
Dion terus saja menarik tangah Haura sampai di depan lift, Dion tidak melepaskannya sampai keduanya masuk ke dalam,"Apa yang Bapak lakukan? Kenapa Bapak membawaku pergi?
"Diam! Aku masih tidak bisa bicara denganmu.
Ada apa lagi? Memangnya aku membuat kesalahan apa? Pikir Haura.
Dion membawa Haura ke atas atap perusahaan, dia masih saja mengandeng tangan Haura, lalu Dion berhenti saat mereka mendekati dinding, Dion lalu melepas tangannya,"Kenapa Bapak menyeretku kemari?
Dion berteriak,"Aku sudah bilang jangan mengerjakan sesuatu yang bisa merendahkanmu!
Haura marah,"Bukannya Bapak harusnya senang karena saya mengikuti kemauan orang yang sangat berharga bagi Bapak.
Dion bingung dan tidak mengerti maksud dari pembicaraan Haura,"Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti.
"Bapak tidak perlu menjelaskan, tapi Bapak jelaskan padaku, kenapa Bapak tiba-tiba datang dan menyeretku sampai ke sini.
Haura menunggu jawaban Dion, Dion lalu berkata,"Karena aku membenci jika orang lain memegang tanganmu.
"Kenapa Bapak membenci orang lain yang menyentuhku?
"Aku juga tidak tahu.
"Aku pasti sudah jadi gila, Bapak selalu membuatku terlihat seperti orang bodoh, Bapak menyuruhku menjauhi Bapak, tapi di lain pihak Bapak membenci orang menyentuhku, sebenarnya apa kemauan Bapak?
Dion teriak lagi,"Aku sudah bilang, aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan semua ini! Aku menolak, tapi hati dan juga tubuhku tak bisa mengabaikanmu.
Haura terdiam mendengar ucapan Dion, Haura salah tingkah dan kemudian mengatakan,"Aku sama sekali tidak bisa mengerti Bapak, Haura lalu meninggalkan Dion di atap sendirian.
Apa aku menyukai Haura? Tapi kenapa? Aku mengatakan jika aku ingin menjauhinya, tapi hati dan juga tubuhku selalu ingin di dekatnya, aku pasti sudah sinting...Batin Dion.
Haura berjalan keluar dari atap, jantungnya berdegup tak karuan. Kenapa dia melakukan ini padaku, sebenarnya dia membenciku atau menyukaiku? Tidak, tidak dia tidak mungkin menyukaiku...Batin Haura sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Dion masih diam, dia merenung di atap perusahaan.
Haura kembali bertemu dengan Iga, Iga mendekati Haura dengan penuh pertanyaan,"Haura?
"Ada apa Bu Iga?
"Dimana Pak Direktur?
"Saya juga tidak tahu, soalnya saya sudah beberapa jam tidak bersama.
Raut wajah Iga jelas menunjukkan jika dia tidak senang dengan jawaban Haura,"Masa kamu tidak tahu dia sekarang ada di mana?
Apa aku salah bicara? Aku tidak bisa bicara dengan nenek sihir ini, aku tahu di mana Pak Direktur sekarang, tapi saya tidak mungkin mengatakan jika Bapak ada di atap...Pikir Haura.
"Lupakan, saya juga minta maaf jika saya menyuruhmu tadi. Kata Iga dan berjalan meninggalkan Haura.
"Kenapa dia tiba-tiba minta maaf? Tapi ini aneh, seharusnya dia marah padaku, tapi dia sama sekali tidak marah padaku walaupun raut wajahnya menunjukkan jika dia sangat marah dan ingin menelanku hidup-hidup, entah kenapa kedua manusia itu selalu menyusahkanku.
Iga terus saja mencari keberadaan Dion, di tengah pencariannya dia bertemu dengan Wakil Direktur,"Wakil Direktur?
Wakil Direktur menunjuk ke arahnya,"Anda bicara kepadaku?
__ADS_1
"Iya.
"Kamu bukannya yang tadi bersama Haura? Kamu temannya Dion? Panggil aku Rian.
"Iya benar, Apa anda melihat Dion?
"Dion? Bukannya tadi dia bersama Haura.
Iga merasa marah jika mendengar nama Haura,"Rian, anda tidak perlu menjawab, anggap saja saya tidak pernah bertanya pada anda...Kata Iga dan pergi meninggalkan Rian.
"Dia gadis yang sangat jutek, tapi aku menyukai gadis yang seperti itu...Kata Rian sambil tersenyum.
Dion akhirnya kembali berjalan ke kantornya, lalu dia bertemu dengan Iga,"Dion?
Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan wanita yang tidak bisa di atur ini,"Hai Iga, ada apa?
"Aku..
"Iga, kamu jangan memperlakukan Haura seperti tadi lagi.
"Aku tahu, lagipula aku sudah meminta maaf pada Haura.
"Benarkah? Aku belum pernah melihatmu meminta maaf pada orang sebelumnya.
"Ka..ka..kata siapa aku tidak bisa meminta maaf.
Dion lalu tersenyum, Iga senang melihat Dion tersenyum dan dia juga ikut tersenyum, di tempat yang sama Haura berjalan kea rah mereka, Haura membawa berkas yang akan di tanda tangani Dion, tapi Haura berhenti saat melihat Dion dan Iga saling tersenyum,"Apa ini? Tadi saja dia marah-marah padaku dan mencaci maki Iga, sekarang mereka malah tertawa bersama, apa di sini aku dijadikan cadangan oleh kedua manusia itu? Entah kenapa aku merasa jika harapanku sudah di hancurkan, apa aku akan mendekati mereka dan merusak suasana atau memilih kembali.
