Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 Chapter 39 Kebenaran


__ADS_3

"Aa..aa..apa kalian berpacaran? Tanya Iga penuh ragu.


Dion mengangguk,"Tentu saja, Haura adalah gadis yang sangat aku cintai.


"Bu..bu..bukankah gadis yang kamu cintai adalah...


"Aku memang mencintainya selalu, tapi dia adalah masa lalu dan masa depanku sekarang adalah Haura.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Dion?


"Memangnya aku melakukan apa padamu? Aku tidak pernah mengatakan kalau aku menerimamu kembali kata Dion sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku sangat mencintaimu Dion, apa kurangnya aku dibandingkan dengan dia yang sekarang berdiri di sampingmu?


"Kamu memang selalu seperti itu Iga, kamu selalu suka membandingkan dirimu dengan orang lain, kau selalu menganggap dirimu sempurna, aku ragu apa kamu benar menyukaiku atau hanya ingin membuat dirimu semakin terlihat sempurna jika bersamaku.


"Aku memang menyukaimu, itu sebabnya...


"Itu sebabnya kau mengirim orang-orang itu untuk menghabisi nyawa Haura?


Iga merasakan sesuatu yang luar biasa, keringat mengucur di pelipisnya, jantungnya berdetak cepat, semua tubuhnya bergetar, Dion bangkit dari tempat duduknya dan tetap menggandeng Haura,"Jadi ini alasan kamu mau membunuh Haura? Tapi maaf Iga, walaupun kamu berhasil membunuhnya aku tetap tidak akan memilihmu.


"Kalaupun kamu mendapatkan gadis lagi, aku akan tetap memilih untuk melenyapkannya.


Dion mengenggam erat tangan Haura, dia berusaha menahan amarahnya,"Keluar! Teriak Dion.


Iga mendekat dan menyentuh bahu Dion yang memunggunginya,"Dion, maafkan aku.


"Pergi dari sini! Seharusnya bukan padaku kau minta maaf tapi pada Haura.


Iga melihat sinis pada Haura,"Aku tidak akan minta maaf pada orang yang mencuri tempatku, yang aku sesesali adalah karena aku tidak bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri.


Haura yang sedari tadi diam melihat keduanya berbincangpun naik pitam, dia melepas genggaman Dion dan berjalan mendekati Iga dan Plak! Tangan kecil Haura menempel di pipi chubby Iga,"Apa kau seorang wanita? Di mana letak hati kecilmu? Apa sudah habis di makan oleh api cintamu? Menggelikan kau seperti iblis betina.


Dion memandang Haura. Ya ampun akhirnya dia meluapkan emosinya, ini dia gadis gila yang aku kenal...Batin Dion


Iga merasakan ada yang mengalir masuk ke mulutnya, dia memegang pinggir bibirnya, darah segar terlihat dari jarinya. Iga marah dan hendak menyerang Haura, keduanya lalu saling menyerang, Haura menarik rambut panjang Iga yang baru saja di rawatnya di salon, Iga tidak tinggal diam dia juga menarik rambut panjang  Haura, tidak sampai di situ saja, Haura mencakar tangan Iga, saat Iga ingin membalas Dion melerai dan hasilnya Dion di lempar ke dinding oleh keduanya dan mereka berhenti sejenak kemudian kembali menjambak rambut masing-masing,"Dasar gadis gila! Seru Iga


"Dasar iblis betina! Tidak punya malu balas Haura.


Dion berdiri dan melihat ke arah keduanya,"Benar-benar menakutkan, kenapa mereka begitu kuat? Dion keluar dan meminta bantuan, Dimas masuk dan melerai mereka, Dimas menarik Iga dan Dion merangkul Haura.


"Apa yang kalian lakukan? Hentikan kata Dimas tak percaya apa yang di saksikannya.


Iga terus memberontak melepaskan diri dari Dimas,"Lepaskan aku, dia berani mencakarku dan menamparku, aku akan merobek mulut kotornya.


Haura tidak tinggal diam,"Apa, sini kau maju, aku juga akan merobek mulut kotormu, kau pikir aku takut padamu.


"Akh! Teriak Iga


Haura juga melakukan hal yang sama,"Akh! Aku ingin melaporkan kau ke kantor polisi karena sudah berani ingin membunuhku, tapi aku tidak akan melakukannya, memukul dan menampar iblis sepertimu sudah membuatku puas.

__ADS_1


Dion tidak bisa melihat pertengkaran ini lagi, dia menyuruh Dimas membawa pergi Iga, Iga tidak terima dan terus saja memberontak,"Lepaskan aku, beraninya tangan kotormu itu menyentuhku.


Mendengar itu Dimas melepas Iga dan membuat Iga tersungkur ke lantai,"Apa yang kau lakukan?


"Bukankah anda menyuruhku melepaskan anda?


"Tapi, tidak seperti tadi. Akh! Iga teriak dan meraung-raung di atas lantai.


Sementara di dalam kantor Haura heran melihat begitu banyaknya rambut menempel di tangannya,"Apa ini rambut Iga?


Dion menatap Haura yang memperbaiki rambutnya yang acak-acakan, sesekali haura merintih kesakitan, karena merasa di perhatikan, Haura kembali menatap Dion,"Kenapa Bapak menatapku seperti itu?


"Aku sudah yakin, jangankan Iga, saya saja sudah kamu bikin masuk rumah sakit, aku tidak tahu kamu sangat menakutkan saat sedang marah.


"Apa Bapak sedang mengejekku sekarang, jadi apa yang harus aku lakukan? Apa aku hanya akan tinggal diam saja? Dia bahkan mengatakan kalau dia menyesal karena tidak bisa menghabisiku dengan tangannya sendiri, benar-benar menakutkan.


