Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 44 : Menangkap Dewa Iri Dengki


__ADS_3

Di dalam bangunan itu aku melihat banyak sekali kaum dari alam lain dan juga beberapa dewa yang sedang berjalan masuk ke sebuah ruangan di ujung bangunan ini


Han menggandengku masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Alan dan Lyla. Di dalam ruangan aku melihat semua kaum dari alam lain dan dewa terduduk di kursi yang sudah di siapkan


"Dewa agung silahkan..." gumam dewa alam baka


"Istriku.. Nanti maju aja kalau dipanggil yak..." bisik Han di telingaku


"Dipanggil kenapa?"


"Udah kamu maju aja..."


"Ooohh mmm baiklah" desahku berjalan ke arah tempat dudukku di area vampir


Di tempat dudukku aku melihat Nia yang sedang bersama dengan Tio sedang berbicara sesuatu yang membuatku penasaran. Aku menatap Han dan Han menatapku bingung


"Ada apa sayang?" gumam Han dalam hati


"Apa yang dibicarakan Nia?"


"Dimana Nia?"


"Itu di dekat raja peri terdahulu"


"Oohh... Mmm dia sedang merencanakan sesuatu. Aku ada beberapa bukti agar kamu bisa menghukumnya di depan para dewa. Jadi tugasmu akan lebih mudah sedikit..." gumam Han dalam hati sambil melemparkan sesuatu kepadaku. aku membaca perbuatan Nia selama pencarian para petinggi itu


"Oh makasih Han..." gumamku dan Han hanya tersenyum manis kearahku, aku harus memikirkan cara agar bisa memancing Tio berbicara


"Selamat datang di gedung dua alam. Saya Roi dewa alam baka. Disini yang mulia dewa agung, kaisar langit dan raja kegelapan ingin tahu apa yang sedang terjadi di alam lain selama beberapa tahun ini..." gumam dewa alam baka menatap kami dengan dingin


"Tidak ada apapun. Jadi para dewa tidak perlu khawatir" gumam Tio santai


"Hei... Kalian dari kerajaan peri yang memulai kejadian ini semua!!!" protes Bi kesal


"Ya benar!! Kalian juga yang membuat kami seluruh siluman kesal!!! protes Didi kesal


"Kalian dulu yang melakukan semua itu pertama kali!!!" protes Gio kesal


"Kalian para peri yang memulai dengan membunuh para petinggi kami!!!" protes Bim berdiri dari kursinya


"Kalian dari kaum siluman lah yang menculik semua para petinggi!!!" protes Vin membela


"Setelah semua di selamatkan oleh raja vampir senior, kalian lah para peri dan salah satu dewa yang membunuh para petinggi saat berada di perjalanan!!!" protes Candra dingin


"Tunggu... Dewa? Siapa?" tanya Roi bingung


"Mana ada dewa di kaum peri!!!" protes Tio dengan marah


"Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri!!!" protes Win membela Candra


"Bisa tenang tidak kalian!!" protes Roi tapi semua raja tidak mau mengalah


"DIIIIAAAAMMMMM!!!!" teriakku kencang yang membuat semua raja terkejut


"Kalian seorang raja tapi berperilaku seperti anak kecil saja!!" gerutuku berdiri di depan kursiku


"Diamlah Sunny ini bukan urusanmu!!" protes Tio menatapku dingin


"Sudah ku bilang aku Sani bukan Sunny!!" gerutuku kesal


"Menurutku kau tetaplah Sunnyku!!"


"Terserah kaulah!!! Aku tidak mau berdebat denganmu, yang aku ingin tanyakan adalah... Siapa wanita disampingmu?" gumamku dingin


"Dia hanya peri biasa..."


"Oh benarkah?" gerutuku pura - pura kesal, Tio terbang ke arahku dan mengangkat daguku tinggi


"Apa kamu cemburu?"


"Menurutmu?" gumamku dingin


"Dia hanya peri biasa bukan wanitaku... Kau lah wanitaku!!" gumam Tio mendekatkan wajahnya ke arahku, dengan cepat Huan mendorong Tio dan menarikku


"Dia milikku, tidak ku ijinkan kau mencium istriku!!!" protes Huan dingin


"Ooh apa kau ingin bertarung lagi untuk merebutkannya!!" gerutu Tio merubah wujudnya


"Tidak masalah!!" gerutu Huan merubah wujudnya


"Kalau kalian berdua sampai membuat seseorang terluka aku tidak sungkan membunuh kalian berdua!!" gerutuku kesal

__ADS_1


"Baiklah kalau wanitaku yang meminta..." desah Tio dan Huan mengembalikan wujud aslinya


"Aku hanya bertanya wanita itu siapa kenapa kamu begitu marah? Apa yang kamu sembunyikan?" gumamku menatap Tio kesal


"Dia hanya peri bìasa bukan wanitaku"


"Kalau dia peri biasa dia harus menunjukkannya kepada kami semua"


"Tidak mau!!! Siapa kamu? Beraninya menyuruhku!!!" protes Nia kesal


"Aku raja vampir senior, aku berhak menanyakan itu!!"


