
"Apa maksud Kak Satria?
Satria lalu mendekati Haura,"Apa kau tidak kangen padaku?
Haura dan Satria saling menatap, Haura menyentuh seluruh wajah Satria,"Benar wajah ini adalah milik Kak Satria.
Lalu tiba-tiba, Haura memukul kepala Satria,"Kak Satria jangan menggodaku.
Keduanya lalu tertawa. Bibi yang sedari tadi menyimak menyuruh keduanya masuk ke dalam rumah, sementara bibi akan menyediakan minuman dan juga makanan untuk keduanya.
Beberapa menit kemudian, Bibi datang membawa nampan berisi makanan dan minuman,"Nah sekarang kalian minum teh dan makan pisang goreng bikinan Bibi.
Keduanya lalu menikmati suguhan Bibi. Satria menghentikan kunyahannya dan mulai bertanya pada Haura.
"Haura akhirnya kamu mendapatkan donor mata, Paman dan Bibi selalu mencari donor mata tanpa harus memaksa dan melakukan hal-hal tidak baik demi mendapatkan pendonor dan benar ada yang memberikanmu tanpa harus merugikan dirinya.
"Iya, mama dan papa sebelum meninggal selalu berusaha mencari pendonor untukku, tapi tidak ada yang mereka dapatkan. Lalu gadis itu datang padaku dan memberikan matanya untukku tapi dengan catatan aku harus memakai nama Haura, agar aku bisa menjalani hidup yang baru dan meninggalkan kenangan burukku.
"Apa kau mengenal gadis itu?
"Iya, aku mengenalnya, walau aku tidak bisa menemukannya lagi, dia bilang jika dia ikhlas memberi matanya padaku, dokter memperlihatkan foto gadis itu padaku. Berkat dia sekarang aku bisa menjalani hidup dan dapat pekerjaan.
"Apa aku boleh melihatnya? Aku ingin berterima kasih secara langsung.
"Boleh, tapi aku lupa menaruhnya dimana.
"Mungkin lain kali saja Haura, sudah larut aku akan pulang. Besok kamu akan masuk kerja?
"Iya, aku harus bangun pagi, agar tidak terlambat
"Baiklah. Aku tidak akan menganggumu. Satria lalu memakai helmnya.
"Kak Satria jangan bosan datang ke rumahku.
"Baiklah. Satria menjalankan motornya dan melambaikan tangannya pada Haura.
*****
Keesokan paginya, Haura berlari karena takut datang terlambat, Haura terkejut saat membuka pagar rumahnya, Satria sudah ada di depan rumah dan mengejutkannya,"Haura!
"Kak Satria? Apa yang kakak lakukan pagi-pagi begini.
Tanpa menjawab terlebih dulu, Satria melemparkan helm pada Haura, Haura lalu menangkapnya,"Ayo naik, aku akan mengantarmu ke tempat kerjamu.
"Benarkah? Baiklah.
Akhirnya Haura dan Satria tiba di depan perusahaan,"Jadi kamu kerja di Mall?
"Iya, aku manajer gudang disini.
"Untuk apa kau mengeluarkan keringat, jika kamu sudah memiliki segalanya.
"Aku tidak seperti kakak, menikmati harta orang tua tanpa ingin bekerja keras.
"Ah aku kalah lagi, aku memang tidak bisa mengalahkanmu jika kita berdebat, karena kamu sangat pintar bicara.
__ADS_1
Dion dan Dimas juga tiba di depan Perusahaan, Dion menyaksikan saat Haura dan lelaki yang bersamanya bersendau gurau, mereka tertawa. Haura terkejut melihat kedatangan Dion, Haura lalu membuka helmnya dan memberinya pada Satria,"Kakak pulang saja, aku sudah harus bekerja.
Satria memandang Dion dan kemudian tersenyum, dia menyalakan motornya dan berlalu meninggalkan mereka, Haura berjalan duluan, Dion mengejar dan berjalan di samping Haura,"Siapa yang datang bersamamu?
"Kenapa Bapak harus tahu.
"Dia kekasihmu?
Haura marah dan kesal,"Bukan! dia cuman kenalan lama saja, memangngya kenapa bapak bertanya hal pribadi denganku?
Dimas tercengang dan berkata dalam hatinya. Ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis membentak Pak Direktur, Haura sungguh berani.
"Kenapa kamu marah, aku kan cuman bertanya.
Haura menatap tajam Dion,"Menyebalkan kata Haura dan mempercepat langkahnya untuk menjauh dari mereka berdua.
Dion berhenti dan mencengkram kera baju Dimas,"Apa aku memang menyebalkan?
Dimas menggelengkan kepalanya, Dion lalu tersadar dan melepas cengkramannya itu,"Kenapa hari ini cuacanya sangat panas.
Haura masuk ke dalam ruangannya dan melempar tasnya di kursi,"Psikopat itu memang menyebalkan, kapan aku bisa membungkam mulutnya dan menendang pantatnya, ah sial!
Setelah Haura puas memaki-maki Dion, Haura lalu duduk dan merenung. Kak Satria, setelah beberapa tahun aku dan dia dipertemukan lagi, Kak Satria dulu adalah tetanggaku, kami senang menghabiskan waktu bersama, walau sebenarnya sangat membosankan bermain dengan gadis buta sepertiku, tapi dia tidak pernah mempermasalahkannya, itu sebabnya waktu itu aku menjadikannya malaikat penolongku, dia adalah cinta pertamaku, tapi entah kapan perasaan itu sudah mulai berubah.
*****
Vovi sibuk menyusun kardus-kardus yang berserakan, sepertinya dia sedang kesal,"Dasar jahat, aku pikir dia menyukaiku, tapi ternyata dia selalu tersenyum dan baik pada semua orang, aku membencinya.
