
Kepalaku terasa pusing dan dadaku masih sakit walaupun tidak sesakit waktu itu. Aku merasa ada tangan yang terus mengelus lembut rambutku. Aku membuka kedua mataku dan melihat seorang laki - laki yang sedang menatapku dengan khawatir
"I... Ini dimana?" gumamku pelan
"Kamu sudah sadar istriku!!" teriak laki - laki itu terkejut
"Ka... Kamu siapa?" gumamku pelan
"Aku Han suamimu, ingat?"
"Oh ya aku ingat... Maaf..." gumamku memejamkan mataku
"Tidak apa - apa sayang, bagaimana keadaanmu?"
"Lumayan baik"
"Hmmm syukurlah, kamu sudah dua minggu belum siuman membuatku sangat khawatir" desah Han mencium keningku
"Han apa kembaranku berinkarnasi?"
"Tidak, arwahnya menyatu denganmu sekarang"
"Kenapa kamu mau melakukannya?"
"Aku tidak mau kehilanganmu, kalau kemarin telat sedetik saja pasti kamu mati dan aku lenyap" gumam Han pelan
"Oh ..." desahku pelan
"Tenang saja sayang, kembaranmu akan tetap ada denganmu"
"Hmmm, seharusnya yang menjadi dewa penyeimbang itu kakakku bukan aku. Karena dia empat darah campuran, sedangkan aku hanya tiga darah campuran yang tidak pantas menjadi dewa. Kalau bukan karena ibuku yang menyegel kekuatanku pasti kakakku yang akan menjadi dewa penyeimbang" gumamku pelan dan tidak terasa air mataku menetes di pipiku
"Seharusnya takdir yang menjadi dewa itu kakakku dan takdirku... Aku hanya raja vampir. Aku tidak memiliki darah dewa sama sekali yang punya darah dewa hanya kakak. Yang seharusnya menikah denganmu kakakku bukannya aku" gumamku menangis di dada bidang Han
"Yang pantas menjadi dewa itu kakakku bukan aku, seharusnya yang menikah denganmu itu kakakku bukan aku, seharusnya kamu lenyapkan aku dan biarkan kakakku yang menggantikan posisiku sebagai dewa penyeimbang" gumamku pelan
"Han biarkan kakakku yang menjadi dewa penyeimbang dan lenyaplah aku..." gumamku pelan
"TIDAK, kamu tetap dewa penyeimbang dan kamu tetap istriku" protes Han memelukku erat
"Tapi aku tidak pantas, aku sangat lemah..." gumamku pelan
"Tidak sayang, kamu sangat kuat dan aku mengakui itu"
"Tapi Han..."
"Dengar sayang, takdirmu sekarang menjadi dewa penyeimbang dan menjadi istriku. Itu takdir yang sudah kamu rubah sendiri. Jadi kamu harus menerima itu. Sain juga tidak mempermasalahkannya dan mendukungmu sebagai dewa" gumam Han mengelus lembut rambutku
"Tapi aku..."
"Hanya kekuatan kamu yang seimbang dengan kekuatan dewa kehancuran, dewa penyeimbang sebelum kamu selalu kalah kalau melawan dewa kehancuran karena kekuatan mereka tidak sehebat dewa kehancuran. Kalau yang menjadi dewa penyeimbang kakakmu pasti dia akan sama saja dengan dewa penyimbang lainnya"
"Tapi Han..."
"Udahlah sayang, kamu harus berlatih terus biar kamu tidak kalah dengan dewa kehancuran ya" gumam Han mengelus rambutku dengan lembut
"Tapi.."
"Gak ada tapi - tapi, dari tadi kamu bilang tapi mulu. Aku suamimu jadi kamu harus mengikuti apa perintahku!!"
