
Pagi harinya, Krystal muncul di rumah kakek Faiz.
"Dion, mana kakek Faiz? Biasanya kami jogging jam segini. Ayo, kamu juga jogging bersama kami."
Dion tak menjawab, wajahnya muram.
"Kamu tidak ingin Jogging ya? Emang di kota tidak ada jogging?"
"Enak aja? Aku dari kota, aku tahu apa itu jogging. Hanya saja saat ini kakek lagi sesak nafas."
"Apa? Kamu bikin kesal kakek ya?"
"Entahlah. Tadi pagi kakek bangunkan aku tapi aku tidak dengar. Kebiasaanku bangun telat. Aku tidak terbiasa bangun pagi. Nah, pas buka pintu kamar aku lihat kakek sudah tergeletak di lantai."
"Dion!!!! Kamu bikin kesal kakek! Lalu dimana kakek sekarang?"
Dion tidak menjawab tapi menunjuk kamar dekat ruang makan. Krystal tahu itu kamar kakek Faiz. Bergegas gadis itu memasuki kamar dan mendekati kakek Faiz yang terlihat susah bernafas.
"Dion, kamu pijat kaki kakek." Krystal memberi instruksi sementara dirinya memegang tangan kakek Faiz dan meminta lelaki tua itu mengatur nafasnya. Lima menit kemudian kondisi kakek Faiz berangsur membaik.
Krystal kemudian keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana?"Tegur Dion ketika langkah Krystal menuju pintu keluar.
"Jogging. Apa kamu tidak ingin jogging bersamaku? Bukankah tadi kamu setuju ketika kakek memintamu jogging bersamaku?"
"Tapi aku masih mengantuk. Lagipula aku setuju karena kakek lagi sakit. Aku tidak ingin membuatnya kesal dan kumat sesak nafasnya." Dion berkata sembari menuju kursi panjang di teras.
"Kamu jogging saja, aku akan tidur disini."
Krystal mendekati Dion dan menarik tangannya.
"Ayo, bangun. Apa kamu pikir kakek tidak tahu perbuatanmu? Apa kamu ingin penyakit kakek kambuh lagi?Apa kamu pikir aku senang jogging denganmu? Aku juga tidak ingin kakek kecewa dan sesak nafas lagi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kakek. Jadi tolong perbaiki sikapmu."
"Ternyata di desa ini juga tidak ada celah untukku. Di kota ada ayah yang mengatur hidupku, di desa ada kakek yang sikapnya seperti ayah. Mereka berdua tidak ada bedanya."
Krystal menatap heran pada Dion.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupanmu di kota, tapi mungkin kamu benar. Kakek dulu tidak seperti ini, sejak beliau sakit, sikapnya berubah."
Entah apa yang telah dikatakan Krystal pada Dion, pemuda itu akhirnya mau ikut menikmati udara pagi. Mereka jongging bersama menyusuri desa.
"Dion, coba kemari. Pemandangan disini sangat indah." Panggil Krystal sembari mengeluarkan kamera dari tas kecil dipinggangnya. Dion memperhatikan gerakan Krystal saat mengarahkan kamera membidik lokasi yang indah disekitar mereka. Hadir rasa kagum dalam hatinya.
"Ternyata kamu hobby memotret juga ya?"
"Iya. Menurutku hal paling menyenangkan adalah bisa memotret hal-hal yang menarik. Terutama ketika kakek menjadi modelku. Kamu bisa melihat galeri fotoku di rumah."
Gadis ini makin mengagumkan, selain menyukai bunga mawar, dia juga suka dunia fotografi padahal dia tinggal di desa tapi kehidupannya seperti anak kota. Benar-benar keren.. batin Dion dengan sinar mata kekaguman.
__ADS_1
Setelah puas menikmati keindahan alam pedesaan, Krystal kemudian mengajak Dion kerumahnya. Mereka memasuki ruangan khusus tempat dia memajang seluruh foto hasil bidikannya.
"Wowww, menakjubkan sekali. Kamu hebat Krystal. Foto-foto kakek sangat bagus. Terlihat nyata, apa ini hasil fotoshop?"
"Tidak. Aku benci mengedit hasil fotoku. Ini asli aku sama sekali tidak merubahnya."
"Kamu sangat berbakat."
"Kamu terlalu berlebihan, Dion. Kakakku lebih hebat lagi."
"Benarkah? Ehmm padahal hasil karyamu saja sangat bagus."
"Hasil karya jepretan kakakku lebih bagus lagi."
"Aku bisa melihat hasil foto kakakmu?"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena kakakku tidak berada disini. Kami berpisah sejak ayah dan ibu bercerai. Aku ikut dengan ayah. Setelah ayah meninggal, aku tinggal sendiri dengan bibi. Aku tidak tahu dimana kakak dan ibuku."
"Kamu tidak mencarinya?"
"Aku tidak terbiasa perjalanan jauh, apalagi harus naik kendaraan umum. Aku mudah mabuk. Lagipula aku tidak tahu mereka berada dimana. Ketika ayah meninggal, ibu dan kakak tidak datang. Oh,ya aku punya foto lelaki yang pernah datang menemui kakek."
