Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 11 Bunuh Diri Iga


__ADS_3

Sejak hari itu, Krystal terus mengurung diri dalam kamar. Dion tidak tahu bagaimana membujuk Krystal agar keluar dari kamar. Gadis itu bahkan tidak ingat makan.


"Dion, coba kamu bujuk Krystal sayang. Dia bisa sakit kalau tidak makan."


"Mama saja yang bujuk. Mama kan perempuan seperti ibunya."


"Mama sudah membujuknya tapi Krystal bilang dia tidak ingin makan."


"Biarkan Krystal sendiri dulu, Ma. Batinnya lagi terguncang. Dia butuh ketenangan. Makanannya bawa saja ke kamarnya, biar dia makan di kamar saja.


Malamnya, Krystal keluar dari kamar. Kehadirannya membuat Papa dan Mama Dion lega. Mereka lalu makan malam bersama. Tak ada pembicaraan yang menyinggung keadaan Krystal. Semuanya paham, saat ini batin Krystal sedang terguncang.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran dan ikut makan bersama kami?" Tanya Dion ketika sedang berdua dengan Krystal di teras lantai atas. Mereka sedang menikmati bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.


"Karena aku tidak ingin membuat kalian khawatir. Aku cuma tamu di rumah ini, tidak sepantasnya aku membuat kalian cemas."


"Kamu sudah kami anggap seperti keluarga, Krystal. Jangan sungkan pada kami."


"Terima kasih, Dion. Tapi aku sudah memutuskan, setelah urusanmu dengan pacar-pacarmu kelar. Aku akan kembali ke Bandung."


"Lalu kamu tidak ingin mencari mamamu?"


"Untuk apa mencari mama? Mama yang sudah mengabaikan aku dan ayah. Saat itu ayah sakit parah dan berusaha mencarinya, tapi mama malah menghindar dan terus bersembunyi. Itu artinya mama tidak mengharapkan ayah dan aku."


"Mungkin mamamu punya alasan sendiri, Krystal. Apa kamu tidak ingin tahu alasannya?"


"Tidak. Sekarang aku ingin menjalani hidupku tanpa mama."


*****


Keesokan harinya, Krystal menemani Dion menemui pacar-pacarnya. Gadis itu kini tak murung lagi seperti kemarin.


"Mamamu ingin menemaniku saat menikah nanti, Dion."


"Benarkah? Semoga kehadiran mamaku tidak mengacaukan acaramu."


"Aku senang, Dion. Mamamu seperti pengganti mamaku."


"Kamu tetap tidak ingin mencari mamamu? Apa kamu yakin tidak akan menyesal nanti?"


"Aku tidak tahu,Dion. Untuk saat ini aku ingin menenangkan diri dulu. Mungkin setelah rasa marah dan kesal hilang dari hatiku. Aku akan mencari mama dan kakak."


"Baiklah, semuanya ku serahkan padamu.


"Kenapa wajahmu murung? Kamu marah karena aku tidak ingin mencari mama dan kakakku?


"Tidak seperti itu, aku hanya marah pada diriku."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak bisa mendapatkan cintamu dan menghalangi pernikahanmu."


"Dion, maafkan aku. Aku dan Panji saling mencintai."


"Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Aku akan mengajakmu menemui Iga."


Gadis yang bernama Iga ternyata tengah menanti kehadiran Dion. Gadis itu nampak duduk gelisah di teras rumahnya. Ketika Dion muncul dia bergegas membuka pintu pagar.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak bertemu, Dion. Terakhir bertemu saat aku melihatmu komat-kamit sendiri dibawah pohon dan kita berpisah karena kita akan ujian final"


"Iya."


"Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Iga nampak kikuk.


"Kenapa kamu nampak gelisah, Iga?"


"Maaf, Dion. Aku dengar gosip, kamu sedang memutuskan pacar-pacarmu. Katanya kamu itu playboy. Itu tidak benar kan, Dion?"


"Itu benar, Iga. Kamu termasuk salah satu yang aku putuskan hari ini."


"Benarkah? Aku tidak ingin kita putus, Dion. Aku tidak mau."


"Maafkan, aku. Tolong jangan halangi niatku untuk berhenti menjadi playboy."


Dion kemudian beranjak pergi.


"Aku tidak ingin kita putus, Dion!!!" Iga masih berteriak memanggil nama Dion namun Dion itu tak peduli. Dia terus saja berjalan menuju mobilnya.


"Iga tidak menamparmu?"


"Tidak. Hanya saja dia berteriak histeris seperti kerasukan."


"Gadis yang malang.


Dion menyandarkan tubuhnya pada jok mobil.


"Aku khawatir pada Iga, dia gadis yang akan bertingkah gila jika sesuatu mengganggunya.


Dion mendelik kesal.


"Kamu kok pikirannya jahat begitu? Apa kamu tidak lihat aku lagi tidak enak hati, aku serius, dia kadang bertingkah seperti orang yang tak punya akal?"


Krystal terdiam.


"Maaf, Dion."


Dion kemudian menjalankan mobilnya. Krystal tak berani bersuara. Dia takut ocehannya malah membuat Dion semakin marah padanya. Gadis itu hanya memandang ke depan, melihat-lihat situasi kota yang padat oleh kendaraan. Sedangkan dion memikirkan Iga, lalu handphone Dion berbunyi pesan singkat.


"Astaga! Ini yang aku takutkan. Temanku mengirim pesan, katanya Iga mau bunuh diri. Gadis itu sekarang ada di lantai atas kampus."


"Apa? Tapi kita baru saja bertemu dengannya bukan?


"Kita sudah lama meninggalkan rumahnya, dan jarak rumahnya ke kampus tidak terlalu jauh.


