
Sreeeggg ... Sreeeeggg ... Sreeegg
Terdengar suara gorden yang terbuka yang membangunkanku dari tidur nyenyakku malam ini, aku membuka kedua mataku dan melihat seorang perempuan yang sedang berdiri dengan senyuman manis di bibirnya
"Selamat pagi yang mulia tuan putri" ucap wanita itu tersenyum
"Ummm, selamat pagi, ini udah pagi ya? Kamu siapa?"
"Saya Weli, saya kepala pelayan di kerajaan ini" gumam Weli tersenyum
"Oh aku Sani, mohon bantuannya ya Weli" gumamku tersenyum
"Baik yang mulia, mmm makanan anda sudah saya siapkan diatas meja" gumam Weli menundukkan kepalanya
"Oh ya, terimakasih. Ngomong - ngomong dimana Wang dan San?"
"Tuan Wang ada di ruangannya dan tuan San sedang ada di basecamp pertempuran, oh begitu ya. Mmm Weli apa itu semua rumah penduduk?"
"Ya benar nona, itu adalahh arwah manusia dan kaum alam lain yang sudah mati nona"
"Ke.. Kenapa mereka ada sekitar kerajaan?"
"Karena disini adalah alam dewa perbatasan tiga alam yang mulia jadi siapapun yang meninggal dia akan berkumpulkan disini sebelum ke alam baka"
"Tapi kenapa aku dulu langsung pergi ke alam baka ya?" gumamku pelan
"Karena yang mulia kaisar langit yang membawa anda dan menginkarnasi anda di alam baka dengan dibantu raja kegelapan"
"Kamu tahu aku berinkarnasi?"
"Ya saya tahu nona, seluruh dewa membahas tentang inkarnasi anda"
"Oh begitu ya, terimakasih penjelasannya Weli, kamu bisa pergi"
"Baik yang mulia"
"Eeeh tunggu, tolong panggilkan Wang kemari ya"
"Baik yang mulia" gumam Weli meninggalkan kamarku
Aku bergegas mandi dan mengganti pakaianku yang sudah tersedia di lemari pakaianku lalu duduk di sofaku untuk menikmati sarapanku
Tookkk... Toookk...
"Masuklah" gumamku pelan dan masuklah Wang ke dalam kamarku
"Ada apa yang mulia?"
"Duduklah disini" gumamku menepuk sofa lembutku
"Baik yang mulia"
"Aku ingin bertanya kepadamu yang masalah kemarin"
"Masalah tubuh pengganti yang mulia?"
"Ya benar, aku tidak paham maksudmu"
"Jadi dewa itu bisa merubah dirinya menjadi manusia biasa karena tubuh pengganti dan karena tubuh pengganti itulah dewa bisa berinkarnasi, kalau yang mulia tidak punya tubuh pengganti dan yang mulia terbunuh kemungkinan besar yang mulia akan lenyap.."
"Jadi maksudmu karena tubuh pengganti itulah aku bisa hidup berkali - kali?"
"Ya benar yang mulia"
"Apa itu yang dimaksud Sony dan Steven kalau aku mati lagi aku bakal lenyap"
"Ya benar, seperti raja kegelapan dia tidak memiliki tubuh pengganti jadi saat dia lenyap posisinya digantikan orang lain"
"Emang kalau aku apa itu bisa berlaku?"
"Tidak yang mulia, dewa penyeimbang itu tidak sembarang orang yang bisa menggantikannya, butuh beratus abad untuk menemukannya lagi"
"Hmmm tapi aku tidak tahu caranya untuk membangkitkan tubuh penggantiku"
"Yang tahu caranya hanya dewa kebangkitan nona"
"Tapi dewa kebangkitan sangat membenciku karena kesalahaku dulu" gumamku pelan
__ADS_1
"Lambat laun dewa kebangkitan akan luluh kepada yang mulia, apalagi yang mulia sudah di wujud dewa"
"Emang kenapa dengan aku berubah menjadi wujud dewa?"
"Apapun yang anda inginkan harus di penuhi yang mulia karena derajat anda lebih tinggi dari dewa manapun"
"Oh ya?Nanti saja lah kalau sudah waktunya, aku sedang ingin mengasingkan diriku dari mereka"
"Wang apa kamu pernah ke dunia manusia?"
"Belum pernah yang mulia"
"Kamu ingin ke dunia manusia?"
"Untuk apa saya kesana?"
"Tidak ada, aku hanya menawarimu saja"
"Tidak yang mulia, saya lebih memilih di sini bersama anda"
"Hmmm kamu setia sekali" gumamku meneguk minumanku
"Kami para bawahan selalu setia dan patuh kepada raja kami"
"Baguslah.." desahku sedikit tenang
"Oh ya Wang, kalau aku ke dunia manusia apa wujudku tetap wujud dewa?"
"Ya benar yang mulia"
"Apa tidak bisa aku merubah wujudku ke wujud manusia?"
"Bisa saja kalau yang mulia menggunakan tubuh saya menjadi medianya"
"Emang bisa?"
"Bisa yang mulia, saya dan yang lainnya adalah manusia dulunya dan tubuh kami masih tubuh manusia"
"Oh begitu ya, apa ada konsekuensinya?"
"Ada yang mulia, mungkin anda sedikit tidak nyaman dengan tubuh laki - laki saya"
"Anda bisa mmemilih tubuh yang anda inginkan di kota yang mulia"
"Kota? Kota mana?"
