Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 7 Pernyataan Cinta Dion


__ADS_3

Ketika tiba di rumah Krystal, bukan gadis itu yang membuka pintu melainkan seorang pemuda tinggi, putih dan tampan.


"Krystal ada?"


"Ada. Silahkan masuk."


Dion melangkah masuk ke dalam rumah. Nampak Krystal tengah berbaring di sofa sambil menonton TV. Dion duduk di sebelah Krystal. Gadis itu bergerak bangun karena kaget.


"Kamu kok akhir-akhir ini jarang ke rumah kakek?"


"Ada hal mendesak yang harus aku kerjakan. Bagaimana keadaan kakek?"


"Kakek baik-baik saja. Kakek mencarimu dan memintaku menemuimu."


"Kakek atau kamu yang ingin menemuiku?" Krystal tertawa. Gadis itu lalu mengajak Dion ke taman. Mereka duduk di sebuah kursi ukir yang terbuat dari batu.


"Ada apa? Tumben kamu datang mencariku? Biasanya aku yang kerumah kakek mencarimu." Dion terdiam sejenak, menetralisir rasa gugup yang hadir.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Sesuatu yang penting."


Pemuda itu kemudian berdiri lalu bersimpuh di depan Krystal sembari memegang tangan gadis itu.


"Sebenarnya, selama ini aku merasa nyaman berada didekatmu. Aku mencoba untuk menjauh tapi hatiku seperti tidak rela. Aku mencoba untuk tidak memikirkanmu tapi wajahmu selalu terbayang. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan dan kehilangan dirimu. Entah ini cinta atau apa namanya, aku tidak tahu. Apakah kamu mau jadi pacarku? Salah, seharusnya will you marry me?"


Krystal tertegun sesaat.


"Dion, aku..."


Krystal tak melanjutkan ucapannya ketika pemuda yang tadi membuka pintu untuk Dion mendadak keluar menghampiri mereka. Krystal lalu berdiri disamping pemuda tersebut sembari merangkul lengannya. Dion tak mengerti namun hatinya mulai gelisah.


"Dion, maafkan aku. Selama ini aku tidak jujur padamu. Aku sudah bertunangan dengan Panji. Aku sangat mencintainya. Maafkan aku."


Dion tersenyum.


"Kamu memang jahat, Krystal. Selamat ya atas pertunangan kalian. Kakek pasti senang mendengar kabar ini."


Saat meninggalkan rumah Krystal, kaki Dion seolah tak menjejak bumi. Langkahnya terasa sangat ringan karena hatinya terluka. Dion merasa marah, sedih, kecewa bercampur jadi satu. Dion, si palyboy pertama kali jatuh cinta yang sesungguhnya namun disaat bersamaan dia harus menelan kekecewaan.


"Ada apa apa dengan tuan mudaku ini? Pulang dari rumah Krystal kok malah kelihatan sedih?" Sambut Kakek Faiz ketika Dion tiba di rumah.


"Dion sakit, Kek."


"Sakit? Sakit apa? Mana yang sakit?"


Dion menunjuk dadanya.


"Sakit jantung? Masih muda kok sakit jantung?"


"Akh, Kakek. Hati Dion yang sakit. Serasa tercabik-cabik, terluka, berdarah."


"Berdarah? Mana darahnya?"

__ADS_1


"Dion patah hati Kakek. Selama ini Krystal ternyata telah bertunangan. Dia akan segera menikah." Dion mengusap matanya yang basah. Melihat kesedihan cucunya, Kakek Faiz ikut menangis.


"Itu artinya kamu sangat mencintai, Nona Muda."


"Benarkah, Kakek? Jadi seperti ini rasanya cinta?"


"Inilah cinta, Dion. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan selain cinta itu sendiri."


"Kalau Dion tahu rasanya sakit seperti ini, Dion tidak akan mau jatuh cinta. Apalagi kehilangan cinta, kehilangan Krystal yang sebentar lagi akan menikah." Mata Dion kembali basah lalu menetes dipipinya.


"Maafkan Kakek, Dion. Andai saja Kakek tahu jika Krystal telah memiliki calon pendamping. Sayang sekali, Kakek juga tidak tahu."


Sejak hari itu, Dion dan Krystal tidak pernah lagi bertemu. Krystal juga tidak pernah lagi berkunjung ke rumah Kakek Faiz untuk melihat bunga mawar kesukaannya. Kakek Faiz semakin resah melihat kondisi Dion, pemuda itu menjadi malas makan dan betah berdiam diri dikamarnya. Dion seolah kehilangan semangat hidup.


Beberapa kali Kakek Faiz mencoba membujuk Dion namun usahanya sia-sia belaka. Dalam pikiran Dion hanya dipenuhi bayangan Krystal. Hal yang tidak pernah dia alami selama ini. Dion tidak pernah terluka karena masalah cinta.


"Dion." Panggil Kakek Faiz. Dion yang terbaring lemah di pembaringan hanya melihat sekilas lalu kembali tidur.


"Dion, ayo makan, Nak. Sudah beberapa hari ini kamu tidak makan. Badanmu jadi lemah. Kakek tidak menyangka kehilangan Krystal membuatmu jadi seperti ini."


"Kakek, tolong panggilkan Krystal. Aku rindu ingin bertemu dengannya. Aku bisa gila jika tidak melihatnya. Aku ingin membantunya mencari kakak dan ibunya."


Kasihan kamu cucuku. Kamu tidak tahu, saat ini Krystal sudah pindah ke rumah calon suaminya untuk mempersiapkan pernikahannya. Kakek tidak sanggup menyampaikan padamu..


