Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 15 : Terluka


__ADS_3

Pagi ini badanku terasa sangat capek bahkan lebih capek dari hari - hari biasanya, bahkan aku beristirahat di istana langit pun belum menyembuhkan rasa capekku ini. Mungkin karena tubuhku ini tidak kuat menahan kristal merah jadi terasa sangat remuk seluruh tubuh.


"Sani... Bangun"


"Apa sih" gerutuku kesal


"Ayo kembali..."


"Aah kamu sendiri aja aku capek"


"Makanya jangan berlatih terus menerus"


"Aaah bawel, bukan karena berlatih... Mungkin karena kristal merah ini" gumamku pelan


"Makanya ayo kembali, sebentar lagi pelajaran di mulai"


"Haaah iya - iya bawel banget" gumamku merubah tubuhku menjadi tubuh manusia dan berpindah ke area kampus


Setelah kami sampai aku melihat awan di kampus ini terlihat sangat hitam dan terlihat sangat menakutkan, aku menatap Sony yang sedang mengerutkan keningnya, tatapannya sangat tajam melihat ke depan kami. Aku melihat di depan kami ada seorang laki - laki tampan yang usianya sepetinya seumuran denganku berdiri dengan tatapan dingin


"Siapa dia?" gumamku bingung


"Dia... Dewa kehancuran" gumam Sony serius


"Dewa kehancuran?" tanyaku kaget


"Kenapa berbeda dengan yang pernah aku temui, wajahnya sangat tampan lebih tampan dari yang kemarin"


"Uuukkhh..." rintihku merasakan rasa sakit di dadaku kembali seperti waktu lalu saat teringat kenangan Sali


"Kamu tidak apa?" tanya Sony terkejut


"Tidak..." gumamku pelan


"Kita bertemu lagi Sali... Eh bukan dia sudah lama mati" gumam laki - laki itu dingin, aku melangkah maju ke depan dan laki - laki itu berjalan kearahku


"Kita bertemu lagi Sani...Kita bertemu lagi Moi..." gumam kami bersamaan


"Ternyata dia ya Moi?" tanya Sony terkejut


"Sani kamu jangan maju ke depan!!!" protes Sony


"Udah kamu disitu aja dulu" gumamku dingin dan terus meju ke arah laki - laki tampan itu yang ternyata Moi


"Tidak aku sangka kita bertemu lagi dewi penyeimbang" gumam Moi mengangkat daguku ke atas


"Oh bukannya itu emang sudah kamu rencanakan sebelumnya" gumamku dingin


"Ya benar, kamu tahu ternyata"


"Menurutmu aku tidak tahu apapun ya?"


"Lepasin tanganmu dari wajahnya!!" protes Sony kesal


"Diamlah, aku tidak ada urusan denganmu" gumam Moi membuat dinding pembatas di belakangku


"Heeii!!!" teriak Sony kesal


"Kamu kenapa membawa seorang berisik seperti dia sih" protes Moi kesal


"Ya dia mau bagaimana lagi" desahku melepaskan tangan Moi dari daguku


"Kamu tidak seperti yang aku lihat sebelumnya" gumamku dingin


"Oh kamu menyadarinya ya"


"Ya, itu terlihat jelas" gumamku dingin


"Aku mengganti tubuh penggantiku bahkan lebih hebat dari pada kekuatanmu"


"Oh benarkah, kamu terliha sama saja" sindirku dingin


"Kau selalu seperti itu Sani!!"


"Kenapa kamu datang kemari?" gumamku dingin


"Menurutmu?"


"Aku tidak suka main tebak - tebakan" gumamku membalikkan badanku


"Oh ya, kamu kan yang membasmi seluruh iblisku?"


"Menurutmu?"


"Kenapa kamu lakukan itu!!!" protes Moi kesal


"Kan aku sudah pernah bilang, kalau kamu mengacaukan seluruh semesta aku tidak akan tinggal diam" gumamku dingin dan melangkahkan kakiku


"Kamu ya!!!" gumam Moi kesal dan menyerangku dengan kekuatannya


"Saaanniii!!!" teriak Sony terkejut melihatku terjatuh ke tanah


"Aaah kekuatanmu bisa meningkat dengan cepat ya" gumamku berusaha berdiri

__ADS_1


"Tapi maaf kamu bukan lawanku..." gumamku menyerang Moi dengan setengah kekuatanku dan dia terjatuh ke tanah


"Ka... kamu kenapa lebih kuat dari sebelumnya" gumam Moi terkejut


"Tidak juga, kamu bukan lawanku jadi jangan coba - coba menghancurkan tiga alam ini" gumamku menatap Moi dengan dingin


"Heeeh dasar wanita yang menarik, membuatku tertarik untuk mendapatkanmu" gumam Moi tersenyum dingin


"Oh kamu juga laki - laki yang menarik" sindirku dingin


"Sani, menikahlah denganku"


"Menikah denganmu? Sudah berapa kali kamu berbicara tentang itu dan membuatku sangat muak" gumamku dingin


