
Di lembah kematian banyak kaum yang bertarung satu sama lain untuk bertahan hidup tapi tidak ada satupun yang berani melawan kami berempat, mungkin banyak yang takut dengan Huan jadi selama kami di lembah kematian tidak ada satupun yang berani berhadapan dengan kami
Sudah berminggu - minggu kami berada di lembah kematian dan kami hanya melawan beberapa kaum yang menyerang kami, sekuat apapun kaum yang menyerang kami mereka tidak ada apa - apanya dan hanya sekumpulan semut yang nekat
"Malam ini kita istirahat saja dulu" gumam Huan pelan
"Baiklah, aku dan Steven akan mencari makanan yang bisa di makan. Sani kamu bersama dengan raja Huan dulu ya" gumam Candra dan Steven menghilang
"Baiklah..." desahku terduduk di depan Huan
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" gumam Huan dingin
"Aku tidak menatap anda, aku hanya menatap bulan yang ada di belakang anda" gumamku pelan
"Bulan? Kenapa dengan bulan?"
"Tidak ada, hanya bingung kenapa bulannya tetap berwarna merah seperti itu" desahku pelan
"Tidak tahu, kau kan dewa coba tanyakan dewa bulan" gumam Huan berbaring di tanah
"Sudah, tapi... Tidak ada jawaban"
"Ohh..." desah Huan memejamkan kedua matanya
Disaat aku menikmati bulan, ada seseorang yang melukai tanganku
"Aauu..." rintihku kesakitan
"Kamu kenapa?" tanya Huan terkejut
"Ki... Kita diserang..." gumamku pelan saat melihat banyak kelompok dari kaum lain mengelilingi kami
"Biar aku saja yang menanganinya" gumam Huan beranjak dan menyerang beberapa kelompok itu dengan kesal
Aku melihat Huan sedang bertarung dengan wajah kesal dan menggunakan kekuatannya yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Apa dia melindungiku?" gumamku pelan
"Huuuh menggangguku saja!" gerutu Huan kesal setelah menghabisi beberapa kaum yang menyerang kami
"Kenapa kamu seperti sangat kesal?" gumamku pelan
"Ya bagaimana aku gak kesal kalau aku waktu istirahatku di ganggu kaum lemah seperti mereka!"
"Namanya juga survival bukan berada di rumah"
"Ya aku tahu..." desah Huan berjongkok di depanku dan menghisap darahku yang keluar dari lenganku
"A... Apa yang kamu lakukan?" tanyaku terkejut
"Hanya menikmati darah segar saja" gumam Huan kembali ke berbaring di tanah, aku melihat Huan yang seperti santai bahkan tidak niat mengikuti survival ini
"Haish mana ada seorang raja terdahulu bisa malas seperti ini" desahku pelan, aku melihat luka di lenganku tiba - tiba sembuh dengan sendirinya
"Tunggu kenapa bisa?" bingung
"Huan memang bisa menyembuhkan dewa, jadi tidak heran kalau luka anda bisa sembuh dengan sendirinya"
"Oh begitu ya" desahku pelan
"Dewa istirahatlah, biar saya saja yang memarahinya" gumam Sunny bertukar kesadaran denganku
"Heehh Huan sialan, enak kali kau tidur... BANGUUUUNNNN !!!!" teriakku kencang dan membuat Huan terkejut
__ADS_1
"Astaga apa sih kau menggangguku juga!!" protes Huan kesal
"Heeh Huan sialan selesaiin survival ini baru kau tidur!!"
"Emang Sani cerewet!!"
"Aku Sunny tahu!!"
"Bodo amat, entah Sunny entah Sani sama saja!!"
"Cepat selesaiin Huan!!"
"Iya - iya bawel, aku juga butuh istirahat!!" protes Huan kesal
"Emang kau dari dulu tetap saja tukang males!" sindirku terduduk di sebelah Huan
"Aku tidak malas, hanya ingin istirahat saja" desah Huan pelan
"Hilih sejak kapan seorang raja terkuat istirahat"
"Kau juga raja terkuat Sani!!"
"Ku kan dah bilang, aku Sunny..."
"Sama saja kalian berdua" desah Huan pelan
"Huuuh terserah kau aja Huan ngeselin!!"
"Sani apa kamu merasakannya?"
"Merasakan apa?" gumamku berdiri dan melihat di sekeliling kami
"Tio ada didepan" gumam Huan dingin dan melihat di balik semak - semak seorang Tio yang menatap kami dingin
"Heeh... Kau tetap saja sombong Tio, membuatku sangat muak denganmu" gerutuku kesal
"Ternyata kau benar - benar Sunny"
"Aku bukan Sunny, aku Sani" gumamku dingin
"Oh benarkah? Tapi...Aku tidak percaya omonganmu Sunny!!" gumam Tio mengangkat daguku tinggi
"Jauhkan tangan kotormu di tubuh Sani!!" gerutuku menepis tangan Tio
"Kenapa kau terlihat sangat membenciku?"
"Kenapa? Kau membunuhku di masa lalu kau masih bilang kenapa!!!" protesku kesal, tiba - tiba Tio mencengkeram leherku dan menatapku dingin yang membuatku kesulitan bernafas
"Kaaau tetap saja membuatku kesal Sunny!! Mati saja kau!!" gerutu Tio kesal, aku melihat Huan yang sedang tertidur di bawah dan seperti tidak memperdulikanku
"Le... Lepasin... Aku gak bisa bernafas tahu!!!"
