
Pikiranku sangat kacau, aku tidak tahu aku harus berbuat apauntuk mengatasi masalah yang lebih parah karena keputusanku yang salah ini dan sekarang kekuatan dua orang raja yang menyebalkan ini sedang melemah. Bagaimana kalau penguasa utara datang dan menghancurkan dunia ini? Apa aku bisa mencegah tindakan dewa kehancuran itu? Apa yang harus aku lakukan dengan tubuh ini? Aku tidak tahu dan tidak mengerti aku harus berbuat apa, kalau aku salah mengambil keputusan kembali maka dunia ini akan kacau dan aku akan lenyap selamanya.
"Hei kaisar langit apa kamu masih sadar? Hei jawab aku!!" protes Steven membuyarkan lamunanku, aku menatap Sony yang bermuka sangat pucat dan sisa darahnya yang mengalir di bibirnya. Mungkin dia menggunakan mantar pembangkit roh tertinggi sehingga tubuh ayah dan ibu bisa aku sentuh apalagi tadi waktunya cukup lama pasti dia sudah kehilangan banyak darah
"Kamu kenapa diem aja Sani Bantu aku napa!!" protes Steven kesal
"Bawa aku ke istana langit" gumamku berusaha membopong tubuh Sony
"Haish tubuh lemahmu tidak akan kuat menahan bebannya tahu" gumam Steven menjentikkan tangannya dan kami berpindah ke kamar Sony di istana langit
"Letakkan dia di atas tempat tidur" gumamku pelan dan Steven menidurkan tubuh Sony di atah tempat tidur
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Steven bingung, tanpa pikir panjang aku mengambil tangan Steven dan menggoreskan kuku panjang Steven di leherku
"Apa yang kamu lakukan?" protes Steven terkejut
"Udah gak usah bawel" gumamku sedikit mengangkat tubuh Sony dan mendekatkan leherku di mulut Sony, Sony dengan cepat menghisap darahku seperti seseoang yang haus
"Hei kenapa kamu memberikan darahmu kepadanya?"
"Gak usah bawel kalau ingin dia hidup" gumamku pelan sambil menahan rasa sakit apalagi tubuh ini hanya tubuh manusia biasa
"Haish enak sekali dia mendapatkan darahmu sedangkan aku tidak. Aku sangat iri"
"Kamu sudah menghisap darahku kemarin ya" gerutuku kesal
"Itu cuma sedikit tahu"
"Itu banyak ya, kamu menghisap darahku kayak orang yang tidak pernah minum sama sekali
"Ya namanya juga vampir" desah Steven duduk di sofa
"Ya suah gak usah protes" gumamku sedikit memberikan kekuatanku untuk Sony agar dia bisa tersadar apalagi Sony sudah benar - benar kehilangan banyak kekuatannya
"Kalau kamu mati karena memberikan darahmu dan kekuatanmu kepada si kaisar langit itu aku tidak tanggung jawab" protes Steven
"Oh kamu tahu ya kalau aku memberikan sedikit kekuatanku?"
"Itu terlihat banget di mataku tahu"
"Oh ku kira kamu tidak bisa melihatnya"
"Aku dewa sekarang, semua dewa bisa melihat kekuatanmu itu"
"Ya, ya aku tahu" desahku pelan
Tidak beberapa lama kemudian, tangan Sony bergerak - gerak dan dia membuka matanya dengan tubuh yang sangat lemah
"Kamu kenapa memberikanku darah dan kekuatanmu lagi kan aku sudah sering melarangmu!!" protes Sony melepaskan bibirnya dari leherku
"Haish bawel banget sih, aku hanya memberikanmu sedikit tidak seperti dulu. Apalagi itu tidak berguna sama sekali hanya bisa menyadarkanmu saja" gumamku menidurkan SOny dan duduk di sebelah Sony
"Lain kali kamu jangan melakukan itu, tubuhmu lemah tahu"
"Ya aku tahu, yang penting kamu sadar saja sudah cukup buatku" gumamku pelan
"Aku sudah melarangnya tadi tapi dia keras kepala" gumam Steven berjalan ke arahku
"Dan bahkan dengan tubuh manusianya ini saja dia tidak bisa memulihkan lukanya sendiri" gumam Steven mendekatkan wajahnya di leherku dan sedikit menghisap darahku
"Hei kamu kenapa menghisap darahku juga!! Kan kemarin kamu sudah mendapatkannya" protesku
"Aku hanya mencicipi sedikit, kenapa kamu begitu pelit" protes Steven menyembuhkan luka yang ada di leherku
__ADS_1
"Dan aku hanya menyembuhkan lukamu saja" gumam Steven kembali duduk di sofa
"Mmm bagaimana aku bisa mendapatkan tubuh asliku kembali?" gumamku pelan
"Itu tidak mungkin bisa, tubuhmu yang lama sudah ancur berkeping - keping"
"Kalau dengan tubuh ini aku tidak mungkin bisa membantu kalian mengalahkan penguasa utara"
"Sebenarnya bisa saja sih" desah Sony menatapku
"Bisa? Caranya?"
"Ya harus ada yang berkorban entah aku atau Steven atau raja yang lain"
"Berkorban? Maksudnya?"
"Ya menukarkan nyawanya untukmu itupun kalau dia bersedia memberikannya kepadamu"
"Apa itu satu - satunya cara?"