"Hmmm baiklah..." desahku mengalah
"Nah itu baru istriku..." desah Han pelan
"Kalau yang menjadi dewa penyeimbang kakakmu pasti kakakmu tidak akan mau menikah denganku dan memilih kaisar langit" desah Han memejamkan matanya
"Tidak juga, kami kembar pemikiran kami sama"
"Tidak sayang, kamu dengan dia berbeda"
"Berbeda? Apa maksudmu?" tanyaku penasaram
"Dia sangat lembut dan sangat lemah, kalau dia di bohongi orang untuk melakukan sesuatu dia akan mengikutinya. Sedangkan kamu keras kepala, dingin, dan kuat bahkan satu - satunya dewa penyeimbang yang punya sifat terbalik hanya kamu. Kebanyakan dewa penyeimbang memiliki sifat seperti kakakmu"
"Seharusnya hanya dewa penyeimbang yang mengikuti alur takdirnya dewanya agar bisa menjadi dewa. Tapi kalau kamu memang tidak memiliki takdir dewa tapi karena suatu keajaiban kamu bisa menjadi dewa penyeimbang. Itulah yang membuatku sangat tertarik untuk memberimu inkarnasi" desah Han menatapku
"Anehnya walaupun kamu tidak memiliki darah dewa dan hanya memiliki setengah darah dewa dari kembaranmu tapi saat kamu meninggal seluruh alam goyah dan terjadi banyak kehancuran padahal dewa kehancuran tidak melakukan apapun, bahkan langit di tiga alam berubah menjadi merah darah dan banyak tanah yang terbelah. Seperti saat kamu marah besar dan memutuskan hubunganmu dengan kaisar langit itu" gumam Han serius
"Emang aku marah kemarin terjadi bencana?"
"Ya benar, suasana dan kondisi di tiga alam itu seperti tergantung suasana hatimu. Kalau kamu marah banyak kehancuran dimana - mana malah melebihi kehancuran yang dilakukan oleh dewa kehancuran. Kalau kamu senang suasana tiga alam menjadi tentram dan damai. Tapi saat kamu belum siuman seperti 2 minggu ini suasana di tiga alam menjadi hampa dan terasa kosong"
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku terkejut
"Aku juga tidak tahu, biasanya yang bisa melakukan itu hanya aku dan kaisar langit. Sesedih apapun semarah apapun sesenang apapun dewa penyeimbang tidak membuat perubahan terhadap kondisi di tiga alam" gumam Han serius
"Jangan - jangan aku dewa kehancuran?" gumamku terkejut
"Tidak. Walaupun dewa kehancuran marah atau sedih atau senang tetap saja dia menghancurkan dan tidak ada perubahan di tiga alam"
"Lalu aku apa?" tanyaku penasaran
"Ya kamu tetep dewa penyeimbang yang spesial. Kalau kamu terluka atau merasa kesulitan, kami para dewa tahu apa yang sedang kamu alami. Dulu saat kamu terluka parah karena pertarunganmu dengan Moi di kampus. Di tiga alam tiba - tiba turun tetesan air mirip hujan tapi hujan darah, tapi saat kamu sembuh tetesan itu berhenti dan air darah itu tiba - tiba hilang di permukaan tanah tanpa bekas"
"Benarkah?" gumamku terkejut
"Ya sayang. Itulah kenapa aku memintamu untuk berjanji tidak marah ataupun sedih karena suasana hatimu mempengaruhi suasana di tiga alam"
"Oh baiklah, aku mengerti Han. Jadi apapun perintahmu itu ada alasan tersendiri ya?"
"Ya, makanya menjadi dewa agung tidak mudah ..."
"Oh...Mmmm" desahku menutup mataku
__ADS_1
"Apa kamu masih sakit sayang?"
"Tidak terlalu, oh ya kamu tidak mengajar?"
"Jiwaku yang mengajar di kelas"
"Kenapa kamu tidak mengajar saja?"
"Aku mengkhawatirkanmu tahu, kamu tidak bergerak sama sekali bahkan pernafasanmu benar - benar terhenti seperti orang mati yang membuatku sangat khawatir"
"Apa kamu takut kalau kamu akan lenyap?"
"Tidak, aku hanya takut... Kehilanganmu. Aku tidak mau aku hanya punya istri beberapa jam saja apalagi ini pertama kalinya aku punya istri selama beratus - ratus abad" desah Han menatapku
"Sayang jangan lukai dirimu lagi ya. Walaupun kamu tiada karena hanya karena masalah sepele, aku tidak akan tenang saat aku lenyap nantinya. Aku tidak masalah kalau lenyap hanya karena kamu tiada, tapi aku anggap masalah kalau kamu tiada hanya karena masalah sepele dengan dewa kehancuran atau dewa lainnya"
"Han apa perkataanku tidak bisa di cabut?" gumamku pelan
"Tidak, itu janji suci kita di perbatasan surga dan neraka. Janji itu tidak bisa di hapus ataupun di ganti"
"Hmmm... Maaf sudah membuatmu..." desahku pelan
"Tidak apa sayang, aku tidak masalah kalau harus lenyap. Aku hanya ingin terus bersamamu di seumur hidupku"
"Tapi aku membuatmu menderita Han, dewa agung tidak seharusnya lenyap ataupun tergantikan. Maaf karena keegoisanku kamu menderita" desahku sangat sedih, aku membuat Han sangat menderita karena keegoisanku ini
"Tidak sayang, itu bukan keegoisanmu. Aku sangat senang dengan janji sucimu, kamu membuktikan kalau kamu hanya ingin menikah denganku dan hanya aku bahkan kamu sendiri tidak mau kalau aku menikah dengan dewa penyeimbang lain karena itulah kamu mengucapkan janji itu, benarkan?"