Hari-hari berlalu. Krystal tak terdengar lagi kabarnya. Beberapa kali Kakek Faiz menanyakan keberadaannya pada bibi yang menjaga rumahnya, namun jawabannya sama sekali tak menggembirakan. Sementara itu liburan Dion akan segera berakhir namun kondisinya yang lemah tak memungkinkan pemuda itu untuk berjalan.


"Dion, bangun, Nak. Sudah cukup kesedihanmu. Untuk apa menangisi perempuan yang akan segera menikah? Masih banyak gadis diluar sana yang lebih cantik dari Krystal."


Dion bangun lalu bersandar bantal.


"Baiklah, Dion. Kalau kamu memang sangat mencintai Krystal, Kakek ijinkan kamu mengejar cintamu itu."


"Tapi Krystal sudah bertunangan dan akan segera menikah, Kek."


"Jangankan pertunangan. Pernikahan saja bisa dibatalkan. Setidaknya kamu sudah berjuang cucuku. Kejar cintamu. Jika pada akhirnya perjuanganmu tidak berhasil. Setidaknya kamu telah berusaha. Naluri kakek mengatakan, jodoh Krystal adalah kamu."


"Kakek benar. Aku harus berjuang demi cintaku. Krystal harus tahu kalau aku benar-benar mencintainya." Aku tidak seharusnya berdiam diri seperti ini.


*****


Pagi yang cerah secerah hati Dion yang telah bangkit dari kesedihannya. Pemuda itu telah siap untuk mengejar cintanya.


"Assalamu Alaikum."


Kakek Faiz dan Dion yang tengah menikmati teh hangat di ruang tengah saling pandang ketika terdengar suara dari luar.


"Kakek."


"Krystal?" Kakek Faiz dan Dion kompak menyebut nama Krystal. Krystal tersenyum lalu mencium tangan Kakek Faiz.


"Kamu kok pucat dan kurus, Dion? Kamu sakit ya?"

__ADS_1


Dion yang tak menyangka kehadiran Krystal yang tiba-tiba hanya bisa tersenyum bahagia. Pemuda itu tak kuasa berkata-kata.


"Ada apa hingga sepagi ini Nak Krystal muncul di rumah Kakek?"


"Aku kangen sama Kakek."


"Tidak kangen sama aku?" Dion cemberut. Krystal tertawa.


"Krystal, apa kamu masih ingat janjimu?"


"Janji apa?"


"Janji ikut denganku ke Jakarta untuk mencari ibu dan kakakmu. Kamu juga berjanji untuk membantuku memutuskan hubungan dengan semua gadis yang terikat hubungan denganku. "


"Kamu serius?"


"Aku serius untuk meninggalkan mereka semua. Bagaimana? Kamu akan ikut denganku?"


"Iya. Aku akan ikut denganmu. Panji sudah memberiku ijin. Alasanku kesini sebenarnya karena masalah itu."


Sempurna! Panji telah melakukan kesalahan besar. Ini kesempatanku untuk merebut Krystal darinya, Batin Dion bersorak kegirangan.


Keduanya kemudian pamit. Nampak Panji dan bibi penjaga rumah mengantarkan Krystal ke rumah Kakek Faiz.


'Kakek jaga kesehatan ya." Pesan Krystal. Lalu Panji maju memeluk Krystal. Dion memalingkan wajah ketika adegan itu berlangsung. Hatinya sangat terluka.


"Dion, jaga Krystal baik-baik ya." Pesan Kakek Faiz ketika Dion pamit dan mencium tangannya.


"Jangan berlebihan seperti itu, Krystal. Toh kita juga tidak akan pergi jauh." Ucap Dion ketika mereka telah meninggalkan rumah. Dion tak senang melihat tingkah Krystal yang melambaikan tangan pada Panji. Dion mendelik kesal.


"Jari kamu sekarang ada cincinya, ya." Hati Dion panas saat mengucapkan kalimat ini.


"Oh, cincin ini dari Panji." Hati Dion makin membara.


Singkat cerita, mereka berdua tiba di rumah Dion.


"Ini rumahku, Krystal."


"Wow, rumahmu mewah sekali, Dion." Puji Krystal ketika mereka melangkah menuju teras. Seorang wanita cantik menyambut mereka.


"Dion sayang, syukurlah kamu pulang. Mama sudah kangen." Mama Dion memeluk erat putranya. Lalu pelukannya merenggang ketika melihat Krystal.


"Siapa gadis cantik ini?" Krystal tersenyum.


"Saya Krystal, tante."


"Kok tante. Panggil Bibi. Kakek Faiz mengabarkan bakal ada bidadari yang datang. Ternyata ini bidadarinya." Mama Dion merangkul Krystal membimbing gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Sementara Dion mengikuti mereka sambil membawa ransel Krystal.


"Pa, ini Krystal sudah datang."


Seorang lelaki paruh baya tersenyum melihat ke arah Krystal.

__ADS_1


"Ternyata ayah benar, Krystal sangat cantik. Paman sudah menyiapkan makanan enak buat kamu."


Dion terpana melihat perubahan papanya yang bisa tersenyum. Sesuatu yang luar biasa. Baru kali ini Dion menyaksikan Papanya sangat gembira. Tapi saat aku dipaksa ke Bandung aku mendengar papa mengatakan jika mama tidak bisa meninggalkannya, semua yang kudengar omong kosong, jika melihat papa sekarang, bahkan papa bisa memasak untuk dirinya sendiri, yang artinya mama tidak harus selalu mendampingi papa, sepertinya aku dijebak batin dion.


__ADS_2