Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 CHAPTER 46 INI TIDAK MUNGKIN


__ADS_3

Dion dia gadis buta! aku menangis saat kutahu kenyataan itu, aku mencoba menahan emosiku agar tidak diketahui olehnya, aku lalu bertanya kenapa dia bisa berada di sini sendirian. Dia tersenyum dan menjawab,"Aku ingin menemui kekasihku Dion, aku tahu jika aku sudah berbohong padanya, apapun yang dia katakan padaku, aku akan menerimanya, sekalipun dia ingin memutuskan hubungannya denganku, lagi-lagi aku terharu dengan sosok Lola ini, dia tulus mencintai, dan yang kutahu karenaku Dia juga akan menerima surat putus darimu, Dion kamu tahu hal yang paling kubenci saat menemuinya? Kuakui dia lebih cantik dariku, dan aku tidak suka itu, lalu aku memutuskan ingin mendonorkan mataku padanya, dia sempat terkejut, karena aku tiba-tiba datang dan mengatakan hal di luar dugaannya, aku senang saat dia mengatakan jika aku cantik seperti bidadari. Tapi karena aku merasa masih cemburu padanya, aku meminta satu syarat pada Lola, aku membisikkan sesuatu padanya,"Aku ingin kau mengabulkan satu permintaanku, saat aku mati dan tiba saatnya kamu menerima mataku, maka berjanjilah untuk mengubah namamu, aku menyuruhmu melakukan ini, agar kamu bisa hidup dengan kehidupan barumu, dengan yang baru, lalu nama yang cocok untukmu adalah Haura, gunakanlah nama itu. Aku lalu menerima telponmu dan dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dia sedikit kecewa karena kamu tidak datang, dia pergi ketika seseorang datang membawanya, dia selalu memegang ponselnya erat. Aku memanggil taksi dan segera menuju rumahmu, sepanjang jalan aku terus menangis memikirkan betapa egoisnya aku, aku dengan tegahnya menyuruh Lola mengganti namanya, lalu bagaimana kalian akan bertemu nantinya, apa aku sudah keterlaluan? Ini semua karena kecemburuanku, aku terus saja menangis dan kenyataaan yang lebih pahit lagi, saat aku tiba di rumahmu, kamu mengatakan jika kamu sudah memutuskan beberapa pacarmu lewat ponsel, aku merasa begitu bersalah, aku berpikir, apa Lola sudah menerima surat putus darimu, betapa sedihnya dia, dikehidupannya yang begitu kosong dan menyedihkan, dengan senyuman tulus dan cantiknya, dia harus menerima keputusanmu, aku melihat ke layar ponselmu, aku sedikit melihat pesan Lola dengan kata maaf. Aku ingin meraihnya tapi kamu cepat muncul dan menyuruhku mengikutimu. Dion maafkan aku, aku sudah melakukan kesalahan yang amat besar terhadap kalian berdua, kuharap kalian bisa bersama selamanya. Dion kumohon sampaikan maafku pada Lola, dan kamu harus tahu, jika Dokter Panji mengetahui semuanya, aku menyuruhnya menyatukan kalian,apapun resikonya, aku selalu mencintaimu.


Mata Dion dipenuhi air mata, dia memukul-mukul dadanya,"Aku sudah melakukan hal yang bodoh. Matanya tiba-tiba membulat, kemarahannya memuncak, dia meremas surat terakhir itu,"Apa semua ini? Permainan apalagi yang ditujukan untukku, Ini tidak mungkin, bagaimana bisa Haura adalah Lola? Lola gadis yang dulu sangat kusayangi dan hanya dia orang pertama yang mampu membuatku tidak bisa menolak permintaannya dan selalu mengindahkan perkataannya, aku sudah melakukan kesalahan besar Krystal, semuanya sudah berakhir, Lola tidak akan bisa bersamaku. Dion sudah kehabisan air mata, karena terlalu lelah, Dion lalu terlelap dalam tidurnya.