"Kota di kerajaan ini"
"Begitukah, bisa kamu mengantarkanku?"
"Boleh tentu saja yang mulia" gumam Wang menjentikkan tangannya dan kami berpindah di tengah kota kerajaanku
Dikota ini aku melihat banyak sekali arwah - arwah yang berjalan - jalan biasa seperti manusia pada umumnya bahkan mereka melakukan aktifitas layaknya manusia biasa. Wang berjalan mendahuluiku ke sebuah toko di depan kami
Saat toko itu terbuka aku melihat banyak sekali tubuh - tubuh yang tertata rapi di etalase toko seperti layaknya sebuah barang biasa
"Permisi" gumam Wang berteriak dan di depan kami muncullah sebuah kakek - kakek penjaga toko
"Oh tuan Wang, ada perlu apa mampir ke toko saya?"
"Mmm yang mulia ingin mencari tubuh pengganti apakah ada?"
"Yang mulia dewi?" tanya kakek itu melihatku dengan terkajut
"Hormat hamba yang mulia tuan putri" gumam kakek itu berlutut di depanku
"Berdirilah, jangan terlalu formal"
"Baik yang mulia, apa yang mulia inginkan?"
"Mmm kamu ada tubuh apa saja?"
"Saya mempunyai berbagai jenis tubuh mulai tubuh manusia biasa sampai tubuh kaum alam lain"
"Tubuh ini datang dari mana?"
"Tubuh ini dari kerajaan alam bawah yang mulia, biasanya kebanyakan dewa memesan kepada hamba"
__ADS_1
"Bukannya kerajaan ini tersembunyi ya?"
"Itu benar yang mulia tapi karena toko ini bukan berada di alamm dewa sucimu jadi toko ini bisa dilihat dewa manapun"
"Oh begitu ya" desahku melihat - lihat sekelilingku
"Yang mulia ingin tubuh seperti apa?"
"Aku ingin tubuh yang kuat seperti tubuhku yang dulu"
"Mmm ada beberapa pilihan yang mulia, ini tubuh seorang vampir, ini tubuh seorang siluman, ini tubuh seorang iblis, ini tubuh seorang ..." gumam kakek itu menunjukkan satu persatu kepadaku
"Bukan, aku ingin tubuh tiga darah campuran" gumamku serius
"Tubuh tiga campuran hanya yang mulia saja yang memilikinya"
"Apa tidak ada yang lain?"
"Mmm ada satu tubuh empat darah campuran yang mulia"
"Empat darah campuran?"
"Ya benar yang mulia, di dalam tubuhnya masih ada sisa kekuatan"
"Oh boleh juga aku ingin itu" gumamku senang
"Ini yang mulia" gumam kakek itu menunjukkan sebuah tubuh wanita yang menarik
"Kenapa ada empat darah campuran? Bukannya?"
"Ya seharusnya hanya ada tiga darah campuran yang mulia, wanita ini meninggal karena dia tidak snaggup menahan empat darah campuran yang berbeda di dalam tubuhnya. Tapi saat itu dia tidak mengetahui kalau dia memiliki kekuatan jadinya kekuatannya masih ada belum terpakai sama sekali"
"Oh begitu ya.. Mmm baiklah aku mau yang ini" gumamku serius
"Baiklah yang mulia, tapi kalau yang mulia tidak bisa menyatukan jiwa yang mulia tubuh ini bisa hancur"
"Oh mmm Baiklah, terimakasih kakek" gumamku tersenyum dan meninggalkan toko itu
"Yang mulia ingin kemana lagi?"
"Aku ingin berjalan - jalan jadi temani aku"
"Baik yang mulia" gumam Wang mengikuti dari belakang
"Wang saat kamu jadi manusia apa kamu bahagia?"
"Mmm kenapa yang mulia tanyakan ini?"
"Ya penasaran saja"
"Iya yang mulia, sangat bahagia"
"Apa yang membuatmu bahagia?"
"Ya saya memiliki banyak teman yang peduli kepada saya dan mencintai saya bisa dibilang seperti hidup yang sempurna"
"Oh benarkah? Bersyukur ya kamu bisa hidup aman dan damai"
"Iya yang mulia, saya sangat berterimakasih kepada kaisar langit karena memebikan saya kehidupan yang sempurna"
"Oh benar kisar langit yang mengatur semuanya" gumamku pelan
"Jadi kenapa kamu bisa di alam dewa?"
Ya karena selama saya hidup saya selalu baik dan tidak melakukan kejahatan jadi raja alam baka memberiku tugas menjadi penasehat dewa penyeimbang"
"Oh begitu ya, untuk kamu tidak disuruh berinkarnasi sepertiku"
"Inkanasi belaku bagi seseorang yang melakukan kejahatan dan kebaikan secara seimbang"
"Oh begitu ya" desahku menatap tanah di bawahku
"Yang mulia kita harus kembali ke kerajaan"
"Ada apa?"
"Ada sesuatu kekacauan di dunia manusia, kita harus melihatnya di cermin kehidupan" gumam Wang membungkukkan badannya
__ADS_1
"Oh baiklah, mari kita pulang" gumamku pelan
Akhirnya aku mendapatkan tubuh penggantiku walaupun aku tidak yakin apa bisa berhasil tapi aku harus yakin kalau aku bisa menggunakan tubuh itu seperti tubuh penggantiku yang dulu