Dion mengemudikan mobil dengan kalap. Beberapa kali dia mengumpat dan menyalip kendaraan lain yang menghalangi laju mobilnya. Akhirnya mereka tiba dikampus. Tubuh Krystal gemetaran menahan rasa takut sepanjang perjalanan. Pertama kalinya dia merasakan naik mobil yang melaju kencang. Namun gadis itu tak berani protes karena dia tahu, Dion sedang mencemaskan Iga.


Para mahasiswa berkerumun di halaman. Semua pandangan tertuju ke lantai paling atas gedung kampus. Nampak Iga tengah berdiri sambil berteriak-teriak siap melompat ke bawah. Dion yang menyaksikan bergegas naik ke lantai tiga.


Namun baru saja kaki Dion menapak di lantai dua, keriuhan terdengar dari bawah. Dion dan Krystal kemudian berlari menuju halaman. Teriakan histeris terdengar. Dion makin panik. Pemuda itu langsung shock saat mendapati tubuh Iga yang tergeletak bersimbah darah.


Krystal mendekati tubuh Iga yang tak henti mengeluarkan darah sementara Iga tak sadarkan diri.


"Dion, ayo cepat! Kita harus mebawa Iga ke rumah sakit!" Teriak Krystal panik.


Beberapa mahasiswa kemudian menggotong tubuh Iga dan membawanya ke mobil Dion. Tubuh Iga diletakkan berbaring dengan posisi kepala dipangkuan Krystal.

__ADS_1


"Ayo cepat, Dion!" Seru Krystal yang panik dan ketakutan. Gadis itu menangis melihat darah yang kini memenuhi bajunya.


Mereka tiba di ruang UGD rumah sakit. Tenaga medis segera memberi tindakan untuk menolong Iga. Setengah jam kemudian orang tua Iga muncul. Saat melihat Dion, Ibu Iga langsung menghampiri dan menampar pemuda itu.


"Anak kurang ajar! Aku sudah beberapa kali memperingatkan anakku agar tidak berpacaran denganmu karena kamu bukan laki-laki yang baik. Tapi dia tetap saja keras kepala. Sekarang kau lihat akibatnya! Jika terjadi sesuatu dengan anakku, kamu harus bertanggung jawab!"


"Sudahlah, Ma. Dion tidak salah." Papa Iga menyabarkan istrinya yang emosi.


"Ayah! Anak kita hampir saja kehilangan nyawa dan ayah masih membela anak ini?"


"Cukup, Bi. Dion tidak salah, anak bibi yang gila. Namanya pacaran wajar jika putus. Orang nikah saja bisa cerai. Seharusnya dia tidak berpikiran sempit dan nekad bunuh diri." Krystal yang sejak tadi diam akhirnya terpancing emosinya. Dia tak tahan melihat Dion disalahkan.


Plakkk. Sebuah tamparan mendarat di pipi Krystal. Dion dan ayah Iga terkejut melihatnya.


"Apa kamu bilang? Anakku gila? Gadis lancang."


"Cukup, Bi. Sekarang semua sudah terjadi. Apa bibi pikir, jika memukul kami, Iga akan pulih. Sekarang yang harus kita perhatikan adalah Iga, bukan malah ribut disini."


Ibu Iga terduduk di kursi. Tubuhnya lunglai tak bertenaga. Airmatanya terus membasahi kedua pipinya. Krystal lalu merangkulnya.


"Bibi harus tenang. Tak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Kami juga sangat panik dan khawatir pada Iga."


"Maafkan aku, Nak. Aku sudah menamparmu."


"Tidak apa-apa, Bi. Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi."


Mereka menunggu dengan cemas operasi yang sedang berlangsung terhadap Iga. Jika tadi Ibu Iga marah pada Dion dan Krystal, kini mereka nampak seperti pasangan ibu dan anak.


Ketika pintu ruang operasi terbuka dan perawat mencari keluarga Iga, mereka kompak mendekat. Hanya Ibu Iga yang diijinkan masuk melihat anaknya. Tidak lama kemudian, wanita itu keluar lagi sambil menangis.


"Bagaimana keadaan anak kita, bu?" Tanya ayah Iga.


"Syukur alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Sekarang kita harus memesan ruangan perawatan untuk Iga, Yah."


"Paman dan bibi, maaf kami tidak bisa menunggu hingga Iga siuman. Sampaikan saja salam kami terutama permohonan maaf dari aku. Aku khawatir jika Iga siuman dan melihatku, dia bisa shock."


"Iya, terima kasih, Nak Dion. Maafkan sikap ibu tadi ya."


"Aku juga minta maaf, Bi."


Mereka berdua kemudian pamit dan bergegas ke mobil. Krystal ingin secepatnya mengganti bajunya yang terkena noda darah.


"Tidak apa-apa, Dion. Aku malah senang. Sekarang aku bisa merasakan tamparan dan amarah dari seorang ibu."


"Gadis yang aneh. Tapi sikapmu tadi sungguh keren. Bisa meredam amarah Ibu Iga."


"Aku hanya tidak ingin dia terus menyalahkan. Dia harus sadar bahwa semua orang khawatir pada anaknya."


"Kita pulang saja. Semoga mama tidak melihat noda darah dibajumu."


"Semoga."


Tiba di rumah, Krystal mengendap-endap masuk ke kamarnya. Suasana rumah sedang sepi. Entah kemana Mama dan Papa Dion.


"Dion, aku mau tidur ya. Tolong jangan ganggu aku." Krystal berbicara sebelum menutup pintu kamarnya. Dion memberi jempol tanda setuju.


**** 

__ADS_1


__ADS_2