Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 12 Sekarang Aku Jomblo


__ADS_3

"Dion, semalam katamu kita akan menemui Franda."


"Iya. Franda itu guru TK."


"Pasti dia keibuan hingga kamu jatuh cinta."


"Dia cantik. Lagipula dia sayang anak-anak.Pasti jadi ibu yang baik jika menikah."


Tiba di sekolah TK, Krystal dan Dion langsung menuju ruang kelas. Berada di sekolah yang penuh anak-anak kecil mengingatkan Dion akan masa kecilnya. Dia juga pernah mengenyam sekolah TK. Dan sekarang dia seperti kembali ke masa-masa tersebut.


Seorang murid TK menghampiri Krystal dan Dion.


"Kakak cantik, namaku Dion." Krystal terperangah lalu tersenyum seraya menyentuh lengan anak itu.


"Namamu, Dion? Mirip dengan namaku." Ucap Dion.


"Dion kecil, kalau besar nanti jangan seperti kakak ini ya. Dia playboy." Ucap Krystal sembari melirik Dion yang cemberut.


"Iya, kakak cantik." Jawab anak itu sebelum berlari ke dalam kelas. Entah dia paham arti dari ucapan Krystal.


Seorang guru muda keluar dari ruangan. Senyumnya mengembang saat melihat Dion.


"Sejak kapan datang? Maaf aku sibuk tadi."


"Tidak apa-apa, Franda. Ada yang ingin aku sampaikan."


"Ke ruang guru saja. Disana lebih tenang."


Dion mengikuti Franda ke sebuah ruangan sementara Krystal hanya menunggu di luar. Gadis itu sangat gembira melihat anak-anak TK bermain ayunan, prosotan dan berbagai jenis permainan.


"Apa yang ingin kamu katakan, Dion?"


"Aku ingin kita putus, Franda."


"Aku sudah curiga sejak melihat kedatanganmu dengan gadis itu. Hanya saja aku tidak menyangka kamu akan bersikap resmi seperti ini."


"Bukan karena dia. Dia sebentar lagi akan menikah dengan pacarnya. Ini tak ada hubungannya dengan dia. Menurutku, aku bukan lelaki yang pantas dan baik untukmu. Aku berharap kamu mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintaimu."


"Aku paham, Dion. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Beberapa bulan ini aku juga merasa hubungan kita sangat hambar. Jika putus adalah jalan terbaik, aku terima. Maafkan sikapku ya."


"Aku juga minta maaf, Franda. Aku pamit."


Dion kemudian keluar menemui Krystal.


"Lanjuttttt.." Ucapnya mengagetkan Krystal.


"Urusanmu lancar dan tanpa hambatan ya?"


"Iya. Dan sekarang aku akan mengajakmu ke Butik Mawar."


"Mawar? Namanya sama seperti bunga kesukaanku."


Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, mereka kemudian tiba di tempat Mawar. Seorang gadis menyambut mereka dengan sangat ramah.


"Dion, Silahkan masuk. Ada apa kamu tiba-tiba muncul disini Eh, tunggu sebentar ya, aku buatkan minuman dulu."


"Tidak usah, Mawar. Kami Cuma sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."


Mawar akhirnya duduk di sebelah Dion.


"Wajahmu serius sekali, aku jadi takut. Ada apa?"


"Aku ingin kita putus, Mawar. Aku ingin berteman biasa saja denganmu bukan sebagai kekasih."


"Kamu serius?" Dion mengangguk.

__ADS_1


"Kalau sebagai teman, apa kamu tetap mau menjadi modelku?" Kembali Dion mengangguk.


"Dengan senang hati aku akan menjadi modelmu."


"Terima kasih, Dion. Baiklah, mulai sekarang kamu adalah temanku dan modelku."


Mereka bersalaman. Dion kemudian pamit lalu menuju mobilnya. Ternyata saat menunggu Dion, Krystal tertidur. Dion sengaja tak membangunkannya dan membiarkan gadis itu tertidur. Namun ada yang membuat Dion cemas. Krystal bukan terlihat putih. Gadis itu sangat pucat.


"Krystal." Panggil Dion seraya menyentuh tangan gadis itu.


"Ya ampun aku ketiduran. Udah selesai ya dengan Mawar?"


"Iya. Dan sekarang statusku adalah jomblo. Mawar adalah gadis terakhir yang aku putuskan."


"Selamat ya."


"Sekarang bagaimana rencanamu? Apakah kamu masih marah sama mamamu dan tidak ingin mencarinya?"


"Aku ingin pulang."


"Setidaknya mama dan kakakmu tahu kabar ayahmu."


"Tidak perlu, Dion. Aku yakin orang-orang yang kita temui akan memberi tahu mama dan kakak."


"Kalau mereka tidak memberitahu bagaimana? Yang berhak memberitahu itu kamu sebagai keluarga."


"Entahlah, Dion, aku bingung. Aku capek. Aku ingin pulang."


"Baiklah. Ayo kita pulang tapi aku berharap kamu akan mencari mama dan kakakmu. Lupakan amarahmu karena hanya mereka keluargamu yang tersisa sekarang."


Krystal terdiam mendengar ucapan Dion.


"Bagaimana Krystal? Apa kamu sudah memutuskan? Ini sudah tiga hari loh."


"Maaf, Dion tapi aku belum bisa memutuskan apapun."


"Aku kurang tidur. Selama tiga hari ini, aku tidak bisa tidur. Aku masih bingung memikirkan akan bertemu mama atau tidak."


"Dasar gadis keras kepala! Kamu membiarkan dirimu tersiksa karena sifat egoismu itu! Sekarang kamu kembali ke kamarmu dan tidur!"