"Mati saja kau!!!" gerutu Tio mencengkeram leherku dengan sangat kuat
"Hu... Huan tolong aku!!" protesku kesal tapi Huan hanya mengerutkan dahinya
"Huan bodoh kau ingin aku mati apa!!" teriakku kesal tapi Huan tidak bereaksi apapun
Cengkeraman tangan Tio sangat kuat bahkan seperti cengkeraman penuh kebencian. Pernafasanku tidak teratur dan untuk bernafas terasa sakit, penglihatanku seperti televisi jadul hitam putih, cengkeraman Tio sangat menyakitkan
Nafasku sudah hampir diujung tanduk, aku hanya bisa pasrah kalau aku mati sekarang sebelum aku menyelesaikan tugas dewaku, aku menutup mataku dan meneteskan air mataku.
Tiba - tiba cengkeraman tangan Tio terlepas dari leherku, aku terjatuh di tanah dan berusaha bernafas dengan sekuat sisa tenaga yang aku punya
__ADS_1
"Uhhhuuukkk... Uuhhuukkk... Haaahhh... Haaahh" desahku mengatur nafasku yang sudah hampir habis
"Beraninya kau mau membunuh istriku lagi!!" gerutu Huan kesal, aku membuka mataku dan menatap Tio terjatuh di tanab sedangkan Huan berdiri di depanku dengan kesal
"Sejak kapan dia menjadi istrimu? Itu hanya tubuh Sani yang mengaku - ngaku Sunny!"
"Aku tidak peduli, di dalam tubuh itu ada jiwa Sunny jadi aku tidak akan membiarkan jiwa Sunny hilang lagi!!" gerutu Huan menyerang Tio dan Tio membalas serangan itu. Persaingan mereka sangat sengit dan mereka benar - benar sama - sama kuat
"Dewa, maaf aku tidak bisa menggunakan kekuatanku. Maaf buat dewa tersiksa"
"Tidak apa Sunny, makasih... Mungkin tanpa jiwamu aku sudah mati"
"Tidak masalah dewa, dewa bisa menahan serangan Tio agar Huan tidak langsung mati apalagi kekuatan dewa sangat besar walaupun hanya setengah jiwa. Jiwa saya sudah tidak kuat dewa, dewa bisa menggantikannya" gumam Sunny dan kami berganti kesadaran
Aku menatap Huan dan Tio terus bertarung bahkan di detik terakhir Huan terjatuh ke tanah dengan luka yang parah
"Hahaha... Kau tetap aja lemah Huan, mati saja kau!!!" teriak Tio bangga sambil membaca mantranya. Aku segera berlari di depan Huan dan membaca mantra pelindung untuk menjaganya
Kekuatan Tio sangat besar bahkan hampir merusak dinding penghalangku, aku segera membaca mantra dewaku dan menyerang Tio yang membuatnya terjatuh ke tanah
"Ka.. Kau!! Kenapa bisa?" tanya Tio terkejut
"Kenapa? Tidak perlu tahu kenapa! Beraninya kamu melukai Sunny dan melukai tubuhku yang membuatku kesal!!" gerutuku dingin
"Heeh aku tidak peduli!!" teriak Tio menyerangku tapi aku segera menangkisnya dan bertarung dengan Tio kembali. Pertarungan kami sangat sengit bahkan beberapa kali aku hampir terjatuh, kalau aku benar - benar terjatuh aku pasti sudah mati. Aku membaca mantra dewa tingkat tinggi dan membuat Tio terjatuh ke tanah
"Kaau... Awas kau!!!" teriak Tio berlari meninggalkan tempat kami
"Huuhh... Gitu aja kabur ... Raja terdahulu yang lemah" desahku mengatur nafasku, aku terduduk di sebelah Huan dan membaringkan tubuh Huan dengan benar, aku membaca mantra penyembuh untuk Huan
"A... Apa yang kamu lakukan?"tanya Huan terkejut
"Hanya menyembuhkan anda yang mulia raja" gumamku pelan
"Sani... Apa yang terjadi?" gumam Steven bingung
"Tio menyerang"
"Oh benarkah? Kamu tidak apa - apa?" gumam Steven merangkulku
"Sani kamu menggunakan mantra penyembuh dewa di tubuh vampirmu?" gumam Candra terkejut
"Ya.."
"Hentikan Sani!! Kamu bisa - bisa melukai jiwamu!!"
"Aku tidak apa..." gumamku terus menyembuhkan Huan. Setelah beberapa menit, akhirnya aku berhasil menyembuhkan luka Huan yang berat
"Sudah selesai... Uuhhuukk... Uuhhuukk..." desahku terbatuk - batuk, aku menatap tanganku yang berdarah
"Sani apa kamu baik - baik saja?" gumam Huan terkejut melihat darah di tanganku
"Tidak apa. Yang mulia raja istirahatlah" gumamku berjalan pelan
"Sani mau kemana kamu?" gumam Candra menahan tanganku
"Aku hanya ingin kesana saja, jaga yang mulia raja" gumamku melepaskan tangan Candra dan kembali berjalan
Menggunakan mantra dewa di tubuh vampir memang tindakan yang sangat bodoh tapi aku tidak bisa membiarkan raja terdahulu itu mati apalagi tugasku belum selesai semuanya
"Uuhhuukkk... Uuhhuuukkk"
Aku terus terbatuk - batuk setelah melakukan pengobatan untuk Huan, aku terduduk dan bersandar di bawah pohon sambil menikmati cuaca malam yang sangat dingin. Aku menatap bulan merah di atasku dan meneteskan air mataku
__ADS_1
"Han, Alan, Lyla aku rindu kepada kalian... Aku ingin sekali bertemu dengan kalian bertiga..."