Satu tahun kemudian....


Seorang gadis terlihat sedang duduk di dekat jendela pesawat, kaca mata Hitam yang di kaitkannya di atas kepalanya, rambutnya panjang, sedang asyik membaca sebuah buku,"Ceritanya bagus, aku suka, tapi terlalu sedih. Gadis itu melihat kursi tepat di sebelahnya kini kosong, tanpa sengaja dia melirik ke arah dua pemuda di sampingnya, yang sedari tadi mengawasinya. Dia spontan menutup bukunya dan memalingkan pandangannya dari kedua pemuda itu,"Kemana perginya Bibi yang tadi? Gara-gara dia pergi, pemuda itu terus memperhatikanku, menyebalkan. Gadis itu memutuskan menyenderkan tubuhnya ke kursi dan terlelap.


*****


Gadis yang duduk di atas pesawat sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Dia berjalan ke arah kedatangan, dia memakai kaca mata hitamnya, dia memasukkan tangannya ke saku bleaser biru navinya, dipadukan dengan celana kulot jeans dengan sepatu highheelsnya, dan juga tas coklatnya, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari seseorang, dia lalu berbalik ketika seseorang memanggil namanya,"Haura!


Haura berjalan ke arahnya dan memeluknya,"Vovi! Aku merindukanmu.


Vovi menarik koper Haura dari tangannya,"Bagaimana kabarmu?


"Aku baik, kamu?


"Aku juga baik.


Seseorang menabrak Haura dan hampir membuatnya terjatuh,"Apa yang kau lakukan? Bentak Haura.


Haura berbalik dan melihat siapakah yang berani menyenggolnya, astaga ada apa dengan pemuda ini? Bukankah dia salah satu dari pemuda yang tadi terus mengawasiku di dalam pesawat? Aku tidak suka dengannya, aku benci...Pikir Haura.


Lelaki itu meminta maaf dan berjalan melewati Haura dan juga Vovi.


"Apa kau mengenal lelaki itu? Tanya Vovi penasaran.


"Tidak, tapi aku satu pesawat dengannya, dia terus saja menatapku saat berada di pesawat.


"Benarkah? Sepertinya dia menyukaimu.


"Aku tidak menyukai lelaki, yang suka bermain mata pada gadis yang baru saja ditemuinya. Tapi kamu tidak membawa pria itu kan?

__ADS_1


"Iya, aku sudah janji padamu.


"Baiklah, tapi sepertinya aku tidak akan kembali ke rumah dulu, aku akan memilih untuk tinggal di Hotel.


"Hotel apa? Tapi kenapa harus di hotel.


"Hotel Arya Guna. Aku hanya ingin tinggal di hotel saja untuk sementara.


"Baik, aku tidak akan mengikutimu.


*****


Haura melangkah masuk ke dalam hotel Arya Guna, sebelumnya Haura sudah cek in, dia hanya memperlihatkan pesanannya dan dia pun mendapatkan kunci kamar hotel, Haura memanggil staf hotel yang membawakan koper dan beberapa barang lainnya.


Setelah keluar dari lift, staf mengikuti Haura di sepanjang lorong hotel, hingga mereka berhenti tepat di depan kamar hotel nomor tiga puluh satu,"Benar, ini kamar saya, tolong kamu bawa masuk barang saya, letakan di sana dan ini tip untukmu.


Staf hotel keluar dari kamar Haura, setelah menaruh barang bawaan Haura dan juga menerima tip, Haura menutup kamarnya dan mencopot kaca mata hitamnya, dan membaringkannya di atas meja, Haura lalu melepas bleasernya, kemudian membuang badannya di atas kasur,"Akh! Lelahnya, tapi jika aku sendiri seperti ini, kenangan itu akan kembali muncul.


