Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 8 Katakan Putus


__ADS_3

Dion masih menatap kesal pada kedua orang tuanya yang begitu drastis atas kedatangan Krystal, hal yang langkah, kuakui mama dan papa sangat baik dan juga menyayangiku, tapi tingkah mereka saat ini sangat mencurigakan juga sangat berlebihan.


"Dion? Kenapa kamu bengong disitu? Ayo duduk disini dekat Krystal."


"Papa sudah menyiapkan makanan khusus buat kalian." Papa Dion nampak bersemangat menghidangkan hasil karyanya.


"Gimana, Dion, Krystal makanannya enak kan?" Mama Dion menimpali. Dion hanya tersenyum sinis. Sementara Krystal mengangguk sambil tersenyum.


"Makanannya sih enak. Tapi sikap Papa dan Mama aneh."


"Loh apanya yang aneh Dion sayang? Ini untuk menyambut kedatangan Krystal ke rumah kita." Jawab mama Dion yang terlihat kikuk mendengar ucapan anaknya.


"Terima kasih, Paman dan Bibi. Aku sayang kalian."


"Kami juga sayang sama kamu Krystal." Balas Mama Dion.


"Jadi sekarang kalian lebih sayang Krystal daripada anak sendiri?" Dion makin sewot.


"Sepertinya begitu Dion sayang. Iya kan Pa?" Papa Dion mengangguk cepat.


Kakek, Papa dan Mama semuanya sama saja, lebih menyukai Krystal. Tapi biarlah, setidaknya aku bisa melihat senyum Krystal, Batin Dion pasrah.


*****


"Pagi, Krystal." Seru Dion seraya menghampiri Krystal yang sedang duduk menikmati sarapan pagi.


"Pagi, kamu terlihat segar pagi ini, Dion. Bagaimana rencanamu memutuskan semua pacar-pacarmu?"


"Rencanaku tidak berubah."


"Kamu akan memutuskan mereka pagi ini? Bakal ada banjir air mata."


"Setidaknya aku jujur pada mereka, daripada aku terus mempermainkan mereka."


"Kamu siapkan mental baja ya.." Krystal tertawa.


Mereka berdua lalu ke kampus Dion. Krystal berdecak kagum melihat mobil Dion yang menurutnya sangat keren.


"Dion, kapan kita akan mencari ibu dan kakakku?" Tanya Krystal dalam perjalanan.


"Nanti setelah aku kelar memutuskan semua pacar-pacarku."


"Target pertama, Carla.


"Carla?


"Iya, dia pacarku yang pertama, aku sungguh gelisah dan takut memutuskannya.


"Kenapa?


"Karena Carla itu jago karate. Semoga saja aku selamat dari tendangannya."


"Benarkah?" Krystal bergidik.


*****


Mereka tiba di tempat Carla latihan karate. Gadis itu nampak tak suka ketika melihat kedatangan Dion bersama Krystal.


Dion mendekati carla, sementara Krystal menunggunya dibelakang mereka, Krystal juga takut jika karena kehadirannya, akan membuat Carla salah paham dan akan melukainya.


"Aku ingin kita putus, Carla." Ucap Dion tanpa basa basi.


"Kamu selingkuh ya dengan gadis itu?"


"Terserah kamu menilainya bagaimana."

__ADS_1


Plakkk tamparan tepat dipipi kanan Dion. Pemuda itu menyentuh pipinya sambil tersenyum meringis.


"Itu hanya salah satu alasan. Selama ini aku hanya bermain-main denganmu. Tidak ada cinta. Karena itu lebih baik kita berpisah."


Dan sekali tendang, tubuh Dion terpental di atas lantai. Krystal berlari menghampirinya. Dion meringis menahan sakit di perutnya.


"Kurang ajar! Kamu berani mempermainkan aku! Awas kalau berani muncul dihadapanku lagi. Aku akan menghancurkan tubuhmu!"


Carla lalu beranjak pergi. Gadis itu tak menangis hanya wajahnya memerah menahan amarah.


