Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 CHAPTER 43 BAWAH AKU PERGI


__ADS_3

Dimas melihat Haura meninggalkan ruangan dan tersenyum. Semoga kamu bisa bahagia dengan Satria.


Haura berjalan dengan perasaan yang hancur, air mata keluar tak tertahankan. Tegah sekali, kenapa aku begitu bodoh dan mencintai lelaki seperti dia, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku sungguh menyedihkan...Batin Haura.


*****


Dion benar-benar kesal, dia meninju tembok seolah sedang latihan boxing tanpa pengaman dan tidak memperdulikan tangannya yang mulai terluka,"Dasar sial! Kau kurang ajar Haura, dengan wajah polosmu kamu datang menggodaku dengan niat untuk memanfaatkan perasaanku yang goyah karena percaya kau mirip dengan Krystal, nyatanya kaulah iblis betina di sini! Pandangan Dion pudar, kepalanya terasa pusing, dia memutuskan menghentikan aksinya, dia membuang badannya di atas kursi, Dion menunduk dan mulai memijit kepalanya. Bayangan Haura muncul, saat dia tersenyum, menangis dan ketakutan, seketika Dion melempar ponselnya,"Jauhkan dia dariku, beraninya dia muncul dipikiranku.


*****


Haura pergi dari Sophie tanpa berbalik, dia terus saja berjalan dan menahan taksi yang sedang menurunkan penumpangnya,"Pak tolong ke alamat ini, kata Haura menyodorkan pesan tertulis di ponselnya.


Supir taksi mengangguk dan menjalankan mobilnya. Haura masih saja memegang dadanya yang semakin nyeri,"Aku harus segera kembali ke rumah, aku akan meminum obat nyeri, aku sudah tidak tahan lagi kata Haura sembari menyenderkan kepalanya di mobil.


*****


Supir taksi membangunkan Haura yang tanpa sadar tertidur di atas mobil,"Mba? Bangun! Sudah sampai.


Haura memaksa membuka matanya, dia meminta maaf karena sudah merepotkan supir taksi,"Maaf. Haura membayar tagihan dan turun dari mobil sambil menutup pintu taksi itu, Haura berjalan masuk ke dalam rumah, kepalanya masih terasa pusing, pandangannya juga kembali kabur,"Sepertinya aku sekarat.


Bibi melihat Haura pulang, tapi ada yang aneh,"Kenapa Haura pulang lebih cepat. Bibi mendekati Haura dan mulai bertanya,"Haura? Kenapa kamu pulang cepat? Apa kamu sakit?


Haura menggeleng lemas,"Bi, aku akan tidur di atas, jangan membangunkanku.


"Baik.


Haura melangkahkan kakinya melewati anak tangga satu persatu, tapi entah kenapa rasanya sungguh berat walau hanya berjalan, Haura merasa seperti seolah ada beban berat yang diikatkan pada kedua kakinya, dengan mengerahkan semua kekuatannya, Haura berhasil menaiki anak tangga terakhir, dia mulai berjalan lunglai, bibirnya memucat, sakit di dadanya mulai tak bersahabat. Haura membuka pintu dan menyambar botol minumnya di atas meja, dia duduk di atas kasurnya dan mengambil obat, beberapa pil obat dia tuang kemulutnya, dan mendorongnya dengan air minum,"Akh! Pahit. Setelah meminumnya Haura tertidur, karena tak sanggup lagi menahan sakit di dadanya.


Dalam tidurnya Haura bermimpi, dia bertemu dengan Dion, Dion memakinya dan meminta agar Haura memberikan kembali mata itu padanya, karena lebih baik mata itu dikoleksi Dion, daripada harus di gunakan oleh Haura, Haura berteriak,"Jka itu maumu, ambil! Ambil saja mata ini, Haura membuka matanya, nafasnya terengah-engah seperti habis mengikuti lomba lari marathon, Haura menyeka keringat yang menyelimutinya dengan tangannya, dia berdiri dan keluar dari kamar. Bibi yang melihatnya, menegur Haura,"Kamu mau ke mana?