Krystal menyodorkan selembar foto pada Dion.
"Orang dewasa terkadang susah di mengerti. Kadang mereka tidak menjaga perasaan anak-anak mereka. Tapi yang aku lihat kakek sangat baik. Ketika bertemu ayahmu dan aku datang, kakek menahan diri untuk tidak bertengkar didepanku. Itu artinya kakek masih menjaga perasaanku. Jadi tolong Dion, jangan buat kakek kesal dan marah ya itu akan melukainya."
Dion terpaku mendengar ucapan Krystal. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Dia lalu pamit dan meninggalkan rumah Krystal.
"Tuan muda." Dion berbalik, aneh siapa yang memanggilnya dengan sebutan tuan muda?
"Kakek? Kenapa memanggilku tuan muda?"
Kakek Faiz menghampiri Dion lalu duduk didekatnya.
"Karena ada nona muda, maka ada tuan muda."
"Jangan bercanda kakek. Sekarang bukan lagi jaman dengan panggilan seperti itu."
"Iya, kakek tahu. Tapi kakek bahagia memiliki kalian, nona muda yang cantik dan tuan muda yang tampan."
"Terserah kakek saja." Kata Dion pasrah.
Dion makin penasaran dengan sosok Krystal. Dia ingin membantu Krystal menemukan ibu dan kakaknya.
*****
__ADS_1
Hari ini akan diadakan lomba persahabatan antar Desa. Beberapa Desa yang ada dipegunungan ikut serta dalam lomba yang diadakan setiap tahun. Lokasi lomba setiap tahun berpindah-pindah. Jika tahun lalu Desa Anger yang menjadi tuan rumah kali ini lomba diadakan di Desa Batua. Dion dan rombongannya mewakili Desa Anger.
Sejak pagi Dion, Krystal, dan beberapa warga desa yang diutus telah berangkat lebih dulu. Sementara Kakek Faiz yang merupakan tetua kampung, akan menyusul kemudian.
"Aku masih bingung kenapa aku diutus padahal aku bukan warga kampung disini. Aku hanya tamu dan tidak menetap di desa ini." Dion membuka pembicaraan ketika mereka dalam perjalanan menuju Desa Batua.
"Tapi aku senang karena akhirnya aku bisa melihat tawamu Krystal. Ternyata kamu lebih cantik dan indah saat kamu tertawa." Krystal yang mendengarnya sontak tertawa.
"Aku juga suka dengan warna lipstik yang kamu pakai. Natural dan sangat cocok dengan kulit wajahmu yang putih."
"Dion! Sejak tadi kamu berbicara terus. Memuji aku seperti melihat pemandangan. Apa tidak ada pembicaraan yang lebih bermutu dan menarik selain membicarakan aku?"
"Sayangnya, saat ini kamulah yang sangat menarik."
Krystal cemberut.
"Kamu selalu saja membuatku kesal dan marah."
"Kamu jangan marah ya, Krystal. Aku kan cuma bercanda biar nggak mengantuk saat menyetir."
"Terserah kamu saja." Jawab Krystal. Dion tak menyadari jika gadis disebelahnya sangat malu mendengar ucapannya.
Ternyata pujian Dion padaku hanya untuk menghilangkan rasa kantuknya, memalukan, aku terlalu geer...
Krystal memalingkan wajahnya tak berani menatap Dion.
Sepanjang jalan Dion terus berceloteh dan tertawa. Sesekali dia memandang Krystal yang diam dan tertunduk karena malu. Hingga akhirnya mereka tida di Desa Batua. Kepala Desa Batua menyambut hangat kedatangan rombongan Desa Anger.
"Selamat datang di Desa Kami." Ucap Kepala Desa Batua.
"Jadi kalian yang akan mewakili Desa Anger?"
"Bukan kami saja. Kakek Faiz sebentar lagi akan datang. Kakek juga akan mewakili desa kami." Jawab Krystal.
"Tapi tadi ada surat dari Kakek Faiz, katanya dia mengutus dua orang mewakili Desa Anger, yaitu Krystal dan Dion."
"Mana mungkin. Tadi kakek sendiri yang mengatakan akan menyusul kemari."
"Peraturan yang ada, hanya dua orang yang mewakili desa. Yang tercantum dalam surat Kakek Faiz, adalah Krystal dan Dion."
"Sepertinya kakek sedang mempermainkan kita, Krystal. Semua telah diatur kakek dengan sempurna." Dion berbisik.
"Bagaimana? Kalian siap?" Tanya Kepala Desa.
"Iya." Jawab Krystal menjawab cepat.
"Kita terpaksa harus ikut, Krystal. Kalau kita pulang sekarang, itu sama saja kita mempermalukan desa kita." Dion berbisik lagi.
"Iya, Dion. Kita tidak punya pilihan selain ikut berpartisipasi. Sejak tadi aku perhatikan hanya anak muda yang tampak mewakili desa masing-masing. Mungkin itu yang dipikirkan kakek hingga mengutus kita."
__ADS_1
"Benar. Kita harus membanggakan desa dan kakek."