
Mereka sudah tiba di pantai Kuta, Bli mengurus parkiran mobil, sementara Dion dan Haura mulai menyisiri Pantai Kuta. Haura begitu antusias, dia berfoto selfie dan melakukan banyak hal lainnya, tidak seperti Dion, dia hanya sibuk dengan ponselnya dan sekali-kali melihat ke arah yang ditunjukkan Haura,"Dasar cuek, dia hanya mengangguk dan tersenyum saat aku memanggilnya, apa dia tidak menikmati keindahan Allah yang begitu indah ini bisik Haura pada dirinya.
Haura berjalan dan berdiri di atas batu karang, dia juga melakukan foto selfie, tapi dia ingin meminta seseorang untuk memotretnya seorang diri, tapi tak ada yang bisa dia mintai tolong, hingga dari kejauhan dia melihat Bli. Bli datang mengantar dirinya untuk menjadi seorang fotografer,"Bli, untung saja Bli datang, aku minta tolong Bli untuk memotret saya katanya sembari menyodorkan ponsel miliknya pada Bli. Bli mulai mengambil foto untuk Haura, hingga Bli mengatakan jika foto Haura tidak terlihat bagus,"Bli coba kulihat foto yang Bli ambil, ke..kenapa tidak ada satupun yang bagus.
"Itu karena dia tidak ikut berfoto denganmu, sambil menunjuk ke arah Dion.
Haura memberi isyarat kepada Bli agar dia tidak melanjutkan perkataannya, tapi sudah terlambat Dion jelas mendengar perkataan Bli,"Ada apa Bli?
"Foto yang kuambil tidak ada yang bagus.
"Kenapa?
"Karena anda tidak ikut berdiri disampingnya.
"Benarkah? Baiklah, ini hadiah untukmu Haura. Dion menghampiri Haura dan berfoto bersamanya. Setelah mengambil foto keduanya, Bli memberikan kembali ponsel Haura,"Lihatlah Haura sekarang foto kamu terlihat sangat bagus katanya dan meninggalkan mereka berdua.
Haura dan Dion melihat foto itu dan membuat kepala mereka tertumbuk satu sama lain,"Haura Maaf, kamu baik-baik saja? Benar kata Bli , fotonya kelihatan bagus. Sepertinya kamu harus segera mencari pendamping, agar setiap kamu berfoto hasilnya akan menjadi bagus.
Haura memegang keningnya dan kembali merasakan jantungnya berdebar kencang. Perasaan aneh ini muncul lagi pikirnya. Karena mengkhayal Haura lalu kehilangan keseimbangan dan hampir terpeleset di atas batu karang, untung Dion masih berada di sekitar Haura, dia lalu menangkap tubuh kecil Haura, membuat mereka saling menatap satu sama lain,"Haura kamu baik-baik saja?
Haura yang malu, karena wajah mereka terlalu dekat lalu melepaskan diri dari dekapan Dion,"Sa..saa...saya, baik-baik saja pak. Haura merasakan tubuhnya panas, dan wajahnya memerah. Ada apa sebenarnya padaku? Kenapa aku selalu merasakan perasaan aneh, ketika bertatapan dengan Pak Direktur? Tapi, aku sudah mulai tidak menangis jika bertatapan dengannya, sepertinya saran Vovi berhasil. "Aku baru ingat aku sama sekali tidak pernah menghubungi Vovi, dia pasti akan mengomeliku.
"Ada apa dengan Vovi?
Haura melirik ke arah Dion,"Ini bukan urusan bapak.
"Beginikah uccapanmu, setelah saya menolongmu? Seharusnya kubiarkan saja kau terjatuh.
Haura tidak menjawab pertanyaan Dion, itu membuat Dion kesal, Haura lalu menghubungi Vovi. Di kantor vovi terlihat melamun di ruangannya, dia lalu terkejut saat ponselnya berbunyi, dia melihat ponselnya dan segera mengangkatnya,"Haura!
Haura menjauhkan telpon dari telinga, dan menempelkannya kembali,"Kenapa kau berteriak, hampir saja gendang telingaku pecah karena tak bisa menahan tekanan gelombang suaramu yang menggelegar.
"Harusnya aku yang marah, kenapa kamu baru memberi kabar?
"Aku baru bisa menghubungimu, di sini aku mengalami banyak hal.
"Soal itu, apa kamu sudah tidak menangis lagi, jika menetap Pak Direktur?
"Iya, aku tidak menangis lagi, tapi ada hal aneh soal itu.
__ADS_1
"Selamat, akhirnya kamu bisa lepas dari kutukannya, hal aneh? apa ada masalah baru lagi?
"Iya, entah kenapa setiap aku menatapnya atau sekedar berada di dekatnya, jantungku berdebar kencang dan ada perasaan aneh yang kurasakan, seperti rasa panas pada seluruh tubuhku dan mukaku juga ikut memanas dan merah.
"Apa? Itu sih masalah yang sangat rumit, perasaan aneh yang kamu maksud adalah perasaan cinta atau lebih tepat kau menyukai dan mencintai Pak Direktur.
"Gila! Mana mungkin aku menyukai orang angkuh seperti dia? Nggak akan pernah, ingat itu, aku jadi menyesal memberitahumu soal masalahku, sampai jumpa lagi.
Tiiit..tiit...Haura? anak ini! Dia sudah menutup telponnya, bikin kesal.
"Haura ada apa? Apa kau kehilangan sesuatu?
