
Disaat aku enak - enakan tidur, aku merasa ada seseorang yang mencubit pipi dan hidungku dengan keras yang membuatku terbangun. Aku membuka kedua mataku dan melihat Han yang sedang mencubit hidungku sambil menahan tawanya
"Iihh sakit lah!!" protesku kesal
"Hehehe"
"Kenapa kamu mencubit hidungku dan pipiku Han?" gerutuku kesal
"Aku sudah lama tidak melakukan ini..."
"Hmmm kamu gak pernah berubah Han..."
"Walaupun aku inkarnasi tapi sifatku tetap sayang"
"Tunggu? Inkarnasi?" tanyaku terkejut
"Ya, aku berinkarnasi setelah melakukan kesalahan. Cincin yang di tanganmu itu retak karena arwah setengahku sudah mati" gumam Han pelan
"Kamu melakukan kesalahan apa?" tanyaku terkejut
"Kamu tidak perlu tahu"
"Aku istrimu Han, aku harus tahu!!!" protesku kesal
"Gak mau!!"
"Aku harus tahu Han!! Kamu juga berjanji kepadaku kan untuk menceritakannya!!" protesku menatap Han serius
"Hmmm baik - baik. Aku melakukan kesalahan dengan mengorbankan setengah arwahku untuk membangun kembali alam dewa dan surga, kalau aku tidak memberikan setengah arwahku kepada Alan pasti aku ataupun kamu sudah lenyap sayang"
"Kenapa kamu lakukan sendiri!! Alam dewa juga tanggung jawabku dan aku juga berhak membantumu!!"
"Tidak boleh, kamu hanya bertugas mengawasi dan mengatur keseimbangan tiga alam saja kamu tidak berhak memperbaiki!!"
"Tapi kamu melakukan itu sendiri sangat berbahaya Han!!" protesku kesal
"Ya aku tahu itu sangat berbahaya"
"Kalau tahu berbahaya kenapa melakukan sendiri!!!"
"Aku tidak ingin kamu membantuku"
"Kenapa kamu tidak ingin aku membantumu?"
"Aku tidak mau kamu lenyap sayang!!"
"Tapi Han!!"
"Gak ada tapi - tapi, walaupun setengah arwahku lenyap tapi selama kamu masih hidup dan arwahmu utuh, arwahku yang lenyap akan tumbuh lagi menjadi arwah baru. Itulah kenapa aku tidak mau kamu tahu apa yang aku lakukan kemarin. Kalau kamu sampai tahu kamu akan melakukan kesalahan yang sama seperti dimasa lalu, aku tidak mau kamu melakukan kesalahan yang sama Sani!!!" protes Han menatapku kesal
"Hmmm ya, aku pasti akan melakukan kesalahan yang sama dan..."
"Dan kamu lenyap, aku juga lenyap... Lalu Alan hidup sendiri di alam dewa!! Apa kamu tidak berfikir sejauh itu!!" protes Han menatapku dingin
"Ma... Maaf Han" desahku pelan
"Aku memang bodoh Han, aku tidak memikirkan hal itu. A... Aku..."
"Hmmm sudahlah sayang, yang penting kamu sudah tahu kan kenapa aku merahasiakan semua yang aku lakukan...Aku ingin menjaga kalian bertiga, apalagi kalian bertiga adalah harta yang paling berharga bagiku. Walaupun aku melakukan kesalahan tapi aku sudah memprediksi dan merencanakan semuanya jadi kamu tenang saja sayang" gumam Han mengelus rambutku pelan
"Hmmm kalau cincin ini patah apa kita akan lenyap Han?"
"Ya benar, cincin itu terbuat dari arwahku apalagi janji nikah kita kamu ingin kalau salah satu dari kita mati maka yang lain juga mati jadi sampai kapanpun cincin itu tidak bisa terlepas dari tanganmu kecuali kita mati sayang"
"Tapi kan ini cincinnya retak Han?"
"Tenang saja sayang, kalau arwahku kembali utuh cincin itu akan utuh juga. Jadi cincin itu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa lepas dari tanganmu, kecuali cincin itu patah dan kita berdua lenyap. Apa kamu mengerti?" gumam Han mengelus lembut rambutku
"Oh ya aku mengerti Han" desahku pelan
"Baguslah mari sayang kita ke puncak keabadian..."
"Sekarang?"
"Ya sekaranglah, mau kapan lagi?"
"Oh ntar aku mau mandi dulu"
"Gaunmu ada di ruang ganti. Pakai saja gaun itu dan jadilah wujud manusia..."
"Oh baiklah..." gumamku beranjak dari tempat tidur dan segera mandi, setelah mandi aku segera memakai gaunku dan menemui Han di tempat tidur
"Aku Su..."