"Aku ingin bertemu Ka Satria.


"Tapi, kamu belum mandi.

__ADS_1


Haura tidak perduli dan mulai menelpon Satria, Satria mengangkat telponnya, Haura merasa senang dan berteriak padanya,"Kakak! Panggilnya disertai tangisan yang memenuhi telinga Satria.


"Kamu kenapa? Ini baru dua minggu, apa kamu dan dia sudah punya masalah.


Haura masih menangis saat menjawab pertanyaan Satria,"Kak? Kakak ada di mana? Aku beberapa hari ini menghubungimu, tapi kamu sama sekali tidak bias di hubungi.


"Kamu ada di mana sekarang?


"Aku ada di dekat rumahku.


"Tunggu aku, aku akan segera menemuimu.


Haura duduk dan memeluk kedua lututnya kemudian menangis lagi,"Apa yang aku lakukan? Aku tidak bisa melupakan lelaki jahat itu, aku sudah sangat menyukainya melebihi rasa sukaku pada Kak Satria dan mantanku sebelumnya.


*****


Satria memarkir motornya dan segera menemui Haura, dia berhenti saat melihat Haura duduk seperti seorang pengemis yang meminta makanan, karena tidak makan selama sebulan, Satria berjalan lamban ke arah Haura, dia duduk di samping Haura dan mengusap lembut rambut Haura.


Satria membalas pelukan Haura walaupun sedikit ragu. Gawat! Jika lelaki arogan itu melihatku memeluk gadisnya, dia pasti akan memukulku...Pikir Satria.


Satria mendorong pelan Haura dari pelukannya dan memandanginya,"Kamu kenapa? Kamu tahu? Aku paling tidak suka melihatmu menangis seperti ini kata Satria dan mulai menyeka air mata Haura yang mengalir di pipinya.


Haura kehabisan suara karena terus terisak,"Kak, nanti saja aku cerita, lebih baik kita ke rumahku saja dulu, kaka sudah dua minggu tidak datang, Bibi sedikit khawatir.


Satria mengangguk dia bangkit dari duduknya dan membantu Haura berdiri,"Bagaimana dengan motor kaka?


"Apa kamu bisa jalan sendiri?


Haura mengangguk,"Iya. Satria melepas tangannya dan memindahkan motornya, sementara Haura berjalan kea rah rumahnya.


Di dalam rumah, Bibi senang melihat kedatangan Satria, Bibi membuatkan minuman untuk mereka berdua, Haura mulai menceritakan kenapa dia bisa sedepresi ini.


"Kamu sebenarnya kenapa?

__ADS_1


"Kak, aku dan Direktur...kami berdua sudah bubar.


"Apa? Tapi kalian baru jadian selama dua minggu, apa lelaki itu selingkuh? Jika benar, aku akan memukulnya, karena berani melukai gadis cantik sepertimu.


Di tengah pembicaraan mereka, Bibi datang membawa nampan berisi teh,"Nak Satria silahkan di minum tehnya kata Bibi dan kemudian kembali meninggalkan mereka berdua.


Tangan Haura gemetar dan berusaha menahan amarahnya, dia mengepal kuat kedua telapak tangannya,"Ada seseorang yang mengatakan jika aku menerima donor mata dari kekasih Direktur yang meninggal beberapa tahun yang lalu.


"Lalu apa masalahnya?


"Dia sangat mencintainya, dia marah padaku, dia bilang jika aku sengaja datang padanya dan merayunya, hanya untuk bersenang-senang dan melukainya,dan kaka tahu hal apa yang paling melukaiku? Dia menunjuk mata ini dan berkata jika aku tak pantas memiliki mata ini, benar aku memang tidak pantas. Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki gadis cantik dan ceria ini, Haura melempar cangkir teh ke lantai dan mengambil pecahan cangkir yang membentuk seperti pisau tajam, dia dengan cepat melayangkan pecahan itu ke arah matanya yang dia buka dengan lebar dan darah segar memenuhi wajah Haura, aneh Haura tidak merasa rasa sakit, dengan cepat Haura membuka matanya dan melihat tangan Satria menutupi sebagian wajahnya, Satria menarik benda tajam pada Haura dan melemparnya, dia lalu terduduk dan menekan lukanya, Haura panic dan merasa bersalah,"Apa yang kaka lakukan? Kenapa kaka menghentikanku! Teriak Haura.


