Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 CHAPTER 42 AKU TIDAK SALAH


__ADS_3

 "Apa maksudmu? Kenapa ini bisa menjadi petaka untukmu Haura?


"Aku tidak suka takdir yang di jalankan untukku.


"Kamu harusnya bersyukur, masih ada yang berbaik hati mau mendonorkan matanya untukmu.


"Bersyukur untuk apa, jika orang yang mendonorkan matanya untukmu meninggal.


"Apa? Tapi kamu bilang jika dia bersedia mendonorkan matanya, karena waktunya tidak akan lama lagi, kamu bilang dia memiliki penyakit yang membahayakan nyawanya kan, jadi ini bukan salahmu.


"Kamu mungkin berpikir seperti itu, karena aku adalah sahabatmu, tentu kamu akan mengatakan jika ini bukan salahku, dan mengganggap jika aku pantas mendapatkannya.


"Tentu saja, lalu di mana letak kutukannya.


"Kamu ingin tahu siapa gadis yang memberi matanya untukku dan meninggal setelahnya, dia adalah Krystal, kamu tahu siapa Krystal?


"Di..di..dia adalah kekasih Pak Direktur yang sudah meninggal, kekasih yang sangat dicintai Direktur.


Iga tersenyum lebar mendengar percakapan keduanya,"Pantas saja, saat pertama kali bertatap mata dengan Haura, aku seperti teringat dengan seseorang, Ada untungnya aku datang ke tempat ini, lihat saja Haura kau akan di tendang dan di usir oleh Dion seperti yang dia lakukan padaku dulu, jika aku ingin membuatnya lebih seru, aku yang akan memberitahu Dion soal ini. Iga lalu berlalu meninggalkan gudang.


"Ji..jii..jika suatu saat aku akan berpisah dengan Pak Direktur...Mendadak Haura menumpahkan semua emosinya. Air matanya jatuh. "Kalau suatu saat kami berpisah...," suara haura mulai habis.


"Aku yakin Pak Direktur akan memahami semuanya, lagipula sekarang Pak Direktur sangat mencintaimu, kamu tahu tadi dia terlihat begitu khawatir dan takut kehilanganmu.


"Vovi terima kasih sudah mencoba menghiburku, tapi aku tahu sifatnya, dia tidak akan memahami apapun. Vovi sangat sulit dan menyakitkan untuk mengatakan perpisahan pada orang yang sudah lama kau habiskan waktu dengannya, walau waktu yang kau habiskan dengannya hanya kenangan buruk, tetap akan terasa menyakitkan, apalagi jika kau habiskan waktu yang indah bersamanya.


"Apa yang kau katakan?


"Aku akan memberitahu dia jika aku menerima donor mata dari Krystal.


"Kamu tidak perlu memberitahunya teman, mungkin ini sudah jalannya, jika rahasia ini harus kau kubur untuk selama-lamanya.


"Vovi kebohongan yang kau sembunyikan dengan sangat rapat, pada akhirnya akan terkuak. Sakit di jantung Haura mendadak menghampiri, Haura memegang dadanya dan meringis kesakitan


Vovi memegang sahabatnya itu,"Kamu kenapa?


"Vovi kebenaran yang lainnya adalah aku memiliki penyakit jantung.


"Apa?


"Itu sebabnya, aku akan segera menemui Pak Direktur.


Haura berbalik dan seketika membuka pintu dan meninggalkan Vovi.


*****


Dimas terkejut melihat kehadiran Iga,"Apa yang anda lakukan? Apa anda akan membuat keributan lagi?


Iga menatap tajam Dimas,"Memangnya hanya itu yang bisa kulakukan, aku ingin mengatakan hal penting pada Dion.

__ADS_1


"Hal penting apa lagi, apa anda akan menggoda dan mengatakan jika anda mencintainya?


"Kenapa kau ingin tahu, minggir biar aku saja yang menemuinya. Iga menerobos masuk.


Dion memberi isyarat agar Dimas membiarkan Iga dan meninggalkan mereka berdua,"Ada apa kau kemari?


Iga memainkan jemarinya dan menatap Dion,"Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting untukmu.


"Hal penting apa? Katakan saja, aku tidak suka basa-basimu.


"Baik. Iga mempersilahkan dirinya sendiri duduk di kursi,"Krystal.


Dion merespon nama itu dan bertukar pandang dengan Iga,"Ada apa dengannya.


"Krystal wanita itu, kau tahu jika dia mendonorkan matanya?


Dion seperti kena tamparan keras mendengar perkataan Iga, Dion memukul meja dan membuat Iga terkejut,"Apa yang kau katakan?


"Aku mendengar pembicaraan Haura dengan temannya, dia mengatakan kalau dia menerima donor mata Krystal dan dia tidak ingin memberitahumu, agar bisa mendapatkan hatimu.


Dion mengempal tangannya, Iga melihat telinga Dion memerah, yang berarti Dion menahan amarahnya,"Pergi! Pergi kataku!


Iga bangkit dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu dan menghilang dari pandangan Dion.


*****


Langkah Haura terhenti tepat di depan pintu bertuliskan Direktur. Haura mengambil nafas sejenak. "Tidak apa-apa Haura, semua akan baik-baik saja, kamu pasti bisa.


Haura membuka pintu dan mendapati Dimas dan Bu Zahra memandangi ruangan Dion,"Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu serius?