Aku sangat terkejut saat melihat wajah Han yang sangat tampan dengan jas hitamnya. Perpaduan wajah Samuel dengan wajah dewa agung yang tampan membuat wajah Han yang sekarang bisa melebihi tampan wajah Han sebelumnya...
"Ada apa sayang?"
"Kamu... Tampan.." gumamku sedikit terkejut
"Tampan dari mana? Aku tetap saja seperti dulu"
"Tidak, kamu beneran tampan Han"
"Ini wujud manusiaku"
"Wujud manusia? Kenapa tidak memakai wujud dewa?" gumamku bingung
"Karena nanti sebelum ke puncak keabadian kita harus mengikuti sebuah pesta dahulu"
"Pesta ya? Pesta apa?"
"Pesta menjadi CEO temanku.."
"Teman?"
"Ya, temanku dari dunia manusia"
"Temanmu yang mana?"
"Kamu akan tahu nanti" gumam Han menjentikkan tangannya dan kami berpindah di depan sebuah gedung yang sangat megah
"Kamu dulu di dunia manusia kah?" tanyaku terkejut
"Ya aku dari dulu sampai sekarang aku masih sering ke dunia manusia, apa kamu gak kenal wajah ini?" gumam Han menatapku serius
"Enggak, enggak pernah liat" gumamku bingung
"Coba baca ini deh..." desah Han memberikanku koran beribu abad yang lalu
"Tunggu ini kan koran di tahun aku masih bekerja dengan Steven? Kenapa kamu masih punya koran ini? Udah rusak juga..." gumamku terkejut saat melihat koran itu
"Ya, coba liat... Wajah itu sama dengan wajahku tidak?" gumam Han serius, aku mencocokkan gambar di koran itu dengan wajah Han yang sekarang
"Sama... Apa ini kamu?"
"Ya, itu aku..." gumam Han santai
"Pemilik perusahaan Han? Kamu pemilik perusahaan Han?" gumamku terkejut, aku teringat terakhir kali aku bertemu ayah saat ayah akan mengikuti rapat dengan perusahaan Han
"Ya itu perusahaanku yang udah sangat lama... Kamu ingat?"
__ADS_1
"Ya, terakhir aku bertemu ayah sebelum ayah pergi rapat dengan perusahaan Han" gumamku menutup koran itu
"Ya memang, dulu aku bertemu ayahmu"
"Tapi tunggu sebentar, ini koran beribu abad yang lalu. Dan itu perusahaanmu yang udah sangat lama... Jangan - jangan perusahaanmu ini tetap ada walaupun sudah beribu - ribu tahun lamanya?"
"Ya kamu benar, walaupun perusahaan lain pada bangkrut, lenyap atau bahkan bubar. Tapi perusahaanku masih terus ada"
"Kok bisa? Emang gak ada yang curiga, pemilik perusahaan terbesar masih muda selama bertahun - tahun?"
"Tidak, tidak ada yang mengenaliku"
"Kok bisa?" tanyaku terkejut
"Karena aku dewa agung jadi aku bisa melakukan apapun, membuat orang lain lupa dengan wajahku saja aku bisa" gumam Han menggandeng tanganku lembut
"Tapi temanmu ini?"
"Ini temanku beberapa tahun yang lalu... Aku bertemu dia karena dia menolongku saat aku diserang beberapa vampir, ya bisa dikatakan dia sepertimu dulu..."
"Dia vampir?" tanyaku terkejut
"Ya dia setengah vampir setengah manusia. Katanya dulu dia di gigit oleh vampir jadi dia vampir level E..."
"Oh vampir level E..." desahku pelan
"Kamu tahu?"
"Ya dulu Steven pernah bercerita kepadaku"
"Oh..." desah Han menggandeng tanganku masuk ke dalam gedung mewah itu
Didalam gedung aku melihat banyak sekali manusia yang datang dan tidak sedikit juga vampir yang berjalan dari lantai atas ke lantai bawah dan sebaliknya. Aku melihat di lantai atas banyak vampir yang sedang mengobrol santai sambil meminum minunan berwarna merah seperti darah
"Ada apa sayang?"
"Ada vampir dan manusia disini.." gumamku pelan
"Kamu bisa mengetahuinya?"
"Bisa... Aku raja vampir, apa yang tidak aku ketahui" gumamku pelan
Tiba - tiba ada seseorang laki - laki tampan dan tinggi sedang berjalan ke arah kami dengan senyum manis di bibirnya
"Selamat datang tuan Han, terimakasih sudah berkenan datang ke pesta saya" gumam laki - laki itu dengan senyum manisnya
"Ya terimakasih... Oh ya selamat menjadi CEO baru" gumam Han dengan tatapan dingin
"Terimakasih tuan. Mari tuan, silahkan dinikmati..."
