
Di alam baka aku melihat banyak dewa yang sedang duduk di kursi masing - masing. Aku dan Han duduk di kursi kami dan menatap seluruh dewa yang hadir di tempat ini. Di depan kami aku melihat seluruh dewa tertinggi hadir bahkan dewi kesialan juga hadir dan duduk di sebelah kaisar langit
"Baiklah karena dewa agung dan dewa penyeimbang sudah hadir maka kita akan memulainya terlebih dahulu" gumam dewa alam baka serius
"Pertemuan kali ini bertujuan untuk mambahas pelaksanaan survival tahap dua karena dewa agung merasa survival tahap pertama gagal" gumam dewa alam baka pelan
"Gak jadi bahas peraturan yang baru?" tanya salah satu dewa
"Tidak, dewa - dewa tertinggi sepakat untuk tetap menggunakan peraturan lama walaupun membosankan" desah dewa alam baka pelan
"Lalu kamu mau tambahan apa?" gumam Han dingin
"Ya seharusnya ada hukuman siksaan bagi dewa yang bermasalah dewa agung seperti saat ini dewa agung" gumam dewa alam baka pelan
"Aku penuhi..."
"Beneran dewa?" tanya dewa alam baka terkejut
"Ya, itu tugas raja kegelapan"
"Oh baiklah, aku lebih suka menyiksa dewa" gumam Steven dingin
"Asiikkk, akhirnya ada tontonan seru nih"
"Yah benar, tontonan yang sangat seru jangan lupa buat popcorn dewa alam baka" gumam raja kegelapan santai
"Siap dewa, nanti aku buatkan popcorn yang sangat banyak" gumam dewa alam baka tertawa keras
"Dasar kalian berdua ..." desah kaisar langit pelan
"Eeehh kaisar langit dengar - dengar istrimu hamil ya?" gumam Steven dingin
"Ya aku juga mendengar berita itu..." gumam Candra menatap Sasha dan Sasha hanya tersenyum malu
"Ya ..." desah Sony pelan
"Kenapa kamu terlihat sedih kaisar langit?" gumam Candra polos, Sony menatapku dan menundukkan kepalanya
"Tidak ada" desah Sony pelan
"Hmmm..." desahku pelan, sepertinya Sony sangat menderita tapi kenapa Sasha begitu senang atau jangan - jangan ...
"Ada apa sayang?" gumam Han menatapku
"Tidak ada apa - apa"
"Silahkan dewa agung..." gumam dewa alam baka menatap Han
"Oh.. Baiklah untuk pelaksanaan survival akan diadakan beberapa hari lagi. Pengawas survival tetap seperti kemarin..."
"Heeh? Kenapa aku diikut - ikutkan lagi sih!!" gerutu Moi kesal
"Oh mau di..." gumam Han mengangkat tangannya
"Ba... Baik - baik aku ikut" desah Moi kesal
"Baguslah... Jadi, pelaksanaan survival ini akan dilakukan di lembah kematian..." gumam Han santai
"APA? LEMBAH KEMATIAN?" protes seluruh dewa yang hadir di tempat itu
"Ya kalian akan melakukannya di lembah kematian, seluruh dewa kecuali Sani dan Moi"
"Kenapa mereka berdua tidak ikut juga, itu tidak adil dewa" protes salah satu dewa kesal
"Ya benar mereka berdua kemarin juga tidak ikut"
"Benar... Mereka berdua harus ikut!!" teriak salah satu dewa kesal
"Ya benar..." teriak seluruh dewa kesal
"Aku ada alasannya kenapa mereka berdua tidak ikut serta, kalau dewa kehancuran ikut bukannya survival berjalan lancar tapi kalian akan mati karena dia apalagi dia pasti suka membuat kehancuran" gumam Han serius
"Ya aku ingin menghancurkan semua hahaha!! Ikutkanlah aku dewa agung" tawa Moi senang
"Sudah dengar kan dari dia sendiri"
"Hmmm..." desah salah satu dewa berpikir
"Dewa agung ikutkanlah aku..." ucap Moi memohon
"Tidak..."
