Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 14 Selamat Tinggal Dion


__ADS_3

Dua hari kemudian, Panji mengirim pesan singkat di handphone Dion.


Dion, pernikahan kami dipercepat atas permintaan Krystal. Tanggal 11 kami menikah


Dion membaca pesan itu berulang-ulang. Ada apa dengan Krystal kenapa pernikahan mereka yang seharusnya dilaksanakan dua minggu lagi justru dipercepat.


Apa ini makna dari mimpiku dua hari yang lalu?


Dion ternyata manusia biasa yang bisa terluka. Menyadari pernikahan Krystal yang dilaksanakan satu hari lagi. Hatinya sangat sakit. Pesan singkat dari Panji dihapusnya dan dia lebih memilih kuliah. Dion tidak ingin menghadiri pernikahan Krystal.


"Dion sayang, undangan dari Panji sudah kamu terima?" Tanya Mama Dion saat Dion hendak masuk ke mobilnya.


"Belum, Ma. Aku ke kampus dulu, Ma."


"Aneh, seharusnya kita sudah menerima undangan itu sekarang..."


Dion buru-buru menjalankan mobilnya dan menghindari mamanya. Sebenarnya hari ini, Dion tidak ada kuliah. Dia hanya ingin melarikan diri dari mamanya yang pasti akan bertanya macam-macam tentang pernikahan Krystal.


Dion tidak tahu, jika nun jauh disana, di desa tempat Krystal berada. Gadis itu juga menagalami halusinasi yang sama dengannya. Krystal gelisah karena dalam pandangan dan pikirannya yang hadir hanya Dion.


Dion memarkir mobilnya didekat taman kota. Pemuda itu tak turun dari mobil. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil.


"Besok Krystal dan Panji akan menikah. Krystal benar-benar akan menjadi milik orang lain. Maafkan aku, Krystal. Aku tidak bisa hadir memberimu selamat."


Ketika terbangun keesokan paginya, kata-kata Panji terngiang kembali.


Dion, aku harap kamu hadir dipernikahanku dengan Krystal


Dion tak sanggup lagi. Dia bergegas mandi dan mengemudikan mobilnya saat matahari belum menampakkan sinarnya. Dia bahkan tidak pamit pada kedua orang tuanya. Tujuannya hanya satu, menghadiri pernikahan Krystal dan Panji.


Ditengah perjalanan, Panji menelponnya. Dion memasang headset ditelinganya.


"Iya, Panji. Ada apa?"


"Kamu di mana, Dion?"


"Masih diperjalanan."


"Krystal tiba-tiba saja menghilang, padahal hari ini adalah pernikahan kami. Mungkin kamu tahu dimana dia berada. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga."


Dion teringat mimpinya, bayangan mengerikan melintas di benaknya.


Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Krsytal


Tiba di gerbang desa, Dion menitipkan mobilnya di rumah warga. Dia lalu berlari menuju bukit, tempat yang menjadi favorit krystal jika sedang sedih. Ketika tiba di atas bukit, dari kejauhan Dion melihat Krystal sedang berdiri di tepi jurang. Krystal mengenakan baju pengantin berwarna putih, persis seperti yang ada dalam mimpi Dion beberapa hari yang lalu.


Dion mendekati Krystal yang tengah membelakanginya. Gadis itu berbalik dan terkejut ketika melihat Dion. Namun sedetik kemudian senyum sumringah hadir di wajahnya.


"Akhirnya kamu datang juga, Dion." Selesai berkata, tubuh Krystal terkulai dan jatuh ditanah. Dion bergerak cepat meraih bahu Krystal dan menyandarkan tubuh Krystal di pangkuannya.


"Kamu kenapa, Krystal? Apa kamu sakit? Panji mencarimu kemana-mana?Ayo kita kembali, acara pernikahanmu akan dimulai." Dion makin cemas melihat kondisi Krystal.

__ADS_1


"Tidak, Dion. Kita tidak usah kemana-mana. Aku hanya ingin disini bersamamu." Wajah Krystal pucat dan suara nafasnya terdengar jelas.


