Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Season 2 Chapter 35 Aku Tidak Mengerti Denganmu


__ADS_3

Haura berdiri dan menarik tangan Dion keluar dari rumah Kakek Faiz,"Bapak kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti dengan Bapak.


"Apa maksudmu?


"Pak aku tahu dia adalah kakek Bapak, tapi Bapak sudah keterlaluan, kenapa Bapak selalu menyelah di saat saya bicara dengan Ibu Pak Direktur dan juga kakek, Bapak selalu membentak orang yang lebih tua, Pak saya mengerti jika Bapak marah padaku, tapi setidaknya Bapak hormati orang yang lebih tua dari Bapak celoteh Haura.


Dion terdiam dan berkata,"Aku hanya tidak ingin mereka membandingkan kamu dengan...


"Dengan kekasih Bapak? Saya tahu saya tidak pantas di sandingkan dengan kekasih yang sangat berharga bagi Bapak.


"Haura bukan begitu maksud saya, saya hanya...


"Cukup Pak, saya tidak mau dengar lagi. Saya akan pulang.


"Tapi di luar masih hujan Haura.


"Aku tidak perduli. Haura berlari dan melupakan rasa sakit di kakinya, dia menerobos hujan, Dion kembali ke dalam rumah dan membereskan barangnya.


"Ada apa Dion? Kenapa kamu membereskan baju-bajumu? Di luar masih hujan.


"Kek maaf, tapi Haura sudah pergi.


"Pergi ke mana?


"Haura pulang ke Jakarta.


"Apa? Tapi di luar masih hujan.


"Maka dari itu Kek, saya akan segera menyusul Haura.


"Kamu bertengkar denga Haura?


"Tidak Kek, cuman ada kesalahpahaman saja.


"Lalu kenapa Haura tiba-tiba pulang dan pergi meninggalkanmu, bahkan dia tidak pamit pada Kakek.


"Kek, maaf Dion tidak bisa menjawab pertanyaan Kakek, aku harus segera mengejar Haura.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan, jangan terlalu kencang jika menyetir mobil.


"Iya Kek. Dion pamit pada Kakeknya, mencium tangan kakek dan segera menyusul Haura, walau harus rela kehujanan.


Sementara Haura sudah tiba di pinggir desa, Haura berjalan ke salah satu rumah warga di sekitar pinggir desa,"Bu permisi.


"Iya neng, kumaha?


"Bu, saya mau bertanya, kalau mau ke Jakarta, saya naik mobil apa?


"Lah si neng, di sini tidak ada mobil, adanya bis.


"Iya, maksud saya bis.


"Neng, tunggu di pinggir jalan saja, nanti juga bisnya lewat.


"Makasih Bu.


Haura kembali berjalan, wanita yang di tinggalkan Haura menggelengkan kepalanya,"Si neng aya aya wae, hujan lebat seperti ini malah keluyuran, bisa-bisa dia teh, bakalan kena demam, katanya dan kembali masuk ke dalam rumahnya.


Haura berdiri di pinggir jalan dan berdoa semoga Dion tidak menemukannya hingga bis lewat dan membawanya ke Jakarta. Tak lama kemudian, Haura mendengar suara mesin mobil berjalan ke arahnya, Haura melambaikan tangannya dan pintu bis terbuka, seorang lelaki kurus dan hitam menatap Haura,"Mau ke Jakarta Neng?

__ADS_1


"Iya kang.


Lelaki itu membiarkan Haura masuk dan Haura mencari tempat duduk. Dion datang dan mengejar bis, tap bis sudah terlanjur jauh dari jangkauannya,"Sial! Aku datang terlambat.


Dion kembali dan mengambil mobilnya dan berusaha mengejar bis,tapi saat Dion mendapatkan kendaraan, yang ada di depannya ada banyak mobil dan bis berbaris, semuanya berhenti karena macet, dion memukul klakson mobilnya dengan keningnya,"Sial!


Haura duduk di kursi barisan tiga, Haura menatap ke jendela, dan meikmati hujan turun,"Kuharap kesedihan, luka dan rasa sukaku pada Direktur, mengalir dan hanyut dengan derasnya hujan, hingga aku bisa melumpuhkan rasa sukaku padanya kata Haura dan merangkul kedua tangannya demi menahan dingin yang kini merasuk ke dalam tulang-tulangnya.


Bis yang ditumpangi Haura sudah terbebas dari macet, sedangkan Dion masih saja terjebak dengan antrian. Berbagai bunyi klakson terdengar dari para supir yang tidak sabar lagi dengan kemacetan,"Kalau begini aku mungkin tidak akan bisa menyusul Haura kata Dion kesal.


Haura kini tiba di terminal Jakarta, Haura membayar ongkos bis dan segera mencari taksi kemudian Haura menuju ke perusahaan, jika di Bandung hujan beda dengan Jakarta cuaca sangat panas, dengan keadaan yang masih basah, Haura turun dari taksi dan masuk ke dalam perusahaan, banyak mata yang memandang dan juga banyak yang berbisik-bisik melihat Haura datang dengan keadaan yang sangat kacau.


Vovi berjalan di depan toko, lalu Vovi mendengar para staf bergosip jika Haura sudah kembali, Vovi lalu menyusul Haura ke ruangannya.


Di dalam ruangan Haura sibuk mencari baju dan juga tasnya,"Setahu saya kemarin saya menaruh tas saya di sini, tapi kok nggak ada yah, aduh aku lupa kemarin kan aku ganti baju di rumah psikopat itu.