Keduanya tidak menjawab dan mengacuhkan Haura. Ada apa? Kenapa keduanya bersikap aneh? Pikir Haura. Haura melanjutkan langkahnya dan membuka pintu ruangan Dion, Haura melihat Dion berdiri di belakang kursinya membelakangi Haura, Haura mengetuk pintu Dion dan berkata,"Apa aku boleh masuk?


Dion tidak menjawab dan hanya mengangguk setuju. Haura kembali menutup pintu dan memulai berbicara,"Apa Bapak sibuk?


Dion masih saja membelakangi Haura dan menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Bapak, mungkin ini akan terasa menyakitkan tapi, aku harus tetap mengatakannya.


"Cukup! Dion berbalik dan melempar semua barang yang ada di atas mejanya ke lantai, membuat Haura terkejut dan jantung Haura berdetak lebih kencang dan rasa sakit itu kembali datang, Haura meremas dadanya seolah menyuruh jantungnya tidak berbuat ulah untuk saat ini.


"Kamu boleh menipu orang dengan wajah polos dan juga cantikmu, kenapa kamu tegah melakukan hal kejam padaku Haura! Kenapa!


Haura gemetar ketakutan,"Apa yang kamu katakan?


"Kamu tetap berpura-pura tidak tahu? Aku tahu itu adalah sifat aslimu.


Haura semakin tidak tahu ke arah mana pembicaraan Dion,"Aku memang tidak tahu.


Dion berjalan mendekati Haura dan menyentuh kedua pipi Haura, Dion melepas sebelah tangannya dan menunjuk ke mata biru Haura yang mulai berembun,"Mata ini, mata yang kau gunakan menatapku dan merayuku adalah mata kekasihku Krystal! Aku benar kan?

__ADS_1


"Ba..ba..bagaimana Bapak bisa tahu, aku baru ingin mengatakannya pada Bapak.


Dion melepas sentuhannya dan kembali memunggungi Haura,"Apa yang ingin kau katakan padaku?


"Aku ingin katakan jika aku...


Dion berbalik dan menunjuk ke arah Haura,"Aku tidak butuh penjelasanmu! Kau tidak pantas memiliki mata itu, kau tidak pantas kata Dion dan Dion mulai mengeluarkan air matanya.


Haura terkejut dan sedih melihat Dion menangis. "Aku minta maaf, aku juga tidak tahu jika dia adalah kekasihmu.


"Bohong! Semua orang tahu namanya.


"Aku tidak tahu! Apa Bapak pernah mengatakan namanya? Kamu selalu datang dan mengagalkan semua orang saat mereka ingin memberitahuku nama kekasihmu!


"Jadi kamu sekarang menyalahkanku?


Kejam sekali, di mana orang yang baru saja mengatakan jika dia khawatir dan takut kehilanganku, dia memang tidak pernah mencintaiku, aku hanyalah salah satu gadis yang ingin dia taklukkan...Pikir Haura.


"Aku tidak bermaksud menyalahkan Bapak.


Dion berlutut dan menangis terisak,"Maaf Krystal, aku sudah tergoda dengan wanita yang bersembunyi di balik wajah polosnya. Krystal!


Haura mengepal kedua tangannya,"Aku tidak salah! Krystal yang memutuskan memberikan matanya padaku! Kenapa aku yang harus di salahkan!


Dion bangkit dan mengusap air matanya,"Jangan sebut nama Krystal dengan mulut kotormu!


"Lalu apa selama ini kau sama sekali tidak mencintaiku?


"Aku mencintaimu dengan tulus, tapi kamu membohongiku!


"Mencintaiku? Bohong, kau hanya menjadikanku bayang-bayang Krystal.


"Cukup! Kamu sama sekali tidak sebanding dengan Krystal.


Haura merasa sesak dan sulit bernafas, kepalanya mulai pusing, Haura mencoba fokus menatap Dion, tapi pandangan sedikit mulai memudar.


Aku tahu aku melakukan kesalahan. Haura melihat Dion berjalan melewatinya dan membuka pintu,"Keluar dari sini! Dan jangan muncul di hadapanku lagi.


Dengan lunglai, Haura mencoba berjalan tegap, keringat dingin mulai mengalir dipelipisnya, rasa sesak semakin mencekeknya, perlahan tapi pasti pandangan kabur Haura kembali normal, tepat saat Dion menutup pintu ruangannya.


Dimas mendekati Haura dan membantunya berjalan,"Apa kau baik-baik saja?


"Aku legah Pak Dimas, aku sudah mengatakan semuanya, walaupun konsekuensi yang kuterima begitu menyakitkan.


"Maaf aku tidak bisa membantumu, jika menyangkut Krystal, Pak Direktur akan sangat terlihat berbeda dan tidak punya ampun, tapi aku akan berusaha meminta agar dia memaafkan anda, jujur ini bukanlah kesalahan anda, anda hanya menerima dan tidak meminta.


"Terima kasih Pak Dimas, aku tidak tahu jika anda bisa berkata bijak, dibalik wajah ceria dan lucu anda, tapi aku tidak butuh bantuan, aku bukanlah pengemis cinta. Besok saya akan mengirim surat pengunduran diri saya dan membereskan barang-barang saya di bawah, aku mungkin akan ke Amerika bersama dengan Kak Satria dan tidak akan kembali ke Indonesia, tapi aku berjanji akan kembali jika anda dan Vovi akan menikah.


Dimas tersenyum dan melihat Haura pergi dari ruangannya. Semoga kamu dan Satria bahagia.

__ADS_1


__ADS_2