
Setelah beberapa jam duduk di dalam bis menuju bandung, Dion akhirnya tiba di sebuah desa pinggiran kota Bandung. Karena bis yang ditumpangi tak bisa mengantar Dion ke perkebunan, pemuda itu terpaksa berjalan kaki melewati jalan berbatu, hanya berbatu, tak menanjak dan juga becek, hanya alasan dion saja agar para pacarnya itu tak ikut dengannya.
Di perjalanan Dion melihat seorang gadis. Mata playboy miliknya seperti elang yang lincah menemukan mangsa. Namun Dion tak bisa melihat dengan jelas wajah si gadis karena terhalang rimbunan tanaman. Dion yang penasaran berusaha untuk melihat wajah gadis tersebut.
Ketika sedang melompat, tak sengaja Dion menginjak sebuat batu. Dia terpelanting dan terjatuh. Dion berteriak kesakitan. Si gadis yang tengah memetik mawar, menoleh kaget ke arah datangnya suara.
"Suara siapa ya? Kok seperti orang kesakitan?" Gumam si gadis lalu melangkah mencari sumber suara. Ketika dekat, nampak Dion tengah meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Gadis itu kemudian menghampiri Dion,
"Kamu baik-baik saja? Tegurnya.
"Aaa..aa...akuu...baik-baik saja,"jawab dion yang bangkit dari jatuhnya, lalu berdiri.
Pandangannya tak berpaling dari si gadis. Terlebih ketika embusan angin memainkan ujung rambut gadis itu, wajahnya semakin memesona. Dion takjub tak bisa berkata-kata.
Seperti bidadari. Cantik, matanya biru, bibirnya kecil dan merah. Bulu matanya panjang dan lentik. Alisnya juga tebal dan hitam. Kecantikannya benar-benar sempurna seperti mawar merah yang tengah di genggamnya. Tidak sia-sia aku datang dari jauh ke desa ini, ternyata di sini ada bidadari, aku tidak menyangka jika perkataan lola benar.. inilah saatnya aku beraksi Dion membatin. Senyum tersungging di wajahnya.
Dion yang cerdik mulai menyusun rayuan mautnya. Dia menarik nafas dalam-dalam.
"Udara disini segar yah? Apalagi wajahmu yang lembut seperti salju, siapa saja yang melihatnya akan tenang dan damai."
Gadis itu hanya terdiam mendengar kata-kata Dion, entah mengerti atau tidak. Kembali angin berhembus menyentuh rambut gadis itu, si gadis tersenyum lalu berusaha menghalau terpaan angin dengan menyipitkan matanya. Dion mengambil kesempatan menutup wajah gadis itu dengan tangannya.
Ketika angin mereda, Dion menurunkan tangannya dari wajah gadis itu. Gadis itu terlihat kaget dan kikuk namun sedetik kemudian dia tersenyum.
"Terima kasih kau telah membantuku," Ucapnya tersipu. Wajahnya merona. Dion makin merasa di atas angin.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?"
"Kamu sudah melihat aku di sini, itu artinya aku tinggal di sekitar sini."
"Benarkah? Kebetulan ada yang ingin aku tanyakan. Bolehkan?"
"Boleh asal pertanyaannya tidak ngaco." Dion tertawa.
Mereka lalu berjalan bersama.
"Nama kamu siapa?"
Gadis itu terlihat ragu menjawab.
"Kita baru kenal. Kenapa harus tanya nama?"
Ya ampun, susahnya... keluh Dion dalam hati.
"Ok, namaku Dion. Terserah kamu mau sebutkan nama atau tidak. Tapi yang pasti ingat namaku baik-baik."
__ADS_1
Gadis itu tertawa lalu melangkah meninggalkan Dion yang penasaran dengan sosoknya. Ada bagian di hati Dion yang terluka. Baru kali ini seorang gadis menolak dirinya, apalagi gadis itu gadis desa. Dion tidak habis pikir. Apa kurangnya dirinya hingga seorang gadis desa mengabaikan dirinya?
