
Dion mengenggam lengan Haura,"Kamu jangan pergi.
"Bapak kenapa? Mendengar ucapan Haura, Dion lalu melepas genggamannya, Haura bermaksud untuk pergi, tapi Dion kembali menghentikannya,"Haura aku minta bantuanmu.
"Bantuan apa?
"Saya lupa, kalau dokumen yang harus saya selesaikan tertinggal di rumah saya, apa kamu bisa mengambilkannya untukku.
"Ah kenapa meski saya? Kenapa dia tidak menyuruh Pak Dimas saja kata Haura berbisik pada dirinya.
"Dimas, harus mengerjakan sesuatu untukku. Apa kamu bisa mengambilnya untukku?
"Ba..baik pak, tapi saya tidak melihat alamat rumah bapak. Ternyata dia bisa mendengar suaraku, padahal aku sudah mengecilkan suaraku...Batin Haura.
"Aku akan mengirimkannya untukmu. Apa kamu bisa pergi sekarang?
"Iya bisa Pak. Haura lalu keluar dari perusahaan dan memanggil taksi untuknya. Kenapa dia harus menyuruhku, jika saja dia bukan atasanku, aku pasti sudah memukulnya...Gumam Haura.
Haura akhirnya berada di depan rumah Dion, Haura menekan bel rumah Dion, Ani keluar dan begitu senang melihat Haura, dia membuka gerbang dan menyeret Haura masuk ke dalam rumahnya,"Pa, keluar ada Haura.
Prana yang setengah tidur, bangkit dari tempat tidur dan keluar menemui Haura,"Haura?
Haura bingung melihat tingkah kedua orang tua Dion. Keluarga ini sangat harmonis, bibi dan paman sangat baik, tapi kenapa anaknya seperti itu, psikopat...Pikir Haura. "Selamat pagi Bibi dan juga Paman, bolehkah aku memanggil kalian seperti itu? Tanya Haura sedikit ragu.
Ani melompat kegirangan dan memeluk Haura,"Tentu saja boleh, kamu juga bisa memanggilku mama dan dia sebagai papa.
Haura hanya tersenyum dan tak tahu harus menjawab apa,"Ma, jika kamu menyuruh Haura memanggilmu mama, itu membuatnya merasa tidak nyaman.
"Benarkah? Tapi mama rasa, itu sama sekali tidak menjadi masalah, kata mama Dion dan mulai mengusap dan memperbaiki rambut Haura.
Aku senang mereka begitu baik, aku sangat merindukan kehangatan ini, tapi ini bukan milikku, tapi milik gadis yang ada di Perusahaan tadi...Batin Haura
"Dari tadi mama membuat Haura kebingungan, Haura kamu perlu apa datang ke sini?
"Ah aku hampir lupa, Pak Direktur menyuruh saya mengambilkan dokumen untuknya, beliau bilang dia lupa membawa dokumennya yang dia simpan di atas meja kamarnya.
"Begitu yah, aku pikir kamu datang kemari, karena ingin menemui bibi.
Aku sudah menduga, tidak mungkin Haura datang kemari karena kemauannya sendiri batin Ani
__ADS_1
Ani terlihat kesal, dia kembali tersenyum saat Haura menatapnya, dia lalu menyuruh Haura mengambil dokumen itu ke dalam kamar Dion, Haura bergegas ke kamar Dion, Haura merasa aneh masuk ke dalam kamar Dion untuk pertama kalinya, lalu debaran jantungnya kembali menyerang dan segera Haura menarik dokumen yang ada dan menutup kamar Dion. Haura kembali menemui orang tua Dion, dan berpamitan kepada mereka,"Bi, Paman maaf Haura harus segera kembali, soalnya Pak Direktur menyuruhku segera membawa dokumen ini padanya.
Ani tidak merelakan Haura pergi, Ani masih ingin Haura tinggal beberapa jam lagi menemaninya, tapi Haura harus segera kembali,"Baiklah, kamu boleh pergi, kapan-kapan kamu main kesini lagi yah Haura.
Haura mengangguk dan pergi meninggalkan Ani dan Prana, sementara Prana masih memperhatikan Haura, hingga Haura menghilang bersama dengan taksi yang pergi bersamanya,"Matanya mirip sekali dengan mata Krystal..kata Prana takjub.
"Pa, mama benar kan? Mama sudah bilang pada papa, kalau mata mereka mirip, tapi papa bilang Haura pakai softlens lah, sekarang papa yakin kan kalau itu adalah mata asli Haura.
"Mama memang benar, mata mereka sama.
*****
Haura segera menemui Dimas, dia tidak menemukan Dimas di manapun di dalam kantor Dion, Haura tidak ingin menemui Dion, walau Haura tidak menemui Dimas, dia memberi Zahra dokumen itu dan menyuruhnya segera memberikannya pada Dion,"Bu Zahra, ini dokumen Bapak, tolong Ibu Zahra berikan pada Pak Direktur.
"Baik Haura, saya juga akan memberitahunya jika kamu datang membawanya.
"Tidak perlu, saya akan kembali ke ruangan saya..katanya dan keluar dari ruang Dion.
"Ada apa dengan Haura? Apa dia ada masalah lagi dengan Direktur? Ah lupakan, sepertinya dokumen ini sudah deadline. Zahra mengetuk pintu Dion dan masuk ke dalam ruangannya,"Pak, ini dokumen bapak, yang bapak minta Haura bawakan.
"Taruh saja di meja saya.
"Dia langsung pergi setelah menyerahkan dokumen itu pak.
