Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 10 Aku Kecewa Dion


__ADS_3

Pagi hari ketika sedang menikmati sarapan, handphone Krystal berdering. Dion seketika menghentikan makannya. Dia penasaran siapa gerangan yang menelpon Krystal.


"Wa Alaikum Salam. Ada apa Panji?" Mendengar Krystal menyebut nama Panji, wajah Dion langsung cemberut.


"Iya, terima kasih." Telpon ditutup.


"Kok singkat sekali. Ada berita apa?"


"Panji baru saja dari tempat kakek Faiz. Aku yang memintanya menengok kakek. Katanya kakek baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir."


Seharusnya aku yang lebih peduli pada kakek karena dia adalah kakekku, Dion membatin.


"Oh, begitu. Tumben dia menelponmu."


"Dia sibuk."


"Hari ini aku tidak bisa mengantarmu, Krystal. Aku ada kuliah. Setelah kuliahku selesai, aku akan mengajakmu menemui pacar-pacarku."


"Baiklah, sambil menunggu kamu selesai kuliah, aku akan jalan-jalan."


"Kamu berani jalan sendiri?"


"Aku akan naik taksi. Nanti kembali ke sini lagi."


"Aku akan menelponmu jika sudah selesai. Mau aku pesankan taksi?"


"Tidak usah. Aku akan menunggu di pinggir jalan."


Lewat tengah hari, sms dari Dion mengabarkan jika dia telah selesai kuliah. Krystal kemudian bergegas keluar dari taman bunga untuk kembali ke rumah Dion, dengan membawa sepucuk bunga mawar. Sementara di rumahnya, Dion sedang memikirkan strategi untuk memutuskan pacar-pacarnya.


Dia kemudian mengirim pesan pada Lola karena tak bisa menghubungi gadis itu, setelah beberapa kali dia menekan nomor telponnya. Dion hanya mengirim permintaan maaf karena ingin putus dari Lola, tak banyak kata yang dion tuliskan. Dion sangat menyayangi gadis itu tapi dia harus memilih Lola atau Krystal. Dan dia lebih memilih Krystal.


Giliran berikutnya, Winda.


"Eh, Dion. Maaf Dion, sekarang aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita. Tolong jangan hubungi aku lagi ya. Aku ingin kita putus. Semoga kamu tidak tersinggung."


Dion hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata.


"Ternyata bukan aku yang memutuskan Winda. Dia sendiri yang memutuskan aku." Ujarnya sembari tertawa.


"Hei, ketawa sendiri kayak orang gila." Tegur Krystal ketika tiba di rumah.


"Aku baru saja memutuskan dua pacarku."


"Oh,ya? Lalu sekarang kita kemana? Giliran siapa yang akan kamu putuskan?"


"Namanya Sari. Tapi kita harus ke kampusnya karena hari ini dia ada kuliah."


"Memangnya kamu tidak satu kampus dengannya?


"Tidak, dia adalah kenalan dari teman kelasku.


"Oh begitu.


*****


Tiba di kampus Sari, gadis itu ternyata baru saja memarkir motornya.


"Dion. Apa kabar? Kau menghilang kemana saja?"


"Kabarku baik. Hanya saja kabar yang akan aku sampaikan mungkin tidak baik."


"Ehm, emang kabar apa?"


"Aku ingin kita putus. Karena selama bersamamu, aku merasa terus dibuntuti makhluk halus. Entahlah seperti ada hantu yang terus mengikutiku."


Mata Sari membulat kaget.

__ADS_1


"Benarkah? Aku tidak ingin bertemu dengan hantu. Lebih baik kita putus saja."


Sari kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan Dion yang susah payah menahan tawa. Namun ketika bertemu Krystal, pemuda itu tak kuasa menahan tawanya.


"Dasar gadis aneh. Jaman sudah canggih seperti ini masih saja mau dibodohi hahahahaha.. Aku katakan ada hantu yang selalu mengikutiku. Dia langsung kabur dan meminta kami putus saja."


Tawa Krystal pun meledak.


"Benar-benar aneh."


"Seperti itulah Sari. Tipe orang memang berbeda-beda. Tapi dari sekian gadis yang aku temui, hanya kamu yang paling aneh. Bukan aneh tapi langka."


"Langka? Kok bisa langka?"


"Iya karena kamu sangat suka mawar hingga semua hal tentang dirimu berkaitan dengan mawar. Parfum, shampoo, sabun bahkan aksesoris yang kamu kenakan semua bentuknya mawar."


"Ini pujian atau hinaan?"


"Anggap saja pujian."


"Terima kasih. Lalu siapa lagi gadis yang akan kita temui?"


"Untuk hari cukup di sini saja, sekarang kita lanjutkan pencarian ibu dan kakakmu. Kita bisa melacak alamat yang diberikan bapak tua kemarin."


"Hari ini pacar yang kamu putuskan baru dua orang ya?"


"Tiga kok."


"Yang satunya lagi siapa?"


"Tidak usah dibahas lagi. Yang penting aku sudah putus dengan mereka,"Jika hasilnya tetap nihil, aku harap kau jangan bersikap seperti kemarin di rumah bapak tua itu ya. Aku bingung bagaimana bersikap. Seandainya ada Panji, mungkin dia lebih paham bagaimana menghadapimu."


"Tumben kata-katamu benar.."


"Karena dia tunanganmu. Wajar jika kamu menyandarkan bahumu padanya."


"Eh, coba cek kertasnya. Alamatnya benar yang ini kan?" Dion menunjuk sebuah rumah.