"Ya, bisa dibilang seperti itu"
"Kalau aku sih gak mau, kamu aja tidak peduli denganku" gerutu Steven dingin
"Iihh siapa juga yang mau" gerutuku kesal
"kalau aku sih tidak masalah menukarkan nyawaku denganmu," gumam Sony santai
"Tidak... Tidak boleh" protesku
"Kenapa juga, kamu juga mempertaruhkan nyawamu untukku"
"Ya memang tapi setelah itu kalian berdua membangkitkanku lagi itu sama saja kita impas" gumamku pelan
"Oh tidak bisa, aku sudah pernah menyelamatkanmu sekali ya saat kamu kehabisan darah dulu " gerutuku kesal
"Hei itu beda ya!!"
"Itu sama saja tahu, udah tahu kamu lemah karena kutukan tapi memberikan darahmu padaku" gumamku santai
"Hmmp terserah" gerutu Steven kesal
"Sudahlah kalian berdua berantem mulu" gumam Sony berusaha terduduk
"Oh ya jadi kamu memaafkan kami?" gumam Sony menatapku
"Memaafkan? Tidak sama sekali" gumamku dingin
"Haish kamu keras kepala ya" desah Sony
"Emang manusia tidak tahu berterimakasih" gerutu Steven kesal
"Biarin weellkkk"
"Hmmm Sani mungkin kami berdua akan bertapa lagi utuk memulihkan kekuatan kami dan mungkin saat itu juga kamu bertemu dengan dewa kehancuran, jadi kamu harus jaga dirimu sendiri apapun caramu"
"Kamu mau meninggalkanku bertahun - tahun lagi?"
"Tidak bertahun - tahun, mungkin bisa berabad - abad"
"Kalau aku rindu kalian bagaimana?" desahku pelan
"Hahaha kamu mengakui kalau kamu merindukan kami ya?"
__ADS_1
"Sebenci - benci aku kepada kalian tapi aku sangat sayang kalian"
"Heeeh aku tidak mau berbagi cinta dengan si kaisar langit ya"
"Kamu atau kaisar langit sama menurutku"
"Tidak lah kami berbeda malah bertolak belakang ya"
"Ya ya terserah kamu"
"Hmmp kalian ini saudara tapi berantem mulu" desah Sony menggelengkan kepalanya
"Kalau aku kangen kalian bagaimana?"
"Kamu bisa bertemu kami kalau kamu bisa melakukan teleportasi seperti dulu, nantinya kami bertapa bersamaan di satu tempat jadi kamu bisa bertemu kami secara bersamaan"
"Dimana?"
"Ditempat pertapaanku dulu"
"Oh ya? Hmmm bagaimana juga aku bisa telepotasi"
"Kamu bisa tanya kakek atau atau Alex Candra mungkin dia tahu jawabannya apalagi Candra dan Alex adalah dewa" gumam Steven serius
"Apa bisa mengeluarkan kekuatanku dengan gigitan darimu? Dulu kan kamu menggigitku?"
"Kalau itu bisa terjadi gigitanku kemarin sudah membuatmu memiliki kekuatanmu yang dulu tapi buktinya kamu sama saja manusia biasa yang lemah"
"Mmmm benar juga sih, tapi kalau aku bertemu dewa kehancuran bagaimana?" desahku bingung
"Tenang saja teman sekelas akan melindungimu"
"Tapi kan mereka hanya manusia biasa" gumamku bingung
"Jangan salah, mereka itu raja - raja di seluruh alam ini. Makanya wali kelasmu tidak berani berbuat banyak kan saat kamu di buly teman - teman sekelas" gumam Steven santai
"Jadi yang di bilang Nana kalau aku dulu di hormati banget itu karena aku?"
"Ya benar karena kamu dewa penyeimbang dunia makanya mereka menghormatimu dan menjagamu" gumam Sony serius
"Kenapa aku tidak tahu? Kenapa kalian menyembunyikan banyak hal dariku?"
"Ya kamu sendiri sih seorang dewa yang tidak peka dengan sekitar" gumam Steven
"Ya kan aku tidak tahu kalau aku dewa"
"Jadi kalau kamu sudah tahu kebenarannya kamu harus menjaga dirimu. Paham!!" ucap Sony mengelus rambutku
"Ya aku paham yang mulia" gumamku mengangguk mengerti
"Baiklah, kami akan betapa kamu harus menjaga dirimu ya"
"Kan kamu masih lemah kenapa gak besok atau minggu depan atau.."
"Atau selamanya? Gila aja apa kamu mau mati dua kali" protes Steven beranjak berdiri
"Tenang saja, aku tidak apa - apa. Kamu harus jaga dirimu, mungkin kami tidak bisa membangkitkan jiwa kami jadi kamu tidak akan bisa bertemu dengan kamu sebelum kami selesai bertapa" gumam Sony beranjak dari tempat tidur
"Makanya jadilah kuat " gumam Steven beranjak dari tempat duduknya
"Kamu harus menjaga dirimu apapun yang terjadi" gumam Sony dan Steven tersenyum kepadaku dan Steven menjentikkan jari tangannya yang membuatku kembali ke kamarku di asrama
"Jadi kalian meninggalkanku untuk yang kedua kalinya" desahku pelan
__ADS_1
Aku tidak tahu aku harus apa, apalagi dua raja itu pergi bertapa dengan waktu yang sangat lama. Ya memang itu hitungan waktu di Alam dewa dan alam lain tapi di dunia manusia itu sama saja berpuluh - puluh tahun menunggu mereka selesai bertapa. Pasti aku sudah tua kayak nenek - nenek saat mereka selesai bertapa kalau aku tidak bisa mengembalikan tubuhku yang dulu