
"Sayang...apa yang kamu pikirkan?" tanya Han menatapku bingung.
"Eee mmm tidak ada kok, hanya memikirkan tugasku saja..." desahku pelan.
Ya semenjak aku tahu keadaan yang sebenarnya yang di ceritakan dewa alam semesta saat itu benar-benar membuatku bingung, aku tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana apalagi waktu yang tepat untuk mengembalikan alam dewa ke bentuk semula.
"Jangan terlalu dipikirkan, keadaan sekarang sedikit nyaman untuk bersantai jadi jangan khawatir tentang tugas."
"Ba...baiklah sayang..." desahku mencoba tersenyum.
"Habiskan makananmu sayang, aku akan melakukan pertemuan sedangkan kamu harus menemui dewa alam semesta. Tadi dewa alam semesta bilang ingin menemuimu."
"Kan beberapa waktu yang lalu sudah bertemu. Ingin menemuiku kenapa?" tanyaku bingung.
"Entah, katanya dia ingin memberitahukanmu sesuatu nanti aku antar kamu sayang."
"Oh... mmm baiklah..." desahku melahap makananku.
"Sayang kenapa aku lihat kamu sedikit pemikir? Apa yang kamu pikirkan sebenarnya?"
"Eeehhh mmm tidak ada, mungkin hanya sedikit lelah saja."
"Hmmm benarkah? Kenapa aku tidak bisa membaca pikiranmu?" tanya Han serius.
"Karena aku tidak memikirkan apapun suamiku, aku benar-benar sedikit lelah, aku mengatakan serius loh !" ucapku berusaha meyakinkan Han.
"Hmmm baiklah, apapun yang menjadi kesulitanmu dan kebingunganmu kamu harus mengatakannya kepadaku, apa kamu mengerti!" ucap Han serius.
"Ya aku mengerti kok suamiku, jangan hawatir..."
"Baiklah, aku antarkan kamu menemui dewa alam semesta ya..." gumam Han yang menggendongku dan mengepakkan sayapnya pergi dari istananya. Di gendongannya Han, aku hanya menatapnya yang membuatnya menatapku bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Han serius
"Mmm aku ingin bertanya padamu boleh..."
"Bertanya apa sayang?"
"Apa yang akan terjadi jika alam ini berubah ke bentuk sebelumnya? Apa kita masih akan bersama?" tanyaku pelan.
"Kenapa kamu tanya hal itu lagi? Apa ayah yang memberitahukanmu?" tanya Han menatapku dingin.
"Ayah? Maksudmu dewa alam semesta ayahmu?" tanyaku pura-pura tidak mengetahui apapun.
__ADS_1
"Ya tetua adalah ayahku dan aku sebenarnya tahu hanya aku tidak pernah memanggilnya ayah seumur hidupku."
"Kenapa kamu tidak pernah memanggilnya sebutan ayah?" tanyaku penasaran.
"Ya karena...tetua adalah dewa tertua di alam dewa dan aku harus menghormatinya, jadi aku memanggilnya tetua. Oh ya...apa itu yang dari tadi kamu pikirkan? Apa yang tetua katakan padamu?" tanya Han serius.
"Dewa tidak mengatakan apapun kok, aku hanya masih penasaran saja Han, serius aku tidak berbohong!" ucapku menatap Han serius.
"Hmmm baiklah, ingat jangan melakukan aneh-aneh apa kamu mengerti!" ucap Han menurunkanku dari gendongannya.
"Ya aku mengerti kok suamiku."
"Baiklah aku pergi dulu ya..." gumam Han mengepakkan sayapnya pergi meninggalkanku. Belum sempat aku berbalik, aku dikejutkan dengan pukulan ringan dibahuku dari belakang.
"Eehhh!!" teriakku terkejut, aku segera memutar badanku dan melihat Al yang sedang berdiri di belakangku.
"Eehh maaf dewa kalau saya berteriak, saya tidak tahu kalau dewa di belakang saya..." gumamku segera menundukkan badanku.
"Apa aku mengagetkanmu?" tanya Al menatapku.
"Tidak terlalu kok dewa..."
"Oh mmm mari ikut aku Sani!" ucap Ai berjalan mendahului dan aku segera mengikuti Al dari belakang.
"Mmm mohon maaf dewa, kenapa dewa ingin bertemu dengan saya?" tanyaku pelan.
"Apa itu dewa?" tanyaku penasaran.
"Sebelum melaksanakan pengembalian wujud alam ini kamu harus mendapatkan enam kristal yang tersebar di tiga alam ini."
"Enam kristal? Kristal apa itu?" tanyaku penasaran.
