
Tooookk... Toookkk... Ttookkk
Suara ketukan pintu yang sangat keras membuatku terbangun, aku melihat Han turun dari tempat tidur hanya menggunakan celana pendek dan membukan pintu itu
"Oh, ya aku baiklah..." gumam Han menutup kembali pintunya dan berjalan kearahku
"Siapa?" gumamku penasaran
"Bawahanku"
"Emang ada apa?"
"Tidak ada apa - apa, hanya memberiku surat pemberitahuan saja" desah Han kembali berbaring di tempat tidur
"Pemberitahuan apa?"
"Ada pertemuan sesi ke dua dari alam baka"
"Oh..." desahku menaikkan selimutku dan memejamkan mataku
"Kamu mau makan apa?"
"Nanti saja"
"Sekarang sayang, nanti kamu sakit"
"Hmmm baik - baik" desahku merubah penampilanku dan beranjak dari tempat tidur
"Kamu mau makan apa?" gumamku pelan
"Terserah kamu saja"
"Oh baiklah" gumamku melangkahkan kakiku ke cafe yang sering aku dan Nana kunjungi
"Hei Sani!!" teriak Nana senang
"Oh hai Na"
"Kamu sudah sembuh?"
"Ya baru baik beberapa hari ini"
"Oh benarkah? Syukurlah, mari makan denganku" gumam Nana menarik tanganku
"Tapi aku belum pesan"
"Tenang saja, udah aku pesankan kok" gumam Nana tersenyum
"Eeit... Sejak kapan kamu memesan makananku?"
"Barusan saja, sebenarnya buat Candra tapi dia datang telat. Jadi dari pada dingin mending buatmu"
"Tumben kalian barengan terus" gumamku memakan makanan di depanku
"Ya sekedar makan bersama, apalagi kamu jarang masuk kelas Sani"
"Mmm ya benar juga, tapi jangan sampai kamu jatuh cinta dengan Candra ya" sindirku
"Iisshh ogah, kayak gak ada dewa lain yang tampan apa!!" protes Nana kesal
"Eeh Sani, apa kamu tahu kaisar langit sudah punya anak?"
"Ya aku tahu, aku pernah bertemu dengannya. Namanya Lyla. Dia malah lebih dekat denganku dari pada dengan orang tuanya" gumamku melahap es krim di depanku
"Haaah benarkah? Kenapa bisa?"
"Kata anak itu sih Sasha dan Sony terus bertengkar" gumamku menyendok eskrim di depanku
"Kenapa? Bukannya itu pilihannya Kaisar Langit ya?" gumam Nana bingung
"Emang, tapi si kaisar langit tuh terus membanding - bandingkan aku dengan Sasha jadi Sasha marah kepadaku" gumamku santai
"Enggak mungkin ah, pasti anak itu berbohong"
"Awalnya aku berfikir seperti itu tapi saat aku mengantarkan anak itu kembali ke istana langit aku memang melihat mereka berdua bertengkar terus"
"Kasihan juga ya kaisar langit, padahal kalau dulu denganmu pasti dia sangat bahagia"
"Salah dia sendiri lah, aku bertapa malah bermain dengan laki - laki lain. Emang kurang kerjaan" gerutuku dingin
"Ya memang kamu bertapa tanpa pamit Sani dan tidak ada yang tahu kamu bertapa dimana"
"Aku bertapa di kerajaan siluman dan Candra yang menjagaku jadi tidak ada yang tahu"
__ADS_1
"Oh pantes saja, apalagi Candra orang yang pendiem banget. Dia mau berbicara kalau dengan kita - kita" gumam Nana meminum minumannya
"Oh ya... Kalau kamu kapan nih punya anak Sani?" sindir Nana
"Apa sih Na!" gerutuku kesal
"Jangan bilang kalian berdua belum melakukannya?" tanya Nana terkejut
"Siapa bilang? Kami sudah melakukannya" tawa Han yang tiba - tiba datang di sampingku
"Apa sih!!" gerutuku malu
"Waah benarkah? Gercep banget" tawa Candra yang terduduk di sebelah Nana
"Iya dong..."
