Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 52 : Hidup Kedua Kalinya


__ADS_3

Deeeg... Deeegg... Deeeg.


Jantungku berdetak pelan, leherku terasa seperti tercekik kuat. Aku membuka mataku dan berusaha untuk bernafas dengan lancar. Mati untuk ke dua kalinya membuatku sangat menderita.


Uhhuuukkk... Uuuhhuukkk...


"Ibu... Ibu sudah sadar?" teriak seorang pria di sampingku sambil menggenggam tanganku. Aku menatap pria itu dan ternyata dia anakku Alan dan Lyla yang sedang berdiri di sampingku.


"Ayah... Ayah... Ibu sudah bangun!!" teriak Alan kencang.


"Kamu sudah sadar istriku?" gumam Han muncul di sampingku.


"Han? Uhhuukkk... Uuhhuukkk.."


"Ibu... Ibu kenapa?" tanya Alan khawatir.


"Ee.. Mmm tidak ada apa-apa kok anakku." gumamku tersenyum lemah.


"Alan ... Lyla kalian ambilkan makanan untuk ibu ya, biar ayah yang menjaganya." gumam Han mengusap lembut rambutku.


"Baik ayah!" ucap Alan dan Lyla keluar dari kamar.


"Kamu baik-baik saja istriku?"


"Eee.. Ya sedikit terasa sakit saja dadaku." gumamku pelan.


"Ya kamu terluka pedang penghancur jiwa. Untung kamu adalah seorang dewa kalau tidak pasti kamu akan mati."


"Lalu Sunny?"


"Dia mati bersama dengan tubuh vampirmu."


"Ohhh begitu ya..." desahku menyandarkan kepalaku di dada bidang Han.


"Han aku sangat merindukanmu."


"Hmmm aku juga merindukanmu istriku." gumam Han memelukku erat


"Aku takut, aku takut kamu melupakanku dan meninggalkanku sendirian." tangisku pelan.


"Sayang... Aku tidak akan melakukan itu, kamu wanita satu-satunya di sepanjang hidup dewaku, ingat!"


"Tapi kan kamu sekarang Malaikat tertinggi Han, kata Candra dan Steven kalau kamu menjadi malaikat tertinggi, kamu..."


"Ayah... Ini makanan untuk ibu!" teriak Alan membawa sebuah nampan di tangannya.


"Makasih ya anakku, sekarang waktunya belajar."


"Tapi kan aku ingin bersama dengan ibu!!" protes Alan kesal


"Setelah belajar dengan Kak Lyla kamu boleh bersama ibu."


"Baiklah, tapi ayah jangan ganggu tahu!!" gerutu Alan keluar kamar dengan kesal.


"Hmmm... Ya memang kalau aku berubah menjadi malaikat tertinggi aku kemungkinan akan melupakanmu bahkan melupakan anak-anak kita." gumam Han menyuapiku.


"Tapi dengan adanya jiwa dewamu yang melindungiku, aku setiap bertapa dan saat bertarung melawan musuh di alam bawah sadar aku selalu bersamamu, kita bersama melawan musuh itu." jelas Han pelan.


"Musuh? Musuh apa?" tanyaku bingung.


"Ya dalam pertapaan agung, kita para dewa akan melawan musuh sifat jelek diri kita sendiri dan aura negatif yang ada di seluruh alam, kalau aku tidak bisa melakukannya kemungkinan besar aku akan mati."


"Benarkah? Lalu jiwaku?"

__ADS_1


"Ya jiwa dewamu menjadi jiwa penggantiku, apalagi jiwamu sangat kuat istriku sehingga aku bisa menyelesaikannya dan tidak melupakanmu."


"Hmmm..." desahku memeluk Han kembali.


"Ada apa istriku?"


"Aku takut kehilanganmu Han...Aku..."


"Tenang saja istriku, aku tidak akan kemana-mana selama kita hidup aku tidak akan kemana-mana." guman Han mengusap lembut rambutku.


"Hmmm ..." desahku membenamkan wajahku di dada bidang Han.


"Istriku, makanlah lagi."


"Enggak mau, aku maunya denganmu!"


"Tapi istriku..."


"Gak mau!"


"Hmmm..." desah Han menggendong tubuhku dan mengubah wujudnya


"Han... Kita mau kemana?" tanyaku terkejut melihat sayap hitam milik Han.


"Kita jalan-jalan sebentar istriku." gumam Han mengepakkan sayapnya dan membawaku terbang keluar dari kerajaan dewa agung.


Di bawahku aku melihat pemandangan alam dewa yang sangat indah bahkan sedikit memiliki perubahan setelah aku tinggal di alam lain dalam waktu yang lama, tapi melihat alam dewa dari ketinggian ini membuatku sangat senang.


"Apa kamu menyukainya istriku?"


"Ya... Aku menyukainya!" ucapku senang.


"Oh baguslah kalau kamu menyukainya istriku."


"Ya walaupun kita mati dan berinkarnasi kembali, aku akan selalu denganmu istriku." gumam Han mencium keningku lembut.


