
Haura berbaring di atas kasurnya, dia terus memikirkan perkataan Dion,"Kenapa psikopat itu menyuruhku menjauhinya? Tapi kenapa juga aku selalu memikirkan hal ini, memangnya kenapa jika dia memintaku menjauhinya, apa aku keberatan? Haura lalu mengingat kejadian saat dia di Bali, dia melihat tatapan mata Dion, membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Haura lalu mengusir ingatannya itu dan duduk di atas kasurnya,"Aku sudah gila. Setelah mengatakan itu Haura kembali tidur dan menarik selimutnya menutupi wajahnya.
Di tempat lain, Dion sedang duduk di atas tempat tidurnya, dia masih saja membaca dokumen-dokumen pekerjaannya bahkan di rumah sekalipun. Ani mengetuk pintu kamar Dion, dia membawa cemilan untuk Dion,"Sayang, kenapa kamu selalu bekerja keras? Ani lalu mengambil kacamata dan juga dokumen dari Dion dan menyimpannya dia atas meja samping tempat tidur Dion. "Dion, kamu makan ini dulu.
"Kenapa mama membawa makanan untukku? Pasti mama ada maunya. Dion lalu mengigit separuh roti yang sudah di bakar itu dan kemudian menatap mamanya,"Ada apa ma?
Ani tidak langsung menjawab, seperti masih ada keraguan untuk mengungkapkan maksudnya itu,"Di..Dion, kamu kan sekarang sudah berumur dua puluh tujuh tahun.
Ani belum selesai mengatakan maksudnya, Dion menyelah dan berkata,"Ma, mama tidak perlu membuat party untukku, aku sudah dewasa, aku tidak lagi menyukai hal-hal seperti itu.
"Mama bukan ingin membuat party untukmu, mama ingin kamu berkencan.
Dion menatap Ani sinis, dia menyimpan nampan berisi roti dan susu di atas meja, lalu menatap wajah mamanya lagi,"Kencan? Mama ingin aku berkencan?
Ani mengangguk ragu. Sementara Dion terlihat kesal,"Iya, mama pikir sudah waktunya mama memiliki cucu, mama irih pada teman-teman arisan mama, setiap bertemu mereka selalu membicarakan menantu dan juga cucunya, yang sudah mulai jalan, bicara dan banyak hal lainnya, mama juga ingin seperti itu nak.
Dion menghela nafas,"Ma, menantu mama sudah tidak ada lagi di dunia ini, mama tahu kan jika aku tidak akan pernah menikah.
"Dion! Ini pertama kalinya Ani berteriak pada putra satu-satunya itu,"Apa kamu akan selalu seperti ini? Sampai kapan Krystal akan membayang-bayangimu?
"Sampai aku juga mati ma.
Ani menampar anaknya,"Kenapa kamu berkata seperti itu pada mama Dion?
Dion menyentuh wajahnya,"Karena aku sangat mencintai Krystal.
"Jadi kamu lebih memilih orang yang sudah meninggal? Di banding mama yang sudah mengandung dan melahirkanmu?
Dion memegang dadanya,"Ma, Krystal selalu ada di sini.
Ani menangis, dia mengalihkan pandangannya pada Dion dan mengambil makanan yang dia bawakan untuk anaknya, saat membuka pintu, Ani kembali menatap anaknya, dan berkata,"Mama tidak tahu jika anak mama lebih menyayangi orang lain dari pada mamanya, mama juga sudah tidak mengenali anak mama, hanya mama adalah orang tua yang ingin anaknya bahagia, walau anaknya sama sekali tidak perduli, tapi mama tetap mengharapkan kebahagianmu, mama sudah lelah melihatmu seperti ini, ini terakhir kalinya mama meminta kepada anak mama, seterusnya mama tidak akan melakukan apa-apa lagi, percuma juga mama bicara pada orang yang tidak menganggap mama katanya dan menutup pintu kamar Dion.
Dion bermaksud memanggil mamanya, tapi bibirnya terkunci, Dion lalu melampiaskan amarahnya pada tembok, dia memukul tembok kamarnya berulang-ulang dan membuat tangan Dion terluka, setelah puas Dion kembali duduk di atas tempat tidurnya dan menundukkan wajahnya,"Apa sekarang, aku menjadi anak yang durhaka?
*****
Saat pagi hari, Dion bersiap ke kantor, dia melihat ke sekeliling, tapi tidak melihat sosok mamanya, dion menuruni anak tangga satu persatu, lalu dia menemukan papanya tengah duduk di depan TV sambil membaca Koran,"Kamu sudah bangun? Apa kamu akan ke kantor? Tanya papa pada Dion.
Dion tidak menjawab tapi berpikir. Biasanya mama yang mengatakan ini padaku, apa mama masih marah padaku?. Pa? mama ada dimana?
Papa menatap Dion dan melirik ke arah kamarnya,"Mamamu ada di dalam kamar. Katanya buat apa dia masak jika dia tidak memiliki anak.
__ADS_1
"Mama berkata seperti itu pada papa?
Papa menutup korannya dan berjalan mendekati Dion,"Dion, entah apa yang kamu bicarakan dengan mamamu semalam, tapi semenjak dari kamarmu, mama tidak lagi bersemangat, dia terus saja menangis. Apa terjadi sesuatu di antara kalian? Papa bertanya Karena papa tidak tahu apa-apa.
"Tidak terjadi apa-apa pa, Dion sudah terlambat. Dion berlalu meninggalkan Prana.
