
Aku dan Sony berpindah kembali ke sekolahan itu beberapa minggu yang lalu itu dan membuaku melakukan rutinitasku yang menyebalkan itu, rutinitasku kali ini adalah kembalinya pelajaran yang membosankan. Pasti banyak yang bertanya, aku berkuliah kenapa bisa berabad - abad jawabannya adalah kelas kami kelas para dewa jadi kelas ini selalu ada walaupun beribu abad lamanya. Aku saja masih heran kenapa dewa - dewa lain bisa bertahan di kelas ini.
"Sali...!!!"
"Salii...!!!" teriak wali kelasku yang membuyarkan lamunanku
"I... Iya pak" gumamku terkejut, ya seluruhnya dewa, kecuali wali kelasku itu dulunya manusia yang mati karena kecelakaan dan akhirnya di hidupkan kembali oleh kepala sekolah terdahulu yaitu dewa kegelapan sebelumnya
"Coba jawab pertanyaan ini!!" tanya wali kelasku dan aku berdiri sambil melihat papan tulis
"Mmm jawabanya kekal abadi"
"Kenapa kamu jawab itu?"
"Karena dewa itu sama dengan malaikat, malaikat itu hidup kekal abadi.." gumamku santai
"Bagus... Benar jawabanmu, lain kali kamu jangan melamun!!"
"Baik pak" desahku terduduk di tempat dudukku
"Membosankan" desahku pelan dan menatap ke luar jendela
"Yang mulia..." gumam Wang berdiri di depanku
"Wang? Kenapa kamu disini?"
"Ada urusan penting yang mulia"
"Urusan penting.. Apa?"
"Mari kembali ke kerajaan yang mulia" gumam Wang panik
"Baiklah kamu kembalilah" gumamku pelan
"Ada apa?" gumam Sony dalam hati
"Aku ada urusan sebentar" gumamku pelan
"Pak izin ke belakang" gumamku melangkahkan langkah kakiku dan berpindah ke dalam ruangan cermin kehidupan
"Ada apa Wang?"
"I.. Inii yang mulia" gumam Wang menunjukkan seorang laki - laki tampan dengan tatapan dingin
"Siapa dia?"
"Dia dewa kehancuran yang mulia"
"Kenapa dia ada di dunia manusia?"
"Saya tidak tahu yang mulia, sepertinya dia sedang melakukan sesuatu sehingga dapat menghancurkan dunia manusia"
"Emang apa buktinya?"
"Itu yang mulia, banyak manusia yang saling membunuh dan melakukan perbuatan tidak baik bahkan alam di dunia manusia juga rusak"
"Oh baiklah, jangan bilang siapapun ya... Aku akan bertemu dengan dia"
"Jangan yang mulia, itu sangat berbahaya"
"Tenang saja, dia tidak akan bisa menyakitiku" gumamku merubah wujudku ke wujud dewa dan berpindah ke depan laki - laki itu
Laki - laki itu terlihat terkejut saat melihatku dengan wujud dewaku, bahkan dia mengerutkan keningnya sambil menatapku dingin
"Kenapa kamu kemari?" gumamku dingin
"Siapa kamu?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, mending kamu jangan mengganggu urusanku" gumam laki - laki itu dingin
"kamu akan mengacaukan dunia manusia sama aja itu urusanku dewa kehancuran" gumamku dingin
"Aaah kamu tahu tentang aku ya?"
"Tidak juga, kamu kan tidak terkenal buat apa aku mengetahui tentangmu"
"Oh begitukah?" gumam laki - laki itu mengubah wujudnya menjadi wujud dewa dan menyerangku dengan kekuatannya tapi aku masih bisa menagkisnya
"Hebat juga ya kamu, kamu dewa apa?" tanya laki - laki itu dingin
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu aku siapa" gumamku dingin dan menyerang dewa kehancuran itu dengan kekuaanku
Kami saling menyerang dan menghindar satu sama lain, aku menyerangnya dengan setengah dari kekuatanku tapi hal itu membuat tanganku terluka karena serangannya itu. Aku mencoba menyembunyikan tanganku yang terluka itu dan menyerangnya dengan menambahkan sedikit kekuatanku ternyata seranganku mengenainya dan membuatnya terjatuh ke tanah
"Waaaww kekuatan yang besar, tidak seperti dewa yang aku temui" gumam laki - laki itu pelan
"Oh benarkah? Ternyata dewa kehancuran hanya segini ya kekuatannya, tidak seperti yang dibilang dewa - dewa lain" gumamku merubah wujudku ke wujud manusia
"Ka.. Kamu Sali?" gumam laki - laki itu terkejut
"Bukan, aku bukan Sali"
"Tidak, aku tidak salah mengenalimu, kenangan laki - laki itu masih teringat jelas di otakku"
"Laki - laki itu? Siapa yang kamu maksudkan?"
