
"Sampai Kapan Bapak menolongku? Kenapa Bapak menolongku?
"Kamu bicara apa? Tentu saja aku akan menolongmu jika kamu dalam bahaya.
Dion kembali fokus dan melawan para lelaki itu, Dion menendang, memukul mereka sekaligus. Karena para penjahat itu merasa bahwa mereka tidak akan menang dan melawan Dion, mereka berniat melarikan diri, tapi salah seorang dari mereka di tahan oleh Dion, Dion penasaran kenapa mereka menyuruh seorang anak membawa Haura ke tempat ini, kalau bukan memang ini adalah ulah mereka atau ada dalang di balik semua ini, Dion berlutut dan menarik kedua kera baju lelaki itu,"Kau? Siapa yang menyuruhmu?
"Ti..ti..tidak ada Pak, aku dan teman-temanku memang selalu melakukan aksi kami.
"Benarkah? Aku sudah lama bekerja di sekitar sini, tapi ini pertama kalinya saya mendapat kasus seperti ini, seolah-olah memang sudah di rencanakan.
"I..i..ini memang pertama kalinya kami beraksi di tempat ini.
"Jika kamu tetap tidak mau mengatakan siapa yang menyuruhmu, maka saya akan memasukkanmu ke dalam penjara, tapi jika kamu mau jujur saya akan melepaskanmu dan kamu bisa kembali bersama teman-temanmu.
"A..aa..apa anda sedang mengancamku sekarang?
"Ini bukan ancaman, tapi penawaran. Saya akan menghitungnya mulai sekarang jika waktu habis, saya akan menelpon polisi dan menyuruh mereka mencari informasi langsung darimu.
Lelaki itu berlutut dan memohon ampun,"Pak saya mohon, lepaskan saya Pak. Baik saya akan mengaku, kami di suruh untuk membunuh dia katanya dan menunjuk ke arah Haura.
"Katakan yang jelas, kamu di perintahkan oleh siapa.
"Dia seorang gadis, namanya Iga.
"Apa? Iga. Dion lalu melepas lelaki itu, lelaki itu lari terbirit-birit meninggalkan Haura dan Dion.
Dion berdiri dan mendekati Haura,"Apa kau mendengar perkataan lelaki tadi?
"Bapak belum menjawab pertanyaanku.
"Haura seseorang hampir melenyapkanmu dan kamu tidak perduli?
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, jadi pak tolong jawab pertanyaan saya.
"Jadi kamu sangat ingin aku menjawab pertanyaanmu? Baik kamu bertanya sampai kapan aku menolongmu? Jawabanku, sampai kamu tidak akan dalam bahaya lagi. Dan pertanyaanmu yang kedua kenapa aku menolongmu? Karena aku menyukaimu.
Haura tidak percaya apa yang di katakana Dion padanya,"Apa Bapak bilang? Apa aku tidak salah dengar?
"Tidak kamu tidak salah dengar, aku bilang aku sangat mencintaimu, aku selalu mencoba untuk menjauhimu karena dia, tapi semakin aku menjauh semakin aku juga menderita, aku membawamu bersamaku ke Bandung, untuk mengetahui apa aku sudah tidak menyukainya lagi atau tidak.
"Lalu apa yang Bapak dapatkan?
"Aku menyadari jika aku telah mencintai wanita lain selain dia yang sudah tidak ada di dunia ini, dan wanita itu adalah kamu Haura.
Dion dan Haura saling menatap, detak jantung keduanya berdegup tak karuan, Haura menangis tak percaya, sementara Dion menyeka air mata Haura,"Kamu jangan menangis, karenaku lagi katanya dan memeluk Haura.
"Apa Bapak tidak sedang mepermainkanku?
Dion hendak melepas pelukannya, tapi Haura menahannya,"Jawab Pertanyaanku.
Dion mengusap rambut Haura,"Kenapa kamu berpikir seperti itu?
"Aku hanya takut, kalau Bapak hanya mengacaukan perasaanku lagi, aku takut jika tiba-tiba Bapak berubah dan mengatakan hal mengerikan lagi padaku.
"Hal mengerikan apa?
"Seperti Bapak akan mengatakan, jika aku harus menjauhi Bapak, mustahil untuk Bapak mencintai lagi, maka dari itu jangan berharap padaku, aku takut semua hal apapun yang akan Bapak katakan padaku.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus takut?
"Karena aku mencintai Bapak, dan aku juga takut kehilangan Bapak, aku sangat takut Bapak berubah menjadi orang lain.
Dion mempererat pelukannya pada Haura,"Kamu sangat manis. Aku tidak akan melakukan itu, karena aku sangat mencintaimu dan aku juga tidak ingin kehilanganmu.
Aku berharap tidak akan ada masalah lagi di antara kami, semoga tidak ada yang akan memisahkan kami...Batin Haura.
*****
Dion dan Haura kembali ke Sophie, anehnya keduanya saling bergandengan tangan, semua melihat ke arah mereka, mereka mulai bergosip satu sama lain,"Bu..bu..bukankah itu Pak Direktur dengan Ibu Haura?
"Iya benar, itu mereka.
"Apa aku tidak salah lihat, mereka bergandengan tangan.
Keduanya tidak perduli omongan orang, mereka santai melewati beberapa orang yang bergosip tentangnya dan keduanya menaiki lift, ketika berada di dalam Lift, Dion bertanya pada Haura,"Apa kamu malu?
"Sedikit, ini pertama kalinya bagiku.
"Benarkah? Jika aku memelukmu apa rasa malumu akan hilang?