"Aku akan membuatmu bahagia"


"Dewa kehancuran yang suka membuat keonaran akan membuatku bahagia? Haaah jangan bermimpi, jawabanku tetap sama, TIDAK" teriakkuu dingin dan berjalan menjauhi Moi


"Kamu mau pergi kemana? Kamu tidak akan bisa melewati dinding ini" sindir Moi dingin


"Oh benarkah? Maaf membuatmu kecewa" gumamku membaca mantra dan dinding penghalang yang transpraran itu pecah berkeping - keping


"A... Apa? Kenapa bisa?" tanya Moi terkejut


"Trik kecilmu ini tidak mempan untukku" gumamku dingin dan melangkahkan kakiku kembali


"Dan juga jangan coba - ciba membuat keonaran lagi, aku tidak segan - segan membunuhmu" gumamku dingin dan berjalan kembali ke dalam kelas


"San.. Sani?" teriak Sony mengikuti dari belakang


Aku tidak memperdulikan Moi atau Sony, aku berjalan terus menuju ke dalam kelas.. Punggung dan dadaku terasa sangat sakit setelah terkena serangan dari Moi tadi. Tiba - tiba aku terbatuk sampai aku terjatuh ke tanah karena kakiku tiba - tiba lemas


Uhuukkk... Uuuhhuukkk...


Batukku terus bertambah parah, aku melihat telapak tanganku yang mengeluarkan banyak darah, sepertinya aku terkena luka dalam. Aku masih tidak menyangka kekuatan Moi bisa sangat kuat seperti itu bahkan membuatku terjatuh dan terluka parah seperti ini. Padahal ada kristal merah yang melindungiku, kalau bukan karena kristal merah ini pasti aku sudah mati tadi


"Sani, kamu tidak apa - apa?" tanya Sony terkejut


"Ti.. Tidak" gumamku pelan,Sony terkejut melihat tanganku terdapat darah dan bibirku yang terkena sedikit sisa darah


"Kamu terluka...!!!" gumam Sony terkejut dan membantuku berdiri


"Aku tidak apa - apa" gumamku pelan, aku melihat ke arah Moi yang sama - sama terjatuh karena seranganku yang sangat kuat itu padahal aku hanya mengeluarkan setengah dari kekuatanku


"Moi juga terluka? Jadi kita sama - sama terluka ya?" gumamku dalam hati


"Ya bagaimana gak terluka kalau kekuatanmu sekuat tadi" desah Sony menatapku


"Oh ya aku lupa kalau ada kamu" desahku pelan, aku lupa kalau ada Sony disini apalagi Sony bisa membaca pikiranku dan hatiku


"Kamu ke kelaslah sendiri, aku ingin memulihkan diriku" gumamku melepaskan pegangan Sony


"Tidak, kamu terluka sangat parah, aku harus menemanimu"


"Tidak perlu, udah pergi sana nanti aku akan menyusul" gumamku melangkahkan kakiku lalu berpindah ke suatu tempat dan terjatuh di tanah


"Haaahh .. Haaaahh sangat menyiksaku" desahku menahan rasa sakit di tubuhku ini


Pikiranku sangat kacau bahkan aku berpindah tanpa aku rencanakan sebelumnya dan aku malah terjatuh lemas seperti ini


"Sani!!!... kamu kenapa?" teriak seorang laki - laki dengan nada khawatir


"A... Aku tidak apa - apa" gumamku melihat wajah Samuel yang sedang khawatir


"Kamu terluka parah" gumam Samuel menggendongku


"Aku tidak apa - apa Samuel"


"Tidak, kamu terluka parah" gumam Samuel membaca mantra dan mengajakku masuk ke dasar laut


"Ak... Aku bisa bernafas?" gumamku bingung


"Ya karena kamu bersama denganku" gumam samuel melangkah kakinya masuk ke dalam sebuah kerajaan laut yang sangat megah


Kesajaan itu bersinar dengan sinar biru yang indah bahkan di sekelilingnya terdapat ikan - ikan yang berenang dengan riang, tiba - tiba ada seekor ikan yang berenang kearah kami dan merubah wujudnya


"Selamat datang yang mulia" gumam laki - laki paruh baya itu dengan sopan


"Iya..." gumam Samuel dingin dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kerajaan itu


"Oh ya, bawakan aku beberapa makanan untuknya"


"Baik yang mulia" gumam laki - laki itu dan berubah kembali menjadi ikan


Di dalam kerajaan itu aku melihat kerjaaan lautan yang sangat megah, seluruh dekorasinya asli dari lautan bahkan lampunya dari mutiara putih yang bersinar sangat terang. Samuel terus berjalan dan memasuki sebuah kamar yang besar  lalu Samuel mendudukkan tubuhku di atas kasur yang empuk itu


"Kenapa kamu membawaku kemari?"