"Dion kamu selalu memarahiku tanpa bertanya padaku lebih dulu. Kamu tidak merasakan beban yang aku rasakan."


"Maafkan aku, Krystal. Tapi sebaiknya sekarang kamu istrahat saja."


"Baiklah. Aku akan ke kamar dan berpikir apakah akan menemui mama ataukah kembali ke Bandung."


Keesokan paginya saat sarapan.


"Bagaimana keadaanmu, Krystal? Semalam kamu tidur nyenyak?"


"Tidak. Tapi aku sudah memutuskan untuk mencari mama, Dion."


"Benarkah? Aku sangat senang kamu memilih pilihan yang tepat. Kapan kamu ingin menemui mama dan kakakmu?"


"Hari ini kita akan mencari mereka. Kamu masih menyimpan alamat mamaku kan, Dion?"


"Masih. Setelah sarapan kita berangkat."


Alamat yang akan mereka tuju berbeda dengan alamat-alamat sebelumnya. Kali ini mereka memasuki area pemukiman padat penduduk. Mobil Dion harus berjalan pelan karena jalan sempit sementara banyak anak kecil yang bermain dan berlarian di tengah jalan.


"Benarkah ini alamatnya, Dion?" Tanya Krystal. Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Apa benar ini rumah mama? Kenapa hangus terbakar seperti ini?" Krystal mulai panik dan menangis.


Dion merangkul Krystal.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, Krystal. Kita tanya orang-orang itu, mungkin mama dan kakakmu baik-baik saja."


Dion mendekati seorang bapak yang sedang merapikan puing-puing bekas kebakaran.


"Paman, permisi. Apa paman mengenal Ibu Hilda?"


"Ibu Hilda? Rumahnya ini yang terbakar semalam." Jawab si bapak.


"Keadaan Ibu Hilda dan anaknya bagaimana, Paman?"


"Ibu Hilda luka parah, sekarang di rawat di rumah sakit. Anaknya yang bernama Sulli meninggal."


Krystal yang mendengar ucapan si bapak seketika histeris dan menjerit memanggil mama dan kakaknya.


"Maafkan aku Mama, Kak Sulli. Andai aku tidak keras kepala dan secepatnya mencari kalian, tentu kita akan bertemu. Sekarang Kak Sulli sudah meninggal.."


"Krystal, tenangkan dirimu. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."


Dion memapah Krystal menuju mobil.


"Ayah, kakak, semuanya pergi meninggalkan aku." Krystal pingsan. Dion panik dan secepatnya menuju rumah sakit dimana mama Krystal dirawat.


Tiba di rumah sakit, Krystal siuman namun kondisinya masih lemah.


"Dion, kita cari mamaku." Ucapnya lemah. Dion memapahnya menuju bagian informasi.


"Mbak, pasien yang bernama Ibu Hilda di rawat dimana?" Tanya Dion sambil merangkul Krystal.


"Tunggu ya." Jawab petugas lalu mengecek komputer didepannya.


"Pasien ini masih di ruang perawatan IGD karena kondisinya sangat parah."


Petugas lalu menunjukkan lokasi ruangan. Dion dan Krystal kemudian menuju ruangan tersebut. Namun mereka belum dijinkan untuk masuk karena kondisi pasien masih belum sadar.


"Aku ingin ketemu mama, Dion. Aku takut tidak bisa bertemu dengannya lagi.." Air mata Krystal terus mengalir. Dion memberikan saputangannya agar gadis itu bisa mengusap airmatanya.


"Lebih baik sekarang kita berdoa, Krystal. Semoga mamamu segera sadar dan kondisinya segera pulih."


Krystal lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dion lalu tertidur.


"Keluarga pasien Ibu Hilda!" Panggil seorang perawat.


"Iya, mbak. Kami keluarganya." Jawab Dion.


Dion lalu membangunkan Krystal.


"Bangun, Krystal. Kita dipanggil perawat."


Krystal dan Dion lalu bergegas masuk ke ruangan. Mereka mengenakan pakaian khusus. Ketika tiba di dalam dan melihat kondisi mamanya, Krystal nyaris limbung dan terjatuh. Syukurlah Dion dengan sigap menyambarnya. Gadis itu terus menangis.. Perlahan mata Ibu Hilda terbuka. Krystal hanya bisa memegang besi tempat tidur karena dilarang menyentuh pasien.


"Sulli."


Suara Ibu Hilda pelan namun Krystal bisa mendengarnya. Krystal heran mata mamanya terbuka namun tak melihatnya.


"Mama. Aku Krystal, Ma."


"Krystal?" Airmata Ibu Hilda menetes lalu tiba-tiba dadanya sesak hingga Krystal berteriak memanggil perawat. Mereka berdua lalu keluar dari ruangan.


"Sepertinya mamamu shock bertemu denganmu, Krystal. Kita harus sabar, jangan membebani pikirannya dengan berita kematian ayah dan kakakmu. Itu bisa membuatnya terguncang.


"Iya, Dion. Hanya saja, kenapa mama tidak bisa melihatku padahal matanya terbuka?"


"Mungkin pengaruh kebakaran. Kondisi mamamu belum pulih, semoga nanti beliau bisa melihatmu."


"Mungkin kamu benar, ini semua karena keegoisanku, andai saja waktu kamu memintaku menemui mama dan kak sulli aku mengiyakan, aku mungkin bisa bertemu dan berbincang bersama mereka sekarang, tapi karena kebodohanku sendiri, kini aku tidak akan bertemu dengan kak sulli.

__ADS_1


*****


__ADS_2