
Haura masih terperangkap di hadapan Dion, dia tidak suka dengan pertanyaan yang di ajukan Dion padanya,"Dasar lelaki jahat! Aku membencimu! Lepaskan tanganku sekarang juga!
Dion tidak enak hati dengan perkataan Haura, Haura merasa genggaman Dion melonggar, dia menyadari jika ada celah dan segera menarik tangannya,"Jangan mencariku, kau hanya akan mengangguku! Melukaiku! Kata Haura, dia mendorong Dion dari hadapannya dan pergi meninggalkannya.
Haura berakhir di dalam restoran hotel,"Aneh? Kenapa restoran ini terlihat seperti bar di tempat hiburan malam, perduli amat, aku sial sekali bertemu dengan psikopat itu. Haura mengacak rambutnya, dan seketika menghentikan kelakuannya, saat dia melihat sepasang mata terus mengawasinya,"Oh? Bukankah dia lelaki yang menabrakku di bandara? Dan juga duduk di sampingku saat berada di dalam pesawat, apa dia mengikutiku? Tidak, ini pasti hanyalah perasaanku saja. Haura memalingkan pandangannya dari lelaki itu dan kembali menatap meja makannya.
Pemuda itu berjalan melewati Haura dia lalu duduk di bars stools, dia terlihat berbicara dengan penjaga di sana, kemudian kembali ke meja makannya. Tak lama kemudian pelayan berjalan mendekati Haura, yang terlihat frustasi,"Permisi! Ini minuman anda.
Haura menatap heran ke bartender,"Minuman? Tapi aku tidak memesan apapun.
Lelaki itu tersenyum dan berkata,"Ini gratis, silahkan di minum sementara anda memikirkan apa yang akan anda pesan.
Haura tersenyum dan meneguk minuman itu tanpa melihat isinya, saat menoleh ke lelaki yang terus menatapnya, lelaki itu tersenyum mengerikan, membuat Haura merinding, Haura merasakan perasaan yang aneh, dia merasa kepalanya pusing, di putuskannya untuk segera meninggalkan restoran, pelayan tadi mencoba menghentikannya dan memberi isyarat pada pemuda yang sedari tadi megawasi Haura. Tetapi Haura medorong pelayan itu dan berjalan keluar dari restoran, dengan langkah yang tak beraturan, Haura terus menabrak seseorang yang di temuinya, sementara lelaki itu mengikuti Haura,"Aneh, kenapa kepalaku pusing? aku tidak tahan lagi. Haura lalu jatuh pingsan dan seseorang menangkapnya.
Dion menahan lelaki itu,"Jangan mendekatinya, dia milikku, jika kau terus mengganggunya, kau akan berurusan denganku, jadi pergilah sebelum kupanggil keamanan.
Pemuda itu merasa takut dengan ancaman Dion, ternyata selama di dalam restoran Dion terus mengawasi pemuda itu, pemuda itu lalu berlari meninggalkan Dion dan juga Haura.
Dion menatap Haura,"Satria berhutang padaku, jika aku tidak mengikuti istrinya, sesuatu pasti akan terjadi padanya. Dion lalu mengangkat Haura dan membawanya ke kamarnya, di dalam kamar Dion meletakkan Haura di atas kasur,"Untuk malam ini, aku mengizinkanmu tidur di kasurku ucap Dion.
Dion berjongkok di depan Haura yang terlelap di atas kasur sambil menumpu dagunya di atas lutut,"Lola? Ini aku Dion pacarmu, sudah lama kita tidak saling menghubungi, apa kau juga membenci Dion, seperti Haura membenci direkturnya? Dion bangkit dari duduknya, dan berbaring di atas sofa, Dion terlelap dengan posisi lengannya di atas keningnya.
*****
Jam menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit dini hari, Haura terbangun, dia mengeluh kepanasan, membuat Dion terbangun dari tidurnya,"Ada apa lagi? Kata Dion ketus dan bangkit dari sofa menuju tempat tidur Haura. Dion mengagah saat melihat Haura mengacak rambutnya dan tertawa mengemaskan,"Aku kepanasan, ambilkan aku air minum.
