
Tujuh tahun berlalu semenjak aku hamil anak pertamaku dan sekarang anak pertamaku berumur 6 tahun lebih. Namanya Alan Shin, karena yang memiliki marga hanya aku jadi anakku mengikuti margaku. Alan Shin, Anak laki - laki yang tampan dan sangat kuat, anak laki - laki yang sangat manja kepadaku tapi sangat takut dengan ayahnya karena Han terus memaksa Alan untuk berlatih dengan giat dan itu membuatnya frustasi di usia yang masih muda
"Ibu... Ayah jaahaaatt..." teriak Alan berlari ke arahku
"Hei latihannya belum selesai tahu!!" protes Han kesal, Alan memeluk kakiku dan bersembunyi di belakangku
"Han kamu ini ya, dia masih kecil tahu kamu paksa terus sih" protesku menatap Han dingin
"Dia harus kuat agar dia bisa menjadi dewa agung!!"
"Haish Han, dia masih kecil tahu apalagi dia sudah termasuk hebat loh!!"
"Tidak cukup kuat Sani, dia masih lemah!!"
"Hmmm mending kamu ajak dia main saja dari pada berlatih..." desahku pelan
"Dari pada nanti anakmu membencimu loh" bisikku pelan
"Eehh.. Mmm baik - baik..." desah Han mengalah
"Alan mau main sama ayah?"
"Gak mau"
"Alan!!!" teriak Han kesal, aku langsung menarik telinga Han
"Sudah aku bilang kan, jangan meneriaki anakmu!!" gerutuku menatap Han dingin
"I... Iya ma... Maaf.." gumam Han pelan
"Hahaha..." tawa Alan keras saat aku memarahi Han
"Haish anak ini..." desah Han menggendong Alan
"Mau main sama ayah?"
"Gak mau, ntar ayah menyuruhku berlatih lagi..."
"Tidak, besok lagi aja berlatihnya"
"Tumben ayah tidak menyuruhku berlatih..."
"Yaaah mau bagaimana lagi ibumu yang memintanya, apa kamu senang tidak latihan?"
"Ya aku senang, aku sangat mencintai ayah kalau ayah tidak memaksaku berlatih terus" gumam Alan mencium pipi Han
"Haish tapi kamu harus terus berlatih tahu!! Kamu harus kuat, di luar sana banyak anak yang sangat kuat jadi kamu harus terus berlatih nanti kamu terluka kalau kamu tidak kuat, apa kamu paham?"
"Ya ayah aku paham..."
"Baguslah... Begitulah jadi anak yang penurut paham!"
"Ya ayah Alan paham"
"Kalau begitu kamu bersiap - siap sana anakku.." gumam Han menurunkan Alan
"Bersiap - siap? Emang kita akan kemana?" tanya Alan penasaran
"Kita akan ke sebuah pesta para dewa jadi kamu harus berdandan tampan loh ya..."
"Siap ayah" gumam Alan pergi ke kamarnya
"Han emang pesta apa?" gumamku bingung
"Biasalah pesta malam purnama, pesta yang dihadiri seluruh dewa. Sekalian pesta makan malam perayaan ulang tahun istri kaisar langit"
"Oh... Aku di kerajaan saja"
"Kamu harus ikut lah, aku tidak mau mengurusi Alan sendirian.." protes Han mengangkat daguku
"Apa kamu masih malas bertemu dengan Sony?"
