Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 5 Aku Khawatir Padamu


__ADS_3

Para peserta kemudian berkumpul di lapangan. Lomba pertama mereka harus mendirikan tenda. Peserta yang paling cepat mendirikan tenda yang akan keluar sebagai pemenang. Dan pemenangnya adalah Krystal dan Dion. Hanya butuh lima menit bagi mereka untuk mendirikan tenda.


"Kakek benar-benar keterlaluan, dia telah menjebak kita. Atau jangan-jangan kau dan kakek sekongkol mengerjai aku?"


"Sumpah. Aku juga tidak tahu." Krystal membentuk peace dengan jarinya.


"Aku juga baru ikut dan baru tahu jika peserta lomba hanya terdiri dari dua orang."


"Aku merasa kakek terlihat aneh."


"Aneh bagaimana?"


"Aku rasa ada yang disembunyikan kakek dari kita. Sepertinya kakek ingin menyatukan kita berdua."


"Akh, yang benar saja. Kamu pasti salah paham. Kakek tidak mungkin melakukan hal konyol dan kekanak-kanakan seperti itu. Sudahlah, jangan berpikir yang tidak tidak." Balas Krystal dengan jantung berdebar kencang.


Obrolan Krystal dan Dion terhenti ketika terdengar pengumuman dari panitia jika lomba ke 2 akan segera dimulai. Kali ini lomba memasak.


"Memasak?" Dion terperangah melihat meja yang telah penuh dengan alat dan bahan memasak.


"Kenapa, Dion? Kamu nggak tahu masak? Tenang saja. Soal masak memasak, itu hobiku meski belum ahli." Krystal tertawa.


"Kamu harus buktikan kalau kamu bisa masak. Apa yang bisa aku bantu?"


Krystal mulai memilih bahan dan meletakkan alat yang akan dipakai.


"Kamu bisa buat saos kan?"


"Kalau itu sih gampang." Jawab Dion sembari terkekeh.


"Ayo kita mulai." Krystal menempelkan tepung di wajah Dion lalu tertawa. Dion yang tak menduga akan mendapat serangan dari Krystal hanya bisa terpana kaget. Sementara peserta lain tertawa melihat tingkah mereka.


"Kamu sangat cantik Dion, hahahahaha.."


"Beneran ya?" Lalu Dion mengangkat tangannya yang penuh tepung, siap di tempelkan ke wajah Krystal yang yang refleks menutup wajah dengan kedua tangannya. Sikapnya justru menahan tangan Dion yang akhirnya batal. Pemuda itu akhirnya menurunkan tangannya demi melihat wajah Krystal yang putih mulus.


"Hei, buka mata kamu. Sebentar lagi waktu akan habis."


Krystal lalu membuka matanya dan tanpa sengaja mata mereka beradu pandang. Gadis itu memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya ketika tadi wajah mereka nyaris bersentuhan karena sangat dekat. Sementara Dion tak menyadari perubahan itu, pemuda itu melanjutkan kegiatan memasaknya.


Lomba tahap dua selesai. Dan kali ini kembali Krystal dan Dion menjadi pemenangnya. Mereka bersorak kegirangan. Lomba tahap tiga atau tahap terakhir adalah mencari jejak.


"Di setiap jejak, kalian akan mendapat sebuah petunjuk, dan disetiap petunjuk itu akan ada huruf yang harus kalian kumpulkan. Huruf-huruf tersebut akan tersusun menjadi kalimat FINISH. Kalian akan kembali ke tempat ini setelah semua huruf tersebut terkumpul. Walaupun kalian tidak menang di tahap 1 dan 2, namun jika tahap 3 ini kalian menang, maka kalianlah pemenang dari lomba secara keseluruhan...."

__ADS_1


"Yah, sia-sia kemenangan kita jika tahap 3 ini kita tidak menang. Ini artinya kita harus kerja keras." Dion berkomentar lesu.


"Iya, Dion. Kita tidak punya pilihan selain bekerja keras. Pantas saja yang ikut lomba kali ini adalah anak muda karena lombanya menguras tenaga."


"Harus semangat membawa nama Desa Anger."


"Aku senang lomba yang terakhir ini, Dion. Sewaktu disekolah aku ikut Pramuka, kami sering bermain tanda jejak. Tapi sejak pindah ke desa ini, aku tidak pernah lagi mengikuti kegiatan serupa. Itu sebabnya aku senang bisa mengikuti lomba tahap tiga ini. Aku ingin merasakan kembali apa yang dulu aku lakukan."


"Tenang saja. Selama perlombaan ini, aku akan menjagamu hingga kita memenangkan perlombaan ini. Semangattttt!!!!"


Lomba tahap tiga dimulai. Krystal telah berhasil mengumpulkan beberapa huruf. Tinggal satu huruf lagi dan mereka akan menjadi juara.


"Sisa huruf terakhir. Ayo, Krystal kita harus semangat."


"Tapi Dion, kita bisa beristrahat sebentar?" Krystal bergegas duduk di bawah pohon.


"Kamu baik-baik saja kan, Krystal?" Tanya Dion yang terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja, Dion. Istrahat sebentar akan membuatku kembali bersemangat."


"Baiklah. Kita istrahat dulu, aku juga lelah."


"Kamu tahu Krystal, sebenarnya aku adalah seorang lelaki yang tidak baik."


Dion terbahak.


