
Dion merebahkan punggungnya di jok mobil, dia sudah tiba di Bandung, tapi tidak segera melanjutkan perjalanannya, karena dia tidak tegah membangunkan Lola dari tidurnya.
Dion memperhatikan wajah Lola, Dion tersenyum, dia berpikir bagaimana baiknya Tuhan padanya, dia sama sekali tidak menduga gadis yang selama ini bersama dengannya, yang awalnya begitu dia benci adalah sosok yang pernah mengisi hatinya...Dion menghela napas dan tak sengaja tangan yang direnggangkannya menyentuh klakson mobil yang berada tepat di depannya, jelas suara klakson mobil yang nyaring membangunkan Lola dari tidurnya. Lola menyipitkan matanya dan menatap ke arah Dion,"Kita ada di mana?
"Di bandung jawab Dion sigap. "Maaf sudah membangunkanmu.
Lola memperbaiki posisi duduknya, dan mengucek matanya,"Astaga Dion kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku pasti sudah membuatmu menunggu lama.
Dion tersenyum kemudian mengusap rambut Lola,"Lola, kamu tidak perlu merasa bersalah, aku kan yang tidak mau membangunkanmu. Lupakan soal itu, bagaimana kalau sekarang kita berangkat ke rumah kakek.
Haura mengangguk setuju,"Kapan jalanan di sini membaik?
"Memangnya kenapa?
Lola tersenyum dan menggaruk kepalanya,"Tidak, aku hanya mengucapkannya saja.
Dion membuka bagasi dan menurunkan tasnya.
Lola melihat heran pada tas yang di turunkan Dion,"Kapan kamu menyiapkan itu?
"Kamu tidak perlu tahu. Dia mengunci mobilnya dan mengandeng tangan Lola, membawanya berjalan bersamanya menyusuri jalan berbatu di perkebunan.
Beberapa menit setelah mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di depan rumah kakek,"Aneh? Ucap Dion.
"Aneh kenapa? Tanya Haura penasaran.
"Iya, soalnya kalau aku datang pasti Kakek sedang duduk di teras, tapi kakek sama sekali tidak kelihatan. Dion mendadak panic dan menatap Lola,"La? Jangan-jangan Kakek? Perasaan Dion tidak enak, dia berpikir jika sesuatu terjadi pada kakeknya, Lola juga ikut panik dan mengikuti Dion yang sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam rumah.
Perasaan Dion yang seolah tidak menapak lantai menghembuskan napasnya legah saat melihat sosok Kakeknya yang sedang bersantai sambil menikmati segelas teh hangat dan menonton acara faforitnya, Dion dengan napas terengah-engahnya spontan duduk di sofa milik kakek, kakek yang mendengar suara langkah kaki berbalik dan melihat kedatangan Lola dan Dion,"Haura? Dion? Kalian datang?
"Kek? Kakek membuatku khawatir.
Kakek menurunkan cangkir tehnya, lantas menaikkan sedikit kacamatanya di batang hidungnya,"Khawatir kenapa?
"Dion kek, Dion pikir kakek kenapa-kenapa soalnya kata Dion biasanya kakek suka nongkrong di depan teras, tapi saat kami datang kakek tidak ada di teras, itu sebabnya dia pikir telah terjadi sesuatu pada kakek.
Kakek terkekeh dan menatap keduanya,"Aku memang suka duduk di teras, tapi kalau acara faforit kakek sudah tayang kakek tidak akan mau ketinggalan. Ngomong-ngomong ada apa dengan kalian?
"Maksud kakek apa? Tanya Dion.
__ADS_1
"Saat pertama kalian datang, kan kalian itu seperti kucing dan tikus, sekarang seperti bunga dengan lebah kata kakek diselingi dengan batuk ringannya.
"Kakek sakit? Tanya Lola khawatir.
Kakek menatap kembali pada Haura,"Kamu sangat baik, kamu mengingatkan kakek dengan Krystal. Paras dan tingkahmu sungguh mirip dengannya, kerinduan kakek jadi berkurang saat melihatmu.
Haura tersenyum lirih,"Aku tidak keberatan jika kalian menyamakanku dengan sosok Krystal, tapi aku tidak ingin menyakiti kalian karenaku malah membuat kalian mengingat masa-masa bersamanya...setelah mengatakan hal itu lantas Lola menjatuhkan air matanya.
Dion mendekati Lola dan merangkulnya,"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Kamu tahu kan aku benci melihatmu menangis, itu membuat jantungku bergetar hebat.
Kakek bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan ke arah Haura, dia lalu menyentuh pundaknya,"Ada apa? Apa kakek melukai hatimu dengan ucapan kakek?
Haura menyekah air matanya dan menatap kakek, haura menggelengkan kepalanya,"Kakek sama sekali tidak melukai hatiku sedikitpun, tapi satu hal yang harus kakek ketahui, mata yang sekarang menatap kakek adalah sepasang mata milik Krystal kek, sepertinya mata ini merespon perkataan kakek tadi.
"Kenapa mata Krystal bisa menjadi milikmu.