"Sepertinya ini alamat yang disampaikan bapak itu, Dion. Ayo, kita turun."


Sebelum mereka mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Maaf, anak berdua mencari siapa?"


"Maaf, Bu. Kami mencari alamat ini." Dion menyodorkan kertas berisi alamat.


"Iya, alamatnya benar. Kalian mencari siapa?"


"Begini, Bu. Temanku ini sedang mencari ibu dan kakaknya. Namanya Ibu Hilda."


"Ya ampun. Kamu anaknya Hilda? Ibumu menjual rumah ini setahun yang lalu." Perempuan itu langsung membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, Bu. Kami buru-buru. Apa Ibu tahu alamat Ibu Hilda sekarang?"


"Iya. Tunggu ya, saya ambilkan." Perempuan itu kemudian masuk ke dalam rumah tidak lama kemudian dia muncul dengan lembaran kertas di tangannya.


"Ini alamatnya."


"Makasih, Bu." Mata Krystal berkaca-kaca saat mengucapkan kata-kata itu.


"Sama-sama, Nak. Kamu mirip dengan ibumu, sangat cantik."


Mereka lalu pamit. Sepanjang jalan, sesekali Dion memperhatikan Krystal yang murung.


"Ada apa, Krystal?"


"Aku mulai frustasi bisa menemukan ibuku. Semua alamat yang diberikan pada kita berujung ibu pindah."

__ADS_1


"Sabarlah. Setidaknya kita sudah berusaha."


Dion mulai khawatir karena raut wajah Krystal tak lagi putih, sekarang bahkan cenderung pucat. Pemuda itu berharap, Krystal segera bisa menemukan ibu dan kakaknya agar tak lagi ada pencarian yang melelahkan bagi Krystal.


Alamat yang dituju Dion dan Krystal berikutnya sungguh mencengangkan. Jika sebelumnya rumah yang mereka temukan meski bagus namun tak semewah sekarang. Satpam rumah tersebut membuka pintu kecil didekat gerbang ketika Dion memencet bel.


"Kalian cari siapa?"Tanya Satpam tegas tanpa senyum.


"Kami sedang mencari seseorang,Pak. Namanya Ibu Hilda. Ini alamatnya." Dion memberikan kertas tersebut. Satpam memperhatikan kertas lalu beralih pada Dion dan Krystal.


"Tunggu sebentar, saya akan tanya pada Bos."


Satpam itu kemudian masuk ke pos penjagaan lalu menelpon seseorang. Tidak lama kemudian dia keluar, mengunci pintu pagar lalu mengantarkan Dion dan Krystal ke teras rumah.


"Silahkan tunggu disini."


Satpam itu kemudian kembali ke pos penjagaan. Tinggallah Dion dan Krystal saling pandang.


"Kamu kenapa, Dion?"


"Aku heran dengan mamamu. Rumah sebelumnya juga tergolong sangat bagus meski belum mewah. Nah yang sekarang, rumahnya benar-benar mewah. Sepertinya ada yang disembunyikan mamamu, Krystal. Kenapa dia selalu menjual rumah dan berpindah tempat?"


"Mungkin mama ingin suasana baru."


Setelah lima belas menit menunggu, seorang wanita cantik keluar menemui mereka.


"Silahkan duduk, satpam saya mengatakan kalian mencari Ibu Hilda?"


Krystal mengangguk.


"Saya anaknya, Bu. Sudah beberapa hari ini saya mencari mama."


"Kamu Krystal? Ternyata kamu secantik mamamu. Dia sering bercerita tentang kamu."


Mata Krystal mulai dipenuhi embun.


"Bibi tahu dimana mama sekarang?"


"Mamamu memberi alamat pada bibi tapi bibi belum pernah berkunjung kesana. Maklum bibi sibuk dengan bisnis."


"Aku heran, Bi. Kok mama sering pindah-pindah rumah?"


"Oh, begini. Waktu itu mamamu pernah tinggal seminggu disini. Dia cerita katanya dia menghindari ayahmu yang sering mencarinya. Karena itu dia sering pindah-pindah tempat untuk menghindari ayahmu."


"Tapi untuk apa? Padahal ayah mencari mama karena ingin menitipkan aku. Waktu itu ayah sakit parah. Sekarang ayah sudah meninggal."


"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Bibi turut berduka dan prihatin dengan ayahmu."


"Boleh kami catat alamat mama, Bi?"


"Tunggu, ya. Bibi ambilkan catatannya." Wanita itu kemudian masuk ke kamar lalu keluar lagi.


"Ini, alamatnya Krystal. Bawa saja kertasnya. Semoga kamu segera bertemu mamamu. Sampaikan salam bibi ya."


Krystal dan Dion kemudian pamit.


"Kita pulang saja, Dion." Ucap Krystal ketika mereka didalam mobil. Dion baru saja hendak menjalankan mobilnya.


"Kenapa, Krystal? Bukankah kita sudah hampir menemukan mama dan kakakmu?"


"Aku tidak ingin bertemu mama. Aku tidak menyangka mama tega pada ayah padahal saat itu ayah sakit keras tapi tetap berusaha mencari mama. Aku kasihan pada ayah."


"Kamu serius tidak ingin bertemu mamamu dan menanyakan kenapa menghindari ayahmu?"


"Aku tidak perlu tahu alasan mama. Sekarang aku tahu, mama tidak ingin melihat ayah dan diriku. Lalu untuk apa aku mencarinya?"


"Apa kamu tidak akan menyesalinya nanti?

__ADS_1


"Aku tidak perduli dan tidak akan memikirkannya.


__ADS_2