
"Apa maksud Bapak?
"Gadis itu tahu jika hidupnya tidak lama lagi, dan jika lelaki yang begitu mencintainya tahu jika dia tidak akan hidup lebih lama lagi, maka lelaki itu akan menderita.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu?
"Dia sudah meninggal Haura.
Mendengar jika gadis yang di bicarakan Dion sudah meninggal membuat Haura menangis tersedu-sedu,"Cerita Bapak sangat menyedihkan, kenapa mereka harus di pisahkan? Harusnya mereka di beri kesempatan untuk bisa terus bersama.
"Tuhan tidak adil bukan untuk mereka berdua?
"Tapi, sebenarnya cerita ini Bapak dapat dari mana?
"Haura kamu melihat makam yang aku tunjukkan padamu tadi?
"Iya, aku melihatnya.
"Itulah gadis itu.
"Apa? Tapi kenapa Bapak memperlihatkannya padaku.
"Haura gadis dan lelaki yang aku ceritakan tadi adalah aku dan juga kekasihku.
Haura terkejut dan menatap sedih pada Dion,"Maksud Bapak kekasih Bapak sudah meninggal?
"Iya Haura. Dion mulai menangis karena mengingat Krystal, bayangan Krystal yang tersenyum padanya membuatnya bersedih, Dion lalu berlutut, Haura mendekatinya dan memeluk Dion,"Bapak jangan bersedih.
Dion terhanyut dalam pelukan Haura, saat tersadar Dion melepas pelukan Haura. Dion berdiri dan berkata pada Haura,"Itu sebabnya aku membawamu kesini, kamu harus tahu jika aku tidak akan pernah menyukai gadis lagi.
Haura berdiri dan berjalan mendekati Dion,"Apa maksud Bapak berkata seperti itu.
Dion berbalik dan menatap Haura,"Jangan berharap padaku Haura, jangan mencintaiku.
Haura menangis, hujan turun saat mereka berdua masih saling bertatapan,"Bapak menyuruh saya jangan mencintai Bapak?
Dion mengangguk ragu.
"Bapak sangat egois, kenapa Bapak melakukan ini padaku, jika bapak tidak ingin di cintai lalu? Kenapa Bapak membawaku pergi dan membuat orang salah paham pada Bapak?
"Aku hanya ingin tahu, apa aku akan tetap goyah bahkan jika aku, kamu dan juga dia sedang di pertemukan? Tapi ternyata aku salah.
"Cukup Pak, saya tidak mau mendengar omong kosong Bapak lagi.
"Omong kosong? Apa yang aku ceritakan padamu adalah omong kosong?
"Bukan, tapi kelakuan Bapak sekarang adalah omong kosong.
Haura hendak meninggalkan Dion di tengah hujan yang semakin lebat, tapi Dion menghentikan Haura dan memeluknya,"Kumohon biarkan aku memelukmu sebentar saja.
Haura mendorong Dion darinya,"Pak sadarkan diri Bapak, jika Bapak bertingkah seperti ini, Bapak bisa membuat saya salah paham pada Bapak, Bapak jangan memperkeruh masalah, jika Bapak tidak mau menyukai ataupun di sukai Bapak jangan memeluk saya sesuka hati Bapak!
__ADS_1
Dion tidak menjawab perkataan Haura, dia menarik Haura dan membawanya ke tempat berteduh. Dion dan Haura duduk di rumah kebun, Dion merasakan Hujan dengan telapak tangannya, sementara Haura menangis dalam hatinya. Kenapa aku tidak bisa marah pada lelaki ini, padahal dia sudah sangat menyakitiku, aku sadar jika aku benar sangat mencintainya, tetapi aku tahu jika dia tidak akan pernah mencintaiku, dan itu lebih membuatku menderita...Batin Haura.
"Sepertinya hujan tidak akan redah Haura.
Haura memandang heran pada Dion,"Bapak bisa sesantai ini?
"Kenapa? Apa kamu takut hujan?
Haura semakin kesal,"Tidak saya tidak takut. Tapi saat petir bergemuruh Haura takut dan memeluk Dion.
"Kamu ini bagaimana? Bukankah kamu melarangku memelukmu? Tapi kenapa kamu bisa seagresif ini.
Haura melepas pelukannya dan memukul bahu Dion,"Saya minta maaf.
"Aneh kamu minta maaf, tapi masih juga memukul saya.
"Bapak jangan tersenyum, senyuman Bapak menyakiti saya, kata Haura dan membalikkan badannya. Haura menyentuh dadanya. Rasanya sesak, mungkin Pak Direktur bisa sesantai itu, tapi aku tidak, dengan dia mengatakan hal seperti itu padaku, malah membuatku canggung...Pikir Haura.
Dion menatap punggung Haura, sesekali Dion ingin menyentuhnya tapi tangannya menghentikan. Maaf Haura, aku sudah membuatmu menderita, aku tidak pantas bersamamu...Batin Dion.
Dering ponsel Haura berdering, Dion memandang Haura dan bertanya,"Apa ponselmu tidak rusak?
"ponselku tidak sempat terkena hujan kata Haura dan mulai mengangkat ponselnya,"Halo?
"Haura? Kamu di mana?
"Halo Kak Satria? Apa yang kakak katakan? Aku tidak mendengarnya, suara kakak tidak jelas.
"Aa..aa..aku ada di....Dion merebut ponsel Haura dan membuangnya di tengah hujan.
Haura marah pada Dion,"Apa yang Bapak lakukan? Kenapa Bapak melempar ponselku? Aku sedang bicara dengan Kak Satria.
Dion sadar dengan apa dia lakukan,"Maafkan saya Haura, saya tidak bermaksud.