"Haish pelit..." gerutu Moi kesal
"Lalu kenapa dewa penyeimbang tidak ikut serta?" protes salah satu dewa
"Karena dia ... Sedang mengandung anakku jadi aku tidak akan membiarkan dia dan anakku terluka" gumam Han dingin
"Oohh.. Mmm ... Maaf dewa" gumam dewa itu pelan
"Hamil?" tanya semua dewa terkejut
__ADS_1
"Ya dia istriku dan dia sedang mengandung anakku jadi tidak akan aku biarkan siapapun melukainya. Apa kalian mengerti?" gumam Han mengusap lembut rambutku
"Ba... Baik dewa kami mengerti" ucap seluruh dewa pelan
"Hmmm baiklah, lanjutkan dewa alam baka" gumam Han pelan
"Eeehh... Mmm baik dewa agung"
"Baiklah hari ini akan ada eksekusi dewa - dewa yang bersalah. Dewa neraka siapa yang akan melakukan eksekusinya?" gumam dewa alam baka menatap Steven
"Bawahanku yang akan melakukannya" gumam Steven santai
"Baiklah. Dewa pertama memiliki seratus kesalahan di luar tugasnya jadi dia harus mendapatkan 100 kali cambukan dari dewa neraka!!" teriak dewa alam baka kencang
Di depan muncul seorang dewa yang berjalan di tengah podium bersama dengan salah satu bawahan Steven
"Dewa neraka mau?" gumam dewa alam baka memnerikan popcorn
"Mau bangat... Aamm... Nyam" gumam Steven memakan popcorn itu
"Kalian beneran makan popcorn disaat seperti ini?" desah Candra menggelengkan kepala
"Kamu mau dewa kebangkitan?"
"Nah gitu dong, bagi - bagi kek" gumam Candra mengambil popcorn dari Steven
Di depan podium itu aku melihat bawahan Steven membawa sebuah cambuk yang besar dan panjang. Dewa itu mengangkat tangannya dan tanpa basa basi bawahan Steven langsung mencambukkanku
"Uuukkkkhhh... Aaaaaaaa..." rintih dewa itu kesakitan, aku yang menatap eksekusi ini tidak sanggup melihatnya. Aku menundukkan wajahku dan menutup telingaku
"Kamu kenapa sayang?" tanya Han menatapku
"A.. Aku tidak tega melihatnya" gumamku pelan. Tiba - tiba Han mendekat kearahku dan memelukku erat, wajahku bersandar di dada bidang Han dan tangannya merangkulku menutupi telingaku yang membuatku tidak bisa mendengar suara dewa itu
"Sudah, kalau kamu takut tidak perlu dilihat dan di dengarkan" gumam Han pelan dan aku hanya mengangguk pelan
"Hmmm maaf ya sayang aku tidak tahu kamu takut ..." gumam Han pelan
"Ti... Tidak apa - apa, aku bukan takut tapi tidak tega saja"
"Itu sama saja sayang"
"Heehh dasar manja, apa pantas istri dewa agung manja seperti itu!!" sindir Sasha dingin
"Apa katamu!!" protes Han kesal
"Yang aku katakan benar kan, seharusnya istri dewa agung itu kejam dan licik bukan seperti dia lembek dan penakut!!" sindir Sasha dingin
"Tolong dewa maafkan istriku, emang mulut dia tidak bisa di atur. Mohon salahkan saya..." gumam Sony pelan
"Heeei aku berkata yang sebenarnya!!" protes Sasha kesal
"Sudah lah Han, biarkan saja" gumamku pelan
"Tapi..."
"Sudahlah dia benar seharusnya aku sebagai istrimu seharusnya kejam dan licik bukan..."
"Tidak, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus tetap seperti sekarang ini!!" protes Han memotong pembicaraanku
"Baiklah kalau kamu memintanya" desahku pelan
"Dasar Lemah!! Tidak pantas kamu jadi dewa kamu pantas jadi sampah" sindir Sasha dingin
"Beraninya kamu menjelekkan istriku!!!" protes Han kesal
"Maafkan saya yang tidak bisa mendidik istri saya dewa.." gumam Sony terus meminta maaf
"Kamu sebagai suami seharusnya bisa mendidik istrimu dengan baik!!!" protes Han mengelus rambutku dengan lembut
Aku berusaha untuk menahan emosiku agar tidak mengacaukan pertemuan ini, tapi perkataan dia yang menyebutkan aku sampah aku tidak terima!!