"Ya...Dia terus mengejarku dan membuatku muak" gerutuku kesal
"Tenang saja ada aku sayang..." gumam Han menciumku lembut
"Hmmm baiklah sayang kalau kamu memaksa.." desahku merubah penampilanku
"Kamu masih saja cantik sayangku..." gumam Han merubah penampilannya dan menciumku dengan lembut
"Kamu masih saja suka menciumku" gumamku dengan wajah memerah
"Ya kamu istriku, jadi aku bisa menciummu dengan sesuka hatiku" gumam Han pelan dan menciumku kembali
"Eehheemm ayah nih mencium ibu mulu tapi tidak pernah menciumku!!" protes Alan kesal
"Sini anak ayah..." gumam Han menggendong Alan dan mencium pipi Alan dengan lembut
"Alan sayang ayah dan ibu" gumam Alan senang
"Kami juga sayang kamu anakku, ya sudah mari kita berangkat..." gumam Han menjentikkan tangannya dan berpindah ke depan sebuah pesta yang sangat mewah
"Waah ramainya..." gumam Alan terkejut
"Ya, jadi kamu harus terus dengan ayah dan ibu tahu. Kamu gak boleh pergi kemanapun sendirian!!" gumamku mengacak rambut Alan
"Baik ibu..." gumam Alan tersenyum manis
"Kalau begitu mari masuk..." gumam Han menurunkan Alan dan menggandeng Alan masuk ke dalam pesta yang mewah
Di dalam pesta aku melihat banyak dewa yang datang ke acara ini dengan membawa anak - anak mereka. Semenjak Han menikah denganku banyak dewa yang menikah juga sehingga banyak anak kecil di pesta ini
"Hai Sani!!" teriak Nana di depanku
"Oh hai Nana" gumamku menatap Nana
"Hai Sani junior"
"Aku Alan lah tante.." gerutu Alan kesal
"Hahaha dia suka ngambek kayak... ee... Mmm..." gumam Nana melirik Han
"Kenapa milirikku?" gerutu Han dingin
"Ya emang dia mirip dengan ayahnya" gumamku pelan
"Ya itu maksudku hahaha..." tawa Nana kencang
"Kamu disini juga ya? aku kira kamu tidak akan ikut"
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi Han memaksaku" gumamku pelan
"Kamu disini sendirian?" tanya Han penasaran
"Tidak dewa agung, saya dengan Bima..."
"Hormat dewa agung..." gumam seorang laki - laki tampan di depanku
"Bukannya kamu dewa hutan ya?"
"Ya benar dewa agung"
"Aah sekarang kalian berdua sedang dekat ya?"
"Hehehe... I... Iya dewa agung" gumam Nana malu - malu
"Ya udah cepetan nikah sana biar ada si junior" gumam Han tertawa
"Ya itu bisa diatur dewa" gumam Bima tersenyum
"Baiklah aku dan istriku mau ke dalam dulu" gumam Han menggandengku dan menggandeng Alan
"Baik dewa agung" gumam Bima dan Nana berjalan pergi
Di dalam sebuah ruangan besar aku melihat Sony dan Sasha yang sedang berdiri bersama dengan Lyla dan seorang anak laki - laki yang tampan sepertinya dia seumuran Alan . Semenjak Sasha aku beri hukuman tidak bisa berbicara sama sekali sekarang sikap dan perilakunya sudah sangat berubah menjadi dewa yang baik
"Kamu membawa hadiahmu?" bisik Han di telingaku
"Aku tidak membawa apapun.."
"Haish kenapa tadi gak bilang... Tahu gitu kita pergi membelinya dulu" gumam Han pelan
"Tidak perlu. Mungkin aku akan mencabut hukumannya saja"
"Secepat itu?"
"Ya, dia sekarang menjadi dewa kesialan yang baik jadi tidak masalah" gumamku pelan
"Apa agar Sony tidak mengejarmu lagi?"
"Ya itu juga termasuk" gumamku pelan
"Oh baiklah terserah kamu istriku" gumam Han pelan
"Apa kamu keberatan?"
"Tidak, cuma itu akan menjadi sumber pertikaian mereka"
"Kenapa?" tanyaku terkejut
"Ya kan Sony terus bermain wanita, pasti Sasha tidak akan terima. Sasha menahan sakit hati terlalu dalam jadi kalau kamu mencabut hukumannya mereka akan bertengkar hebat"
"Biarin lah. Sasha perempuan dan aku juga perempuan, aku tahu apa yang dirasakan Sasha jadi biarlah itu urusan mereka"
"Hmmm baiklah terserah kamu sayang" desah Han pelan. Aku, Han dan Alan berjalan menuju ke tempat Sony, Sasha dan kedua anaknya berdiri
"Eeh dewa agung..." gumam Sony sedikit membungkukkan badannya
"Berdirilah Kaisar Langit..."
"Ayah dia siapa?" tanya anak kecil sambil menunjuk Alan
"Dia Alan"
"Ibu dia sangat aneh"
"Nanti saja ya cerita kepada ibu" gumamku pelan
"Baik ibu.."
"Maaf ya Alan sedikit pemalu, siapa namamu?" gumamku menatap anak kecil itu. "Ya sepertinya dia mempunyai hal aneh di tubuhnya" gumamku dalam hati
"Aku Yuta..."