Dimas mencari Vovi, ada kesalahapahaman di antara keduanya,"Vovi ada di mana? Mungkin dia ada di ruang kerjanya.
Vovi tidak menjawab tapi malah menatap Dimas tajam dan berjalan mendekatinya,"Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu membutuhkan sesuatu?
Dimas terkejut, ini pertama kalinya dia melihat Vovi marah,"Ka..ka..kamu kenapa? Apa sesuatu terjadi padamu.
Vovi berteriak,"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu memperlakukanku seperti itu.
"Memangnya aku memperlakukanmu seperti apa?
"Jika kamu tidak menyukaiku, kenapa kamu selalu baik dan terus menolongku.
"Kata siapa aku tidak menyukaimu?
"Aku tadi melihatmu, membantu seseorang, kamu bahkan memeluk gadis itu.
"Gadis yang mana?
"Aku memang tidak berhak marah, karena aku bukan siapa-siapa kamu, kita bahkan tidak memiliki hubungan, tapi kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini.
"Vovi? Sebenarnya kamu kenapa?
"Sudahlah sebaiknya kamu keluar dari ruanganku. Vovi mendorong Dimas keluar dari kantornya. Dimas menahan dorongan Vovi dan mulai tertawa,"Jadi kamu membicarakan Nisa? Memang tadi aku bertemu dengannya dan memeluknya, karena aku kangen pada adikku.
"Ja..ja..jadi gadis yang aku lihat tadi adalah adikmu?
"Iya, dia adikku.
__ADS_1
Vovi terlihat malu dan mundur dari Dimas. Bodoh kamu Vovi, kamu bicara tanpa memikirkan konsekuensinya, jika begini Dimas bisa tahu jika kamu punya perasaan padanya.
Dimas berjalan mendekati Vovi dan membuatnya tersudut, Vovi lalu mendorong Dimas menjauh darinya dan bertingkah kikuk,"Dimas, le..le..lebih baik kamu kembali ke ruanganmu.
Dimas tersenyum dan menarik tangan Vovi kemudian memeluknya,"Kamu jangan cemburu pada siapapun.
"Ka..ka..kata siapa aku cemburu?
"Kamu diam dulu, aku belum selesai bicara. Pokoknya kamu jangan cemburu pada siapapun, karena aku hanya menyukaimu, kamu mau kan menjalin hubungan denganku?
Vovi tersipu malu dan mengatakan iya pada Dimas, Dimas lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Vovi,"Aku mencintaimu.
"Aku juga...keduanya lalu berpelukan.
*****
Dimas kembali ke ruangannya, dia terlihat sangat gembira, hingga dia tidak menyadari keberadaan Dion,"Kamu dari mana saja?
"Pak, maaf saya tidak melihat anda. Saya dari tempat Vovi.
"Maksud kamu Vovi teman Haura?
"Iya.
"Untuk apa kamu mencarinya?
"Tentu saja untuk menyatakan perasaanku padanya.
"Lalu. Apa dia menerimamu?
Dimas mengangguk. "Tolong kamu antar barang ini ke Haura. Dion lalu membalikkan badannya dan masuk ke dalam ruangannya setelah menyuruh Dimas mengantar barang pada Haura.
Dimas ingin masuk ke dalam ruangan Haura tapi Dimas melihat Haura sedang menerima telpon,"Kak Satria?
"Iya, apa yang kamu lakukan?
"Aku baru saja memeriksa barang yang masuk.
"Kamu tidak istirahat?
"Nanti jika sudah waktu makan siang, ada apa Kak?
"Aku akan datang menjemputmu, kita makan siang di luar, bagaimana?
"Baiklah. Satria lalu menutup telponnya.
Waktu terus berjalan, sekarang sudah waktu makan siang, Dimas mendengar percakapan Haura dengan lelaki yang tadi mengantarnya, dia lalu memberi tahu Dion setelah dia memberikan barang pemberian Dion, awalnya Dion tidak merespon dan itu membuat Dimas bingung. Bukankah sebenarnya Pak Direktur ini sudah mulai menyukai Haura? Tapi kenapa dia tidak melakukan apapun, terserah yang pastinya saya sudah memberitahu jika Haura akan bertemu dengan pria yang mengantarnya tadi pagi...Pikir Dimas kemudian keluar dari kantor Dion.
Dion termenung, dia terus memikirkan perkataan Dimas. Apa sebenarnya yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku selalu memikirkan Haura akhir-akhir ini? Apa aku sudah mulai menyukainya? Dia memang gadis yang baik dan juga sangat manis, tapi dia juga sangat gila dan berani padaku, dia adalah karyawan satu-satunya yang berani mengkritikku selama dia bekerja di tempat ini...Batin Dion.
Haura merapikan dandanannya dan juga rambutnya, dia mengoles sedikit lip tint berwarna pink pada bibirnya,"Sudah cukup katanya dan tersenyum manis. Haura keluar dari WC dan tiba-tiba Dion berjalan di sampingnya dan menarik tangannya,"Pak? Apa yang Bapak lakukan? Saya ada janji.
Dion tidak menjawab dan tidak melepaskan Haura sampai mereka di dalam lift, Dion terus saja mengandeng tangan Haura erat, membuat jantung Haura berdegup kencang,"Ada apa ini? Aku ada janji dengan Kak Satria.
Saat lift terbuka, Dimas dan tiga staf yang menunggu lift melihat Dion dan Haura bergandengan tangan di dalam lift, Dion lalu berkata,"Maaf, tapi kalian tidak boleh masuk. Dion kembali menutup lift.
__ADS_1