Tiba - tiba tanah di alam baka bergetar hebat, langit alam baka berubah menjadi hitam pekat dan hujan deras mengguyur alam baka
"Ke... Kenapa ada gempa di alam baka? Apa ini ulahmu dewa kehancuran!!" protes Candra kesal
"Bukan, aku tidak melakukannya ya!!" protes Moi membela diri, semua dewa panik tapi karena Han masih duduk di kursinya seluruh dewa hanya bertanya dalam kebingungan
"Sayang..." desah Han menatapku, dia tahu kalau aku sangat marah tapi dia tidak berani melakukan hal apapun
Aku menatap Sasha dengan dingin dan berdiri dari kursiku, petir merah menggelegar kuat di atas kami
"Jangan - jangan Sani marah besar!!" gumam Steven menatapku yang sangat marah
"Sampah ya? Beraninya kamu mengejekku Sampah!!!" teriakku kencang dan petir menggelegar hebat
"Emang kamu sampah, kamu seharusnya tidak menjadi istri dewa agung... Kamu tidak pantas!!!" ejek Sasha dingin
"Sasha jaga omonganmu!!!" protes Sony kesal
"Apa? Kamu malah membela dia dari pada istrimu sendiri!!" protes Sasha kesal
__ADS_1
"Kamu jangan membuat Sani marah!!!"
"Kenapa? Dia hanya sampah, dia tidak bisa melukaiku!!" gumam Sasha santai
"Kamu!!!" gerutu Han berdiri, aku berusaha menahan Han apalagi ini adalah masalahku dengan Sasha dari dulu
"Sampah ya? Aku baru tahu kalau aku seperti sampah bukannya seharusnya kamu yang sampah semenjak kamu lahir kamu di bully di ejek di hina yang menjadikanmu dewa dan sekarang kamu menjadi dewa kamu menginjak - injak aku. Walaupun aku bukan istri dewa agung kamu tidak pantas menginjak - injak harga diri seluruh dewa!!" protesku kesal
"Hahaha, emang kenapa? Kalian semua seperti sampah yang tidak berguna. Seharusnya dewa agung memilihku menjadi istrinya bukan kamu!!"
"APA KATAMU?" teriak seluruh dewa terkejut ucapan Sasha
"Haaah, kamu pantas menjadi istrinya ya? Benarkah itu? Kamu saja merebut suami orang saat orang itu bertapa apa itu bisa di sebut pantas menjadi istri dewa agung?" gumamku dingin
"Hahaha kamu itu yang perebut istri orang dan juga sampah!!" teriak Sasha kesal
"Heeeh... Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menjelek - jelekkan seluruh dewa, di alam dewa juga punya aturannya sendiri. Kalau kamu melanggar aturan itu sama saja kamu SAMPAH!" gumamku dingin
"Heeh aturan? Aku tidak percaya aturan, apa hakmu memberikan aturan di alam dewa!!"
