus berdoa, semoga tuhan tidak mematahkan semangatnya


Hai para readersku, gimana nih kbar kalian?


Tetap semangat lagi dong ngasih dukungan, vote, comment dan likenya yah.


biar aku lbh semngat lgi nih reader bcax.


eh iya jgn lupa follow jg yah.


ikutin terus mengejar cintamu yah.

__ADS_1


Thank U 😊😊


__ADS_2