Haura mendorong Dion menjauh darinya,"Bapak bertingkah seperti anak kecil, aku membenci Bapak, Haura lalu meninggalkan Dion dan menerobos hujan.
"Haura? Kamu mau kemana? Hujannya sangat lebat, kamu bisa terluka.
Haura tidak mendengar dan terus berjalan, Dion mengikuti Haura,"Haura berhenti, kamu bisa terjatuh, kamu belum menghapal jalanan di sini.
Tetap saja Haura tidak memperdulikan Dion, Haura terus saja melanjutkan langkahnya dan benar yang di katakan Dion, Haura terjatuh, tanpa pikir panjang Dion berlari dan membantu Haura,"Aku kan sudah bilang padamu, jangan berjalan saat hujan turun, apa kamu sudah gila? Kamu mau mati konyol?
Haura menangis dan menatap Dion,"Bapak keterlaluan, Bapak egois, aku membenci Bapak!
Dion termenung dan akhirnya mengendong Haura di punggungnya menyusuri jalan, Dion dan Haura tiba di depan rumah Kakek Faiz, Kakek Faiz membuka pintu dan terkejut melihat keduanya basah kuyup,"Ya ampun Dion, kamu basah. Ayo masuk kata kakek sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Tidak Kek. Dion meletakkan Haura di sofa, kakinya terluka, Dion meminta pembantu Kakek Faiz untuk mengobati luka Haura, sementara Dion akan ke rumah Krystal untuk mengambil beberapa pakaian Krystal untuk Haura.
Bibi mulai membersihkan luka di kaki Haura, Haura meringis kesakitan, lukanya cukup besar dan tak berhenti mengeluarkan darah. Dion yang kembali dari rumah Krystal menjatuhkan kantung plastik yang berisikan baju Krystal karena trauma melihat darah. Tubuh Dion bergetar hebat dan dia berlutut. Kakek segera mendekati Dion,"Tuan mudaku, kamu tidak apa-apa?
"Aku baik-baik saja. Dion bangkit dan berjalan mendekat ke tempat duduk Haura, Dion duduk dan menyuruh Bibi membuatkan teh hangat sementara Dion akan mengobati luka Haura, Dion memegang kaki Haura,"Apa sangat sakit?
__ADS_1
Haura mengangguk,"Bapak lebih baik mandi, saya akan mengobati luka saya, bapak sangat basah, Bapak bisa sakit.
"Sebelum memikirkan orang lain, pikirkan dulu dirimu sendiri.
"Pak! Jangan perdulikan aku.
Aneh Dion begitu patuh, dia lalu meninggalkan Haura dan segera ke kamar mandi. Bibi kembali mengurus luka Haura,"Maaf saya sudah merepotkan.
Bibi menggeleng,"Tidak kok non, di lihat sepintas lukanya parah, tapi setelah di bersihkan ternyata cuman tergores, hanya saja goresannya terlalu panjang, itu sebabnya darahnya banyak.
"Iya, soalnya kalau terlalu dalam pasti saya akan susah berjalan.
"Nah non, sudah selesai.
"Makasih Bibi.
"Lukanya jangan di basahi non.
"Iya. Haura lalu berjalan ke arah kamar mandi dan menyeret kakinya.
Dion yang selesai mandi, berjalan di samping Haura,"Kenapa kamu menyeret kakimu?
"Sakit. Katanya dan berlalu meninggalkan Dion. Dion memegang tangan Haura dan memberikannya kantung plastik milik Krystal.
"Apa ini?
"Itu pakaian, kamu kan aku bawah kemari tanpa persiapan.
"Oh begitu, baik terima kasih. Haura kembali berjalan dan menutup kamar mandi.
Sementara Dion menatap kamar mandi,"Tumben dia tidak banyak bicara, biasanya dia akan cerewet.
Di dalam kamar mandi, Haura membersihkan badannya, Haura melihat cermin, Haura kemudian berdiri di depan cermin,"Apa yang kau lakukan di tempat ini Haura? Haura berlutut dan terus menangis, tentu saja orang di luar tidak akan mendengar, karena hujan turun semakin lebat, selebat air mata Haura yang mengalir tanpa henti.
Setelah mandi, Haura makan malam bersama Dion, Kakek dan juga Bibi, Haura terus merenung tanpa suara, Dion merasa khawatir pada Haura,"Haura? Kenapa kamu tidak memakan makananmu nak? Tanya Kakek Faiz.
"Tidak apa-apa Kek, saya sudah kenyang. Haura berdiri dan meninggalkan makanannya.
"Ada apa dengannya Dion? Apa kau melakukan sesuatu padanya?
Dion berpikir dalam hatinya. Apa karena perkataanku padanya kemarin?
Di dalam kamar, Haura membaringkan tubuhnya di atas kasur, suara hujan turun memenuhi telinga Haura, Haura bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela, Haura menatap keluar, Haura hanya melihat hujan yang turun tanpa henti, Haura membuka jendela dan Hujan mulai menyapu wajah dan juga tubuhnya, Haura memejamkan matanya,"Kuharap besok aku melupakan semuanya. Haura kembali meneteskan air matanya.
*****
Ke esokan paginya, hujan tetap tidak redah, Haura keluar dari kamar dan melihat Bibi dan Kakek Faiz sedang duduk di meja makan, Bibi yang melihat Haura menyuruh Haura bergabung dengannya,"Haura kamu sudah bangun? Sini kemarilah sayang kata Kakek Faiz.
Haura tersenyum, membuat Kakek Faiz tak lagi khawatir,"Kamu tahu nak, senyumanmu itu sangat manis, kamu mengingatkan Kakek pada...
Lagi-lagi Dion marah dan membentak Kakeknya,"Kek! Aku sudah bilang jangan membandingkannya dengan Haura!
__ADS_1