"Kamu tidak punya hak Sunny!!" protes Tio kesal


"Oohh aku tidak punya hak ya? Lalu kenapa kalian semua datang ke kerajaan vampir dan membunuh lebih banyak pasukan kami? Itu juga hakku sebagai raja tertinggi" gerutuku kesal


"Itu tidak ada hubungannya dengan wanita itu!!"


"Itu ada hubungannya!! Kami para raja tidak pernah tahu kehadiran wanita itu sebelumnya bahkan kelahirannya saja tidak tahu.. Apa lagi kenapa wanita itu ada di atas pohon dengan tertawa sinis saat pembunuhan di berlangsung?" gumamku dingin


"Mana ada? Aku tidak melakukan apapun!!"


"Oh benarkah? Aku tidak percaya" gumamku memancing Nia


"Apa kamu punya bukti Sani?" tanya Roi bingung


"Ya aku punya bukti..." gumamku menjentikkan jariku dan muncul rekaman video yang menunjukkan Nia sedang tertawa di atas pohon


"Ini kamu kan? Jadi mau alasan apalagi Nia?" gumamku dingin


"Nia? Jangan - jangan dia..." gumam seluruh dewa terkejut. Aku melihat Nia yang sedang membaca mantra ingin kabur tapi aku segera menghentikan waktu dan memasang borgol cahaya di tangannya yang membuatnya tidak bisa kabur


"Ka... Kamu siapa sebenarnya?" tanya Nia ketakutan


"Aku... Aku hanya raja vampir biasa kok"


"Ta... Tapi kenapa kamu bisa mengunci gerakanku, jangan - jangan kamu ..."


"Aku ya? Aku kan sudah bilang, aku hanya raja vampir biasa"


"Bohong!! Tidak mungkin raja vampir bisa menghentikan waktu seperti dewa penyeimbang!!"


"Aduh ketahuan deh..." desah merubah wujud dewaku


"Akhirnya aku bisa menangkapmu dewa yang bandel" gumamku berjongkok di depan Nia


"Am... Ampun dewa"


"Ampun? Setelah alam lain kamu rusak dan sekarang tertangkap kamu baru bilang ampun?" gumamku dingin


"Be... Berikan aku kesempatan lagi dewa penyeimbang yang baik"


"Dewa penyeimbang yang baik? Sejak kapan dewa penyeimbang baik?"


"Dewa penyeimbang dulu baik ya!!"


"Ya dulu, tapi sekarang dewa penyeimbangnya aku dan aku sama sekali tidak akan memberikanmu toleransi apapun Nia" gumamku dingin


"Dewa agung tolong aku..." teriak Nia menatap Han


"Aku tidak bisa menolongmu seperti dulu Nia, aku sudah memberikanmu kesempatan beberapa kali tapi kamu tetap saja berulah malah membuatku hampir membunuh wanita yang ku cintai dan juga ini sudah keputusan istriku..." gumam Han merangkulku lembut


"A... Apa? I.. Istri!!!" teriak Nia terkejut


"Roi bawa dia ke pengadilan alam baka!!" gumam Han dingin


"Baik dewa" gumam Roi membaca mantra dan Nia menghilang di depanku


"Kerja bagua istriku..."


"Yaah, tapi kurang beberapa dewa sifat lagi Han." desahku pelan


"Tenang istriku, kita lakukan perlahan saja ya"


"Hmmm baiklah" desahku pelan


"Oh ya Han aku ingin memberikan arwahku sekarang saja" gumamku pelan


"Arwah? Jangan dewa penyeimbang nanti anda bisa mati!!" protes Roi terkejut


"Ya... Kamu jangan lakukan hal yang menyebalkan itu lagi Sani!!" protes Candra kesal

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan mati kok tenang saja" gumamku menggigit jariku dan menempelkannya di dahi Han, aku membaca mantra pemberian jiwa yang pernah aku lakukan kepada Soni dahulu. Rasa yang sangat menyakitkan terasa seperti dulu, walaupun arwahku ada empat tapi memberikan dua arwah yang berbeda kepada Han lebih menyakitkan dari pada memberikannya kepada Soni


"Huuhh... Huuhh...Huuhh" desahku berusaha berdiri tegak


"Istriku kamu tidak apa?" tanya Han khawatir


"Ti.. Tidak apa, hanya capek saja" gumamku berusaha tersenyum


"Kamu memberikan kedua arwahmu?" tanya Han terkejut


"Tidak... Aku hanya memberikan arwah dewaku yang utuh bersamamu dan setengah arwah vampirku kepadamu"


"Kenapa kamu lakukan itu? Kan perjanjian kita hanya setengah arwah saja"