"Haura! Apa dipikiranmu sekarang hanya berisi rasa bersalahmu pada brengsek itu? Apa dia mengatakan jika kamu tidak pantas mendapatkan mata itu? Dia salah yang benar adalah mata ini tidak pantas memilikimu.


Haura menampar wajah Satria tanpa pikir panjang, seketika dia tersadar dengan apa yang dilakukannya, Haura berdiri dan menjauh dari Satria, karenanya Satria terluka, Haura melangkah mundur dan memutuskan berlari ke kamarnya, hingga Satria mendengar suara pintu yang tertutup keras.


Satria meringis kesakitan, Bibi yang terkejut teriak melihat Satria terluka, Bibi mendekat dan melihat luka Satria,"Kenapa kamu bisa terluka? Apa Haura melakukan hal gila padamu?


Satria tak menjawab, Bibi menyusul Haura ke kamarnya, di dalam kamar Haura masuk ke dalam kamar mandinya, dia tidak menutupnya, Haura membasuh wajahnya di atas wastafel, dia mengangkat wajahnya dan menatap gadis yang terlihat di cermin,"Kamu gadis yang malang, aku membencimu! Akh! Haura melempar cermin.


Mendengar suara gaduh Satria berlari ke arah sumber suara, Bibi masih berada di luar pintu kamar Haura,"Haura buka pintunya, apa yang kamu lakukan? Bibi minta kamu jangan melakukan hal-hal yang aneh kata Bibi dan merosot ke lantai dan masih memegang gagang pintu kamar.


Satria membangunkan Bibi dan memintahnya sedikit mejauh, Satria mencoba menerobos masuk dengan mendobrak pintu kamar Haura, pintu terbuka terlihat seorang gadis berlumuran darah, dan menatap senduh ke arah pemuda dan wanita tua yang berdiri memenuhi ambang pintu.


Bibi mendekati Haura dan memeluknya,"Apa yang kau lakukan?


Satria menunduk dan mengurut keningnya seolah mengatakan, apa-yang-membuat-gadis-sebaik-dan-seceria-ini-bisa-menjadi-gadis-yang-hilang-kendali. Sesaat Satria memikirkan seorang lelaki. Benar ini karena lelaki brengsek itu.


Haura masih terdiam dan terus memandangi sosok Satria, yang masih bertahan di ambang pintu tanpa melangkah sedikitpun mendekati Haura. Satria kembali menatap Haura, haura menunduk dengan mata yang berembun, dia melihat lukanya dan menekannya.


Ruangan terasa sesak, hening menyelimuti, hingga tangisan Bibi mengisi ruang dan mengemah,"Jangan melakukan hal seperti ini lagi nak, kata Bibi dan memeluk erat Haura.


Satria mengigit bibirnya, dia menahan agar tidak meneriaki Haura. Dasar bodoh! Apa kau sebegitu mencintai lelaki brengsek yang sama sekali tidak pernah memikirkanmu? Kenapa kamu melakukan ini Haura, Haura yang ku kenal tidak akan pernah melakukan hal yang mengerikan seperti ini, aku tidak bisa lagi menyaksikannya, aku merasa kesal, apalagi aku tahu kebenarannya, dia melakukan semua ini untuk lelaki itu. Satria berbalik dan hendak meninggalkan Haura dan Bibinya. Haura lantas bangkit, dia berlari dan memeluk satria dari belakang,"Kak Satria Bawa aku pergi bersamamu, kumohon!

__ADS_1


__ADS_2