"Kristal pembuka pembatas antara alam lain dengan alam dewa. Kristal itu adalah kunci untuk melakukan pengembalian wujud alam ini. Salah satunya Kristal yang dipakai oleh Han."
"Kristal? Han tidak memakai kristal apapun dewa."
"Ada, dia memilikinya tapi tidak dia gunakan sama sekali."
"Eehhh warna apa dewa?"
"Kristal warna biru kehitaman, Kristal itu disimpan olehnya. Coba cari di kerajaannya atau tanyakan kepada Wan dia pasti tahu."
"Ohh mmm baik dewa, lalu untuk kristal lain berada dimana dewa?" tanyaku pelan.
__ADS_1
"Aku tidak ingat yang penting coba cari kristal yang memiliki retakan berwarna putih di dalamnya seperti ini..." ucap Al menunjukkan kristal berwarna hitam bergaris putih di lehernya.
"Kenapa bentuknya seperti kristal yang di patahkan dewa?" tanyaku penasaran.
"Ini bukan dipatahkan tapi memang patah, kristal ini adalah kunci membuka pembatas itu agar alam bisa kembali ke bentuk semula..." gumam Al memberikanku kristal itu.
"Ke...kenapa anda memberikannya kepada saya dewa?" tanyaku terkejut.
"Bawa saja, simpan kristal itu dan jangan sampai hilang."
"Mmm ba...baik dewa..." gumamku menyimpan kristal itu dan kembali mengikuti Al yang kembali berjalan.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan Sani?" tanya Al serius.
"Tidak tetua, hanya Sani takut."
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Al serius.
"Saya takut jika kehilangan Han dewa, saya mencintainya melebihi siapapun apalagi lika likunya hidup saya dari manusia sampai saya sekarang seorang dewapun hanya Han yang..."
"Nak, pernah aku katakan kan kalian pasti akan bertemu di alam manusia dan aku yakin kalian akan berinkarnasi nantinya."
"Inkarnasi? Apa anda yakin dewa?" tanyaku terkejut.
"Enam puluh persen yakin. Emang kemungkinan terburuknya kalian tidak akan berinkarnasi dan lenyap bersama dengan alam ini tapi aku masih yakin kalian akan berinkarnasi menjadi manusia nantinya tapi pastinya dengan situasi yang sangat berbeda dan pastinya membutuhkan proses agar kamu bisa bertemu dengan Han."
"Tapi dewa..."
"Ingat Sani ini hanyalah alam hukuman, lihatlah alam dewa yang sangat kacau... lihatlah alam lain yang sangat kacau... dan lihatlah banyak makhluk dari alam lain dan alam dewa yang sering ke alam manusia yang seperti dunia dongeng ini? Ini semua adalah hukuman Sani bukan alam yang sebenarnya dan kamu pasti akan kelelahan mengatur tiga alam yang sudah tidak mungkin bisa diatur lagi Sani!" ucap Al serius.
"Sani mengerti dewa, tapi... kapan kita bisa melakukannya?" tanyaku serius.
"Nanti akan ada perang yang sangat hebat dan saat itulah semua dewa bahkan Han akan terluka parah jadi kita bisa melakukannya nantinya Sani."
"Eeeh bagaimana dewa bisa mengerti masalah itu?"
"Aku dewa alam semesta, masa depan alam dewa aku bisa melihatnya. Walaupun aku tahu kamu masih bimbang karena Han yang menolaknya tapi nantinya kamu akan melakukannya sebelum Han benar-benar mati."
"Mati? Bukannya Han abadi? Kalau Han mati apa yang terjadi?" tanyaku penasaran.
"Malaikat memang abadi, tapi mereka bukan malaikat murni jadi mereka tidak abadi. Kalau Han mati dia akan lenyap dan tidak berinkarnasi, untuk membuatnya bisa berinkarnasi kamu harus melindunginya dengan separuh jiwa yang ada di tubuhmu dan di tubuh Han, kalau tidak kamu akan kehilangan bahkan melupakan Han selamanya!!" ucap Al serius yang membuatku terkejut.
"Oh mmm baiklah dewa, Sani mengerti dewa. Mmm apa ada yang ingin anda katakan yang lainnya dewa?"
__ADS_1
"Tidak... Aku hanya ingin memberitahukanmu masalah itu saja, mmm Wan sebentar lagi datang jadi tunggu saja disini, aku ambil sebuah barang sebentar..." ucap Al masuk ke dalam sebuah ruangan.
Aku berjalan ke arah ujung bangunan ini sambil melihat langit di dunia dewa yang berwarna sedikit menghitam dan benar-benar seperti kacau, sejujurnya aku bimbang kalau akan ada perang yang membahayakan nantinya lagi pula untuk kehilangan Han... aku benar-benar tidak sanggup, aku ingin terus memiliki Han selamanya!