"Bagaimana keadaanmu, Dion. Apa yang sakit?" Tanya Krystal panik. Gadis itu masih gemetaran mengingat adegan Carla melayangkan tendangan ke arah Dion. Tapi Dion malah tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum, Dion?"


"Karena aku merasa lega. Aku merasa jauh lebih baik."


Setelah beristrahat sejenak memulihkan kondisi tubuhnya, Dion kemudian mengajak Krystal ke tempat Dini. Kali ini Dion nampak tenang-tenang saja. Berbeda ketika mereka akan menemui Carla, Dion gelisah dan gemetar. Mungkin karena Carla jago karate hingga pemuda itu gentar.


"Dini, aku ada permintaan ke kamu. Bagaimana kalau kita putus dan kamu dapat imbalan sepuluh juta?"


Dini terdiam sejenak lalu menampar Dion.


"Aku suka uang, tapi sikapmu sangat menghinaku, Dion." Dan kenapa kamu tiba-tiba meminta putus denganku, sedangkan sebelum ke Bandung kamu sangat baik dan mencariku di saat kamu galau memutuskan sesuatu. Bukankah kamu sedikit keterlaluan padaku?


"Sudahlah, Dini. Selama ini kamu kan hanya mengincar uangku. Jadi terima saja uang ini. Kita impas kan?"


Dini mengambil amplop berisi uang dari tangan Dion lalu beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Gadis itu tidak marah dan menangis, Dion."


"Tentu saja. Dia matre. Uang segalanya bagi dia."


"lalu sekarang, siapa lagi gadis yang akan kamu putuskan?"


"Semoga kamu kuat, Dion."


Ketika bertemu Vania, Krystal berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Gaya berbusana Vania sangat simpel alias kekurangan bahan.


"Dionnnn, aku kangen sama kamu. Aku kesepian dan selalu mendapat celaan dari teman-teman. Katanya aku sok artis." Vania merangkul manja pada Dion.


"Mereka memang seperti itu kan? Kamu harus kuat mental."


"Siapa gadis ini, Dion? Bukan pacar kamu kan?" Vania menatap tak suka pada Krystal.


"Dia temanku dari Bandung. Vania, aku tidak ingin panjang lebar. Aku lelah dan banyak urusan yang akan aku selesaikan." Vania nampak kebingungan.


"Aku ingin kita putus."


"Kamu bercanda kan, Dion?" Vania tertawa. Namun tawanya terhenti ketika melihat Dion diam saja.


"Kamu serius ingin putus?" Dion mengangguk.


"Apa salahku, Dion?" Vania menangis.


"Tidak ada yang salah, Vania. Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin lagi berbohong padamu. Selama ini aku tidak mencintaimu."


Plakk. Untuk kesekian kalinya Dion menerima tamparan. Kali ini dari Vania sebelum gadis itu melangkah pergi meninggalkannya.


Kisah yang sama terulang pada gadis-gadis lain yang mereka temui. Satu persatu pacar Dion mendapat SK pemutusan kasih. Meski lelah dan sakit menerima tamparan namun Dion merasa lega. Krystal miris melihat kondisi Dion namun tetap memberi semangat.


"Hari ini sudah cukup, Krystal. Sekarang kita mencari ibu dan kakakmu."


"Baiklah. Aku akan membawamu ke rumahku yang dulu. Aku punya alamatnya. Semoga mama dan kakakku masih ada disana."


Setelah perjalanan setengah jam, Krystal dan Dion tiba di sebuah rumah yang nampak bersih dan terawat.

__ADS_1


"Sudah lama sekali. Apa mama dan kakakku masih tinggal disini?"


Krystal kemudian mengetuk pintu dan seorang wanita tua keluar.


"Siapa kalian? Anak berdua mencari siapa?"


"Kami mencari Ibu Hilda. Dia mama saya."


Wanita tua itu berpikir sejenak.