"Baiklah, kamu boleh pergi. Kenapa dia tidak menemuiku? Apa dia tersinggung karena aku menyuruhnya menjauh dariku?...Pikir Dion.
Vovi berjalan dengan membawa beberapa kardus berisi pakaian bermerek, cleaning servis baru saja membersihkan minuman yang jatuh di atas lantai oleh pengunjung, dia lupa menaruh papan agar tidak ada yang melewati jalanan itu, Vovi pun berjalan di atas lantai yang masih basah itu, lalu Vovi tergelincir, kardus yang dia bawah terbang ke atas dan berserakan di atas lantai, sedangkan Vovi beruntung ada seseorang yang menolongnya,"Vovi? Kamu baik-baik saja?
"Pak Dimas? Vovi mulai menangis dan menunjuk kardus dan pakaian-pakaian yang berserakan di lantai,"Pak Direktur pasti akan memarahi saya.
Dimas lalu memungut pakaian itu dan memasukkannya ke dalam kardus, dia lalu membantu Vovi berdiri dan mengatakan,"Anda tidak perlu khawatir, saya yang akan bertanggung jawab dengan pakaian-pakaian itu katanya dan mengantar Vovi ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan Dion, Dion begitu marah pada Dimas, bagaimana dia bisa merusak dan mengotori barang yang hari ini akan di jual,"Dimas! Kamu kenapa bisa melakukan kesalahan seperti ini? Kamu tahu hari ini baju itu sudah harus di pasarkan.
"Maaf pak, saya terpeleset saat membawa pakaian itu dan semuanya berserakan di atas lantai yang masih basah.
Dion memukul mejanya keras,"Kenapa kau seceroboh ini, sekarang saya minta kamu pesan baju itu dan secepatnya membawa pakaian itu ke toko.
"Baik pak. Dimas menutup pintu kantor Dion, begitu melihat Dimas keluar Zahra menemui Dimas,"Pak Dimas? Ada apa? Kenapa Pak Direktur memarahimu? Aku tidak pernah melihatmu melakukan kesalahan selama enam tahun bekerja bersama Pak direktur.
__ADS_1
Dimas hanya tersenyum dan segera memesan pesanan yang di inginkan Dion secepatnya. Dimas menghubungi pemilik baju, dan meminta untuk memberinya paket yang sama dengan yang dia kirim, Vovi melihat Dimas terlihat cemas, dia lalu sembunyi dan menguping pembicaraan Dimas,"Halo Ibu Dian? Ini Dimas bu, dari Perusahaan Sophie. Saya bisa memesan paket yang sama yang Ibu kirim hari ini?
"Maaf Pak Dimas, itu adalah barang terakhir, itu barang sesuai pesanan dari perusahaan Bapak, jadi itu kita batasi.
"Apa Ibu tidak bisa memberi saya beberapa pakaian yang sama, saya sangat membutuhkannya hari ini.
"Aduh Pak Dimas, saya kan sudah bilang, barang itu terbatas Pak.
"Begitu yah, terima kasih Bu. Dimas lalu menutup telponnya dan semakin terlihat cemas, Vovi keluar dari persembunyiannya, dan membuat Dimas terkejut.
"Ini semua karena saya, maafkan kecerobahan saya, karena saya Pak Dimas kena marah dan harus bertanggung jawab.
Dimas terkejut karena kemunculan Vovi yang tiba-tiba,"Vovi? Aku pikir Hantu katanya untuk menghibur Vovi, tapi Vovi masih saja menangis,"Semuanya salah saya.
Dimas memegang kedua bahu Vovi,"Ini bukan salahmu, semua terjadi karena sudah di inginkan Tuhan, kamu jangan menyalahkan dirimu, lagipula aku sendiri yang ingin bertanggung jawab, anda sama sekali tidak memaksa saya membantu anda.
Tangisan Vovi semakin menjadi,"Te..ter..terima kasih, bapak sudah mau membantu saya.
Haura kelihatan bingung, sedari tadi dia mencari Vovi tapi dia tidak menemukannya, lalu saat dia berjalan ke arah tangga darurat, Vovi melihat Dimas dan Vovi sedang berduaan, dan membuat Haura tersenyum,"Ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka berkencan? Haura lalu mengendap-ngendap mendekati mereka, dan Haura mengagetkan mereka berdua,"Apa yang kalian lakukan?
Keduanya lalu menjauh dan Vovi menghapus air matanya, tapi Haura terlanjur melihatnya,"Vovi? Kamu kenapa menangis? Haura lalu melirik ke Dimas,"Apa Bapak yang membuat teman saya menangis?
"Bu..bu..bukan saya.
"Haura! Vovi lalu memeluk Haura,"Apa yang harus aku lakukan?
Haura melepas pelukan Vovi dan menatapnya,"Memangnya kamu kenapa?
Vovi kembali menangis dan Haura kembali melirik ke arah Dimas,"Barang yang harusnya hari ini di pasarkan di toko, kotor dan rusak karena saya.
"Lalu jika itu kesalahan Pak Dimas, kenapa Vovi juga ikut cemas dan malah menangis seperti ini?
"Karena akulah yang sebenarnya merusak baju itu, kata Vovi dan kembali memeluknya.
"Apa? Jadi pelaku sebenarnya itu Vovi, apa Pak Direktur sudah tahu?
Dimas mengangguk,"Ah pasti anda di maki habis-habisan. Terima kasih, Pak Dimas sudah melindungi teman saya.
"Haura, kamu kan punya sejuta ide, lalu apa yang harus kami lakukan sekarang?
__ADS_1