"Tidak, tolong yah, Bu Zahra harus memastikan Bapak, menandatangani berkas ini.
"Iya. Haura lalu kembali ke ruangannya. Ada apa lagi dengan mereka berdua, aku tidak pernah melihat mereka akur.
*****
Di rumah Dion, Prana mendekati istrinya,"Ma, sampai kapan mama dan Dion akan saling diam-diaman seperti ini? Papa jadi serba salah di sini.
"Mama tidak akan pernah bicara dengan anak kurang ajar itu, dia merasa jika dia itu tidak membutuhkan sosok mamanya, aku tidak mengenal anakku lagi.
"Ma, bagi Dion pertanyaan yang mama ajukan ataupun sesuatu yang mama tawarkan akan menyakitinya jika berhubungan dengan Krystal.
"Jadi bagi papa, Dion itu lebih memilih Krystal di banding mama? Masa iya, Dion membandingkan mama dengan orang yang sudah mati.
"Mama sama sekali tidak bisa mengerti Dion. Kalian berdua sama-sama keras kepala, papa sudah tidak tahu harus melakukan apa untuk kalian berdua, papa menyerah.
"Pa, jujur mama sangat menyukai Krystal, tapi pa, untuk apa lagi kita mengingat orang yang sudah mati, bukankah kita harus bergerak maju, bukannya seallu mengenangnya, itu sama saja kita menyiksa Krystal pa.
"Papa tahu jika mama sangat menyayangi Krystal, tapi rasa suka mama dan Dion berbeda.
Ani hanya terdiam dan tidak menanggapi omongan suaminya.
Saat malam hari, Dion kembali ke rumah, Dion masih saja tidak bisa melihat mamanya, dia lalu melonggarkan dasinya dan membuka dasinya, dan dia lalu duduk di samping prana,"Pa? mama belum keluar dari kamar?
"Ah papa pusing memikirkan kalian berdua, apa kalian tidak bosan seperti ini? Kalian seperti anak-anak saja teriak Prana, agar Ani mendengar pembicaraannya dengan Dion.
__ADS_1
"Aku bosan pa, tapi mama sudah menyinggungku. Aku memang salah karena tidak berbakti, tapi apa salah jika saya masih mempertahankan cinta saya, bahkan aku sudah mencoba membuka hati.
"Apa? Kamu membuka hati untuk siapa?
"Tidak, papa salah dengar, saya tidak pernah mengatakan jika saya membuka hati saya untuk orang lain...Kata Dion dan bertingkah kikuk,"Pa, saya akan mandi.
Prana melihat anaknya menghilang di balik pintu kamarnya,"Aku jelas tidak salah dengar, aku akan memberitahu Ani, mungkin saja dia akan senang mendengar ini.
Prana berjalan mendekati Ani,"Ma, sepertinya anak mama sudah mulai menyukai wanita.
Ani terkejut dan memaksa suaminya menjelaskan maksud dari perkataannya, Prana lalu menceritakan pembicarannya dengan Dion tadi,"Apa? Dion bilang jika dia sudah mulai membuka hatinya?
Prana mengangguk membenarkan,"Makanya ma, berdamailah dengan Dion, biar kita tahu siapa gadis yang bisa mengalahkan Krystal.
Ani berpikir keras,"Pa, apa jangan-jangan Dion menyukai Haura?
"Haura, oh gadis yang matanya mirip Krystal?
"Iya, pa. mama yakin pasti Haura.
Haura baru pulang kerja, saat dia membuka pintu rumah, seseorang memeluknya dari belakang, itu tentu membuat Haura terkejut,"Ka..ka..kau siapa?
Lelaki itu melepas pelukannya dan memilih tetap diam dan melempar senyum pada Haura dan mulai megedipkan mata pada Haura.
"Apa kau tidak dengar, aku bertanya kau itu siapa?
Bibi mendengar suara bising dari luar, bibi lalu membuka pintu dan melihat keduanya,"Ada apa ini?
Haura bersembunyi di belakang bibi dan meminta bibi mengusir lelaki itu, sementara Haura masih saja bersembunyi di balik punggung bibinya.
"Haura! Apa kau tidak mengingatku? Aku tidak bicara, karena aku tahu saat aku bicara kamu akan mengenali suaraku.
Haura keluar dari tempat persembunyiannya dan menunjuk lelaki itu,"Satria? Kau benar Satria?
Satria mengangguk dan dengan sangat gembira Haura berlari kea rah Satria dan memeluknya,"Ka Satria, kakak kemana saja? Kenapa kakak baru muncul.
"Aku selalu mencarimu, tapi kamu sulit di temukan.
"Lalu bagaimana kakak tahu tempat tinggalku?
"Aku bertanya pada orang yang tinggal di rumah lamamu dulu.
"Benarkah? Kita sudah lama tidak bertemu, bagaimana keadaan Paman dan Bibi, apa Alesa sudah besar?
"Kau terlalu banyak memberiku pertanyaan.
"Maaf, soalnya aku kangen pada mereka, sudah lama tidak bertemu dengan mereka.
"Lalu bagaimana denganku?
"Maksud kak Satria?
"Maksudku, apa kau tidak kangen padaku?
__ADS_1