Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 Chapter 36 Kenapa Bapak Menolongku?


__ADS_3

Dion bersiap ke Mall Sophie, seperti biasa lagi-lagi Ani tidak ada di ruang tengah, Dion sejenak menatap meja makan dan kemudian pamit pada Prana.


Lain hal dengan Haura, di depan rumahnya, Satria sedang menunggunya, dan akan mengantar Haura ke tempat kerjanya,"Kamu lama sekali? Aku dari tadi menunggumu.


"Kak Satria? Itu salah kakak sendiri, kenapa kakak suka menunggu di sini dari pada di dalam rumah.


"Karena aku suka melihat raut wajah terkejutmu itu.


"Apa?


"Lupakan, sekarang kamu naik, aku akan mengantarmu.


Haura menaiki motor dan duduk tepat di belakang Satria,"Apa kau sudah siap?


"Iya. Keduanya lalu pergi ke Mall Sophie.


Dion dan Haura datang bersamaan, Satria memandang Dion, begitupun Dion, sementara Haura dia tidak memperdulikan Dion, dan segera masuk ke dalam Mall. Satria yang melihat Haura sudah masuk ke dalam, dia menutup kaca helmnya dan menjalankan motornya melewati Dion.


Dion merasa aneh,"Ada apa? Kenapa aku merasa kesal melihat orang itu begitu akrab dengan Haura, apa aku sudah tidak waras katanya dan masuk ke dalam Mall.


"Sial! Hari ini aku punya banyak pekerjaan, ada banyak box yang harus aku periksa, ini semua gara-gara psikopat gila itu kata Haura geram.


Suara ketuk pintu terdengar dari luar ruangan Haura,"Siapa?


"Bu Haura, maaf ini saya Denis Bu.


"Denis? Mungkin salah satu karyawan di Sini. Iya, silahkan masuk.


Denis masuk dan membawa sebuah kardus dan meletakkannya di meja Haura,"Maaf Bu, tapi saya ingin meminta tolong pada Ibu.


"Kenapa kepada saya?


"Soalnya rekan-rekan saya, semuanya punya pekerjaannya masing-masing.


"Saya juga sama dengan mereka. Denis lalu melirik ke arah Haura yang sama sekali tidak melakukan apapun,"Yah, walaupun sekarang saya sedang tidak ada pekerjaan, tapi secepatnya pasti saya akan sibuk juga katanya ragu.


"Saya harus pulang cepat, adik saya sedang sakit dan dia sendirian di rumah.


"Apa? Ke mana orang tuamu?


"Mereka sudah meninggal.


Mendengar itu Haura langsung simpati, mengingat dirinya juga sebatang kara,"Baiklah, memangnya kardus itu ingin kau aku bawa ke mana.


"Kardus ini adalah contoh barang yang di minta Pak Dierektur padaku, dan dia minta aku membawakannya segera, tapi adikku menelpon jika dia takut di rumah sendiri, itu sebabnya aku datang dan meminta bantuan pada Ibu.


Ya ampun kenapa harus dia lagi? Aku pikir aku tidak akan bertemu dengannya hari ini, ini hukuman bagiku...Batin Haura,"Baiklah, kamu boleh pulang, saya akan membawa kardus itu pada Direktur.

__ADS_1


Raut wajah Denis begitu senang,"Terima kasih Bu, saya tidak akan melupakan kebaikan Ibu. Denis lalu keluar dan menutup kembali pintu kantor Haura.


"Aku Sial sekali. Haura berdiri dan mengangkat kardus itu dan berjalan menuju kantor Dion,"Semoga saja dia tidak ada di ruangannya.


Setelah menaiki lift, Haura akhirnya sampai di tempat Dion, Haura berjalan sambil membawa kardus, dia lalu mendorong pintu kantor Dion, di sana tidak ada satu orang pun, bahkan Zahra juga tidak terlihat,"Aneh? Biasanya kantor ini selalu ada yang menunggu jika bukan Bu Zahra, pasti Pak Dimas ada, tapi hari ini keduanya tidak ada, dan aku harus memberikan langsung kardus ini pada psikopat kurang ajar itu.


Haura terus mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Dion,"Apa aku letakkan saja kardus ini di sini? Dan aku tinggal menulis memo saja, tapi jika tidak ada yang melihatnya, maka Denis pasti akan kena marah, baiklah aku akan masuk, ini semua demi Denis.


Di dalam ada Iga dan Dion, Iga lagi-lagi datang mengunjungi Dion, kali ini Iga membuat Dion keolahan, Iga mendekati Dion yang duduk di depannya, Iga duduk di samping kursi Dion, Iga lalu melancarkan aksinya, Iga menaruh telapak tangannya di atas dada Dion,"Dion, aku sangat rindu padamu, apa kau tidak rindu padaku? Tanya Iga manja.


Dion menepis tangan Iga,"Apa yang kamu lakukan Iga? Jika karyawanku melihatmu seperti ini, mereka bisa salah paham.


"Tapi Dion, mereka semua sudah pergi, aku meminta mereka meninggalkan kita berdua.


"Sebenarnya, apa yang kamu lakukan?


"Aku mencintaimu Dion. Iga lalu melingkarkan lengannya di leher Dion dan Haura masuk tanpa mengetuk pintu,"Pak saya masuk soalnya saya membawa kardus yang Bapak minta Denis membawakannya untuk Ba..Haura berhenti bicara dan menjatuhkan kardus yang dia bawa, terkejut karena melihat seolah Iga dan Dion sedang bermesraan, Haura berbalik dan mengatakan,"Maaf Pak, saya sudah lancang katanya dan keluar dari Ruangan Dion.


