
"Lola! Maafkan aku.
Haura berbalik dan menatap heran pada Dion,"Lola? Bagaimana Bapak bisa tahu nama itu?
"Aku tahu kau Lola.
"Bukan, aku Haura.
"Tapi bagiku kau Haura dan juga Lola.
"Aku tidak tahu, dari mana Bapak mengetahui nama itu, tapi Lola sudah mati bersama dengan kenangan buruk dalam hidupnya, sekarang yang ada hanyalah Haura.
"Tapi yang kutahu, aku menyukai keduanya.
Haura tersenyum sinis,"Jangan bercanda, Bapak hanya menyukai Krystal.
"Itu tidak benar.
"Oh jadi, Bapak sangat menyukai Krystal dan hanya menyukaiku sedikit.
"Lola!
"Jangan panggil aku Lola!
"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Krystal?
"Apa maksudmu?
"Aku tahu semuanya, dialah yang menyarankanmu untuk mengganti namamu, alasannya agar kamu bisa menjalani hidup yang baru dan melupakan kenangan lamamu, aku benar kan.
"Bagaimana kamu bisa tahu?
"Ini semua salahku, gara-gara aku, kamu harus menanggung rasa cemburu dari Krystal, pesan terakhirnya dia menyuruhku meminta maaf padamu.
"Untuk apa Krystal menyuruhmu meminta maaf padaku? Dia sama sekali tak punya salah apapun padaku.
"Apa kamu memang tidak tahu?
"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi lupakan soal itu, sekarang kita bahas masalah kita berdua. Setidaknya kamu datang menemuiku di bandara, aku menunggumu seperti anak ayam yang menunggu induknya datang membawa makanan, menyedihkan.
"Aku tahu, apapun yang kujelaskan padamu tidak akan merubah apapun, aku sudah terlambat, semuanya. Ini bukan pembelaanku, tapi aku datang pada hari itu, aku juga seperti induk ayam yang mencari anaknya di tengah kerumunan induk ayam lainnya, mencarimu, bukan dorongan dari siapapun, tapi aku sadar aku memang tidak bisa jauh darimu Lola.
"Kenapa kau terus memanggilku Lola.
"Karena dari awal Dion hanya menyukai Lola.
__ADS_1
"Di..Dion? bagaimana kamu mengenal Dionku?
Dion tersenyum,"Aku pikir kamu membenci Dion.
"Kamu tidak mejawabku, bagaimana kau tahu soal Dion.
"Kamu memang bodoh, apa kau tidak tahu siapa nama asliku?
"Pak Wijaya.
"Bukan, itu nama ayah dari kakekku.
"Lalu siapa namamu?
"Aku Dion Lola, Dion Wijaya. Segera Dion berlutut pada Haura tanpa mengangkat wajahnya,"Maafkan aku Lola nadanya terdengar tulus dan penuh kesedihan,"Maaf karena tidak mengenalmu, aku selalu ingin bertemu denganmu, ingin tahu bagaimana wajahmu, andai saja aku bisa mengenalmu, aku tidak mungkin melakukan kesalahan. Maafkan aku, aku memang sudah sangat terlambat. Dion tidak menyangka, air matanya akan jatuh karena meminta maaf pada Haura.
Haura juga menangis, tenggorakan seperti terjepit, dia tak bisa mengatakan apa-apa karena terkejut, suaranya tiba-tiba menghilang, Haura membantu Dion berdiri, dia menatap Dion yang pertama kali melihatnya menangis, ini langkah bagi Haura, dipikiran Haura, lelaki yang saat ini di sentuhnya adalah lelaki tangguh, penindas dan kejam tapi pada dasarnya dia lemah terhadap orang yang di cintainya, Haura menyeka air matanya dan juga menyeka air mata Dion, dia lalu meremas kerah baju Dion, kemudian melepasnya dan memukul-mukul dada Dion berulang-ulang,"Kamu kemana saja? Aku sudah lama mencarimu, ponselku hilang saat aku masuk ke meja operasi, entah dicuri seseorang atau terjatuh, aku selalu menantimu, aku merasa bersalah padamu, aku sudah berbohong padamu soal penyakitku, aku gadis buta, aku malu bertemu saat itu denganmu. Haura tidak melanjutkan karena terisak, Dion menarik Haura dalam pelukannya.
"Aku yang harusnya meminta maaf, aku sudah membentakmu, aku memakimu, aku pantas menerima hukuman darimu, apapun itu aku terima.
"Kamu bodoh, jahat, aku membencimu.
Keduanya larut dalam pelukan dan tangisan di waktu yang sama.
"Haura, selamat atas pernikahanmu.
"Kamu.
"Dengan siapa?
"Satria?
