
"Sudah Dion, hentikan ocehanmu, lupakan saja, mungkin perempuan itu hanya salah paham saja padamu, saranku jika kamu bertemu dengannya, tanyakan kenapa dia menuduhmu seperti itu dan jelaskan kalau kamu bukanlah seorang psikopat. dokter itu lalu tertawa lucu melihat Dion yang kesal mendengar sarannya.
"Jadi dokter berada dipihak perempuan gila itu?
"hahaha, sudah jangan banyak bicara, saya akan mengobati lukamu, agar kamu bisa pulih secepatnya.
"Baik Dok, aku tahu itu keahlianmu, tapi aku tetap tidak terima jika kamu mendukung perempuan gila itu,"Aku mengingat suaranya itu, tunggu saja jika bertemu dengannya aku akan memberinya pelajaran, lancang sekali dia, dia memberi luka pada kepalaku ini, ah sial! lihat saja nanti perempuan gila itu akan memohon ampun padaku, jangan sebut aku Dion jika tidak memberinya pelajaran, Dasar perempuan gila! Aku tidak terima iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
Melihat Haura dan Direktur saling menunjuk sedari tadi, mereka (Wakil Direktur, Sekertaris Dimas dan Vovi) hanya terkejut dan bingung melihat tingkah mereka berdua.
"Aku ingat sekarang, kamu adalah psikopat itu.
"Jadi kamu sudah ingat? Aku juga ingat, kamu adalah perempuan gila itu, sudah berapa hari aku mencarimu, bagus karena kamu datang sendiri menyerahkan dirimu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan padaku? Haura bertanya balik sambil bertolak pinggang.
"Maaf, kalian bertiga silahkan tinggalkan ruangan ini, aku ingin berbicara empat mata dengan perempuan gila ini. Merekapun meninggalkan keduannya,sebelum mereka keluar dari ruangan itu, Dion menghentikan mereka."Sekertaris Dimas? tunggu! Memori di Black box, yang ada di dalam mobilku itu tolong berikan padaku.
"Untung aku selalu membawanya, karena permintaan bapak. Dimas lalu memberikan memori black box pada dion.
"Kalau begitu kalian boleh pergi dan jangan lupa untuk menutup pintunya.
Mereka semua keluar dan sekertaris Dimas menutup pintu itu.
"Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berdua? mengapa Haura memanggil Direktur dengan sebutan psikopat dan mengapa juga Direktur memanggil Haura perempuan gila? Tanya wakil Direktur kepada Vovi.
Vovi lalu menunjuk dirinya,"Anda bertanya padaku wakil Direktur?
"Iya tentu saja, tadi aku melihatmu bersama Haura di luar ruangan, itu berarti kamu adalah teman Haura bukan?
"Iya saya memang temannya, tapi saya tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua, mungkin Sekertaris Dimas lebih tahu detailnya, dia kan selalu bersama dengan Direktur. Keduanya lalu melirik dan menunggu jawaban pada Sekertaris Dimas.
__ADS_1
"Yah saya tahu ceritanya, waktu itu...
"Stop, kamu jangan cerita dulu, ngomong-ngomong Vovi dan sekertaris Dimas, apa kalian berdua sudah makan?
"Anda bertanya pada saya, kebetulan saya belum makan, saya hanya minum segelas cappuccino tadi pagi, jawab Sekertaris Juan.
"Saya juga belum makan wakil Direktur.
"Bagaimana kalau cerita Direktur dan Haura kita lanjutkan sambil makan saja, saya akan mentraktir kalian, setuju?
"Setuju.
"Bagaimana denganmu Vovi?
"Iya saya juga setuju.
*****
Direktur memandang Haura dengan tatapan yang seolah tak percaya apa yang dikatakan oleh Haura itu pada dirinya saat ini,"Kamu? Sombong dan semena-mena? Dimana kesopananmu, aku mungkin lebih tua dari kamu, dan aku akan menjadi atasan kamu ditempat ini, apa kamu memang sudah kehilangan akalmu?
Apa? Kehilangan akal? Saya tidak gila, jika saya gila, saya tidak mungkin berada ditempat ini sekarang,"Baik saya minta maaf atas ketidaksopannanku pada anda, aku memang sedikit merasa bersalah, tapi aku masih tidak memaafkan anda, atas pembunuhan yang anda lakukan malam itu.
"Pembunuhan apa? Sekali lagi aku tekankan dan tegaskan pada kamu, aku bukan pembunuh atau apapun yang kamu tudukan padaku,"kebetulan anda disini, sebenarnya tadinya aku ingin polisi menangkapmu dan memasukkanmu ke dalam penjara, tapi seseorang menyuruhku untuk bertanya dulu padamu, apa alasan sehingga kamu menuduhku sebagai pembunuh?