"Tidak! Bapak jangan dekat-dekat denganku, katanya dan mulai menjaga jarak dengan Dion. Jatuh cinta? Menyukainya? Omong kosong, aku tidak mungkin mempunyai perasaan seperti itu pada orang seperti dia...Batin Haura.
"Kenapa tiba-tiba menyuruhku menjauh?
"Bapak tidak perlu tahu.
*****
Haura dan Dion kembali ke Jakarta, di luar bandara Dimas dan juga Vovi menunggu mereka, saat mereka melihat Haura dan Dion keluar dari Bandara, Vovi dan juga Dimas segera menemui mereka,"Haura, aku kangen padamu kata Vovi dan mulai memeluk sahabatnya itu.
Dion melirik Dimas tajam,"Aku baru datang Dimas, aku masih lelah, apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa kamu ajukan?
"Maaf pak, saya sudah kelewatan. Mereka semua lalu berjalan menuju area parkiran. Di dalam mobil, Haura dan Vovi asyik bercerita, Dion tertidur Karena kelelahan. Saat tiba di depan rumah Haura, Dion terbangun,"Kita ada di mana sekarang?
"Bapak terbangun, maaf apa saya terlalu berisik kata Haura tak enak hati.
"Aku bangun, karena mobilnya berhenti, ini tak ada hubungannya denganmu.
Vovi dan Dimas saling bertatapan, ini adalah pertama kalinya, Dion berbicara lembut pada Haura. Apa terjadi sesuatu pada mereka berdua saat di Bali? Seharusnya aku mengikuti mereka, biar aku tidak penasaran...Pikir Dimas.
*****
Dimas menurunkan barang Dion, Prana dan juga Ani menyambut anak semata wayangnya itu,"Dion kamu sudah kembali nak, bagaimana apa pekerjaan kamu baik-baik saja?
"Mama, apa tidak ada pertanyaan yang lain, selain pekerjaan? Aku lelah ma.
"Dion apa salahnya kamu menjawab pertanyaan mamamu, kata Prana membela istrinya.
__ADS_1
"Kalian berdua sama saja, pekerjaan di Bali lancar, kita menandatangani kontrak dengan Perusahaan Batik disana.
Ani berteriak gembira,"Aku bangga padamu nak, sekarang ibu bisa secara langsung memakai batik, tanpa harus memesan di luar lagi, mama senang.
Dion melirik kesal pada mamanya,"Semua ini berkat mama juga, andai saja mama tidak mengirim gadis itu, entah apa yang akan terjadi dengan proyek ini.
"Benarkah? Apa Haura berpartisipasi melancarkan proyek ini? Mama sudah menduga jika anak itu memiliki bakat.
"Papa, jadi ingin bertemu dengan anak itu. Apa dia sebaik itu?
"Kalian lanjutkan saja percakapan kalian, aku capek, aku akan beristirahat, jadi kuminta mama dan papa jangan mengangguku katanya dan meninggalkan keduanya.
Di dalam kamar, Dion merebahkan badannya di kasur,"Aku lelah sekali, jika aku mengeluh, Krystal akan memandangku dan menganggapku malas dan tidak bertanggung jawab. Kenapa aku malah mengingatnya, lebih baik aku tidur saja.
"Dion!
"Si..Siapa yang memanggilku? Dion lalu mencari sumber suara itu, Dion melihat seorang gadis berdiri di pinggir tebing, memakai gaun berwarna putih, Dion tahu siapa gadis yang memanggilnya, Dion mulai mendekat tapi jarak semakin menjauh,"Krystal!!!
Krystal berbalik, wajahnya tetap saja terlihat pucat,"Kamu kenapa?
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?
"Omong kosong apa itu?
"Aku melihatmu tersenyum pada gadis itu.
"Gadis yang mana? Dion tiba-tiba teringat pada Haura,"Maksud kamu Haura?
"Iya, kamu berbohong padaku Dion, setelah mengatakan itu Krystal melompat ke dalam tebing.
"Krystal!!!!!!!!! Tidak...Dion lalu terbangun, nafasnya terengah-engah, keringat mengucuri seluruh tubuhnya,"Ternyata cuman mimpi, apa aku terlalu baik pada Haura? Kenapa aku bermimpi seperti ini.
*****
Suara mama Dion terdengar dari ruang tengah, dia memanggil Dion dan menyuruh sarapan pagi bersama mereka, sebelum Dion ke Perusahaan. Tak lama kemudian suara klakson mobil Dion terdengar, Dimas sudah berada di depan rumah, dia datang untuk menjemput Dion dan membawanya ke Perusahaan, Dion hanya menghabisi sepotong sandwich dan meminum segelas susu dan bersegera menemui Dimas. Di perjalanan lagi-lagi Dimas menanyakan peristiwa yang menimpa Dion di Bali, tati tetap saja Dion masih menolak memberitahunya.
Di depan perusahaan secara kebetulan Haura dan juga Vovi tiba bersama, Dion melewati mereka tanpa menyapanya. Ada apa lagi dengan psikopat itu...Pikir Haura
Dimas menemui Haura atas permintaan Dion,"Haura, bapak ingin bertemu denganmu, dia menunggumu di ruangannya.
__ADS_1
"Baik. Haura menyuruh Vovi jalan lebih dulu, sementara dia akan menemui Dion, Haura masuk ke dalam ruangan, dia mendekat pada Dion, kini Haura berhadapan dengan Dion, Dion berbalik dan membuat keduanya saling menatap lagi, Jantung Haura kembali berdebar dan raut wajah Dion tidak terlihat senang, Dion mendekati Haura dan mengatakan sesuatu padanya,"Haura mulai sekarang jaga jarak denganku!