Dion akhirnya berjalan sendiri menyusuri jalan berbatu. Setelah lama berjalan, dia tiba di depan sebuah rumah besar. Dion memilih beristrahat di tempat duduk batu yang ada di taman rumah tersebut. Belum lama duduk, Dion mencium aroma wangi. Aroma yang tak asing lagi. Dia sangat mengenal aroma ini. Aroma bunga mawar bukan Mawar pacarnya.
Dion berdecak kagum sambil pandangannya mengintari taman yang penuh dengan bunga mawar.
Pemilik rumah pasti sangat menyukai bunga mawar, pikir Dion.
Dion lalu beranjak dari tempat duduknya menuju rumah tersebut. Belum sempat mengetuk, pintu rumah terbuka.
Senyum Dion mengembang demi melihat wajah yang muncul dari balik pintu. Wajah di depannya sama terkejutnya dengan dirinya.
"Ehmmm memang kalau jodoh tidak akan ke mana."
"Kamu?!?!"
Ternyata gadis yang tadi di temui Dion di jalan adalah pemilik rumah tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kau mengikuti aku ya? Mau berbuat jahat di rumahku?" Tanya gadis itu seraya mencoba menutup pintu kembali namun Dion menahannya.
"Apa? Siapa yang ingin merampok rumahmu?"
"Nona! Apa ada tamu? Kalau ada sebaiknya di suruh masuk jangan hanya berbicara di depan pintu. Tidak sopan. Suara wanita terdengar dari dalam.
"Bukan siapa-siapa bibi. Si gadis menarik tangan Dion lalu menutup pintu.
Dion tertawa.
"Jadi kamu sudah memutuskan mengingat namaku?"
"Jawab saja pertanyaanku! Apa tujuanmu menguntitku?" Nada suara si gadis meninggi.
"Dasar gadis tidak punya perasaan. Aku berjalan hingga kakiku terasa sakit dan patah demi mencari rumah yang akan aku tempati."
"Kamu tidak sedang mengarang cerita kan? Kamu sudah menyinggungku, kamu tahu darimana aku tidak punya perasaan? Tanya si gadis sewot.
"Sudahlah jangan marah ya. Aku minta maaf kalau membuat kamu tidak nyaman."
"Baik. Aku tidak akan marah. Sebenarnya kamu mencari rumah siapa?"
"Rumah kakek Faiz." Mata si gadis membulat kaget.
"Jadi kamu mencari Kakek Faiz? Kamu siapa kok mencari Kakek Faiz?"
"Aku cucunya," Jawab Dion kalem.
__ADS_1
"Kamu cucunya? Kenapa tidak cerita dari tadi? Tapi apa benar kamu cucu kakek? Kok kamu tidak mirip Kakek Faiz?"
"Bagaimana bisa memberitahu, kamu langsung pergi begitu saja. Lagipula jika aku cucunya, apa aku harus mirip dengan kakek? Tidak harus seperti itu kan?"
"Hehehehe iya, benar juga."
Dion bersorak dalam hati ketika si gadis tersenyum.
"Ikut aku ke rumah Kakek Faiz. Rumahnya dekat dari sini."
Dion lalu mengikuti si gadis yang belum dia ketahui namanya. Mereka melewati tiga rumah dari rumah gadis itu.
"Kakek!!!" Panggil si gadis ketika melihat seorang lelaki tua sedang duduk di teras.
Si gadis memeluk Kakek Faiz dengan manja.
"Nonaku yang cantik." Ucap Kakek Faiz. Dion yang melihat adegan tersebut hanya tersenyum.
Kakek kok tidak menyebut nama gadis itu? Batin Dion kesal.
"Siapa laki-laki ini?" Kakek Faiz mulai memperhatikan Dion yang sejak tadi hanya berdiri.
"Yaaaa Kakek, ini Dion. Jangan bilang kakek lebih kenal gadis ini daripada cucu sendiri."
