
Beberapa hari kemudian kondisi Ibu Hilda belum juga membaik. Meski terkadang terlihat baik dan bicara pada Krystal. Krystal terus menunggu di ruang tunggu IGD. Sementara Dion hilir mudik dari rumah sakit ke kampus dan rumahnya. Orang tua Dion juga bergantian menemani Krystal di rumah sakit.
"Krystal." Panggil mamanya. Mama Krystal sudah bisa melihat kehadiran Krystal.
"Iya, Ma."
"Sini, Nak. Mama sangat rindu padamu.' Krystal memeluk mamanya. Tangis keduanya pecah.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada disini? Dimana ayah dan kakakmu, Sulli?"
"Ayah dan kakak baik-baik saja, Ma." Jawab Krystal namun airmatanya menetes.
"Panggilkan ayah dan kakakmu, Krystal. Mama ingin bicara dengan mereka."
Krystal tak menjawab. Ia bingung dengan permintaan mamanya.
"Ayah pergi membeli obat, Ma. Kak Sulli sedang tidur. Semalam dia menjaga mama." Krystal terpaksa berbohong. Mamanya tak berbicara lagi. Wanita itu kemudian tertidur.
"Aku tidak tega membohongi mama, Dion. Setiap saat mama menanyakan ayah dan kakak."
"Kalau kondisi mamamu sudah membaik, kita beritahu yang sebenarnya."
*****
Malamnya, perawat memanggil Krystal. Krystal yang terbaring disisi Dion, bergerak bangun.
"Ibu Hilda mencari mbak."
Krystal lalu masuk ke ruangan. Mata mamanya terlihat sayu.
"Ma, ini Krystal." Krystal berbisik di telinga mamanya.
"Mama senang kita akhirnya berkumpul kembali. Ayah dan kakakmu sejak tadi menemani mama. Mama bahagia, sayang."
Krystal dan Dion merinding mendengar ucapan ibu Hilda. Dion menyentuh pundak Krystal yang gemetaran.
"Ma..mama sudah bertemu ayah dan kakak?" Tanya Krystal dengan isak yang tertahan. Sementara Ibu Hilda terlihat semakin lemah.
"Iya. Mama senang melihat kalian ada disini. Ayahmu mengajak mama pulang. Mama ingin pulang." Mata Ibu Hilda menutup.
"Mamaaaaaaa.." Krystal menjerit. Dion merangkulnya dan membawanya keluar ruangan, sementara perawat dan dokter menghampiri Ibu Hilda. Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda perawat keluar dan memberitahu kondisi Ibu Hilda. Orang tua Dion muncul. Mama Dion langsung memeluk Krystal yang menangis.
Pintu terbuka, nampak dokter yang menangani Ibu Hilda keluar.
"Keluarga Ibu Hilda." Panggilnya. Krystal lalu mendekat disusul Dion dan orang tuanya.
"Kami sudah berusaha namun kondisi Ibu Hilda sangat lemah. Kami minta maaf tidak bisa menyelamatkannya, Ibu Hilda meninggal..."
Krystal tak mendengar lagi. Tubuhnya jatuh terkulai dan pingsan. Akhirnya hanya Dion dan papanya yang masuk melihat kondisi Ibu Hilda.
Setelah pemakaman mama dan kakaknya, Krystal hanya berdiam diri dalam kamar. Tangisnya tak pernah berhenti setiap kali teringat mama dan kakakknya.
"Krystal." Dion muncul dengan nampan berisi makanan. Makanan itu diletakkan di atas tempat tidur didepan Krystal.
"Makanlah. Kamu bisa sakit kalau tidak makan."
"Terima kasih, Dion. Maafkan aku sudah banyak merepotkan keluargamu."
"Anggap saja kami keluargamu."