"Apa sih kalian bertiga!!" gerutuku kesal
"Haish istriku malu ternyata" gumam Han mengelus rambutku lembut
"Menurutmu?" gerutuku kesal
"Ya, ya aku tidak akan membahasnya sayang" gumam Han mencium pipiku lembut
"Eeh ya dewa agung, kita ada pertemuan ke dua ya?" gumam Candra menyendok es krim milikku
"Hei ..." gumamku kesal
"Ya, tapi sepertinya akan ada pembahasan lain deh" gumam Han memakan es krimku
"Hei ini eskrimku!!" protesku kesal
"Minta dikit aja gak boleh, ntar aku beliin lagi" gumam Candra kembali menyendok eskrimku
"Pembahasan apa?"
"Peraturan alam baka terbaru dan pembahasan lainnya"
"Emang kenapa harus ada peraturan alam baka yang baru?" gumam Candra bingung
"Gak tahu, cuma kamu tanyakan sendiri..."
"Lalu pembahasan lainnya apa?" tanya Candra bingung
"Pembahasan masalah keseimbangan tiga alam"
"Emang, tapi untuk saat ini. Tapi kedepannya tidak akan" gumam Han dingin
"Emang kenapa? Apa masalahku dengan dewa kehancuran?"
"Lebih dari itu!"
"Apa itu?" tanyaku bingung
"Karena kaisar langit sudah punya anak dengan dewa kesialan itu. Kalau anak kalian lahir dan anak dewa kehancuran lahir akan muncul bahaya lebih parah dari dulu Sani" gumam Candra menyendok eskrimku
"Emang apa urusannya?" tanyaku masih tidak mengerti
"Jadi begini, kalau misalnya sesuai dengan keinginanmu untuk punya anak laki - laki dan perempuan secara otomatis anak laki - laki kita menjadi dewa agung penggantiku dan anak perempuan kita menjadi dewa penyeimbang sedangkan anak kaisar langit kan laki - laki, pastinya anak kaisar langit dan anak laki - laki kita akan memperebutkan anak perempuan kita. Dan kalau anak si dewa kehancuran itu laki - laki juga bisa saja akan bermusuhan dengan anak perempuan kita atau paling pahitnya anak dari dewa kehancuran akan memperebut anak perempuan kita. Apa kamu paham?" jelas Han menatapku
"Tidak bisa. Aku tidak mau anakku mengalami hal yang sama denganku" protesku kesal dan langit berubah menjadi hitam
"Ya makanya itu kita harus mengantisipasinya. Apalagi sebagai orang tua nantinya kita harua mengajarkan kekuatan kepada mereka agar bisa melindungi diri mereka sepertimu" gumam Han mengusap rambutku lembut
"Tapi Han, apapun yang akan kita lakukan. Itu akan sia - sia" gumamku pelan
"Kenapa kamu berfikir seperti itu Sani!" protes Candra
"Karena aku yang mengubah takdir dewa penyeimbang, kalau anakku menjadi dewa penyeimbang juga dia tidak akan bisa mengubah takdirnya dan dia akan melakukan dari awal yang menyakitkan sepertiku" gumamku pelan
"Kenapa kamu bisa mengatakan itu sayang?"