"Oh salam kenal Yuta" gumamku tersenyum
"Paman dan bibi datang juga ya" gumam Lyla tersenyum manis
"Ya, kan ulang tahun ibumu" gumamku tersenyum
"Paman ... Bibi aku ingin tinggal dengan kalian..." gumam Lyla pelan
"Kenapa?" tanyaku terkejut
"Bibi pernah bilang kepadaku kan kalau ayah dan ibu bertengkar atau tidak mencintaiku lagi, aku boleh ikut dengan paman dan bibi... Aku mencari bibi kemanapun selama beberapa tahun terakhir tapi aku tidak menemukan bibi" gumam Lyla pelan
"Kalau memang dia ingin bersamamu bawa saja dia" gumam Sony dingin
"Dia anakmu tahu!!" protesku kesal
"Aku bukan ayahnya, ayah dia seorang manusia yang saat di jalur berbahaya dulu" gumam Sony dingin
"Kamu juga melakukan hal yang sama Sony!!" gerutuku kesal
"Kamu selalu membahas permasalahan itu!!" protes Sony
"Emangnya kenapa? Kamu sendiri tidak terima kan kalau istrimu seperti itu juga!!" gerutuku kesal
"Hummp..." desah Sony kesal
"Benar kan bibi, ayah tidak menginginkanku lagi..." gumam Lyla bersedih
"Eeh jangan menangis..."
"Bibi aku ingin tinggal dengan bibi..." gumam Lyla sedih
"Nanti biar bibi pikirkan ya..."
"Gak mau, bibi harus mengijinkanku..." protes Lyla terus menangis
"Kamu ingin tinggal bersama kami, ada beberapa persyaratannya..."
"Apapun itu aku akan melakukannya, ini keputusanku!!..." gumam Lyla memotong pembicaraan Han
"Baiklah kalau itu keputusanmu, kamu boleh tinggal bersama kami" gumam Han pelan
"Benarkah? Terimakasih paman!!!" teriak Lyla senang, aku melihat apakah di tubuhnya ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak tapi ternyata dia bersih sepertinya memang Sony sangat membenci anak ini
"Sony apa kamu yakin?"
__ADS_1
"Ya bawa saja sana" gumam Sony dingin
"Oh baiklah, jadi kakak yang baik untuk Alan ya" gumamku pelan
" Baik bibi" gumam Alan senang
"Oh ya Sasha karena kamu selesai menjalankan hukumanmu dan hari ini ulang tahunmu jadi aku akan menghadiahimu sesuatu.." gumamku menjentikkan tanganku dan Sasha kembali berbicara
"Terimakasih dewa penyeimbang..." teriak Sasha senang dan memelukku erat
"Ee... Mmmm tidak perlu seheboh itu" gumamku terkejut
"Ma.. Maaf dewa, aku terlalu senang saja"
"Oh ya Sasha apa kamu yakin mengijinkan Lyla tinggal bersama kami?" tanyaku serius
"Ya kalau suamiku inginnya begitu dan anda tidak keberatan juga saya tidak masalah dewa, saya tidak ingin Lyla terus dimarahi oleh suamiku"
"Hmmm..." desahku menatap tubuh Lyla yang penuh bekas luka
"Baiklah kalau kamu tinggal bersama kami dan pamanmu jahat kepadamu bilang ke bibi ya.." gumamku mengusap rambut Lyla
"Ya ayah itu jahat loh, ayah sering memarahiku..." gumam Alan polos
"Ayah jahat ya?.." gerutu Han mencubit pipi Alan
"Huaaa ibu lihat ayah jahat.." teriak Alan memeluk kakiku lagi
"Ya seperti itulah kalau kamu tinggal dengan kami, apa kamu tidak keberatan?"
"Tidak, aku akan jadi anak yang baik" gumam Lyla polos
"Oh... Mmm baiklah kalau kamu tidak keberatan" desahku pelan
"Ibu... Lihat ayah, ayah jahat..." teriak Alan saat Han mencubit pipi Alan lagi
"Haaannn... Ini di pesta tahu!!" gerutuku melirik Han
"Iihh aku cuma main - main saja loh, kamu terlalu manjain anak"
"Kamu juga terlalu memarahi anak..."