"Kamu tahu, saat pertama bertemu denganmu, aku sangat benci padamu. Tapi anehnya kamu selalu ada saat aku membutuhkan pertolongan. Aku memiliki Panji tapi dia sangat sibuk mengurus bisnisnya, bahkan dia tidak bisa menghadiri pemakaman mama dan kakak karena sedang ada diluar kota. Lain dengan kamu yang selalu ada didekatku. Aku merasa mulai menyukaimu.."
__ADS_1
Mata Dion membelalak senang.
"Tapi aku memiliki Panji yang sangat aku kagumi dan aku sangat sayang padanya. Hanya saja, kenapa kamu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku."
"Itu artinya kamu menyukaiku."
"Aku mungkin menyukaimu tapi tidak mungkin mencintaimu, Dion."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Karena aku akan menikah dengan Panji. Kita tidak mungkin bersama."
"Kalian belum menikah. Menurutku tidak ada yang tidak mungkin. Dengar, Krystal. Aku akan terus ada didekatmu agar kamu berpaling padaku."
"Dion, maukah kamu menolongku untuk yang terakhir kali?"
"Iya."
"Aku ingin pulang ke desa. Setelah itu tolong jangan muncul dihadapanku lagi."
"Permintaan yang sulit. Aku tidak akan menuruti keinginanmu."
"Dion, tolong mengerti. Pernikahanku sudah ditentukan tanggalnya." Krystal mulai terisak.
"Selama ini, orang tua Panji yang yang membiayai hidupku dan ayah. Sejak ayah sakit-sakitan, ayah tak bisa mencari nafkah untuk kehidupan kami. Rumah yang ada didesa, orang tua Panji yang membelikan."
Dion tercenung. Dia sadar kini, sangat berat bagi Krystal jika menolak menikah dengan Panji.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang ke desa. Kamu tenang saja, Krystal. Aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu."
Keesokan harinya, Mama Dion panik saat Dion dan Krystal telah siap dengan tas dan koper.
"Dion, Krystal? Kalian mau kemana?"
"Kenapa harus pulang, Krystal. Kamu tinggal saja disini bersama kami."
"Mama bagaimana sih? Krystal akan menikah dengan Panji. Tidak mungkin kita menahannya disini." Jawab Dion sewot.
"Kami pergi dulu, Ma."
Namun di terminal saat keduanya sedang berjalan menuju bus yang akan mereka tumpangi, nampak mama Dion tergesa-gesa mendekati mereka.
"Mama!? Kenapa mama ada disini?" Tanya Dion panik.
"Mama ingin ikut kalian. Mama ingin menghadiri pernikahan Krystal." Jawab mamanya lalu naik ke atas bus.
"Lalu siapa yang akan menemani Papa, Ma?"
"Papamu lelaki dewasa yang bisa mengurus dirinya. Lagipula Papa sudah mengijinkan mama untuk ikut kalian." Jawab Mama Dion sambil tersenyum. Mamanya duduk disebelah Krystal. Dion makin kesal karena seharusnya dia yang duduk disebelah Krystal bukan mamanya. Krystal hanya bisa tertawa menyaksikan keduanya berdebat.
Ketika tiba di gerbang desa dan harus berjalan memasuki desa, Mama Dion mulai mengeluh.
"Dion, rumahnya masih jauh sayang? Mama sudah capek dan kaki mama sakit."
"Aku kan sudah bilang, mama tidak usah ikut tapi mama tetap saja memaksa."
"Dion, jangan memarahi mamamu. Bi, jalannya pelan-pelan saja. Kita pasti akan sampai dirumahku." Ucap Krystal lalu memegang tangan Mama Dion.
Sepanjang jalan Krystal bercerita tentang pemandanngan yang mereka lewati hingga Mama Dion terhibur hingga akhirnya mereka tiba di rumah Krystal. Kakek Faiz yang melihat kedatangan mereka langsung menghampiri.
"Kakek." Krystal memeluk Kakek Faiz.
__ADS_1
"Kakek turut berduka untuk mama dan kakakmu. Maaf kakek tidak bisa ke kota karena kondisi kakek tidak memungkinkan."