"Apa hakku? Aku pelindung tiga alam dan aku tidak membutuhkan dewa sampah sepertimu di alam dewa" gerutuku kesal
"Sani, tolong jangan lenyapkan istriku!!" gumam Sony memohon
"Apa yang kamu takutkan dia hanya sampah!!" protes Sasha memukul Sony
"Aku tidak sejahat dewa agung, hanya lebih kejam dari dewa agung dari pada aku"
"Heeh lebih kejam?..." gerutu Sasha kesal, aku menjentikkan tanganku dan membuat Sasha tidak bisa mengeluarkan suara apapun
Tanah yang tadinya bergetar sekarang menjadi normal dan awan hitam serta petir juga hilang dari langit alam baka, aku yang dari tadi berdiri dengan kesal sekarang duduk santai di kursiku
"A... Apa yang terjadi?" teriak salah satu dewa terkejut
"Lihat dewa kesialan tidak bisa berbicara lagi... Hahaha" tawa seluruh dewa membuat alam baka terdengar tawaan yang keras
"Mmm Sani apa yang kamu lakukan?" tanya Sony terkejut
"Aku ya? Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memberikan hukuman kepadanya. Dia selalu berbuat kesalahan dan bahkan mengejek seluruh penghuni tiga alam, sebagai penyeimbang tiga alam aku tidak ingin ada perusak tiga alam kecuali dewa kehancuran dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" gumamku santai
"Apa kamu punya bukti istriku melakukan kesalahan Sani?" protes Sony membela
"Aku dewa penyeimbang, aku tahu apa yang terjadi di seluruh alam. Apa yang tidak aku ketahui?" gumamku dingin
"Oh ya aku ingat, suku vampirku pernah mengadu kepadaku kalau ada dewa perempuan yang sering datang dan mengejek kaum vampirku!!" protes Steven kesal
"Ya benar, kaum iblis dan siluman juga protes kepadaku karena ejekan dewa kesialan membuat mereka sedih dan putus asa!!" protes Candra kesal
"Sudah tahu kan kaisar langit? Kalau dia menjaga perkataannya aku akan menoleransi dia ! Aku tidak masalah di ejek lemah dan sampah, tapi aku tidak terima dia mengejek seluruh alam ini" gumamku dingin
"Hmmm bersyukurlah kamu kalau istriku hanya memberikannya hukuman ringan, kalau istriku tidak melarangku tadi sudah aku lenyapkan istrimu" ucap Han dingin
"Hmmm... Baiklah, terimakasih Sani" gumam Sony membungkukkan badannya ke arahku
"Lain kali didik istrimu yang benar!!" protes Han dan Sony hanya mengangguk pelan
"Mmm... Tidak aku sangka dewa penyeimbang sangat berbaik hati" gumam salah satu dewa
"Ya dia sangat bijaksana"
"Terimakasih dewa penyeimbang..." ucap seluruh dewa membungkukkan badannya ke arahku
"Hmmm kerja bagus sayang"
"Aku hanya melakukan kewajibanku dan tidak lebih" gumamku santai
"Hmmm kamu memang istriku yang sangat bijaksana" gumam Han mencium keningku dengan lembut
"Hmmm..." desahku pelan
"Baiklah dewa yang selanjutnya!!" teriak dewa alam baka dan eksekusi terus berlanjut walaupun terjadi masalah yang besar tadi
Di depan aku melihat Sasha yang menundukkan kepalanya dan terlihat sangat sedih, aku sebenarnya tidak tega tapi aku berusaha untuk melindunginya dari siksaan seperti dewa - dewa yang di hukum saat ini
"Sani kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Steven menatapku
"Sebenarnya aku menghukum Sasha bukan karena aku marah dan kesal kepada Sasha, Sasha merebut Sony dariku juga aku tidak masalah. Aku memberikanmu hukuman karena aku peduli denganmu. Kami sama - sama wanita, aku hanya tidak ingin seorang dewa sombong dengan jabatannya dan lupa tugasnya yang membuat dewa itu mendapatkan siksaan darimu dewa neraka" gumamku pelan
"Oh padahal kalau dia terus melakukan kesalahan lebih dari 100 kali kita dapat tontonan yang bagus benar kan dewa alam baka" gumam Steven kesal
"Ya benar ... Seharusnya biarkan saja" gerutu dewa alam baka kesal, aku hanya menggelengkan kepalaku pelan dan menatap Sasha, setelah mendengarkan alasanku Sasha yang awalnya sedih sekarang sudah bisa tersenyum kepadaku
"Hmmm..." desahku pelan
"Sayang setelah ini kita pergi yuk" bisik Han di telingaku
"Kemana?"
"Nanti kamu akan tahu sendiri" gumam Han menatapku serius
"Hmmm baiklah" desahku pelan
__ADS_1
Setelah menghukum Sasha aku merasa sangat bersalah kepadanya tapi mau bagaimana lagi dari pada banyak korban dari perilakunya itu dan juga dia istri dewa surga seharusnya dia menjadi istri yang baik dan lemah lembut bukan seperti itu