"Iya... Ee... Disini juga ada vampir ya?"
"Iya tuan, sebentar lagi acara dengan para vampir. Untungnya tuan masih hadir sebelum acara itu"
"Oh ya untungnya..."
"Mmmm ini ya istri anda yang anda bicarakan itu?"
"Ya benar, dia istriku..."
"Eemmm... Kok auranya tidak asing ya..." gumam laki - laki itu pelan sambil terus menatapku
"Kenapa Bi?" tanya Han menatap laki - laki itu
"Eeeh Mmm tidak ada tuan, mari - mari silahkan tuan" gumam laki - laki itu berjalan mendahului kami menuju ke meja makan di depan kami
"Silahkan tuan dan nyonya"
"Oh ya namamu siapa?" gumamku menatap laki - laki itu
"Aku Bi The panggil aku Bi..."
"Oh salam kenal Bi aku Sani..." gumamku tersenyum
"Oh salam kenal juga nyonya Sani..."
"Panggil aku Sani saja"
"Tapikan..."
"Gak apa, Han juga tidak keberatan" gumamku tersenyum
"Tidak masalah, panggil dia sesuai keinginanmu" gumam Han meminum minumannya
"Oh baiklah, salam kenal Sani..." gumam Bi tersenyum manis
"Permisi tuan, waktunya pesta dengan para vampir" gumam seseorang yang tiba - tiba muncul di sebelah Bi
"Oh... Baiklah, kamu bisa pergi..." gumam Bi dan laki - laki itu menghilang
"Ee...Mmm maaf tuan Han, sebentar lagi pesta vampir dimulai..."
"Tidak masalah.." jawabku dengan cepat
"Tapi nyonya... Eehh Sani..." gumam Bi khawatir
"Tidak apa, tenang saja..." gumamku santai
"Oh baiklah..." desah Bi menjentikkan tangannya dan dekorasi ruangan itu menjadi ruangan khusus vampir. Tidak lama kemudian para vampir turun dari ruangan itu dan menatapku dengan aneh
"Bi, kenapa masih ada manusia disini?" gumam salah satu vampir terkejut
"Ya... Mereka..."
"Tidak peduli lah, mereka manusia jadi mereka makanan kita malam ini" tawa salah satu vampir keras dan semua vampir teriak senang
"Hei, tidak boleh meminum darah mereka!!" protes Bi kesal
"Salah mereka sendiri ada di kawasan Vampir..." gumam vampir itu menatapku dingin, tatapan dari vampir junior yang sangat sombong. Vampir senior dan vampir junior itu sangat berbeda, vampir senior memiliki mata yang sangat merah sedangkan vampir junior memiliki mata merah keunguan.
"Ya, mereka adalah makanan kita malam ini!!" teriak salah satu vampir dan seluruh vampir bersorak
"Mau menjadi kami makanan kalian? Kalau kalian berani lakukanlah" gumamku dingin
"Iiihh berlagak juga rupanya" gumam salah satu vampir dingin
"Kalau iya kenapa?" gumamku dingin
"Sani kenapa kamu bisa ada disini? Apa lukamu sembuh?" gumam Steven berjalan kearahku
"Aku hanya menemani Han doang"
"Ya, temanku ada pesta mau gak mau aku datang lah" gumam Han meminum minumannya dengan santai
"Dan kalian kemari dengan wujud manusia?"
"Emang kenapa?" gumamku dingin
"Kamu tahu ini acara apa?" gumam Steven menatapku serius
"Tidak, emang acara apa?"
__ADS_1
"Pergantian raja vampir junior"
"Oh vampir junior ya" gumamku mengangguk pelan
"Eeehhh ya... Yang mulia hadir juga" gumam Win menundukkan badannya ke arahku
"Yang mulia? Dia siapa kakak?" tanya Bi terkejut
"Kamu tidak tahu dia siapa?"
"Tidak..."
"Dia raja vampir senior..." gumam Win serius
"Bu.. Bukannya raja vampir senior tuan Steven ya?" tanya Bi terkejut
"Bukan, aku mantan raja. Dia yang raja" gumam Steven menunjukku
"Sani... Eeh yang mulia Sani raja vampir senior?" tanya Bi terkejut
"Panggil aja aku Sani, aku bukan raja tapi Steven yang raja" gumamku pelan
"Kamu raja Sani, kamu selalu tidak mengakui itu" gerutu Steven kesal
"Kakak berisik!!" gumamku dingin
"Sejak kapan aku jadi kakakmu!!" protes Steven kesal
"Udah jangan berisik!!" gerutuku kesal
"Apa benar Sani itu raja vampir senior?" tanya Bi tidak percaya
"Ya dia raja" gumam Steven dingin
"Bukan, Steven yang raja"
"Sani rajannya"
"Steven rajanya"
"Ku aduin kakek kalau kamu tidak mengakuinya Sani!!!" protes Steven kesal
"Aduin aja, kakek juga gak ada disini.. Weellkkk" sindirku menjulurkan lidahku
"Saaanniii..." gerutu kakek berdiri lantai atas sambil menatapku dingin, kakek juga ditemani oleh tetua vampir junior di lantai atas
"Tuh kakek diatas...Hahaha" tawa Steven kencang
"Apa sih..." gerutuku kesal
"Tetua apakah Sani..." tanya Bi yang kebingungan
"Ya dia raja vampir" gumam kakek santai
"Apa sih kakek!!" protesku kesal
"Emang kamu raja vampir senior Sani!!"