"Dewa Kehancuran yang sebelumnya"
"Tunggu... Dewa kehancuran yang sebelumnya?" tanyaku terkejut
"Ya, aku adalah anaknya... Aku berhasil membunuh ayahku dan tidak ada yang tahu akan hal itu bahkan kaisar langit sekalipun"
"Haaah? Serius?"
"Ya aku berkata yang sesungguhnya, aku Moi Bram"
"Moi Bram?" gumamku bingung
"Ya benar, dan kamu Sali kan anak ayah dengan seorang wanita lemah itu?"
"Aku bilang aku bukan Sali, Sali sudah lenyap"
"Lenyap? Jangan - jangan kamu inkarnasi dari dewa penyeimbang itu ya?"
"Oh kamu tahu juga ya" gumamku dingin
"Ya siapa yang tidak tahu masalah itu, tapi tidak aku sangka dewa penyeimbang lebih cantik dari ibunya" gumam laki - laki itu berusaha berdiri
"Aku pikir dewa kehancuran itu sudah tua karena dia mencintai ibuku di masa lalu" sindirku dingin
"Itu ayahku bukan aku tahu!!!"
"Memangnya aku terlihat tua apa!!! Tapi tidak aku sangka dewa penyeimbang yang sekarang jauh lebih kuat dari dewa penyeimbang sebelumnya dan juga cantik" gumam laki - laki itu mengangkat daguku ke atas, mata kami saling bertatapan dan tatapan matanya itu membuatku teringat kenangan yang dialami Sali dengan dewa kehancuran itu
"Ayah kenapa kamu lakukan itu!!" gumam Sali sedih
"Aku jauh - jauh ke dunia manusia untuk mencari wanita idamanku tapi malah aku di bohongi manusia rendahan seperti ini!!" teriak dewa kehancuran kesal
"Ayah dia istrimu ayah" teriak Sali
"Diam kamu!!!" teriak dewa kehancuran mendorong Sali sampai terjatuh
"Dia anakmu kenapa kamu lakukan itu!!" protes Nyonya Lan
"Haah? Anak? Seharusnya aku punya anak dari wanita idamanku bukan dari wanita sampah sepertimu!!!" protes Dewa Kehancuran kesal
"Dan juga seharusnya dia tidak pantas hidup!!!" teriak Dewa kehancuran menyerang tubuh Sali dengan sebuah mantra sehingga Sali sangat menderita
Deeggg...
Tiba - tiba dadaku terasa sakit teringat kenangan yang dialami Sali, padahal dia bukan Bram dewa kehancuran yang dibicarakan orang - orang itu tapi kenapa rasa sakit itu masih terasa... Sungguh kejam laki - laki ini memberikan kesakitan yang menyakitkan seperti itu
"Kenapa ayahmu sejahat itu kepada Sali?" gumamku dingin, aku menahan rasa sakit di dadaku
"Karena dia tidak pantas hidup"
"Oh benarkah? Tapi dia saudaramu juga, kenapa kamu tidak menghentikan ayahmu"
"Saudara? Aku tidak sudi punya saudara manusia biasa seperti Sali, seharusnya aku punya saudara hebat sepertimu"
"Heehh... Maaf aku tidak sudi punya ayah atau saudara sepertimu" gerutuku melepaskan tangannya dari daguku
"Oh benarkah? Kebetulan sekali, karena ibumu sudah tiada dan kamu anaknya cantik juga lebih baik kamu menikah denganku"
"Menikah denganmu? Tidak terimakasih" gumamku dingin
"Kenapa? Apa karena kamu ...?"