Dion tidak mengindahkan perkataan Haura, dan mendekatinya, dia menempelkan punggung tangannya di kening Haura,"Kamu panas sekali, pipimu juga memerah.
Haura tersenyum dan memeluk Dion,"Direktur! Akhirnya aku bertemu denganmu.
Dion menahan kedua lengan Haura,"Kamu kenapa? Apa sesuatu terjadi padamu? Tadi saja, kau begitu ketus padaku. Dion berusaha keluar dari pelukan Haura.
Haura tidak membiarkan Dion pergi, dia kemudian mempererat pelukannya,"Aku suka kehangatan ini.
Dion tersedak ludahnya sendiri, buluk kuduknya merinding,"Bahaya! Jika kami seperti ini terus. Dion melepas pelukan Haura, membuat Haura kecewa.
Haura memanyunkan bibirnya,"Apa kau tidak merindukanku?
Dion menghela napas panjang dan membuangnya kasar,"Kamu sebenarnya kenapa? Apa kamu salah meminum sesuatu? Kamu berubah jadi aneh setelah jatuh pingsan.
"Aku merasa panas, tolong peluk aku...kata Haura memaksa.
__ADS_1
"Tidak boleh! Aku bisa kena pukul Satria, aku masih mengingat terakhir kali dia memukulku, rasanya sungguh menyakitkan, walau kutahu itu memang pantas untukku, tapi untuk kali ini,tidak!. Lagipula jika kamu panas, kenapa aku harus memelukmu.
Haura kembali memeluk Dion dan berkata,"Direktur! Aku sangat merindukanmu.
Dion terdiam dan menatap wajah Haura, dilihatnya mata biru Haura, yang mulai berembun dan meneteskan air matanya,"Apa kamu serius mengatakannya? Tanya Dion penasaran.
Haura mengangguk,"Tentu saja, aku sangat sangat merindukanmu, walaupun kau jahat padaku, aku tetap merindukanmu...Haura melepas pelukan Dion, dan terbaring di kasur. Dion pergi meninggalkannya untuk mengambilkan air minum untuk Haura. Saat kembali Dion melihat Haura kembali tertidur pulas.
"Aneh! Apa yang di minumkan ******** itu padamu.
Haura bangkit, membuat Dion terkejut dan menjatuhkan gelas air minum yang dibawahnya, Haura tersenyum menatap Dion, dan menarik Dion ke arahnya, kini Haura dan Dion tidur berdampingan. Dion menindih tubuh Haura, Dion mengesernya sedikit agar tidak menindihnya, Dion ingin kembali ke sofa, tapi Haura terus mengaitkan jemarinya, dan membuat Dion tidak bisa kemana-mana, karena kelelahan Dion pun terlelap di samping Haura.
*****
Saat pagi hari, Haura terbangun, matanya susah terbuka tapi di paksanya untuk terbuka, dia menahan rasa sakit di kepalanya,"Apa yang terjadi padaku, seingatku aku berjalan keluar dari restoran dan setelahnya aku lupa. Haura memperhatikan keadaan di sekitarnya,"Aku ada di mana? Ini bukan kamarku.
Haura melirik ke kanan dan ke kiri, Haura membungkam mulutnya saat melihat cermin dan menemukan dirinya terpenjara dalam cermin, dia memperhatikan tubuhnya hanya memakai baju dalam, rambutnya berantakan, make upnya hancur,"Akh! Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu.
Haura terdiam, saat selimut bergoyang-goyang dan sesuatu yang hangat menyentuh pergelangan kakinya, Haura terkejut dan terjatuh dari tempat tidur, selimut di tariknya untuk menutupi dirinya, Haura lebih terkejut saat melihat seorang pria tidur di tempatnya, dan memungunginya. "Si..si..Siapa dia? Jangan-jangan lelaki yang di pesawat, apa yang dia lakukan padaku, pasti semalam telah terjadi sesuatu denganku, Haura meremas dan mengigit ujung selimut hotel, dia terdiam pandangannya kosong dan Haura menjambak rambutnya.
