Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
CHAPTER 44 SELAMAT UNTUKMU


__ADS_3

Haura berlari mengejar Satria dan berakhir memeluknya dari belakang,"Kak satria bawa aku bersamamu, aku tidak sanggup lagi, aku terluka, aku menderita, aku tidak ingin di negeri ini lagi, kumohon bawa aku menjauh darinya!


Satria tertegun, dia tidak tahu harus senang atau biasa saja, tapi jika harus jujur, dia sangat bahagia, Satria melepas pelukan Haura dan berbalik menatapnya,"Kamu serius? Kamu akan ikut kemanapun aku membawamu?


"Iya. Haura mengangguk pasti.


*****


Dion berjalan tak semangat, Dimas tak sedikitpun lengah menatap atasannya itu,"Kenapa kau terus menatapku?


"Aku khawatir pada anda.


"Khawatir? Aku tidak mengerti maksudmu.


"Haura.


Dion menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Dimas,"Jangan pernah menyebut namanya kata Dion tegas dan kemudian masuk ke dalam lift, dan Dimas juga menyusulnya masuk.


Dimas terus melihat Dion saat berada di dalam lift, ingin rasanya dia segera mengatakan apa yang di katakan Haura padanya kemarin, Dimas sebenarnya tak ingin mengatakan ini pada Dion, Dimas sudah tahu pasti jawabannya, tapi setidaknya Dimas memberitahunya,"Pak?


"Ada apa?


"Ini soal Haura.


"Saya kan sudah bilang ke kamu, jangan pernah menyebut namanya di depanku.


"Saya hanya ingin memberitahu Bapak, dia akan mengundurkan diri dan pergi ke Amerika, kemungkinan besar dia tidak akan kembali ke Indonesia lagi.


"Terus? Apa hubungannya denganku? Dia mau pergi kemanapun itu tidak ada hubungannya denganku.


"Haura akan pergi bersama dengan Satria.


Dion menggaruk alisnya dan kemudian memandang Dimas penuh Tanya,"Satria?


"Dia adalah lelaki yang waktu itu mengantarnya.


"Aku tahu, aku kenal dengannya, semoga mereka bisa hidup bahagia, kata Dion dan berjalan keluar dari lift yang terbuka, Dimas mengikutinya.


Aku sudah tahu, pasti jawabannya seperti seolah tak peduli tapi kenyataannya dia peduli, dasar egois! Batin Dimas menggeleng.


*****


Haura memberi helm itu dan menempelkannya pada dada Satria,"Haura kau tak seharusnya datang sepagi ini, hanya untuk memberi surat pengunduran dirimu dan juga mengambil barang-barangmu, aku bisa mewakilimu.

__ADS_1


Haura tetap diam dan meninggalkan Satria yang masih mengendarai motornya,"Haura? Dasar! Aku sebaiknya memarkir motor ini dulu, katanya dan menjalankan motornya.


Haura berjalan masuk ke dalam gedung, di sepanjang jalan semua staf melihatnya, tapi Haura tetap berjalan dan tidak memperdulikan siapapun.


*****


Satria menyusul Haura ke dalam departemen store Sophie milik Dion, dan dia tidak sengaja melihat Dion,"Oh? Bukannya dia lelaki brengsek itu? Satria lalu berjalan mendekat dan memanggil Dion,"Hei!


Dion menoleh dan melihat Satria sudah tak jauh beberapa meter darinya,"Kau? Ada keperluan apa denganku?


"Aku hanya menyapamu saja.


"Tidak perlu basa-basi, katakan apa maumu?


"Kau memang ******** menjengkelkan.


"Apa?


"Aku bersyukur karena kau mau melepaskan dia, itu artinya kau tidak punya kesempatan lagi merebutnya dariku.


"Dia siapa maksudmu?


"Tentu saja Haura, kau pikir siapa lagi?


Dion mengangkat sedikit ke atas alisnya,"Haura? Ambil saja untukmu, aku tidak butuh lagi dengannya.


Satria kembali memukul Dion, membuat Dion Terjatuh ke lantai, Dion merasakan darah menggalir dari sudut bibir lainnya, dia lalu duduk memegang bibirnya dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, dari arah berlawanan Haura melihat ada banyak kerumunan, Haura segera berlari ke arah kerumunan itu, Haura melihat punggung Satria sedang menghadap seseorang di lantai,"Apa kau sudah puas dengan pukulanku?


Apa yang sedang dibicarakan ka Satria dengan orang yang duduk di hadapannya? Pikirku, aku berusaha melewati beberapa orang, agar bisa melihat mereka dengan jelas, hal pertama yang kulihat membuatku merasakan ada yang mengalir dari ujung kakiku sampai ke ubun-ubun, aku merasakan ragaku lepas dari tubuhku dan kemudian masuk secara membabi-buta, aku melihat direktur teregeletak dan melihat luka di wajahnya, aku tanpa sadar menjatuhkan kardusku dan tanpa pikir panjang mendorong ka Satria menjauh dari Pak Direktur, lalu aku mendekatinya,"Apa yang kau lakukan padanya? Pertanyaanku pada Satria.


Satria ingin mendekatiku, tapi aku menyuruhnya untuk berhenti, aku lalu menaruh badan Pak Direktur di bahuku, dan bertanya padanya,"Apa kamu baik-baik saja?