"Aku pikir, kamu akan mengatakan kalau aku pria yang baik. Aku memang jahat, Tal. Bolehkan aku memanggilmu seperti itu? Aku selalu mempermainkan gadis-gadis. Aku berpura-pura menyukai dan pacaran dengan mereka. Padahal aku tidak memiliki rasa suka yang nyata pada mereka. Aku melakukan semua itu karena aku belum merasakan apa yang disebut cinta. Di kota, aku memiliki banyak pacar. Apa menurutmu aku keterlaluan?


"Kalau menurut aku, kamu keterlaluan. Tapi aku belum mengenalmu dan tahu tentang dirimu. Kalau kamu memiliki pacar banyak, mungkin karena kamu belum menemukan dan masih mencari cinta sejatimu."


"Cinta sejati? Apa kamu memiliki cinta sejati?"


"Aku tidak tahu. Untuk merasakan cinta sejati memang sangat sulit, Dion. Banyak yang mengatakan bahwa cinta adalah persahabatan. Menurutku, cinta adalah perasaan suka kepada seseorang. Suka bukan berarti kamu menyukai karena penampilan fisiknya, karena itu bukan cinta tapi nafsu. Menurutku, cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu merasa nyaman, aman dan senang ketika bersamanya. Itulah cinta sejati. Apakah kamu setuju denganku, Dion?"


"Kamu mungkin benar dan aku setuju dengan perkataanmu, tapi yang kurasakan selama ini hanya ketertarikan fisik mereka."


"Kayaknya istrahatnya cukup, Dion. Kita bisa mulai mencari huruf H."


Mereka lalu melanjutkan pencarian huruf pelengkap terakhir.


"Dion, itu huruf H ada di atas pohon." Tunjuk Krystal ke arah pohon. Dion mendongak mengikuti arah telunjuk Krystal.


"Bagaimana cara kita mengambilnya? Aku tidak bisa memanjat pohon."

__ADS_1


"Benarkah? Dasar payah. Biar aku saja yang memanjat, kamu tunggu disini." Ucap Krystal sembari bersiap melepaskan sepatunya.


"Kamu jangan memanjat, Krystal. Nanti kamu jatuh. Kita cari yang lain saja."


"Kelamaan, Dion. Kita bisa kehabisan waktu. Aku bisa kok memanjat pohonnya."


Krystal terus memaksa naik ke atas pohon tanpa melihat kondisi pohon yang berada persis didekat pinggir tebing. Gadis itu terus merangsek sedikit demi sedikit hingga mendekati huruf H yang menempel pada batang pohon paling atas.


Saat akan bergerak turun tiba-tiba kaki Krystal terpeleset karena kurang keseimbangan. Dia terjatuh ke arah jurang. Tanpa berpikir panjang, Dion bergerak cepat, melempar huruf-huruf yang tengah digenggamnya dan segera menyambar tangan Krystal hingga gadis itu tertahan di tepi jurang.


"Dion!!!! Tolong aku, jangan lepaskan tanganku." Krystal menjerit ketakutan bercampur tangis.


"Aku sudah melarangmu tapi kamu tetap saja memaksa." Dion menarik tubuh Krystal dengan sekuat tenaga hingga akhirnya Krystal selamat. Gadis itu langsung memeluk Dion.


"Jangan terlalu erat memelukku. Aku tidak bisa bernapas. Lain kali jangan ulangi perbuatanmu. Kamu bisa mati! Apa kamu gila? Kamu membuatku khawatir!" Teriak Dion kesal.


"Jangan memarahiku. Aku sangat takut. Aku ingin pulang." Krystal menangis.


"Baiklah. Ayo kita pulang."


Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Mereka tak pamit pada panitia tetapi langsung naik ke mobil dan meluncur ke desa Anger. Begitu juga ketika tiba di depan rumah Krystal, gadis itu turun tanpa berkata apapun pada Dion. Demikian juga dengan Dion. Pemuda itu bahkan langsung menjalankan mobil tanpa menunggu Krystal masuk ke dalam rumah.


"Dion,bagaimana? Siapa yang menang?" Kakek Faiz menyambut Dion di teras. Dion tak menjawab.


"Loh, mana Krystal?"


"Kami tidak menyelesaikan lomba, Kek. Kami pulang."


"Ada apa? Apa kalian bertengkar?"


"Aku marah padanya. Tapi itu kesalahannya juga. Dia tidak mendengarkan ucapanku."


"Kamu membentaknya? Anak itu tidak suka dibentak."


"Tapi aku melakukannya karena aku khawatir, Kek. Aku tidak ingin terjadi hal yang membuatnya terluka. Apa gunanya aku jika tidak bisa melindunginya. "


"Ehmmm, apa kamu mulai menyukainya? Kamu jatuh cinta padanya?"


Dion tertawa.


"Aku tidak mungkin menyukainya, Kek. Dia gadis yang cerewet dan kasar. Dia keras kepala, dia melakukan semuanya sesuai keinginannya, dia bahkan tidak ingin mendengarkan perkataan orang lain, dia pikir hanya dia yang bisa berbuat seperti itu aku juga bisa, aku lebih hebat dalam melakukan sesuatu sesuai keinginanku tanpa memikirkan orang lain, ah masa bodoh dengannya. Aku malas membahasnya, aku ingin istrahat dikamar."


"Dasar anak muda, masih juga tidak mengaku, jika pengakuannya seperti itu? Bukankah itu artinya mereka memiliki sifat yang sama?" Gumam kakek Faiz sembari tersenyum melihat Dion melangkah masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2