Dion yang masih menggantuk terganggu dengan teriakan Haura, dia melihat Haura di bawah lantai, Haura terlihat sangat frustasi, seolah dia adalah korban kekerasan seksual, Dion menggaruk kepalanya, dan membuka sebelah matanya,"Kamu sudah bangun?
Setelah Haura puas memukul Dion, Haura kembali duduk di sofa dan menutupi badannya dengan selimut, Dion menatapnya,"Aku sudah bilang, tidak terjadi apapun padamu semalam.
Haura memutar bola matanya,"Kau pikir aku akan percaya.
Dion menjambak rambutnya karena kesal,"Baiklah. Dion berdiri dan Haura menghentikannya,"Jangan ke sini.
"Kata siapa aku akan mendekatimu, aku akan membuka pintu, aku yakin pelayan yang memberikanmu minuman semalam akan menjelaskan semuanya.
Dion melangkah ke pintu, dan membiarkan beberapa orang masuk ke dalam kamar,"Maafkan kami Pak, kami tidak akan melakukannya lagi.
Haura melirik ke ambang pintu dan melihat dua orang lelaki meminta maaf pada Dion,"Seharusnya bukan padaku, tapi pada wanita di dalam sana.
Dion berjalan menghampiri Haura yang terus meyelimuti tubuhnya, kedua lelaki itu mengikuti Dion,"Harusnya kalian minta maaf padanya...Kata Dion dan menunjuk Haura yang terduduk di atas sofa.
Haura menatap tajam kepada pelayan yang memberinya minuman semalam,"Kau!
Lelaki itu maju dan berlutut di depan Haura,"Maafkan saya, saya hanya disuruh memberi anda minuman yang sudah diberi obat.
"Apa? Oleh siapa?
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, yang kutahu, dia bilang kalau dia adalah kenalan anda, anda marah padanya, dan dia meminta saya untuk bekerja sama.
Haura terlihat bingung, dan Dion membuka suara,"Obat apa yang di berikan padamu, untuknya.
Lelaki itu terlihat malu dan menatap Dion,"Dia memberikanku obat perangsang.
"Apa? Pantas saja semalam dia bertingkah aneh dan terus agresif padaku...Pikir Dion.
"O..oo..obat perangsang? Lidah Haura terasa kaku menyebut obat sialan itu.
"Iya, katanya itu obat nomor satu.
Dion berdehem dan menyuruh mereka meninggalkan kamar. Sebelum meninggalkan kamar, seorang diantara lelaki itu memandangi Dion,"Pak? Apa telah terjadi penyerangan juga pada Bapak? Tanyanya dan melihat penampilan acak-acakan dari Dion.
Dion memperbaiki baju dan juga rambutnya,"Ini? ada seseorang yang menyerangku, tapi aku akan mengurusnya sendiri.
Haura malu dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Dion kembali menemui Haura,"Kau sudah tahu ceritanya kan? Jadi berhenti menuduhku yang tidak-tidak, untung saja aku mengikutimu.
Haura bangkit dari duduknya, dan berjalan melewati Dion, tetapi Dion menangkap pergelangan tangan Haura,"Kamu mau kemana?
"Aku akan kembali ke kamarku.
"Kenapa terburu-buru.
Haura berusah melepas genggaman Dion,"Lepaskan tanganku.
Dion melepas genggamannya dan kembali meraih pergelangan tangan sebelahnya saat Haura berbalik,"Haura bagaimana kabarmu?
Haura bernafas keras,"Akhirnya kamu menanyakan kabarku, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, setelah dicampakkan olehmu...kata Haura dan menepis tangan Dion.
"Apa kau membenciku?
"Pertanyaan macam apa itu?
"Aku tidak main-main.
"Tentu aku sangat membencimu, apa kamu puas jadi biarkan aku pergi dan jangan mencariku lagi, aku sudah lelah dengan semua ini, jadi kumohon jangan mengangguku lagi.
"Lola kumohon maafkan aku.
__ADS_1