"Ucapkan terima kasihku pada temanmu itu, setidaknya dia bisa sedikit berpikir jernih.
"Apa? Jadi maksud kamu aku ini...ah sudahlah, sekarang aku minta kamu jelaskan alasanmu, mengapa kamu mengangapku seorang pembunuh?.
"Jelas, kamu adalah pembunuh, kamu membawa sekop dan mayat seseorang yang telah kamu bunuh.
"Jadi, itu alasan kamu, jadi hanya karena aku membawa sekop dan ada mayat yang kamu lihat, kamu langsung menyimpulkan bahwa aku telah melakukan pembunuhan? Sepertinya kamu memang sudah gila.
__ADS_1
"Tentu saja, apa yang dipikirkan orang lain jika melihatmu melempar mayat yang berlumuran darah dari bagasi mobilmu dan membawa sekop, tentu saja orang berpikir kamu adalah seorang pembunuh atau lebih tepatnya psikopat yang ingin mengubur korban untuk menghilangkan jejak atau bukti dari kejahatannya, bukankah anda juga berpikir seperti itu?
"Hahaha...Kamu memang hebat, kamu bisa membuat novel dengan karanganmu itu dan aku yakin ceritamu itu pasti akan terjual habis, kenapa disini panas sekali, apa Ac diruangan ini rusak atau dia juga sedang mempermainkanku? Maaf tapi saya tidak berpikiran sama dengan anda.
"Jadi maksud anda saya yang salah, harusnya saya bertanya dulu pada orang itu, dan jika terbukti bahwa dia memang pembunuh, saya bisa di bunuhnya?
"Kamu tidak akan dibunuh, karena aku bukanlah seorang pembunuh. Direktur lalu menyalahkan laptopnya dan memperlihatkan Haura sesuatu,"Lihatlah video ini, ini video kejadian malam itu.
Haura melihat semua kejadian yang terjadi malam itu, bahkan kejadian saat dia memukul Direktur pun terlihat, sampai saat sekertaris dimas mengambil boneka yang mirip manusia itu dan Direktur lalu menghentikan video itu,"Sekarang kamu percayakan kalau saya bukanlah seorang pembunuh ataupun psikopat, jadi saya mohon, kamu! jika bertemu denganku lagi, jangan lakukan hal gila seperti itu lagi, akibatnya saya terbaring dirumah sakit selama tiga hari, dan saya sangat membenci rumah sakit, mengerti!
"Yah maaf saya pikir anda adalah pembunuh, jadi saya melakukan apa yang saya pikir harus saya lakukan malam itu, anda mau memaafkan kesalahanku kan? Anda akan menerima saya kerja ditempat ini kan? Saya mohon anda mau menerima saya kerja ditempat ini, saya mohon.
"Jadi kamu pikir aku akan menerima kamu, setelah apa yang kamu lakukan padaku?
Haura memajukan bibir bawahnya kedepan dan menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak, saya rasa anda tidak akan memberiku pekerjaan.
"Jika kamu sudah tahu jawabannya, kamu boleh pergi sekarang.
Haura keluar dari ruangan dan menutup ruangan itu,"Dasar Psikopat, hanya karena aku salah paham, dia lalu tidak mau menerimaku bekerja di perusahaannya, aku kan tidak tahu jika dia ternyata bukan pembunuh,"bagaimana ini? Dia bahkan belum mewancaraiku, tapi dia langsung mengusirku.
Direktur masih duduk diatas meja kerjanya, dia mengingat saat Haura memajukan bibirnya dan menggelengkan kepalanya, dia lalu tertawa sendiri, dia terhenti dan memikirkan sesuatu,"perempuan gila itu, dia benar-benar menyedihkan.
Haura masih berdiri didepan pintu, dia masih memegang gagang pintu Direktur dan menagis sepertinya dia tidak menerima jika dia tidak diterima kerja di perusahaan ini, seseorang menepuk bahu Haura dan membuatnya kaget, Haura berbalik dan melihat seorang wanita yang lebih tua darinya, Haura lalu meminta maaf pada wanita itu,"Maafkan saya Ibu,saya...
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa anak itu berbuat ulah lagi?
"Saya menangis,karena presdir...
"Mata kamu sangat biru, kamu mengingatkan bibi pada seseorang.
"Siapa?
__ADS_1
"Ada, seseorang yang sangat berarti bagi presdir, ngomong-ngomong tadi kamu mau mengatakan apa?