"Baiklah, kita kembali ya. Kamu baru sadar nanti Alan dan Lyla mengkhawatirkanmu." gumam Han terbang menuju ke kerajaannya kembali. Han mengubah wujudnya dan merebahkanku di atas tempat tidur.


"Istirahatlah istriku. Aku.."


"Gak boleh, kamu harus menemaniku suamiku!" gerutuku memegang erat tangan Han.


"Tapi... Hmmm baiklah aku akan menemanimu istriku." desah Han berbaring di sampingku dan memelukku erat.


"Han ... Maksudnya malaikat tertinggi itu berkuasa atas seluruh alam bagaimana maksudnya?" tanyaku pelan.


"Mmm ya, kalau dewa agung adalah dewa tertinggi di alam dewa, raja terdahulu adalah raja tertinggi di alam lain. Sedangkan malaikat tertinggi adalah malaikat yang menguasai tiga alam sekaligus."


"Apa ada malaikat tertinggi selain kamu?"


"Ada banyak, tapi kebanyakan dari mereka tidak ingat masa lalunya masing-masing karena disibukkan oleh tugasnya masing-masing atau bahkan karena saat pertapaan mereka sudah melupakan masa lalu mereka."


"Tapi kenapa jiwaku tidak membuatmu melupakanku?"


"Karena aku menyatukan jiwamu dengan jiwaku istriku, dan jiwa yang selalu muncul di depanmu adalah jiwamu. Walaupun tidak bisa bertahan lama tapi masih berguna untuk memantau dirimu istriku."


"Memantau?" tanyaku terkejut.


"Ya, aku terkejut kamu masih bisa mengingatku dan bahkan merindukanku disaat hampir beribu-ribu tahun lamanya kamu tidak bertemu denganku."


"Beribu-ribu tahun?" tanyaku tidak percaya.


"Ya, coba lihat kalender." gumam Han menjentikkan tangannya dan muncul sebuah kalender di depanku, aku menatap tahun di kalender itu dan terkejut menyadari kalau sekarang benar-benar beratus abad kalender manusia aku berada di alam lain.

__ADS_1


"Ti.. Tidak mungkin!!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya istriku. Lihatlah anak kita saja sudah dewasa loh."


"Su... Sudah dewasa?" gumamku meneteskan air mataku.


"Sayang kenapa menangis?"


"Mmmm aku... Aku sedih Han, aku... Aku tidak menemani Alan selama ini, aku bukan ibu yang baik." tangisku kencang.


"Sayang... Kamu menemaninya kok, selama kamu di alam lain aku menggunakan tubuh ini untuk memasukkan jiwamu. Dengan begitu tanpa Alan sadari kamu menemaninya istriku."


"Tidak Han itu tidak sama, kasih sayang bayangan dengan kesadaran asli tidak sama!" protesku kesal.


"Ya aku tahu istriku, tapi Alan terlihat senang kok istriku bahkan Alan sama sekali tidak mengeluh."


"Tapi Han!"


"Ya aku tahu istriku sayang, kamu istirahatlah jangan memikirkan tugas dewamu dulu. Oke?"


"Hmmm baiklah.." desahku membenamkan wajahku kembali.


"Han bagaimana dengan dua dewa itu?" tanyaku pelan.


"Kamu baru sadari istriku, nanti saja."


"Aku hanya penasaran Han!"


"Mmm ya seperti biasa mereka masih bertengkar."


"Apa mereka tidak lelah apa?" gumamku pelan.


"Aku juga tidak tahu, aku saja capek melihatnya."


"Kamu sebagai malaikat tertinggi pasti punya cara Han"


"Walaupun aku malaikat tertinggi aku tidak bisa melakukan apapun istriku, itu tugas dari dewa penyeimbang. Tugasku hanya melindungi tiga alam seperti malaikat tertinggi lainnya."


"Ohh... Mmmm" desahku pelan.


"Sudahlah jangan khawatir istriku, ada aku disisimu."


"Yaaah kamu benar Han, aku memilikimu."


"Jadi jangan khawatir ya sayang."


"Aku tidak khawatir kok suamiku." gumamku menutup kedua mataku.


"Ayah... aku dan kak Lyla sudah selesai belajar... Nya" gumam Alan masuk ke dalam kamar.


"Ayah aku ingin bersama ibu!!" protes Alan kesal.


"Huusst ibu sedang istirahat, setelah istirahat kamu bisa bermain dengan ibu." gumam Han memainkan rambutku.


"Hmmm baiklah, nanti bilang kepadaku ya ayah kalau ibu sudah bangun!" gumam Alan pergi dari kamar.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu Han?"


"Kamu baru sadar, jadi kamu harus istirahat dulu."


"Tapi aku tidak apa sayang."


"Tidak boleh, kamu harus istirahat!"

__ADS_1


"Hmmm baiklah, temani aku ya suamiku." gumamku memejamkan kedua mataku dan tertidur di pelukan Han untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


__ADS_2