Dion melepas paksa rangkulan Iga dan berlari mengejar Haura,"Haura tunggu! Tapi Iga menghentikan Dion.


"Kamu mau ke mana?


"Aku ingin mengejar Haura.


"Lalu bagaimana denganku?


Tidak rela di perlakukan seperti itu Iga marah dan membanting kardus yang di bawa Haura,"Kenapa ****** itu datang di waktu yang kurang tepat, kesabaranku sudah habis, lihat saja, aku akan membuat dia berhenti mengangguku dengan Dion kata Iga penuh amarah.


Haura masuk ke dalam lift, dan masih terbayang pada apa yang baru saja di lihatnya. Katanya dia tidak akan jatuh cinta lagi, tapi malah bermesraan dengan mantannya itu, dasar lelaki memang tidak bisa di percaya Batin Haura, dan tiba-tiba Haura mengeluarkan air mata, Haura menyapunya dan mengatakan,"Apa ini? Apa aku menangis?


Dion masih mencari Haura, tapi Haura sudah masuk ke dalam lift, Dion mengurungkan niatnya menyusul Haura dan kembali ke ruangannya, kardus yang di bawa Haura rusak, Dion memungutnya,"Ini pasti ulah Iga.


*****


Iga sudah sampai di rumahnya, di dalam kamar, Iga sedang menelpon seseorang dan meminta tolong melakukan sesuatu untuknya, setelah menelpon orang itu, Iga menutup telponnya dan tersenyum gembira,"Kau akan menyesal katanya.


Saat jam istirahat Haura dan Vovi keluar mencari makan siang, keduanya duduk di dalam warung makan dan memesan makanan kesukaan mereka,"Haura maaf, kamu makan sendiri saja, Dimas menelponku dan mengajakku makan siang bersamanya, kamu tidak keberatan kan?


"Kalian semenjak berpacaran, kamu sama sekali tidak punya waktu lagi untukku.


Vovi berdiri dan memeluk Haura yang masih duduk,"Maaf teman, tapi ini pertama kalinya aku akan makan bersama Dimas.


"Baiklah, kali ini aku akan membiarkannya.


"Terima kasih, aku akan membayar makananmu.


"Tidak perlu.

__ADS_1


"Ini karena aku merasa bersalah padamu. Vovi ke kasir dan membatalkan pesanannya dan membayar tagihan untuk pesanan Haura. Vovi melambaikan tangan pada Haura dan meninggalkan Haura sendiri.


"Vovi gembira sekali, apa aku mencari pacar saja?


Haura selesai makan siang, dia lalu keluar dan memperbaiki bajunya di depan warung, seorang anak kecil mendekati Haura dan menarik roknya,"Kakak, tolong aku kata anak itu sambil menangis.


"Kamu kenapa?


"Ibuku pingsan.


"Pingsan kenapa?


"Aku juga tidak tahu Kak.


"Nama kamu siapa?


"Namaku Andi.


"Andi di mana Ibumu pingsan?


"Di sana tunjuknya.


Andi menuntun Haura ke Ibunya, tidak sengaja Dion melihat Haura bersama dengan Andi,"Bukankah dia itu Haura? Dia sedang bersama dengan siapa?


"Pak? Apa kita akan makan?


Dion melihat Haura berjalan ke area terlarang,"Tunggu, kalian duluan saja. saya akan menyusul. Jangan-jangan anak itu. Dion lalu mengikuti Haura.


Haura merasa jika dia sudah terlalu jauh mengikuti Andi,"Andi mama kamu ada di mana?


Andi masuk ke dalam reruntuhan bangunan, saat berada di dalam reruntuhan Andi terdiam, kemudian anak itu berlari ke belakang mobil rongsokan. Haura mengejarnya, tapi haura berhenti karena beberapa lelaki aneh keluar dari balik mobil itu,"Kerja bagus Andi, kamu memang bisa di andalkan.


"Ka..ka..Kalian siapa? Tanya Haura penuh ketakutan.


"Kami adalah orang yang akan membunuhmu.


"Apa? Kejadian ini seperti terulang kembali, kenapa aku selalu berada dalam bahaya, kali ini aku harus menyelamatkan diriku sendiri...Batin Haura. Haura mencoba kabur dan lari tapi Haura berlari ke arah yang salah, dia berlari ka arah jalan buntuh, Haura terpojok dan seorang di antara mereka maju dan melayangkan pisau pada Haura. Dion berlari di tengah mereka dan memeluk Haura untuk melindunginya, pisau itu menyambar lengan Dion. Haura tidak merasakan apa-apa, dia merasakan jika seseorang melindunginya, Haura membuka matanya dan melihat Dion berdiri untuk melindunginya,"Bapak?


Dion melepas pelukan Haura dan menatapnya,"Kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka di bagian manapun kan?


Haura terdiam, dia menepis tangan Dion dan bertanya pada Dion,"Apa yang Bapak lakukan Di sini?


"Apa yang kau tanyakan?


"Jawab pertanyaanku.


"Tentu saja untuk menolongmu.

__ADS_1


"Sampai Kapan Bapak menolongku dan kenapa Bapak selalu saja menolongku?


__ADS_2