"Tapi nanti Panji akan berpikir buruk tentang kita, terutama padaku, Krystal."


"Dia tidak akan marah."


"Tapi dia calon suamimu, Krystal. Hari ini kalian akan menikah, Kalau kamu tidak ada, Panji akan marah dan...." Dion tak melanjutkan ucapannya karena dari hidung Krystal keluar darah.


"Hidungmu berdarah, Krystal."


Krystal bangun lalu duduk di atas batu.


"Tidak apa-apa, Dion. Mungkin pengaruh dari sakit kepala." Ucapnya sambil mengusap hidungnya dengan sapu tangan.


"Sebaiknya, kita cepat pergi dari sini. Aku khawatir padamu, Krystal. Aku akan menggendongmu kalau kamu tidak kuat berjalan."


"Tidak usah, Dion."


"Kenapa kamu sangat keras kepala, Krystal."


"Aku tidak akan pergi dari sini dan menikah dengan Panji. Aku tidak mencintainya."


"Maksudmu?"


"Aku ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai dan mencintai aku."


"Lalu siapa yang kamu cintai?" Jantung Dion berdebar menunggu jawaban Krystal.


"Kenapa kamu bertanya lagi? Sudah pasti orang itu adalah kamu."


"Terima kasih, Krystal. Aku bahagia dan senang mendengar jawabanmu. Tapi kita harus ke tempat pernikahan untuk menjelaskan pada orang-orang agar tidak terjadi kesalah pahaman."


"Tidak perlu, Dion."


"Kenapa? Kita harus jujur pada Panji."


"Dion, aku sudah katakan, kita tidak perlu memberitahu dokter Panji."


"Dokter Panji? Maksudmu?"


"Dia dokter pribadi keluargaku."


"Lalu rencana pernikahanmu?"


"Tak ada pernikahan. Itu semua hanya sandiwara kami saja. Lagipula dokter Panji sudah memiliki istri dan anak."


"Kenapa kamu mempermainkan aku Krystal? Kenapa kamu tidak jujur sejak awal?"


Krystal tidak menjawab. Dia mual lalu muntah namun bukan makanan yang dimuntahkannya melainkan darah. Dion panik. Dan ingin menggendong Krystal tapi gadis itu menolaknya.


"Percuma kita pergi, penyakitku ini namanya Analiti dan belum ada obatnya. Ayahku meninggal karena penyakit ini. Aku tidak ingin memberitahu padamu karena aku tidak ingin kamu terguncang. Aku ingin kamu yang pergi menghindariku tapi kamu terus saja mengikutiku bahkan ketika aku mengatakan akan menikah, kamu tetap saja tidak peduli."

__ADS_1


Dion memeluk Krystal dengan lembut. Airmata menetes di pipinya.


"Aku sangat mencintaimu, Krystal. Tak peduli kamu sakit atau sehat."


"Aku juga mencintaimu, Dion. Maukah kamu mengabulkan permintaan terakhirku?" Krystal makin terlihat lemah namun senyum tak hilang dari wajahnya.


"Permintaan terakhir? Kenapa permintaan terakhir. Apa kamu berpikir, kamu akan mati? Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk berobat. Kalau perlu kita akan keluar negeri. Pengobatan disana jauh lebih canggih."


"Tidak usah, Dion. Semuanya hanya sia-sia. Penyakitku ini penyakit keturunan. Penderitanya akan meninggal seperti ayahku. Karena itu aku tidak ingin menikah denganmu. Aku tidak ingin kita menikah dan memiliki anak. Kasihan anak kita, mereka akan menderita sakit seperti aku."


Dion menghela napas. Sebagian hatinya kesal karena Krystal tetap saja bertahan dengan pendapatnya.


"Lalu apa permintaan terakhirmu?"


"Lupakan aku, anggap kamu tidak pernah bertemu dan berkenalan denganku. Lupakan nama Krystal dari hatimu. Carilah gadis yang kamu cintai dan jangan mempermainkannya. Kamu harus jadi manusia berguna terutama untuk keluargamu. Jadilan suami yang baik, ayah yang baik..."