"Ya aku permaisuri kaisar langit walaupun aku tidak mau tapi dia memaksaku terus apalagi banyak dewa - dewa lainnya mengejarku dan itu sangat menyebalkan" gumamku dingin
__ADS_1
"Oh benarkah? Pantas saja, kamu sangat cantik siapa yang tidak terpesona denganmu"
"Oh benarkah? Aku rasa aku jelek, masih cantikan Nyonya Lan" sindirku
"Kamu jangan bawa - bawa nama itu!! Walaupun itu urusan ayahku tapi mendengar nama itu aku sangat jijik"
"Kenapa juga, dia istrimu"
"Aku Moi Bram bukan ayahku Bram dan aku tidak mau punya istri seperti itu, lebih baik menikah denganmu"
"Aku? Menikah dengan seorang kakek - kakek? Iiihh lebih menjijikkan" sindirku geli
"Kamu bilang apa!!! Aku masih muda tahu bukan kakak - kakek" teriak Moi kesal
"Sama saja menurutku... Banyak orang yang memanggilku Sali padahal aku bukan Sali" gumamku santai
"Tidak, aku berbeda dengan ayahku. Dia lebih pengecut"
"Oh benarkah? sepertinya kamu yang lebih pengecut lagi"
"Apa kamu bilang!!!" teriak Moi kesal dan menyerangku tapi aku berhasil menghindar
"Heeeh? Berani - beraninya kamu menyerangku!!" gerutuku kesal dan menyerang laki - laki itu hingga dia terpental jauh ke belakang
Tiiitt.. Tiiittt
Suara jam tanganku berbunyi, ternyata aku waktu kelas akan segera habis kalau aku tidak segera kembali ke kelas pasti Sony akan mencariku
"Sumpah waktuku sia - sia untuk meladenimu" gerutuku kesal dan membalikkan badanku
"Hei aku belum selesai denganmu"
"Apa lagi? Aku tidak peduli denganmu"
"Oh benarkah.. Ngomong - ngomong apa kamu Sani? Saudara jauh Sali ?"
"Ya benar, kamu tahu juga ternyata... Walaupun aku tidak mengenal Sali tapi dia semarga denganku" gumamku dingin melangkahkan kakiku
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusanmu..." gumamku dingin
"Aku harap kamu tidak menghancurkan seluruh alam... Kalau kamu berani aku tidak segan - segan denganmu" gumamku dingin dan berpindah ke kampusku kembali
"Sani kamu dari mana saja!" ucap Sony berdiri di depanku dengan wajah dingin
"Hanya melakukan tugasku saja" gumamku pelan
"Tugas? Tugas apa?"
"Aku baru bertemu musuhku"
"Dewa Kehancuran?" tanya Sony terkejut
"Ya.."
"Apa kamu terluka? Bagian mana yang terluka?"
"Tidak terlalu serius, kamu tenang saja" gumamku pelan dan berjalan melewati Sony
"Kalau bertemu dengannya kamu seharusnya mengajakku"
"Ya..." gumamku pelan dan masuk ke dalam kelas yang sedang pelajaran itu dan mengikuti pelajaran kembali
"Moi Bram ya? Laki - laki yang menarik" gumamku menatap sepasang mata yang menatapku dari puluhan kilometer jauhnya.
"Ternyata dia menyadari keberadaanku ya" gumamku tersenyum dingin
"Siapa?" tanya Sony pelan
"Tidak ada apa - apa, itu tidak penting" desahku pelan
Aku terus menatap mata Dewa Kehancuran itu dengan tatapan dingin, tapi mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu kepadaku. Aku mengamati gerakan mulutnya dan memahami apa yang dia katakan kepadaku
"Kita akan bertemu lagi nanti Sani" gumamku memahami perkataan dewa kehancuran dan aku hanya tersenyum dingin
"Boleh, liat saja nanti" gumamku dingin
Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan dewa kehancuran. Walaupun dia bukan dewa kehancuran sebelumnya tapi aku harus berhati - hati dengannya, bisa jadi dia murka dan menghancurkan seluruh alam ini
__ADS_1