"Tidak, bagi saya kamu lebih menakutkan kata Dion menggoda Haura.


Haura bangkit dari sofa dan hendak keluar,"Kamu mau kemana?


"Aku akan kembali ke gudang, Bapak tahu aku sangat menyesal ikut ke sini bersama Bapak, pantas saja tadi aku ingin menolak saat Bapak mengajakku kemari.


"Tapi kamu puas kan meluapkan amarahmu padanya.


"Iya, Bapak benar, tapi rambutku rontok seketika.


"Tidak serontok rambut Iga.


Dion menghentikan Haura,"Kamu ingat kan tadi, aku ada pekerjaan untukmu.


"Memangnya pekerjaan penting apa?


"Aku lupa sesuatu di rumah, kamu mau kan mengambilnya untukku.


"Lagi? Bapak lupa membawah sesuatu lagi?


"Maaf, tapi jika aku yang pergi, aku tidak bisa, aku ada launcing hari ini dan aku harus menyelesaikan sisa rapat yang tertunda.


"Aku tahu itu hanya alasan Bapak saja.


"Aku serius, jika aku menyuruh Dimas, kamu lihat tadi dia mengantar iblis wanita yang kau sukai.


Haura memandang sinis pada Dion,"Baik-baik saya akan mengambilnya untuk Bapak. Kata Haura dan menutup pintu kantor Dion.


Di tengah jalan Vovi menghampiri Haura dengan nafasnya yang terengah-engah,"Ka..ka..kamu, apa tadi kamu bertengkar dengan Ibu Iga?


"Jadi gosipnya sudah menyebar? Aku puas sudah menampar dan mencakarnya kata Haura berapi-api.


"Kau tahu teman, sekarang kau terlihat seperti seorang gangster.


Haura mengepal tangannya,"Seharusnya tadi sekalian saja aku meninju wajah alimnya itu.

__ADS_1


"Aa..aaa..aku lari kemari karena kupikir kau akan stress, tapi yang ada kamu terlihat sangat bersemangat.


"Lupakan, maaf Vovi, tapi aku ada pekerjaan, jadi aku pergi dulu.


"Haura! Kamu mau kemana?


"Aku akan ke rumah Pak Direktur.


"Iya hati-hati, apa? Ke rumah Pak Direktur!


Haura naik ke atas mobil Dion dan mengendarainya sendiri,"Ini pertama kalinya aku mengendarai mobil sendiri, tidak akan ada kejadian yang aneh-aneh kan, kata Haura dan mempercepat laju mobil yang di bawanya.


*****


Haura sudah ada di depan rumah Dion, karena Ani mengira jika yang datang adalah Dion, secara otomatis pagar rumah terbuka dan saat Ani melihat anaknya, yang membuka pintu mobil adalah Haura,"Haura? Raut wajah Ani terlihat sangat gembira. Dia menuntun Haura ke dalam rumahnya,"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu juga membawah mobil anak saya?


Haura menggaruk kepalanya,"Pak Direktur menyuruhku mengambil dokumen lagi Bi.


"Dasar anak itu, dia pasti lupa membawa barangnya lagi.


Haura tersenyum dan Ani begitu senang melihat senyuman Haura,"Kamu mau minum apa?


"Tidak usah Bibi, saya akan mengambil dokumen Pak Direktur saja dan akan kembali ke Perusahaan.


"Sayang sekali, padahal Bibi berharap bisa berlama-lama menghabiskan waktu untukmu.


"Aku juga seperti itu, tapi aku takut jika Pak Direktur akan marah lagi seperti kemarin.


"Iya, kamu benar juga. Tapi, Bibi ingin menanyakan sesuatu padamu.


"Apa itu Bi?


"Kemarin anak itu pulang, seharusnya dia diam melewati ruang tengah dan tidak mengeluarkan suara apapun, tapi saat Bibi tidak sengaja melihatnya, Bibi melihat Dion tersenyum dan bersenandung, itu pertama kalinya Bibi melihat dia bersikap seperti itu.


"Seperti apa Bi?


"Seperti sedang mengalami puberitas dan mengalami penyakit cinta.


Haura tersenyum dan mengingat jika kemarin adalah hari jadi pertama mereka.


"Apa terjadi sesuatu di antara kalian?


"Kemarin Pak Direktur manyatakan perasaannya padaku Bi.


"Apa? Akh! Ani teriak kegirangan,"Akhirnya, ini patut di rayakan.


"Bibi, mungkin lebih baik jika Bibi tidak mengatakan apa-apa dulu, sebelum Pak Direktur yang mengatakan sendiri pada Bibi.


"Kamu benar, kamu lebih baik segera ke kamar anak itu dan mengambil dokumen yang di mintanya.


Haura mengangguk dan berjalan ke kamar Dion, saat Haura membuka pintu kamar Dion, Haura menabrak sesuatu,"Akh! Apa ini? Haura memegang sebuah bingkai foto berukuran kecil yang membelakanginya, secara perlahan Haura membalikkan bingkai foto itu dan melihat gambar di bingkai itu, Haura terkejut melihat foto itu,"Ii..iii..ini? fo..fo..foto ini? Haura lalu melepas foto itu dan menggeledah tas yang di bawahnya, karena tidak mendapatkan dompetnya, dia mengeluarkan semua isi tasnya, saat dia menemukan dompetnya, dia perlahan membuka dompetnya dan mengambil sebuah foto yang terbalik, haura menjejerkannya dengan bingkai foto itu dan perlahan membalik foto yang di ambil di dompetnya dan mendekatkan kedua foto itu,"Fo..fo..foto ini!

__ADS_1


__ADS_2