Suara Krystal terhenti bersamaan dengan kepalanya yang terkulai di pangkuan Dion. Dion menjerit histeris memanggil nama Krystal. Airmatanya menetes di pipi gadis itu.


"Jangan tinggalkan aku, Krystal!!!!!!!" Teriakan Dion membahana, menembus bukit, pepohonan.


"Kumohon, jangan pergi Krystal!!!" Dion memeluk Krystal, berusaha membangunkan gadis itu namun Krystal tak bergeming. Beberapa saat kemudian Dion tersadar jika Krystal benar-benar telah pergi meninggakannya. Dion lalu menggendong Krystal menuruni bukit. Sepanjang jalan airmatanya tak berhenti menetes.


Dion teringat saat pertama kali bertemu dengan Krystal. Saat gadis itu memegang bunga mawar, saat itulah dia menyadari jatuh cinta pada gadis itu. Sekarang semua seolah mimpi yang baru saja terjadi. Pertemuan dan perpisahannya yang berlangsung cepat. Mereka bahkan belum menjadi sepasang kekasih.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Krystal? Permintaanmu terlalu sulit".. Gumam Dion sedih.


Karena lelah dan menanggung beban perasaan yang sangat berat, Dion tak kuasa membawa Krystal. Pemuda itu jatuh tersungkur. Pandangan Dion seketika gelap. Saat tersadar, Dion melihat sekeliling. Nampak kedua orang tuanya, Orang tua Panji, Kakek Faiz dan Panji berada didekatnya. Melihat mereka, seketika Dion teringat Krystal.


"Dimana Krystal? Tadi aku bersamanya,ma di mana Krystalku? Ucap Dion yang berusaha bangkit dari pembaringan. Mama Dion menangis sambil memeluk anaknya.


"Dion, sayang. Tabahkan hatimu, Nak."


Dion melihat kain putih yang membentang menutupi sesuatu di ruang tengah. Pemuda itu lalu bangun dan mendekati kain putih tersebut. Tangannya meraih ujung kain dan menyingkapnya hingga tampak wajah Krystal yang pucat namun tetap tersenyum.


Dion memeluk tubuh Krystal yang kaku, menangis tersedu-sedu sambil mendekap wajah Krystal yang pucat. Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut tak kuasa menahan tangis. Kakek Faiz mendekati Dion dan menepuk-nepuk pundak cucunya itu.


"Ikhlaskan kepergian krystal, dion. Kasian dia jika kau terus memikirkannya cucuku, cobalah untuk tabah menghadapi masalahmu, kamu tahu kan keinginan krystal? Kakek yakin, kamu tahu apa yang di inginkan Krystal.


"Aaa...ap..apa kakek juga bisa mengikhlaskan nenek? Saat nenek menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan kakek?


Mendengar ucapan dion, Kakek Faiz terdiam dan tidak menjawab pertanyaan cucunya itu.


*****


Beberapa hari setelah pemakaman, setiap hari Dion mendatangi makam Krystal. Pemuda itu membawa bunga mawar kesukaan Krystal. Bunga itu diletakkan tepat di dekat nisan dan selalu berganti setiap harinya.


"Krystal, hari ini tepat seminggu kamu terbaring di sini. Aku datang untuk pamit padamu. Aku akan melanjutkan kuliahku seperti permintaanmu, menjadi orang yang berguna bagi keluarga." Dion terisak.


"Aku janji setiap libur, aku akan menengokmu di sini. Membawakanmu mawar. Tapi kamu jangan khawatir, ada kakek yang akan mengganti mawar-mawar ini setiap harinya. Kamu tenanglah di sana, aku akan selalu mencintaimu.


**SEASON 1 END**

__ADS_1


Hai pra readersku...season satunya udah berakhir....gmna kisah Dion setelah kehilangan Krystal? penasaran? mkax bca terus cerita in...jgn lupa like, comment and vote klian yah!!


Sampai jumpa lagi di season 2 😉


__ADS_2