Dion berjalan ke dalam Perusahaan, seperti biasa, semua orang akan berbaris dan menyambutnya, tapi Dion terlihat lesuh dan terlihat lebih galak. Semua merasa tegang dan takut untuk menyapa. Saat di dalam lift, Dimas menatap tajam pada Dion,"Pak? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?
"Mama, dia membuatku pusing.
"Ada apa, dengan nyonya?
"Dia menyuruhku berkencan, aku kan sudah bilang, semenjak kematian Krystal, aku tidak akan mengencani siapapun.
"Mungkin nyonya mulai jenuh, beliau kan sudah tua, jadi wajar jika beliau meminta sesuatu pada bapak.
"Aku tahu, aku akan memberi apapun yang mama minta, tapi aku tidak bisa jika berhubungan dengan wanita.
Dion membuka ruangannya, dia terkejut saat membuka ruangannya lalu dia menemukan seseorang berada dalam ruangannya,"Kamu siapa?
Gadis itu berbalik dan mendekati Dion,"Dion? Sudah lama kita tidak bertemu.
Dion terkejut melihat gadis itu,"Iga? Apa yang kau lakukan di sini bersama bibi?
"Aku bosan dengan baju yang di belikan mama untukku, jadi aku memintanya untuk membeli baju baru untukku di sini.
"Iya, apa kalian sudah lama menunggu?
"Tidak, kami baru sampai.
"Ini masih sangat pagi, jadi aku rasa masih ada yang belum siap membuka tokonya.
"Tidak masalah.
Dion lalu menyuruh Zahra masuk dan menyiapkan minuman untuk tamunya itu, Dion juga meminta segelas Capucino.
"Dion, dimana gadis yang dulu bersamamu? Tanya mama Iga pada Dion.
"Dia sudah meninggal.
Iga tersenyum karena mengetahuinya akhir-akhir ini, tapi lain hal dengan mamanya, dia sama sekali tidak tahu soal itu,"Innalillahi wa innailahi rajiun, bibi sama sekali tidak tahu itu Dion, bibi turut berduka cita.
__ADS_1
"Iya bi.
"Iga bagaimana keadanmu?
"Aku baik-baik saja. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi Dion.
Dion hanya tersenyum dan tak membalas perkataan Iga. Tak lama kemudian, Dion, Iga dan juga mama Iga keluar dari kantor Dion, Dion bersedia menemani Iga dan mamanya berbelanja hari ini. Saat Dion dan Iga berdiri di depan toko baju, Haura melihat mereka,"Siapa gadis yang bersama Pak Direktur? Tanya Haura pada dirinya. Apa dia orang yang sangat berharga seperti yang di katakana bibi waktu itu? Melihat mereka berdiri bersama, kenapa aku merasa sedih dan tidak rela. Ah, Haura apa yang kau pikirkan.
Haura melewati Dion, Iga dan juga mamanya. Dion tak sengaja melihat Haura dan memegang tangannya,"Kamu mau kemana?
Melihat itu, Iga melirik Haura dengan kesal. Siapa gadis ini? Kenapa Dion begitu peduli padanya...Pikir Iga.
Haura menepis tangan Dion,"Saya akan ke gudang pak, ada apa? Bukankah bapak menyuruh saya menjauhi bapak? Tapi bapak malah memegang saya sekarang.
"Dion? Siapa gadis ini?
"Dia Manajerku.
"Manajer kamu? Oh lowongan pekerjaan waktu itu yah.
"Iya, tapi kenapa kamu bisa tahu?
"Aku melihatnya di majalah.
Haura kesal melihat mereka terus berbincang dan mengabaikannya, dia lalu memutuskan untuk meninggalkan mereka, tapi lagi-lagi Dion memegang lengannya, Haura menatap Dion. Ada apa dengan orang ini? Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?...Pikir Haura kesal.
"Kamu mau kemana? Kamu harus menemani saya, kita ada pekerjaan penting, jadi sekarang kau ikut denganku. Maaf Bi, Iga tapi aku tidak bisa menemani kalian, soalnya saya ada pekerjaan penting, tidak apa-apa kan jika kalian berkeliling tanpa saya.
Iga mengangguk pelan,"Iya, kamu boleh pergi.
Dion menarik Haura menjauh dari mereka. Jadi dia menarikku karena ingin terbebas dari mereka, dasar psikopat, apa salahnya jika kamu jujur pada mereka dan katakan jika kau tidak ingin menemani mereka, tanpa harus melibatkanku...Batin Haura.
Saat Dion merasa jika Iga dan juga mamanya tidak lagi memperhatikan mereka, Dion lalu melepas gengamannya pada Haura. "Haura ma...
Haura menyelah perkataan Dion,"Saya tahu, bapak tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padaku.
"Terima kasih, maaf sudah melibatkanmu dan menyeretmu ke sini.
Apa? Dia berterima kasih padaku? Dia membuatku merinding....Pikir Haura.
"Aku memang menyuruhmu menjauhiku, tapi bisakah aku melakukan hal seperti tadi jika aku terdesak.
__ADS_1
Dasar psikopat gila, baru saja aku menyanjungnya tapi dia membuatku kesal lagi...Batin Haura. "Iya, lagipula aku hanyalah seorang pelayan bagi bapak. Haura kembali ingin meninggalkan Dion, tapi Dion kembali menghentikan Haura,"Kamu jangan pergi.