"Ya, aku pernah berjanji dalam hidupku. Aku hanya akan menikah dengan satu pria dan pria itu harus menikah denganku saja dan hanya aku saja. Aku tidak mau kalau cintaku terbagi" gumamku pelan
"Itu janji yang sangat bagus sayang, aku suka dengan janjimu itu" gumam Han mengelus rambutku
"Padahal kan itu membuatmu menderita?"
"Kalau bagi laki - laki yang tidak senang dengan istrinya, dia pasti akan merasa menderita. Tapi aku sama sekali tidak merasa kalau aku menderita sayang. Dengan sisa hidupku menjadi dewa ini aku akan membahagiakanmu sayangku" gumam Han tersenyum manis kepadaku
"Hmmm makasih Han" desahku pelan
"Tidak perlu berterimakasih, yang seharusnya berterimakasih itu aku. Kamu sudah banyak membuktikan kalau kamu serius denganku bahkan kamu mengucapkan janji suci yang begitu istimewa untukku dan itu membuatku sangat berterimakasih karena kamu mau menjadi istriku, Sani" desah Han mencium bibirku dengan lembut
Ciuman Han seperti membuktikan kalau dia sangat senang dengan keputusan apa yang aku ambil bahkan tidak mempermasalahkan janji suciku kepadanya
"Sayang kamu mau makan apa?" gumam Han menatapku
"Aku tidak ingin makan"
"Kenapa? Sedikit saja ya?"
"Tidak, aku tidak lapar" gumamku pelan
"Kamu harus makan tahu!!"
"Tidak, nanti saja"
"Hmmm apa yang kamu inginkan istriku?"
"Ke dunia manusia? Untuk apa?"
"Aku ingin ke rumah lamaku" gumamku berusaha terduduk
"Kamu baru sadar sayang"
"Tidak apa, aku sudah baik - baik saja kok"
"Aku temani ya"
"Hmmm baiklah" desahku melangkahkan kakiku berpindah ke depan rumah orang tuaku
Rumah dimana aku dulu di besarkan kedua orang tuaku, rumah yang besar dan megah kini menjadi rumah yang lama dan usang dengan tanaman liar menghiasi dinding dan pagar rumah itu membuat rumah ini terlihat sangat angker
"ini rumahmu?" gumam Han terkejut
"Ya rumah orang tuaku" gumamku melangkahkan kakiku masuk ke dalam
"Nampak seperti rumah hantu"
"Ya pastilah, sudah berabad - abad di tinggalkan" gumamku pelan
"Oh benarkah? Sudah berabad - abad ya? Tidak aku sangka gadis manis yang imut itu sudah berumur beberapa abad"
"Emang kamu tahu saat aku kecil?"
"Ya tahulah, aku terus mengawasimu tahu. Saat kamu masih jadi manusia sampai jadi dewa, aku tahu lika liku kehidupanmu. Jadi berterimakasihlah kepadaku hahaha"
"Hmmm terimakasih loh... " gerutuku kesal
Aku membuka pintu rumah yang sudah usang dan juga sangat berdebu. Di dalam rumah aku melihat keadaan rumah yang sangat berdebu dan banyak genting rumah dan dinding yang sudah sudah retak bahkan roboh
"Iiissh sampai segininya" gumam Han melihat sekeliling kami
"Ini... Foto kalian masih anak - anak ya?" gumam Han mengambil sebuah foto lama yang terjatuh di bawah
"Mungkin, aku tidak ingat. Aku bahkan tau aku punya kembaran saat aku menjadi dewa" gumamku pelan
"Benarkah? Kamu tidak ingat apapun?"