"Setahu ibu, mereka sudah pindah, Nak. Kalau tidak salah dengar, waktu itu ibu mendengar mereka akan tetap tinggal di Jakarta hanya saja alamatnya tidak lengkap."


Krystal nampak sedih mendengar penjelasan wanita tua itu. Langkahnya lunglai menuju mobil. Alamat yang diberikan tak jelas.


"Kita pulang saja, Krystal. Hari sudah sore. Besok saja kita lanjutkan."


Ketika tiba di rumah, kedua orang tua Dion tengah menanti mereka.


"Kalian dari mana saja? Kami cemas menanti kalian."


"Kami mencari ibu dan kakak Krystal, Ma. Sejak kecil, Krystal kehilangan mereka."


"Krystal yang malang. Kamu jangan sedih ya, Bibi doakan semoga kamu bisa menemukan mereka." Ucap Mama Dion lalu memeluk Krystal.


*****


Malamnya, Dion mencari Krystal keseluruh penjuru ruumah namun tidak menemukan Krystal. Handphone Krystal juga tidak aktif.


"Kemana gadis itu?" Gumam Dion cemas.


Dion lalu teringat akan kebiasaan Krystal jika sedang sedih. Gadis itu akan ke bukit. Namun di tempat ini tidak ada bukit. Lalu kemana gadis itu? Dion makin kebingungan sebelum akhirnya dia menepuk jidatnya sendiri.


"Pasti Krystal ada dilantai atas. Bukankah tempat itu mirip dengan bukit. Sama-sama berada di ketinggian."


Dion kemudian berlari ke lantai empat. Benar saja, nampak Krystal tengah berbaring di kursi panjang. Kursi itu sengaja diletakkan di teras menghadap langit.


"Ternyata kamu disini, aku mencarimu kemana-mana."


"Aku senang melihat bintang, Dion. Berada disini terasa sangat dekat dengan bulan dan bintang. Aku teringat ayah dan diriku. Kami seperti bulan dan bintang. Aku yakin ayah selalu bersamaku. Seperti bulan dan bintang yang selalu berdampingan."


Mereka kemudian duduk berdampingan. Krystal menyandarkan kepalanya ke bahu Dion. Pemuda itu kegirangan dan bahagia. Apalagi ketika Krystal tertidur, Dion tak ingin membangunkannya.


"Astaga! Aku ketiduran. Dion, bangun!" Krystal menggoyangkan tubuh Dion, membangunkan pemuda itu. Namun Dion malah mengigau,


"Krystal, tolong jangan menikah dengan Panji. Aku sangat mencintaimu. Aku akan lakukan apapun untuk membahagiakanmu."


"Bahkan ketika tidurpun kamu masih memikirkan aku. Maafkan aku Dion. Walau aku sudah bertunangan, kamu tetap tak peduli dan terus memperjuangkan aku. Aku mengikutimu karena aku ingin mencari kakak dan ibuku."


Tiba-tiba Dion terbangun dan wajah mereka nyaris bersentuhan. Dion gugup lalu tergesa-tergesa berdiri hingga tubuhnya limbung dan nyaris jatuh. Krystal tertawa melihatnya.


"Ternyata wajah playboy sepertimu terlihat beda saat tidur. Sangat polos dan lugu."


"Jujurlah, Krystal. Kamu pasti sangat menyukai aku kan? Kenapa kamu memperhatikan aku saat aku tidur?"


Krystal terdiam.


"Maaf, Dion. Aku sangat mencintai Panji. Tolong jangan berharap banyak padaku. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku hanya ingin bersahabat denganmu."


"Maaf, Krystal. Aku tidak bisa melakukannya. Selagi kamu belum menikah, tolong beri aku kesempatan. Bukankah cinta bisa hadir dari persahabatan? Biarkan aku berjuang hingga tak ada lagi kesempatan bagiku untuk mendapatkanmu."


"Terserah kamu saja, Dion. Aku akan ke kamar. Aku kedinginan disini."


Tinggallah Dion yang termenung menatap langit.


*****

__ADS_1


__ADS_2