Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 CHAPTER 41 PENYAKIT JANTUNG


__ADS_3

Panji sedang asyik duduk di meja kerjanya sambil membaca buku mengenai penyakit jantung, dia lalu meraih ponsel yang bergetar di saku celananya,"Arya? Panji segera menjawab telpon Arya,"Halo Arya? Ada apa?


"Dokter Panji?


"Iya ada apa?


"Dok ada pasien, sepertinya gagal jantung.


"Apa? Baik saya akan segera ke sana.


Panji mempercepat langkahnya, sesampainya di depan ruang UGD, Panji segera menyambar dokumen pasien, Panji kemudian kembali memberi dokumen itu kepada perawat. Panji segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, Panji terkejut melihat Haura terbaring di kasur, dia segera memeriksa mata dan juga detak jantung Haura,"Apa kamu sudah melakukan CPR pada pasien?


"Iya Dok.


Ada apa denganmu Haura? Krystal tidak akan menginjinkanmu meninggalkan Dion...Batin Panji. Panji mengambil alih, dia kembali melakukan beberapa tindakan CPR untuk pasien jantung, CPR adalah pertolongan pertama pada pasien gagal jantung, dengan cara menekan-nekan dada pasien. Haura kumohon bertahanlah, kamu jangan mati, Dion akan kesepian jika tidak ada kamu.


"Dokter, detak jantung pasien kembali normal.


Keringat yang mengucur di pelipis Panji diusapnya, Panji menghentikan tekanannya,"Cepat lakukan pemeriksaan lanjut pada pasien.


"Baik Dok. Panji berjalan keluar dari ruang UGD, tubuh panji lunglai dan lemas, dia bersender di tembok dan berusaha bersikap normal. Nyaris saja, kenapa dia bisa tiba-tiba memiliki penyakit jantung? Seingatku, sewaktu akan melakukan operasi padanya, hanya matanya yang terganggu, organ tubuh lainnya tidak ada masalah, lalu ada apa ini? Pikir Panji.


Panji penasaran pada kondisi Haura, dia lalu mencari-cari berkas mengenai Haura beberapa tahun yang lalu, takutnya Panji melewatkan sesuatu, beberapa kali Panji memeriksa hasil pemeriksaan Haura, tapi tetap saja Panji tidak menemukan kejanggalan. Panji meletakkan data Haura, dan memijat kepalanya,"Tidak ada yang salah, lalu kenapa tiba-tiba Haura mengalami gagal jantung? Aku sudah mengganggap Krystal seperti adik kandungku, aku mengabulkan semua permintaannya, bahkan permintaan terakhirnya mendonorkan matanya pada Haura, menjaganya dan terus mengawasinya. Kejadian yang menimpa Dion juga adalah ulahku, waktu itu aku tahu, karena keseringan menyetir malam bersama Krystal Dion memiliki banyak trauma, dan penyakit aneh yang tidak membahayakan, salah satunya saat menyetir di tengah malam, Dion tidak akan menghapal jalan di Jakarta, dan aku tahu jika Haura akan lewat di jalan itu setelah aku meresepkan obat untuk bibinya, aku sudah melakukan semua yang kamu minta padaku Krystal, lalu di mana letak kegagalan yang aku lewatkan. Panji melempar semua data pasien Haura, saat dia melirik ke bawah tepat di atas sepatunya, Panji mengambil tes kesehatan Haura dan membersihkan kotoran yang menampakkan seperti ada lubang kecil di jantung Haura,"Aneh ini bukan kotoran, Panji terkejut dan cemas dia lalu memindai hasil scan kesehatan Haura, dia lalu menunjuk lubang kecil itu,"Ii..iii..ini? kebocoran jantung? Sial! Aku tidak pernah menduganya.


Dion segera ke lab, dan mencari tahu, apakah Haura sudah melakukan tes kesehatan,"Apa kalian sudah memeriksa Haura?


"Iya Dok, ini hasil scan dari pasien Haura.


Panji mengambil hasil tes Haura dan melihatnya, Panji jatuh tersungkur dan hasil scan Haura terlempar di bawah meja pemeriksaan,"Dok? Ada apa? Apa anda baik-baik saja?


"Sudah terlambat, kita harus segera melakukan donor jantung.


"Tapi Dok, kita tidak memiliki jantung yang cocok untuk pasien.


"Cari donor jantung secepatnya untuk Haura.


Panji keluar dari ruang lab, Vovi terlihat cemas dan juga mulai terisak, dia lalu bertemu dengan Panji,"Dokter? Bagaimana keadaan teman saya.


"Memangnya temanmu siapa?


"Haura Dok.


"Kami sedang melakukan pemeriksaan langsung, jika saya sudah tahu hasilnya saya akan memberitahu anda.


"Baik Dok.


Seorang perawat mendekati mereka,"Dok, pasien atas nama Haura sudah siuman.


"Iya, saya akan segera ke sana.

__ADS_1


Vovi menunggu di luar sedangkan Panji menemui Haura,"Haura, apa kamu baik-baik saja?


"Iya Dok, aku baik-baik saja. Tapi Dok apa yang terjadi padaku?


"Haura apa akhir-akhir ini kamu merasakan pusing? Mual? Keringat dingin dan mengalami sakit di bagian dada?


"Iya Dok, tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, soalnya nyerinya hanya datang sekali, tapi pagi ini nyerinya tidak bisa tertahankan lagi Dok.


"Kamu memang bodoh Haura.


"Apa maksud Dokter?


"Hasil pemeriksaanmu sudah keluar, kamu tahu kamu menderita penyakit jantung.