"Apa kabar, ayah." Mama Dion meraih tangan kakek Faiz lalu mencium punggung tangannya.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Kakek Faiz.
"Aku ingin melihat pernikahan Krystal, ayah."
Mereka lalu masuk ke rumah Krystal.
"Krystal tolong jangan repot-repot ya, bibi dan Dion akan menginap di rumah kakek Faiz."
Panji muncul menghampiri mereka. Mama Dion tak berkedip memandangnya hingga Dion harus menyikut lengannya.
Dasar mama, bikin malu saja, batin Dion kesal.
"Bi, perkenalkan, ini Panji calon suami saya."
"Kamu memang sangat tampan. Serasi dengan Krystal."
Panji hanya tersenyum.
Pernikahan Krystal akan berlangsung dua minggu lagi, namun Dion dan mamanya harus pulang.
"Aku masih ada kuliah. Aku pasti hadir saat kalian menikah nanti." Ucap Dion saat bersalaman dengan Panji.
"Aku sangat berharap kamu hadir, Dion."
Krystal tak kuasa melepas mama Dion. Gadis itu menangis dalam pelukan mama Dion.
"Bibi jangan pulang. Disini saja sampai aku menikah."
"Tidak bisa, sayang. Kalau bibi disini tidak ada yang menemani Dion."
"Tapi bibi janji ya, saat aku menikah, bibi harus hadir."
Mama Dion mengangguk lalu memeluk Krystal lagi.
Setelah berpamitan dengan Kakek Faiz, Dion dan mamanya kemudian melangkah menuju gerbang desa. Sepanjang jalan, Dion hanya membisu. Mama Dion yang biasa berkomentar banyak kini seolah paham perasaan putranya. Mama Dion tak ingin mengusik rasa sedih dalam hati Dion.
Saat di bus, Dion hanya tertidur. Terkadang saat terbangun, dia berhalusinasi dan melihat Krystal yang duduk didekatnya. Ketika tersadar, Dion melihat ternyata mamanya yang tidur disebelahnya.
Begitu juga ketika berada di kampus, Dion seolah melihat Krystal yang melambaikan tangan padanya lalu menghilang. Ketika menyetir mobil, tiba-tiba saja Dion melihat Krystal tertidur. Saat ingin menyentuhnya, Krystal menghilang. Karena sering mengalami halusinasi, Dion bahkan mengira dirinya telah gila.
"Dion sayang, kenapa kamu menyentuh mama? Apa kamu ingin makan?"
Dion tersadar. Dia menyentuh mamanya karena tadi melihat Krystal yang duduk di ruang makan.
"Tidak, Ma. Aku ke kamar dulu."
Mengapa aku seperti ini? Wajah Krystal selalu terbayang dimataku. Apakah aku belum ikhlas dia menikah dengan Panji? Aku memang terluka tapi aku rela dia menikah karena Krystal tidak mencintaiku....
Bahkan didalam mimpi Dion, Krystal hadir. Memakai busana pengantin warna putih, Krystal terlihat sangat cantik. Tangannya memegang buket mawar. Krystal terlihat sangat bahagia. Namun aneh, Dion tidak melihat Panji didalam mimpinya.
"Mana Panji? Bukankah dia calon suamimu?" Tanya Dion.
"Calon suamiku bukan Panji tapi kamu." Jawab Krystal lalu tiba-tiba mereka telah berada di tepi jurang, tempat dimana Krystal nyaris terjatuh. Tiba-tiba Krystal melompat ke dalam jurang. Dion berteriak histeris memanggilnya..
"Krystal!!!!!!!!!"
Dion terbangun dari mimpinya dengan tubuh basah kuyup karena keringat.
__ADS_1
"Apa arti mimpiku itu? Semoga itu hanya bunga tidur."
Namun setelah bermimpi buruk, perasaan Dion selalu tak tenang. Dia selalu teringat Krystal. Mimpi buruk itu selalu hadir dalam pikirannya.