"Tidak apa Han, aku melakukan itu agar arwah yang di tubuhmu akan menjadi pengganti kalau tubuh ini mati..." desahku memegang tangan Han


"Hmmm kamu memberikan setengah jiwa Sani dan jiwa utuh Sain kepada Han membuat jiwa Sunnymu muncul" desah Candra menatapku kecewa


"Tidak apa, yang penting setengahnya ada di tubuh Han agar aku tidak merasa menyesal saat melakukan kesalahan nantinya" desahku mengatur nafasku


"Aku juga harus menjadi Sunny agar aku bisa menangani masalah raja vampir dan raja peri terdahulu. Kalau tubuh ini mati lagi seperti zaman dulu, aku masih punya jiwa utuh Sain dan setengah jiwa Sani untuk penggantinya" gumamku pelan


"Apa ini rencanamu sayang?"


"Ya, ini rencanaku Han. Jadi jaga arwahku baik - baik ya... Apapun yang kamu lakukan aku akan terus bisa mengawasimu" gumamku tertawa pelan


"Tapi kamu akan susah ke dunia dewa!"


"Tenang saja aku masih bisa mengubah wujud dewaku kok sayang. Apalagi walaupun aku memberikan arwahku yang utuh kepadamu tapi ada sisa arwah yang menempel di tubuh ini jadi aku masih bisa merubah wujud dewaku" gumamku serius


"Hmmm baiklah kalau begitu, aku akan jaga arwahmu sayang" gumam Han menggenggam erat tanganku


"Jangan khawatir sayang, kalau aku mati dengan tubuh ini kamu masih bisa membangkitkanku dengan tubuh yang lain" gumamku tersenyum


"Hmmm ya baiklah aku mengerti sayang" gumam Han mencoba tersenyum


"Baiklah..." desahku menjentikkan jariku dan waktu kembali normal


"Kenapa kalian berdua berdiri di depanku?" gumamku menatap Huan dan Tio di depanku


"Ee... Mmmm..." desah Tio bingung


"Mmmm..." desah Huan terduduk kembali di kursinya


"Kamu ngapain masih berdiri disini? Duduk sana!!" protesku menatap Tio kesal


"Sunny? Kau kah itu?" tanya Tio terkejut


"Bukan..."


"Tidak kamu benar - benar Sunny" teriak Tio senang dan berusaha memelukku tapi Huan langsung berdiri didepanku dengan kesal


"Jangan sentuh istriku!!" protes Huan kesal dan ya mereka berdua kembali bertengkar di depanku


"Kamu malah membuat mereka berdua bertengkar lagi istriku..." desah Han dalam hati sambil menatapku


"Tenang saja Han, ini masih permulaan, aku punya rencana lain. Fokuslah bertapa dan kedua anak kita..." gumamku dalam hati sambil tersenyum ke Han


"Ayah dengar tuh perkataan ibu..." protes Alan kearah Han dan membuatku tertawa pelan


"Iya - iya, ibu sedang ada urusan jadi kalian tidak boleh datang kepada ibu ya. Datang saja kepada ayah... Apa kalian berdua mengerti?" bisik Han yang terdengar di telingaku


"Baik ayah..." gumam Alan senang


"Emang apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku dalam hati menatap Han


"Ya gak tau nanti, kamu jangan khawatir sayang.. Apa yang terjadi di masa depan aku sudah tahu, jadi aku akan menyiapkan dengan matang sebelum aku bertapa" gumam Han dalam hati sambil tersenyum kearahku dan aku hanya tersenyum kearah Han


"Heei Sunny kamu memilih aku atau dia?" tanya Tio membuyarkan telepatiku dengan Han


"Apa sih kalian berdua? Pertanyaan yang konyol" gerutuku kesal


"Kamu harus memilih Sunny"


"Sudahlah. Ini sedang pertemuan kalian bisa diam tidak!!!" protesku kesal


"Tapi!!!" teriak Huan dan Tio bersamaan


"Kalau begitu aku bunuh diri nih"


"Eeh jangan - jangan... Mmm baiklah" desah Tio kembali ke kursinya dan Huan juga kembali terduduk di kursinya

__ADS_1


"Hmmm..." desahku pelan dan pertemuan di lanjutkan kembali


Selama pertemuan aku terus memikirkan apa yang harus aku lakukan kedepannya untuk menyeimbangkan alam lain dengan arwah yang hanya setengah, walaupun hanya setengah tidak masalah bagiku yang penting aku masih memiliki arwah cadangan di tubuh Han jadi aku tidak terlalu khawatir apalagi Han tidak akan mungkin merelakan aku mati dengan mudah. Jadi mau tidak mau aku tidak mau mengecewakan Han dan kedua anakku apalagi mengecewakan semua dewa yang mempercayaiku sebagai dewa penyeimbang


__ADS_2