"Iya deh iya memang wanita selalu benar" desah Han pelan dan menggendong Alan
"Hahaha kalian keluarga yang lucu ya.." desah Sasha tertawa
"Ya begitulah, ayah dan anak sama saja terlalu manja kepadaku"
"Hmmm.. " desah Sasha pelan
"Ada apa Sasha?"
"Ti... Tidak ada dewa, oh ya pesta malam purnama akan segera di mulai..." gumam Sasha mengalihkan pembicaraan
"Oh ya benar sebentar lagi dimulai... Mari sayang..." gumam Han menggandeng tanganku lengan lembut
"Mari Lyla" gumamku menggandeng tangan Lyla meninggalkan ruangan itu
"Mmm Han..." bisikku pelan
"Ada apa sayang?"
"Kenapa wajah Sasha terlihat sedih ya saat melihat kita?"
"Ya seperti perkataanku dulu Sony akan balas dendam atas perbuatannya Sasha dan dia benar melakukannya kan, apalagi pasti setelah ini akan ada pertengkaran hebat yang membuat langit surga menjadi hitam"
"Kenapa seperti itu?"
"Ya kalau dewa surga marah akan seperti itu, seperti kamu kalau kamu marah seluruh alam akan hancur seperti dulu" gumam Han mencubit pipiku
"Aauuu... Hmmm, jadi apa yang akan terjadi?"
"Ya pasti mereka akan terus bertengkar dan Sony akan menikah dengan dewi lainnya"
"Kenapa kamu tahu?"
"Aku tahu saja, setiap kaisar langit siapapun orangnya akan selalu menikah dengan banyak wanita"
"Oohh mmm Han apa kamu bisa melihat masa depan?" gumamku pelan
"Ya... Aku bisa melihat masa depan tapi aku tidak bisa melihat masa depan kita"
"Kenapa?" tanyaku terkejut
"Posisi kita sama dan kita sama - sama pengatur alam jadi ya kita bisa melihat apa yang terjadi di tiga alam di masa depan dan masa lalu tapi kita tidak bisa melihat diri masa depan kita sendiri, sama halnya kita bisa mengubah takdir seluruh alam tapi kita tidak bisa mengubah takdir kita sendiri. Apa kamu paham?" gumam Han menatapku
"Oh ya aku paham, tapi Han kenapa aku melihat ada yang aneh dari Yuta itu ya" gumamku pelan
"Ya ayah, Alan juga merasakan ada yang aneh dan menakutkan" gumam Alan menatap Han
"Anak kaisar langit dan raja kegelapan seperti itu, auranya berbeda dan itu yang harus kita waspadai apalagi..." gumam Han pelan
"Apalagi kalau paman dan bibi punya anak perempuan" gumam Lyla serius
"Apa maksud kamu?" tanyaku terkejut
"Ya benar kata Lyla, aku pernah bilang kepadamu kan sebelumnya kalau anak kita perempuan pasti banyak laki - laki yang ingin menikahinya dan anak kita tidak akan bisa mengubah takdirnya kalau kita tidak memberikan separuh jiwamu untuknya dan itupun hanya 30 persen keberhasilan dia mengikuti takdir darimu. Kalau gagal dia akan menikah dengan Yuta..." gumam Han pelan
"Tidak tidak tidak, tidak aku ijinkan!!" protesku kesal
"Makanya itulah kenapa aku melatih Alan dengan keras agar Alan bisa melindungi anak perempuan kita nanti" gumam Han pelan
"Paman, apa aku boleh melindungi anak kalian?" gumam Lyla pelan
"Kalau kamu mau silahkan saja, anggap saja anak kami itu adikmu juga"
"Baik paman" gumam Lyla senang
"Hmmm..."
"Apa yang kamu pikirkan sayang?"
"Tidak ada sayang, hanya kepikiran saja"
"Tenang ada Lyla dan Alan jadi jangan khawatir"
"Hmmm baiklah aku mengerti sayang" desahku pelan
"Mari kita segera pergi nanti banyak yang menunggu kita" gumam Han menatapku
__ADS_1
"Baiklah" desahku pelan dan berjalan bersama dengan Han
Ya aku hanya berharap agar Lyla dan Alan akan menjadi anak yang baik dan penurut dan juga menjadi kakak yang melindungi adiknya nantinya