"Aaah kakek selalu buka kartu!" gerutuku kesal
"Sani apa boleh aku melihat wujud vampirmu"
"Buat apa?" gumanku dingin
"Hanya ingin melihat saja, aku sedikit tidak yakin"
"Tidak perlu.."
"Udah biar aku saja yang menunjukkannya kepadamu" gumam Steven menjentikkan tangannya yang membuatku merubah wujud menjadi wujud vampir yang membuat seluruh vampir menunduk sopan kearahku
"Emang Steven ngeselin" gerutuku kesal
"Kamu raja vampir Sani dan kamu harus mengakui itu"
"Bodo ah... punya kakak sepupu berisik banget..." gerutuku kesal
"Ee.. Mmm yang mulia maaf kalau saya lancang"
"Tidak apa, santai saja. Anggap saja aku teman" gumamku santai
"Tapi..."
"Lakuin saja. Jangan terlalu sopan kepadaku, anggap saja aku temanmu..."
"Ohh hmmm baiklah..." desah Bi pelan
"Oh ya katanya pergantian raja, emang siapa yang menjadi rajanya sekarang?" gumamku mengambil segelas darah yang ada di atas meja. Karena wujudku vampir yang membuatku haus akan darah, tapi untungnya mereka sudah menyiapkan beberapa makanan vampir di atas meja
"Ini Bi The yang menggantikan Win"
"Bi ini?" tanyaku terkejut
"Iya yang mulia, pesta ini sekalian menjadikan saya raja. Saya sangat berterimakasih yang mulia berkenan hadir"
"Ya hanya kebetulan saja, kalau suamiku gak datang aku juga gak bakal datang..."
"Dia temanku di alam manusia, ya aku harus mendatangi undangannya"
"Di alam manusia? Apa tuan Han vampir?"
"Bukan, dia De...." tangan Han membekam bibirku dengan cepat yang membuatku terkejut
"Bukan, aku manusia"
"Manusia? Tapi apa tuan Han tidak takut? Istri tuan seorang raja vampir?" gumam Bi bingung
"Ya aku tahu, tapi namanya cinta ya mau bagaimana lagi. Bagaimanapun keadaan pasangan kita kalau sudah cinta ya akan tetap cinta" gumam Han melepaskan tangannya dan merangkulku lembut
"Tapi kan yang mulia juga dewa, tuan... Apa anda tahu tentang itu?"
"Dia tahu... Dia juga dewa" gumamku pelan
"Tuan Han dewa?" tanya Bi terkejut
"Kenapa kamu bilang sayang?"
"Ya biar mereka tahu saja" gumamku pelan
"Hmmm... Sayang - sayang" desah Han pengacak rambutku
"Tuan Han dewa? Oohh.. Mmm maaf dewa kalau ada perilaku saya selama ini lancang" gumam Bi menundukkan badan kearah kami
"Tidak kok, santai saja. Anggap saja aku temanmu" gumam Han tersenyum dingin
"Oh mmm baik tuan" desah Bi membalas senyum Han
Bi terus memandangi aku dan Han dengan tatapan yang sedikit terkejut. Rasa canggung pun muncul, bahkan banyak vampir junior yang menatap kami dengan terkejut. Win menepuk bahu Bi dengan pelan dan mencairkan suasana yang sedikit canggung ini
"Oh ya, silahkan dinikmati hidangannya tuan dan nyonya" gumam Win keras dan membuat semua vampir berjalan meninggalkan kami
"Silahkan menikmati pesta ini yang mulia..." gumam Win dan Han mengangguk kepalanya pelan dan Win meninggalkan kami bertiga.
__ADS_1
Setelah semua vampir pergi, Han dan Bi mulai berbicara bersama kembali sedangkan aku mengambil gelasku dan berjalan menuju ke jendela gedung dan menatap bulan purnama yang indah di depan kami. Tidak tahu kenapa tatapan Bi membuatku sedih dan mengingatkanku kepada seseorang tapi aku tidak tahu siapa seseorang itu..