Haura berjalan keluar dari kamar hotelnya, dia lalu memaki dirinya sendiri,"Kenapa, di setiap aku ingin tertidur pulas, Ka Satria selalu membayangiku, bahkan di hotel juga...katanya dan melanjutkan langkahnya di lorong hotel.


Secara kebetulan, Dion juga sedang ada pekerjaan di hotel ini, saat Dion berpapasan dengan Haura walau hanya sepintas, Dion tidak salah melihat seseorang,"Bukankah dia Lola? Atau aku salah lihat? Tidak mungkin, setahuku dia ada di Amerika saat ini, apa mungkin dia sudah kembali ke Jakarta?


Lelaki yang berjalan dengan Dion pun ikut menghentikan langkah kakinya, dan memandang bingung pada Dion,"Pak? Ada apa?


Dion kembali menatap ke arah lelaki itu,"Maaf, saya merasa jika saya mengenal seseorang yang berpapasan dengan saya tadi. Tapi kalau boleh, apa anda bisa ke sana seorang diri? Saya tetap akan menyusul anda, saya juga akan menyuruh Sekertaris saya menemani anda sementara. Dion memberi isyarat pada Dimas, agar menuntun lelaki itu.


Sementara Dion, dia berlari dan mencari gadis yang tadi berpapasan dengannya di lorong,"Dimana dia? Aku yakin dia adalah Lola, aku tidak mungkin salah orang. Dion berlari sekencang mungkin dan melihat punggung Haura,"Lola!


Haura menghentikan langkahnya,"Lola? Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggilku dengan nama lamaku. Haura berbalik, menyalipkan sebagian rambutnya di atas telinganya, dan mencari seseorang yang memanggilnya. Betapa terkejutnya, saat dia melihat Dion berjalan ke arahnya,"Direktur? Kata Haura panik, dia berusaha kabur dan menghindar dari Dion.


Tapi Haura kalah cepat dari Dion, Dion menangkap pergelangan tangan Haura, dan membawanya pergi,"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Haura berusaha melepas tangannya, tapi Dion tidak memberi celah sedikitpun.


Saat Dion merasa, mereka sudah jauh dari keramaian, Dion menyudutkan Haura di tembok, dan mengangkat tangan mereka dan menempelkannya di dinding hotel, Haura berusaha melepaskan diri dari situasi ini, mata mereka bertemu, Dion menatap Haura lekat-lekat,"Kamu Haura kan?

__ADS_1


Haura menatap Dion tak suka,"Bukan, anda salah orang.


"Haura!


"Apa! Haura berteriak.


"Kau? Berteriak padaku?


Haura memutar bola matanya,"Kenapa? Apa anda tidak suka seseorang berteriak di depan anda?


Haura berusaha menarik lengannya, tapi Dion malah mempererat genggamannya, dan semakin menyudutkan Haura dengan melangkah lebih dekat pada Haura.


"Lepaskan aku, apa kau sudah kehilangan akal?


Dion tersenyum dan kembali menatap Haura,"Akhirnya aku menemukanmu.


Haura memalingkan pandangannya. Dasar iblis, dia masih saja tampan saat tersenyum...Batin Haura kesal.


"Menemukanku? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau menyuruhku untuk tidak pernah menemuimu! Aku juga tidak suka melihat wajahmu.


"Kamu masih mengingat perkataanku satu tahun yang lalu?


"Tentu saja, aku mengingat perkataan tak senonoh yang keluar dari mulutmu.


"Dimana Satria?


"Kenapa kau menanyakannya?


"Aku hanya ingin bertemu dengannya.


Haura menatap tajam pada Dion, dan berkata,"Dia tidak ada.


"Apa kalian sudah menikah?

__ADS_1


Haura terlihat tidak suka dengan pertanyaan Dion, dan mengatakan hal yang tidak wajar,"Dasar lelaki jahat! Tidak berperasaan! Apa kau tahu kau sudah terlalu kejam padaku, dasar brengsek gila, jadi lepaskan tanganku sekarang!


__ADS_2