Haura tersenyum dan memukul bahu Dion,"Apa yang Bapak katakan, di sini ada CCTV kata Haura dan menunjuk ke arah CCTV yang menyala.
Dion berjalan ke arah CCTV dan menutupinya,"Apa aku boleh memelukmu sekarang? Bisik Dion pada Haura.
Keduanya saling menatap dan tersenyum, saat pintu lift terbuka mereka keluar dan segera berjalan menuju ruangan Dion, di jalan mereka bertemu dengan Vovi dan Dimas,"Ke..ke..kenapa kalian bergandengan tangan?
"Sepertinya hanya Vovi yang tidak peka di sini kata Dimas menimpali.
"Apa maksud kalian?
"Jadi kalian berdua berpacaran? Kata Vovi terkejut lagi.
Haura mendekati Vovi dan menyenggolnya,"Kamu memang kurang peka. Mereka lalu tertawa bersama.
*****
Dion mengantar Haura, saat di depan rumah Haura, Satria sedang duduk di teras rumah Haura,"Kenapa orang itu selalu ada di sekitarmu?
"Apa Bapak cemburu?
"Tentu saja.
"Bapak lucu. Dia adalah tetanggaku dulu, aku dan dia sudah seperti keluarga, itu sebabnya aku memanggilnya kakak, karena dia memang lebih tua satu tahun dariku.
"Begitu, tapi entah kenapa aku membencinya.
"Bapak, tidak turun?
"Tidak, aku akan langsung pulang ke rumah saja.
"Baik, Bapak hati-hati di jalan.
Setelah mobil Dion menghilang Haura masuk ke dalam rumah, sementara Satria berjalan mendekati Haura,"Siapa yang membawamu pulang?
"Dia Pak Direktur.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang dengannya? Aku kan sudah bilang, jika kamu ingin pulang telpon aku saja, pasti aku akan langsung datang menjemputmu.
"Kakak ini seperti mertuaku saja, cerewet.
"Aku cuman khawatir padamu.
"Kak, aku mau cerita. Sebenarnya aku dan Pak Direktur pacaran.
Satria menyemburkan minuman yang sementara dia minum,"Apa?
"Kak Satria jorok sekali.
"Bukan itu, tapi pernyataanmu sebelumnya.
"Aku dan Pak Direktur berpacaran.
Sepertinya aku lambat selangkah, seharusnya dari kemarin aku menyatakan perasaanku, apa begini rasanya patah hati sebelum mencoba? Pikir Satria,"Benarkah? Selamat.
"Tenang aku akan menceritakan semuanya pada Kak Satria kata Haura sambil berjalan ke dalam rumah.
Haura menyuruh Satria menunggunya sementara dia akan mandi dan akan segera menemuinya.
Satria merenung, sudah lama dia menyukai tetangga imutnya itu, apa karena Satria pengecut, pemalu atau karena waktu yang tidak tepat, selalu saja ada pembatas di antara mereka, andai saja mereka bisa bersama sekali saja dalam hidup Satria. Satria sesekali menatap pintu kamar Haura,"Dia pasti sangat senang, aku akan menjadi penjahat jika merusak kebahagiaannya.
Haura menari-nari dan bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi, rasa senang yang tiba-tiba mendekatinya, Haura berdiri di depan cermin, Haura meniup cermin itu hingga kabur, Haura lalu mulai mengambbar heart, dia lalu meniru ucapan Dion,"Haura jangan menagis lagi karenaku, aku mencintaimu. Haura tersenyum dan menutup wajahnya,"Pak Direktur tampan sekali.
Haura selesai membersihkan dirinya, dia turun dan menemui Kak Satria,"Kak Satria! Aku pikir kakak sudah pulang, pasti karena sangat penasaran pada ceritaku, itu sebabnya Kakak tidak pulang, benar kan? Kata Haura merayu Satria.
"Iya kamu benar, jadi bagaimana kalian bisa berkencan?
"Jadi Kak ceritanya, Pak Direktur melihatku di bawa oleh seorang anak, tapi ternyata anak itu menjebakku, ada yang menyuruhnya untuk mengajakku ke suatu tempat, agar mereka bisa membunuhku.
"Apa? Satria lalu memeriksa tubuh Haura dengan mata elangnya,"Tapi kamu baik-baik saja kan? Kamu sama sekali tidak terluka?
"Iya, aku baik-baik saja. Untungnya Pak Direktur datang dan menolongku, dia sampai-sampai harus terluka karena melindungiku.
"Syukurlah, aku bisa gila jika terjadi sesuatu padamu.
"Apa? Kakak bilang apa? Suara Kakak terlalu kecil, aku tidak bisa mendengarnya.
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya bicara pada diriku saja.
"Aku pikir Kakak mengatakan sesuatu, ya ampun sampai lupa. Kakak mau makan apa?
"Nasi goreng.
"Ini sudah sore Kak, makan nasi goreng kurang bagus, bagaimana kalau kita makan ayam goreng saja?
"Iya boleh juga.
"Oke, Kakak tunggu di sini, saya akan memesan delivary dulu. Haura bangkit dari tempat duduk dan mencari ponselnya.
Satria mematung,"Apa aku tidak punya hati jika aku mengakui perasaanku sekarang? dia lalu mengacak rambutnya seolah kerasukan arwah kutu di kepalanya,"Apa aku akan diam saja. Satria lalu menyusul Haura dan memegang tangannya.
"Ada apa Kak?
"Aa..aa..aku.
__ADS_1
"Kakak kenapa?
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Haura, se..se..sebenarnya aku sudah lama menyukaimu.