Vovi terkejut melihat Haura kebasahan dia lalu mendekati Haura,"Apa yang terjaadi padamu?


Haura berbalik karena sangat akrab dengan suara itu, Haura lalu menangis dan memeluk Vovi,"Vovi apa yang harus aku lakukan?


"Ka..kamu kenapa? Dan kamu ke mana saja? Bibi khawatir dan terus mencarimu, aku berbohong jika kamu tertidur di rumahku.


"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaikku.


"Iya, tapi kenapa kamu bisa sekacau ini? Kamu kehujanan di mana dan kenapa juga kamu menangis? Apa yang terjadi padamu?


"Aa..aa..aku, Vovi aku, aku mau pulang.


"Ya ampun, kamu ini kenapa Haura. Kalau kamu belum bisa cerita, aku akan menunggu di saat kamu sudah siap buat cerita ke aku, baik aku akan mengantarmu pulang.


"Tidak, kamu tidak perlu melakukan itu, aku cuman ingin minta tolong kamu buat hubungi Ka Satria, biar dia yang datang menjemputku.


"Iya.


"Tapi, aku tidak punya nomor ponsel Kak Satria.


"Kalau begitu lupakan saja, saya akan memesan taksi saja.


"Memangnya ponsel kamu kemana?


"Ceritanya panjang Vovi, tapi maaf aku harus bergegas sekarang.


"Baik, biar aku saja yang memesan taksi untukmu.


Taksi yang di pesan Haura sudah ada, dia menunggu di depan Perusahaan, Haura dan Vovi keluar, Haura masuk ke dalam taksi sedangkan mobil Dion datang kemudian, Dion turun dan berbicara kepada Vovi,"Vovi? Apa kamu melihat Haura?


"Haura baru saja pulang Pak.


"Begitu yah, aku boleh meminta alamat rumah Haura?


"Bukannya Bapak tahu alamat rumah Haura, waktu itu kan Bapak mengantar Haura.


"Aku sudah lupa, lagipula waktu itu aku sedang tidur, jadi tidak begitu ingat.


"Baik saya akan mengirimkannya lewat ponsel Bapak.


"Baik, kalau begitu saya akan segera ke rumah Haura katanya dan berlalu meninggalkan Vovi.


"Aneh?

__ADS_1


Dimas muncul dan mengagetkan Vovi,"Aneh kenapa?


"Dimas! Kenapa kamu suka mengejutkan orang.


"Maaf, tapi ada apa?


"Ada keanehan diantara Haura dan Pak Direktur.


"Kenapa memangnya?


"Haura datang dengan keadaan basah kuyup, begitupun dengan Pak Direktur, kenapa mereka bisa bersamaan seperti itu?


"Mungkin mereka habis main air.


Vovi menatap Dimas,"Aku serius.


Dimas hanya tersenyum dan menarik Vovi ke dalam Perusahaan.


Haura sudah tiba di depan rumah, tapi dia sekarang ada di depan rumah Dion, Ani membukakan pintu pagar buat Haura,"Sayang, kamu kenapa basah seperti ini?


"Bibi, maaf tapi saya datang untuk mengambil barang-barang saya yang ketinggalan kemarin.


"Iya, ayo masuk.


Haura mengambil tas miliknya dan pamit pada kedua orang tua Dion, tapi Bibi menahannya dan menyuruh untuk mandi dan mengganti bajunya terlebih dulu, Haura tak menolak dan kembali ke kamar tamu.


"Ma, ada apa lagi dengan gadis itu? Kemarin saat dia datang dengan Dion, dia juga kebasahan, sekarang dia juga kebasahan, ada apa sebenarnya.


"Mama tidak tahu pa.


Sementara itu kini Dion tiba di rumah Haura, lantas yang membuka pagar rumah bukanlah Haura melainkan Satria,"Ada apa anda datang ke sini? Tanya Satria kesal.


"Kenapa anda yang keluar? Di mana Haura?


"Di mana? Bukannya kemarin anda yang membawa Haura dan memisahkanku darinya.


Dion tersenyum dan mencoba menerobos masuk, tapi Satria menahan Dion,"Aku sudah bilang pada anda Haura tidak ada di dalam, anda kan yang bersamanya.


Dion berhenti dan berpikir, bahwa pasti saat ini Haura berada di rumahnya, Dion lalu meninggalkan Satria dan menyetir mobilnya kembali ke rumah.


Haura sudah mandi dan memakai pakaiannya, dia turun dan membawa kantung kresek.


"Apa yang kamu bawa sayang?


"Aku membawa pakaian yang aku pakai, saya akan mencucinya di rumah.


Ani menghampiri Haura dan membawanya ke meja makan, dan mengambil plastik yang digenggamnya dan meletakannya,"Haura, kamu makan dulu, sebelum pulang.


"Makasih Bi. Haura lalu memakan makanan yang disiapkan Ani untuknya.


Suara mesin mobil Dion terdengar, Haura gelisah dan cemas. Padahal aku ingin menghindarinya, bagaimana ini?


Dion berjalan cepat ke arah Haura dan berhenti tepat di samping Haura,"Apa kamu sudah gila? Bentak Dion.


Ani menatap Dion,"Apa-apaan kamu?


"Ma, maaf tapi ini urusan aku dan Haura.


"Iya saya sudah gila Pak, karena Bapak. Keduanya saling menatap dan kemudian terdiam.

__ADS_1


Ani dan Prana saling menatap dan seolah mengatakan,"Apakah ini pertengkaran sepasang kekasih?


__ADS_2