"Kan aku sudah pernah bilang kepadamu, aku aslinya bukan dewa. Kalau kembaranku tidak tersegel di dalam diriku aku pasti menjadi raja vampir kalau tidak aku menjadi raja iblis dan hanya ditugaskan melepaskan kutukan perjanjian jiwa Steven dan Leo" gumamku menatap keluar jendela
"Walaupun aku bisa mengubah takdirku belum tentu anakku bisa mengubah takdirnya dan bisa saja dia akan melakukan tindakan seperti dewa penyeimbang sebelumku. Kalau dia tidak sekuat aku pasti dia tidak akan bisa hidup lama. Apalagi raja kegelapan masih seorang raja vampir pasti anaknya juga punya keturunan darah vampir yang selalu haus darah, kalau anakku empat darahku tidak turun ke anakku pasti dia akan mati dibunuh"
"Aku bisa sekuat ini dan bisa hidup lama karena aku punya 4 darah campuran sekarang ini. Seperti apapun cara latihan anakku sekuat apapun dia, dia akan tetap lemah seperti dewa penyeimbang sebelumnya. Jadi percuma saja kamu akan melakukan antisipasi kehancuran seperti apapun" gumamku pelan dan tiba - tiba hujan deras dan angin mengguyur kota ini
"Ya benar kata Sani, aku mengenal Sani dari awal sebelum kami menjadi dewa" gumam Nana meminum minumannya
"Dia sangat menderita dulu, bahkan sebelum bertemu dengan kasiar langit ataupun dewa agung. Sani terus di buru di tiga alam ini bahkan manusia juga ingin membunuhnya. Kalau Sani tidak kuat dia tidak akan bisa bertahan hidup sampai sekarang" gumam Nana pelan
"Ya benar, itulah sebabnya aku sering melindunginya dulu saat masih belum menjadi dewa" gumam Candra pelan
__ADS_1
"Hmmmm..." desah Han pelan
"Kalau begitu ada satu cara..." gumam Han pelan
"Apa itu?" tanyaku terkejut
"Memberikan setengah jiwamu kepada anak kita nanti"
"Itu akan membuatnya..." gumam Candra terkejut
"Tenang saja, dia punya dua jiwa sekarang jadi tidak akan bermasalah" gumam Han mengusap rambutku
"Hmmm terserah dewa agung saja, saya hanya mengingatkan. Apalagi Sani belum pulih sepenuhnya dewa"
"Ya aku tahu, tapi itu hanya satu - satunya cara"
"Apapun caranya tidak masalah untukku" gumamku pelan
"Apa kamu yakin Sani?" tanya Candra terkejut
"Ya, apalagi itu masih lama. Dewa kehancuran dan raja kegelapan belum menikah jadi aku ada waktu memulihkan diriku"
"Hmmm terserah kamu saja Sani" desah Candra mengalah
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan dewa binatang ini?" gumam Han menatap Candra
"Dengan Nana? Oh hanya teman kok dewa agung"
"Oh benarkah? Tapi sepertinya kalian sangat dekat beberapa tahun ini" gumam Han
"Kami hanya teman kok dewa agung" gumam Nana tersenyum
"Oh aku kira kalian punya hubungan khusus"
"Tidak kok dewa"
"Oh ya dewa agung kapan pertemuan itu dilakukan?"
"Sebentar lagi. Tumben kamu belum menunggu disana? Biasanya kamu datang paling awal"
"Saya tidak menerima undangan tertulis dewa jadi saya tidak tahu"
"Ya emang undangannya lisan dan tidak tertulis"
"Oh pantas saja, hmmm" desah Candra pelan
"Apa semua dewa akan hadir dewa?" tanya Nana
"Ya benar, karena hari ini ada eksekusi dewa"
"Eksekusi dewa? Apa itu?" tanyaku penasaran
"Dewa yang melakukan hukuman kejahatan lebih dari dewa kehancuran maka dia akan di hukum cambuk oleh bawahan raja kegelapan"
"Siapa yang akan di eksekusi?"
"Ada beberapa dewa. Dan kemungkinan kita akan mengadakan survival kembali"
"Survival lagi?" tanyaku terkejut
"Ya tempat survival kemarin kurang menegangkan jadi kita akan mengubah tempatnya"
"Haaah..." desahku menyerah
"Tenang saja, dewa kehancuran akan membantu kita"
"Ya kalau tidak kamu ancam dia tidak akan mau"
"Hahaha ya pastilah"
"Mmm baiklah dewa agung kami berdua ijin berangkat sekarang" gumam Candra dan Nana bersamaan dan Han hanya menganggukkan kepalanya, aku menggenggam erat tangan Han yang membuat Han menatapku serius
"Ada apa sayang?"
"Aku kepikiran"
"Tenang saja, ada aku. Aku tidak akan membiarkan keluargaku menderita" gumam Han mencium pipiku lembut
"Tapi..."
"Tenang saja sayang, kita akan mencari cara, okey!"
"Hmmm, baiklah" desahku mengalah
__ADS_1
"Kita juga harus berangkat" gumam Han menggandeng tanganku dan pergi dari cafe itu
Di dalam pikiranku masih terpikirkan masa depan aku dan Han dan juga masa depan anak - anakku nanti, aku tidak akan membiarkan anakku menderita sepertiku...