"Dion? Benar kamu Dion? Kakek tidak menyangka kamu akan kemari, kakek pikir mama dan papamu berbohong pada kakek, syukurlah sudah lama kakek ingin bertemu denganmu. Kamu sudah besar dan tampan." Kakek Faiz memeluk erat Dion.
"Tapi kek, kakek lebih tampan dari Dion," Protes si gadis.
"Nona Krystal ini bunga mawar untukmu," Kakek Faiz mengambil bunga mawar dan memberikan pada Krystal.
"Kakek, aku sayang kakek. Kakek selalu tahu apa yang aku inginkan. Bunganya juga segar dan sangat harum tidak seperti biasanya."
Jadi namanya Krystal, ternyata dia suka bunga mawar. Pantas saja dari tadi tercium bau bunga mawar dari dirinya. Apa dia tidak terlalu berlebihan menyukai bunga mawar? Gelangnya saja dari bunga mawar. Pacarku banyak yang lebih aneh tapi gadis ini spesial. Langka..Pikir Dion. Alangkah baiknya jika aku dan dia bisa dekat, dengan begitu aku akan mudah mendekatinya dan bisa saja dia menjadi salah satu pacarku, dia akan menjadi pacar ke enam belasku, tapi dia sedikit susah untuk di dekati, dia terlalu kaku dan seperti menjaga jarak dengan lelaki, tapi jika aku tidak bisa menaklukannya itu artinya, julukanku sebagai seorang playboy tidak berarti di depannya, kita lihat saja, apa dia akan tetap memasang dinding dan menjaga jarak denganku atau malah sebaliknya, tak ada kata mundur sebelum mencoba, siapa tadi namanya? Iya, namanya Krystal, baiklah Krystal aku pasti akan mendapatkanmu...Pikir dion kembali melayang-layang.
"Hei tukang mengkhayal! Aku pulang dulu." Krystal mendekati Dion sembari menarik pemuda itu menjauh dari kakek Faiz.
"Ingat ya, jangan buat kakek marah. Kadang kakek pingsan kalau lelah, tertekan dan terluka. Kau harus bisa menghiburnya agar kakek senang."
"Kenapa kamu tahu semua tentang kakek?"
"Karena aku yang bersamanya setiap hari. Keluargamu tidak pernah datang dan melihat keadaannya. Kakek berkebun mawar kesukaanku dan sering memberi bunga mawar gratis. Kadang aku heran, kakek menanam mawar yang sama setiap hari tapi setiap hari juga kakek memberi bunga mawar yang segar dengan wangi yang berbeda. Karena itu aku sering kemari untuk menemani kakek. Bermain, menghibur dan mengambil bunga mawar jika diberi kakek.
Soal penyakit kakek, aku pernah melihat seorang laki-laki menemui kakek dan membuat kakek marah. Setelah laki-laki itu pergi kakek terjatuh di lantai. Aku sangat panik waktu itu. Apalagi ketika kakek memegang tanganku, aku bisa merasakan jika kakek sangat marah. Lalu kakek mulai sesak nafas kemudian pingsan. Aku membawa kakek ke rumah sakit. Kata dokter, andai aku terlambat, kakek bisa fatal. Karena itu kamu jangan membuat kakek marah ya. Maaf aku terlalu banyak bicara. Aku pergi dulu, ada yang ingin aku kerjakan. Apalagi ini sudah sore, aku harus ada di rumah."
Ucapan Krystal yang sangat panjang membuat Dion terdiam. Ada rasa sedih yang hadir dalam hatinya.
__ADS_1
Inikah alasan hingga ayah tidak ingin menemaniku ke desa ini? Apakah ayah tidak ingin bertemu kakek? Tapi mengapa aku sangat penurut pada Krystal? Apakah aku mulai menyukainya? Di antara pacar-pacarku hanya Lola yang membuatku menuruti kata-katanya. Sepertinya gadis ini orang kedua yang membuatku patuh..pikir dion.
*****