Haura terkekeh,"Kata siapa aku sudah menikah?
"Aku pikir kalian menikah.
Haura menyubit perut Dion dan membuat Dion mengerang kesakitan,"Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sudah meninggal.
Dion terkejut dan memegang bahu Haura,"Apa? Bukannya dia pergi bersamamu ke Amerika?
"Memang benar, tapi. Haura tidak bicara, raut wajahnya berubah menjadi sedih, dia kembali menangis dan memeluk Dion,"Karena aku, dia meninggal karenaku Dion.
"Apa maksudmu?
"Saat di Sophie waktu Ka Satria memukulmu, aku jatuh pingsan, dan Ka Satria tahu jika aku memiliki penyakit jantung.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Aku sudah menduganya saat melihatmu, aku yakin kamu sakit waktu itu, tapi bagaimana Satria bisa meninggal?
"Dia mendonorkan jantungnya padaku, bahkan saat kami bertemu di ruang operasi, aku menyuruhnya agar tidak melakukan hal konyol, yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Tapi dia malah tersenyum padaku dan mengatakan,"Aku lebih baik mati daripada kamu, berjanjilah padaku, jika operasinya berjalan lancar kembalilah ke Indonesia, dan berbahagialah dengan lelaki brengsek itu, aku tahu dia mencintaimu dan dia lelaki yang baik, itu pesan terakhirnya padaku.
Dion mengelus lembut rambut Haura,"Aku berhutang berapa banyak pada Satria.
"Tidak akan bisa kamu hitung.
"Kamu benar, dia lelaki yang sangat baik.
Haura tersenyum dan juga mengangguk membenarkan.
*****
Dion mengandeng tangan Haura menemui Ani dan juga Prana, Ani sedang memasak di dapur saat keduanya datang, semmentara Prana menyemburkan the yang di minumnya, karena melihat Haura dan Dion berpegangan tangan,"Pa? Mama di mana?
Prana masih bingung dan hanya menunjuk ke arah Ani,"Dia ada di sana.
Ani masih sibuk dengan masakannya,"Siapa sayang? Ani berbalik dan membekap mulutnya,"Ha..Haura? ani meninggalkan masakannya dan memeluk Haura,"Aku pikir kamu tidak akan pernah muncul lagi Ani melepas pelukannya, memegang kedua lengan Haura,"Aku mendengar dari Dion, jika kamu sudah menikah, tapi kenapa kalian datang dengan begandengan tangan.
Dion mengaruk ujung alisnya dan menjilat bibirnya,"Sepertinya aku salah paham Ma, Haura belum menikah, dan namanya bukan Haura, tapi Lola.
"Aku tidak memperdulikan Bibi ingin memanggilku Haura maupun Lola.
Ani tersenyum dan menyuruh mereka duduk di meja makan, smeentara dia akan menyiapkan makanan untuk semuanya.
Mereka berempat sedang menikmati makanan mereka, Dion tiba-tiba mendorong kursi dan bangkit dari duduknya, dia menjulurkan tangannya kepada Haura, Haura menggapai tangan Dion, keduanya berdiri dan menatap kedua orang tua Dion, Dion angkat suara,"Ma, Pa! aku ingin menikah dengan Lola, apa Mama dan Papa merestui kami?
Ani tersenyum bahagia dan juga menangis terharu, Ani tak bisa berbicara, suaranya seakan tertahan di tenggorokan, Ani hanya mengangguk begitupun dengan Prana.
Haura dan Dion saling bertukar pandang dan tersenyum.
*****
Sepagi ini kamu mau mengajakku ke mana? Tanya Haura kesal, karena masih mengantuk.
"Aku menyuruhmu keluar, kita akan pergi ke suatu tempat. Dion mendekati Haura, Haura menjauh, tapi Dion kembali menariknya, Dion mengendus-ngendus Haura,"Kamu belum mandi?
Haura menarik tangannya, mencium setiap sudut di badannya,"Apa aku bau? Katanya sembari mengusap matanya.
Dion menggeleng, dia memaksa Haura masuk ke dalam mobil, menutup pintu mobil dan berjalan ke arah kemudi, Dion duduk dan menyenderkan Haura ke kursi mobil,"Jika kmau masih mengantuk tidur saja, saya akan membangunkanmu jika sudah sampai di tujuan.
Haura kembali duduk dan menatap wajah Dion,"Kamu? Mau menculikku ke mana?
Dion mendorong kening Haura dan membuatnya berbaring,"Diam, aku akan fokus menyetir.
__ADS_1
Haura memutar bola matanya ketus.
Dion tersenyum menggodanya,"Kamu imut sekali. Dion menyalakan mesin mobil dan menginjak gas, sepanjang perjalanan Dion terus memegang tangan Haura.