Pak Direktur tersenyum geli dan menyingkirkan tanganku,"Kau tidak perlu bersikap baik padaku. Dion berusaha bangkit dari lantai, dia berdiri tak tegap, dan mendekati Satria,"Kau sudah puas memukulku bukan? Itu artinya aku tidak punya utang apapun lagi padamu, melainkan kau yang berhutang, berbahagialah bersamanya...kata Dion dan berjalan melewati Haura, Haura menangkap tangan Dion,"Pak, biarkan aku menyembuhkan luka Bapak.


Dion berbalik dan menatap Haura lekat-lekat,"Kamu tidak perlu melakukan itu, kau tahu aku membenci bertemu, apalagi melihat wajahmu, terutama mata itu, kau datang untuk menyerahkan surat pengunduran dirimu bukan? Yah, aku katakan aku menerimanya dengan senang hati, sekarang pergilah, dan jangan menunjukkan wajahmu padaku lagi, aku lelah dengan semua permainanmu Haura! Kumohon pergilah! Dan berbahagialah dengannya, aku tulus! Kata Dion dan menarik tangannya kemudian melangkah menjauh dari Haura.


Spontan rasa nyeri yang sangat sakit yang baru pertama kali kurasakan seketika menyerang jantungku, aku keringat, pandanganku mulai kabur, aku merasakan badanku menolak perintahku untuk tetap bertahan dan hal terakhir yang kulihat adalah bayangan punggung Direktur berjalan meninggalkanku, setelah itu aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.


Seluruh pelanggan dan staf berteriak sesaat mereka melihat Haura jatuh pingsan, Satria orang pertama yang berhasil mendekati Haura dan mengendongnya pergi dari Perusahaan. Dion melihat Haura, tapi dia tetap egois dan melanjutkan perjalanannya.


Dion melangkah masuk ke dalam ruangannya, Dimas hendak membantunya tapi Dion menolak,"Tidak perlu aku bisa sendiri.


Saat di dalam kantornya, Dion merasakan sesuatu membakar hatinya, dia memukul meja dan menendang kursinya, dia melonggarkan dasinya dan memasukkan salah satu tangannya ke dalam sakunya,"Semuanya sudah berakhir Haura, tidak ada lagi perasaan yang tersisa, yang tersisa hanya kesedihan, dendam dan juga amarah, aku tidak tulus mengatakan jika aku ikhlas melepasmu bersamanya, tapi aku percaya kau bisa bahagia tanpa ada aku yang selalu menyakitimu karena bayang-bayang Krystal, maafkan aku Haura...Kata Dion, hingga akhirnya tak sadarkan diri karena luka yang di terima dari pukulan Satria.

__ADS_1


*****


Satria keluar dari taksi, dan membayar tagihannya, dia membawa Haura ke dalam rumah sakit, dokter pertama yang di 


temui Satria adalah Dion, Dion panik dan segera menyiapkan ruang untuk Haura dan berbicara dengan Satria,"Kenapa dengannya?


"Aku juga tidak tahu Dok, dia terus saja merintih kesakitan.


"Aku sudah memperingatkannya, agar segera melakukan operasi jantung.


"Apa? Operasi jantung?


"Iya, apa dia tidak memberitahumu?


"Tidak.


"Dia menderita gagal jantung dan secepatnya harus segera menerima donor jantung.


Satria melemas mendengar penjelasan Dokter Panji, sebelum dia masuk ke dalam ruangan Haura. Apa yang terjadi pada Haura? Dia baru saja menikmati hidup yang baru dengan matanya, tapi dia harus menderita penyakit mematikan setelahnya, ya tuhan kumohon selamatkan dia.


*****


Panji kembali keluar dari ruangan Haura,"Jantung Haura masih bisa bertahan, tapi tidak dalam jangka waktu yang lama, tapi jika dia disini itu sama saja membunuhnya secara perlahan, sampai sekarang aku masih belum bisa mendapatkan donor jantung untuknya.


"Aku dan Haura, berencana akan ke Amerika, mungkin aku bisa menemukan pendonor untuknya di sana.


"Itu ide yang bagus, tapi jangan biarkan dia merasakan hal yang menyakitkan.


"Baik Dok.


Satria menemui Haura, yang masih tertidur di atas ranjangnya, dia duduk dan menatap wajah Haura,"Apa yang harus aku lakukan padamu? Kamu selalu saja menyembunyikan penyakitmu dariku. Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Satria meremas tangan Haura dan berharap Haura bisa bahagia.


Haura seakan merespon genggaman Satria dan membuatnya sadarkan diri, Satria terkejut dan berniat untuk memanggil dokter, tapi tangan lemah Haura menghentikannya, Satria berbalik dan melihat ke arah Haura, Haura mengelengkan kepalanya pelan yang seolah mengatakan. Jangan-melakukan-apapun. Satria kembali duduk dan mengenggam tangan Haura,"Kamu sudah sadar? Apa kamu baik-baik saja?


"Iya aku baik-baik saja.


"Syukurlah, apa kamu bisa bangun?


Haura tidak menjawab tapi mengangguk pelan.


Satria membantu Haura dan Haura mengatakan sesuatu,"Ayo kita ke Amerika.


Satria memandang ke dalam mata biru Haura,"Kamu serius? Tapi kamu masih sakit.

__ADS_1


"Tapi, beberapa jam lagi pesawat kita akan berangkat, lagipula Bibi sudah mengemas barang-barangku, kumohon Kak ayo kita pergi.


Satria melihat bibir Haura yang pucat, membuatnya bersimpati,"Ayo kita pergi jauh darinya.


__ADS_2