"Kek Lola dan Krystal adalah teman baik kek, mereka pernah bertemu, karena Krystal sedih melihat keadaan Lola akhirnya Krystal memutuskan mendonorkan matanya untuk Lola.
"Lola? Siapa dia?
"Kek, sebenarnya nama Haura itu adalah Lola, Lola merubah namanya juga adalah permintaan Krystal.
"Kek, aku dulu kan seorang playboy, nah Lola termasuk salah satu pacarku kek, nah saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan mereka, Krystal berusaha menemui Lola, karena bagi Krystal, Lola adalah sosok yang mirip dengannya dan baru pertama kali Krystal merasa jika Lola adalah saingannya.
Kakek memukul kepala Dion,"Ini semua ternyata karena ulahmu sendiri, kamu memang seperti itu, entah siapa yang kamu ikuti.
Mereka lalu tertawa bersama, namun ada hal yang membuat Lola bertanya-tanya. Apa maksud kata Dion, jika dia memutuskan semua pacarnya? Itu berarti aku juga mendapatkan surat keputusan dari Dion? Batin Haura dan kemudian tersenyum.
*****
Keesokan paginya, Dion membangunkan Lola di pagi buta,"La? Bangun!
Karena dingin Lola malah membalut tubuhnya dengan selimut,"Ada apa? Aku sangat kedinginan, aku tidak bisa bergerak jawab Lola dari balik pintu.
"Oh ayolah, aku ingin kita mengunjungi makam Krystal.
Lola seketika membuka matanya,"Sepagi ini? Tanyanya.
"Tentu saja, bibi sudah kembali dari kampungnya, jadi tadi aku menyuruh bibi menyiapkanmu air panas, jadi keluar dan segeralah membersikan badanmu.
__ADS_1
Lola bergerak malas, dia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar,"Sebentar saya merapikan tempat tidurku terlebih dulu.
Bibi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Lola,"Kamu tidak perlu khawatir, biar bibi yang merapikan tempat tidurnya, kamu pergilah membersihkan badanmu, nanti airnya kembali dingin.
Haura merasa tidak enak hati dan meninggalkan bibi merapikan tempat tidurnya. Di dalam kamar mandi, Lola menatap wajahnya di cermin,"Aku harus menanyakan ini pada Dion, apapun resikonya.
*****
Setelah mandi dan sarapan, Dion dan Lola pamit pada Kakek untuk mengunjungi makam Krystal, kakek member bunga mawar pada Lola, dia berpesan untuk meletakkan bunga kesukaan Krystal di samping makamnya.
Dion dan lola sudah tiba di pemakaman Krystal, ini pertama kalinya Dion memberanikan dirinya untuk melihat makam Krystal, sebelumnya Dion hanya memandangnya dari luar saja, tapi karena trauma akan masa lalunya. Dion mengenggam erat jemari Lola, Lola sedikit merasa kecewa melihat tingkah Dion. Saat di depan makam Krystal, Dion meletakkan bunga mawar yang di bawah Lola untuk Krystal. "Krystal aku datang dengan Lola, kamu mengenalnya bukan? Aku sekarang bersamanya dan sebentar lagi kami akan menikah, semua ini juga karena usahamu.
Lola melepas jemarinya dari penjara jemari Dion, Dion menatap heran melihat tingkah Lola, Lola lalu menatap Dion. "Kata siapa aku akan menikah denganmu?
Dion merasa aneh dengan ucapan Lola,"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tanya Dion kikuk.
Lola menggerak-gerakkan jemarinya,"Sepertinya keputusanku salah, aku merasa jika aku mulai ragu dengan semua ini.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba mengatakan ini?
Lola menatap tajam ke arah Dion,"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.
"Apa? Katakan saja.
"Apa benar jika beberapa tahun yang lalu, kamu juga memutuskanku seperti yang kamu ucapkan kemarin pada kakek?
Dion menelan ludahnya keras,"Bukannya kamu sudah tahu jika aku memutuskanmu?
Lola menggeleng,"Aku sudah katakan padamu, aku setelah memutuskan untuk menemui, bibi tidak pernah membantuku mengecek ponselku, hingga ponsel itu menghilang saat aku memasuki meja operasi.
"Aku memang memutuskanmu, aku ingin memberitahumu langsung tapi kamu tidak mengangkat teleponmu.
"Aku kan buta, bagaimana bisa aku mengangkat dan membaca ponselmu, bahkan wajahku sendiri tak bisa kulihat.
"Kamu sebenarnya kenapa? Itu kan masa lalu, bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku jika kamu ingin melupakan kenangan masa lalumu yang menyakitkan?
"Kamu benar, tapi ini beda. Bagiku, kenangan bersamamu di masa lalu adalah kenangan indah, dan aku hanya ingin melupakan kenangan buruk, lalu bagaiman bisa aku melupakan kenangan indahku denganmu?
"Maafkan aku, aku memang salah.
__ADS_1
"Aku jadi berpikir, apa benar kalau kamu memang mencintaiku?