"Tidak sama sekali" gumamku berjalan ke lantai atas dan berjalan menuju kamarku
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamarku..." gumamku membuka pintu kamarku yang sudah usang dengan bekas darah di lantai dan di dinding rumahku
Aku membuka pintu kamarku dan melihat kamarku yang sangat berdebu dan gelap. Di meja belajarku aku melihat ada seorang laki - laki yang sedang terduduk di meja belajarku dengan lampu meja belajar yang masih hidup
__ADS_1
"Sayang, siapa dia?" tanya Han terkejut
"Aku tidak tahu..." gumamku berjalan ke arah laki - laki itu
"Siapa kamu?" gumamku dingin tapi lali - laki itu tidak memperdulikan ucapanku
"Heei dengar tidak!!" protesku menarik bajunya
"Kamu berisik banget!!" gerutu laki - laki itu menatapku dingin
"Kamu siapa?" protesku kesal
"Aku anak dewa kesialan, Lyla"
"Anak dewa kesialan?" teriakku dan Han terkejut
"Siapa ayahmu?" tanya Han serius
"Kaisar langit"
"APA?" teriakku terkejut
"Kenapa kamu ada disini?" tanyaku dingin
"Ayah ibukku selalu berantem jadi aku kabur dan menemukan tempat ini jadi ya aku tinggal disini lah" gumam Lyla dingin
"Sifatmu seperti ayah dan ibumu ya ngeselin" desahku membuka jendela kamarku
"Kamu tahu ayah ibuku?"
"Ayahmu dulu mantan tunanganku" gumamku menatap keluar jendela kamarku
"Jadi kamu yang sering di ceritakan ayah?"
"Cerita apa?" tanyaku terkejut
"Ya dia bilang sangat menyesal melakukan itu dengan ibuku yang membuat wanita disukainya marah besar. Dan kalau ayah bilang gitu ibuku selalu marah dan mereka berdua berantem deh" gumam Lyla kembali menulis di bukunya
"Oh ya? Dia bilang ke kamu begitu? Padahal kamu masih kecil" gumamku terkejut
"Ayah selalu berkata seperti itu"
"Jadi kamu disini tidak dicari orang tuamu?" tanya Han menatap Lyla dingin
"Tidak tahu, aku baru kabur dari rumah"
"Kamu harus pulang, disini tidak pantas untukmu" gumam Han serius
"Tidak mau, aku capek dengan berantemnya ayah ibuku"
"Lalu kamu maunya apa?"
"Aku mau hidup sendiri"
"Kamu kira hidup sendiri di dunia manusia bisa membuatmu aman?"
"Ya aku anak dewa, apa yang aku takutkan!" gerutu Lyla kesal
"Oh benarkah?" gumam Han dingin dan menjentikkan tangannya
Tiba - tiba di sekitar kami banyak hantu yang memenuhi ruangan kamarku dan membuat Lyla ketakutan
"Ja... Jangan, A... Aku takut" teriak Lyla menangis kencang
"Hilangkan mereka hilangkan!!!" teriak Lyla menangis
"Han dia masih kecil..." protesku menenangkan Lyla
"Kata dia tidak takut apapun kan" desah Han menjentikan tangannya dan semua hantu itu hilang dari kamarku
"Huhuhuhu..." tangis Lyla di pelukanku
"Udah jangan menangis, kamu harus pulang tahu"
"Tidak mau, aku ingin ikut dengan bibi"
"Heeh? Bibi siapa?" tanyaku terkejut
"Ya anda lah siapa lagi" gumam Lyla terus menangis
"Bi...Bibi?" gumamku terkejut
"Aku mohon, aku tidak tahan di rumah"
"Tidak bisa..." protes Han kesal
"Kamu tidak bisa ikut denganku, kamu harus pulang. Kamu masih kecil"
"Tidak, aku hanya ingin hidup sendiri. Kalau bibi tidak mau menerimaku maka aku akan hidup disini"
"Hmmm, kalau begitu kamu harus ijin kepada kedua orang tuamu. Nanti dikira aku menculikmu"
"Sani!!" protes Han kesal
"Tenang saja nanti kita pikirkan, kasihan dia masih kecil Han" gumamku mengelus rambutnya dengan lembut
"Tapi ... Tapi... Hmm baiklah, tapi dia tidak bisa tinggal di kerajaanku atau di kerajaanmu tahu"
"Ya aku tahu, kita bisa memikirkannya nanti" gumamku tersenyum
"Baiklah kita harus ke rumahmu sekarang"
"Nanti dulu... Aku menyelesaikan PR ku dulu" gumam Lyla menghapus air matanya dan kembali menulis sesuatu di bukunya
__ADS_1
"Hmmm anak yang rajin" gumamku menatap Lyla yang sibuk belajar
Aku masih terkejut, kenapa Sasha dan Sony bisa memiliki anak dengan cepat seperti ini. Apa mereka berdua melakukannya jauh sebelum aku selesai pertapa dulu ya?