"Karena kamu terluka, aku akan menyembuhkan lukamu"


"Menyembuhkan lukaku?" tanyaku terkejut


"Ya, aku dulunya ahli di bidang pengobatan sebelum menjadi dewa laut" gumam Samuel membuka pakaianku

__ADS_1


"Hei kenapa kamu membuka pakaianku!!! Apa yang akan kamu lakukan?" protesku terkejut


"Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu" gumam Samuel dengan wajah merahnya


"Tunggu... Biar aku sendiri yang membukanya" gumamku dan Samuel berbalik membelakangku


"Apa yang ingin kamu obati?"


"Punggungmu.."


"Oh baiklah..." desahku membuka pakaianku, wajahmu memerah karena aku sangat malu apalagi ada seorang laki - laki di depanku saat ini, kalau ada Sony disini dia pasti akan marah besar kepadaku


"Sudah... " gumamku menutupi tubuhku dengan selimut miliknya


"Maaf Sani" gumam Samuel malu - malu sambil menggenggam sebuah bubuk mutiara dan membaca mantra di mulutnya


"Iya tidak apa, kenapa kamu tahu kalau aku terluka di punggung" gumamku pelan


"Karena itu terlihat jelas Sani"


"Oh benarkah... Uuukkkhhh" rintihku kesakitan saat mutiara itu  terkenal di kulitku


"Tahan sebentar Sani, ini akan sangat sakit"


"Uuukkhh ba.. Baiklah" desahku menahan sakit ini


Rasa sakit yang sangat menyiksa ini tanpa sadar membuatku meneteskan air mataku, serangan Moi tadi sangat membahayakan nyawaku. Baru saja aku berinkarnasi masa dia membuatku mati untuk kedua kalinya


"Sudah selesai Sani" gumam Samuel menatapku yang sedang tertunduk sedih


"Sani... Kamu kenapa menangis?" tanya Samuel terkejut


"Ummm.... Ti... Tidak apa - apa" gumamku pelan dan menghapus air mataku


"Pakailah dulu pakaianmu" gumam Samuel berdiri membelakangiku, aku segera memakai pakaianku kembali dan kembali tertunduk sedih


"Sani ada apa?" gumam Samuel lembut


"Kenapa aku sangat lemah" gumamku pelan, Samuel memelukku dengan lembut dan mengelus rambutku


"Tidak, yang lemah itu aku... Kamu sangat kuat Sani, kamu dewa penyeimbang"


"Aku sangat lemah, bahkan aku saja hampir saja mati gara - gara serangan dewa kehancuran itu... Kalau bukan karena..." desahku pelan


"Kalau bukan karena kristal merahmu kamu akan mati" gumam Samuel pelan


"Ya benar, kenapa aku snagat pengecut seperti ini" gumamku meneteskan air mataku


"Sani, kamuu orang yang hebat... Kamu hanya sedikit lengah saja jadi kamu bisa terluka seperti ini"


"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku lengah?"


"Sebenarnya aku melihat pertarunganmu tadi pagi"


"Kamu ada disana?"


"Tidak, aku melihat kejadian itu di atas air"


"Diatas air?" tanyaku bingung


"Ya, kerajaanku berada di ebatasan alam dewa dan alam manusia jadi aku bisa melihat kegiatan yang ada di dalam manusia"


"Oh begitu ya" desahku tertunduk sedih


"Jangan sedih seperti itu" gumam Samuel memelukku dengan erat


"Bagaimana aku tidak sedih kalau aku lemah seperti ini, bagaimana aku menjadi seorang dewa penyeimbang kalau aku sangat lemah seperti ini"


"Kamu jangan pesimis seperti itu!!" protes Samuel


"Itu kenyataannya" gumamku menatap mata Samuel


"Tidak, kamu itu sangat kuat"


"Tapi kenyataannya aku itu...." desahku dan Samuel langsung mencium bibirku dengan lembut membuatku sangat terkejut


"Kamu kuat dan aku percaya itu" desah Samuel melepaskan ciumannya dan menatapku serius


"Hmmm ..." desahku pelan, sebenarnya aku ingin marah karena Samuel menciumku tanpa izin tapi aku sedikit senang karena Samuel mendukungku seperti itu


Tookkk... Toookkk


"Permisi yang mulia, makanan pesanan anda" gumam laki - laki tadi membawakan beberapa makanan


"Baiklah, terimakasih" gumam Samuel dan laki - laki itu berjalan keluar dari kamar, aku menatap  wajah Samuel yang tampan itu dan kembali tertunduk


"Samuel terimakasih" gumamku tersenyum


"Terimakasih untuk apa?"


"Untuk semuanya apalagi kamu membantuku mengobati tubuhku bahkan menyemangatiku" gumamku pelan


"Tidak masalah, aku senang membantumu... Kamu sudah aku anggap adikku sendiri" gumam Samuel memelukku dengar erat sekali lagi

__ADS_1


Pelukan hangat Samuel seperti pelukan yang diberikan ayah saat aku sedih atau terluka di masa laluku, pelukan yang terasa sangat nyaman. Pelukan Samuel seperti pelukan perhatian yang lebih antara kakak ke adiknya


__ADS_2