"Apa? Itu tidak mungkin, dokter bercanda kan?


"Apa menurutmu sekarang aku sedang berncanda?


Haura menggeleng, kepalanya pusing dan tubuhnya melemah.


"Kamu tidak apa-apa?


"Iya, aku akan pulang hari ini juga Dok. Haura melepas paksa tali infusnya.


"Apa yang kau lakukan? Kau sekarat.


Haura berlutut dan menangis,"Ke..ke..kenapa aku harus menderita penyakit mematikan seperti ini Dok? Kenapa?


Haura tidak menjawab dan memaksa pulang ke rumah, Panji mengizinkan, asalah Haura berjanji untuk tidak melakukan aktifitas terlalu banyak, dan itu artinya Haura harus berhenti bekerja.


*****


Sepanjang perjalanan Haura terus diam dan hanya memandang jalan yang dia lewati. Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa penyakit itu tiba-tiba mengorogotiku? Batin Haura dan mulai mengeluarkan air mata. Apa kamu bersedih untukku? Apa kamu takut aku melukai Pak Direktur? Batin Haura lagi.


*****


Dion mencari haura ke ruangan, tapi saat dia masuk ruangan Haura kosong, Dion menaikkan alisnya dan berpikir,"Kemana Haura?


Dion keluar dan melihat seorang karyawan dan menghentikannya,"Kamu lihat dimana Bu Haura.


"A..aa..


"Aaa..aaa apa? Saya tanya kamu di mana Bu Haura?


"Tadi Bu Haura pingsan, lalu Bu Vovi membawahnya ke rumah sakit.


"Apa! Oke kamu boleh pergi.


Dion mempercepat langkahnya dan tak berhenti menghubungi ponsel Haura, tapi tak ada jawaban,"Kamu kenapa Haura? Jangan bilang kau akan melakukan hal yang sama dilakukan Krystal di masa lalu, di mana dia menghindariku karena memiliki penyakit yang kapan- kapan saja akan membunuhnya.

__ADS_1


Dion berhenti melangkahkan kakinya dan berlari sesaat dia melihat Haura berjalan ke arahnya, Dion menarik Haura ke dalam pelukannya,"Kamu kenapa? Kamu sakit apa?


Haura tidak menjawab, Dion melepas pelukannya dan menatap senduh pada Haura,"Kamu baik-baik saja kan Haura?


Haura menangis dan segera menghapus air matanya,"Apa yang Bapak katakan, aku tentu baik-baik saja.


"Jangan bohong! Wajahmu tidak mengatakan kalau kamu baik-baik saja, aku tahu kamu sakit kan, tetaplah bersamaku, jangan pernah berpikir kamu akan meninggalkanku demi kebaikanku.


Dia tidak berhenti mengomel, seperti Ibu mertua, tapi entah kenapa, aku sangat terpukul mendengar Direktur mengatakan bohong padaku, apa yang akan terjadi padaku, jika nanti aku meninggal, apa Pak Direktur akan menangis untukku...Pikir Haura.


Dion mendekati Vovi dan bertanya padanya,"Vovi apa terjadi sesuatu pada Haura?


Vovi yang tidak tahu apa-apa tidak bisa memberi jawaban pada atasannya,"Maaf Pak, aku tidak bisa menjawab, tapi kata dokter padaku, jika Haura baik-baik saja.


Dion kembali menatap Haura dan memegang kedua bahunya,"Aku senang jika kamu baik-baik saja, kamu ke ruanganku saja, di belakang meja kerjaku ada ruangan khusus di sana, itu tempat yang bagus untuk kamu istirahat kata Dion membujuk Haura.


Haura menggeleng,"Tidak, Bapak tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja, saya akan melanjutkan pekerjaan saya. Haura pergi meninggalkan Dion, Vovi juga pergi bersamanya.


*****


Vovi membantu Haura berjalan,"Dari tadi aku perhatikan, kamu terus memegang dadamu, kamu kenapa?


"Aku merasa sesak.


"Apa kita kembali ke Rumah sakit saja?


Haura menggeleng pelan,"Tidak, aku cukup istirahat sebentar saja.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Atau kamu mau aku mengantarmu pulang ke rumah saja.


Haura tersenyum lirih,"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja.


"Tapi kamu tidak terlihat baik-baik saja.


"Baik aku akan menceritakan sesuatu padamu.


"Memangnya ada hal yang kau rahasiakan dariku?


"Ada, kamu sangat ingin tahu kan, siapa wanita yang sudah berbaik hati mendonorkan matanya untukku?


"Tentu saja, aku sudah lama menunggu kamu menceritakan penolongmu itu.


"Mungkin ini sangat menggembirakan bagimu, tapi bagiku ini adalah sebuah kutukan dan kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan.


"Apa maksud kamu?


*****


Iga datang lagi ke Sophie, dia mencari-cari sosok Haura,"Dimana ****** itu? Kali ini aku akan membuat pergitungan padanya. Ada yang aneh pada penampilan Iga, kini rambutnya tidak panjang lagi, Iga memotong pendek rambutnya, saat Iga berjalan kea rah gudang, dia menarik seseorang dan bertanya padany,"Apa kamu melihat Haura?

__ADS_1


"Anda jalan ke depan, di depan ada ruangan bertuliskan manajer gudang.


"Cukup! Aku sudah tahu. Iga kembali melanjutkan langkah kakinya, dia lalu berhenti tepat di depan pintu ruangan yang dimaksud oleh orang yang tadi ditanyanya, Iga bermaksud mengetuk pintu itu, tapi Iga tidak sengaja mendengar pembicaraan Haura dan juga Vovi.


__ADS_2