
Sudah seabad lamanya Han meninggalkanku yang membuat hatiku terasa sangat sakit, walaupun teman - temanku berkata Han ada di suatu tubuh dewa tapi mereka tidak mau mengatakan secara detailnya dimana.
Sudah seabad pula urusan dewa iri dengki dan urusan dua dewa yang berselisih ini belum selesai. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku sama sekali tidak punya rencana apalagi setelah di tinggal Han pikiranku sangat kacau. Aku selama seabad ini hanya bisa melamun dan melamun tanpa memikirkan bagaimana tugasku bisa cepat selesai, bahkan aku sama sekali tidak mengikuti pelajaran dengan baik.
Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak menatap wajah bayangan Han, aku takut hal itu membuatku tambah bersedih. Aku tahu Han pasti melakukan kesalahan dan meninggal seperti ibuku dulu, aku tidak yakin Han kembali ke tubuh aslinya pasti dia hanya menghiburku saja. Yang aku bingungkan kalau Han benar - benar meninggal kenapa aku tidak meninggal juga, apalagi janji pernikahan kami kalau salah satu diantara kami meninggal maka yang lain akan meninggal juga tapi kenapa aku tidak terjadi apa - apa?
Aku terus menatap salju turun di luar kelas. Seluruh bangunan, jalan, dan tanaman tertutup oleh salju yang sangat tebal. Aku sesekali melamun memikirkan apa yang sedang terjadi, bahkan sampai jam pelajaran selesaipun aku tetap melamun
"Sani..." gumam Han di depan kelas
"Ada apa?"
"Kenapa kamu terus melamun?"
"Tidak ada, jangan hiraukan aku..." gumamku dingin
"Hmmm Baiklah pelajaran kali ini selesai, dua minggu kedepan kalian akan libur, baiklah kalian bisa pulang sekarang" gumam Han dan menghilang dari depan kelas
"Udah selesai ya?... Hmmm" desahku pelan
"Sani ada apa?" tanya Samuel di sebelahku
"Tidak ada..."
"Kamu selama seabad ini sering melamun kenapa?" gumam Samuel pelan
"Tidak ada, tidak penting juga" gumamku pelan
"Sani mari pulang..." gumam Nana berdiri di sebelah Samuel
"Kembalilah dulu, aku akan menyusul nanti"
"Gak boleh kita harus pulang, kamu harus merapihkan barang - barangmu yang sangat berdebu Sani. Selama seabad ini kamu sering melamun sering menyendiri bahkan barang - barangmu tidak pernah kamu rapikan sampai - sampai barangmu berdebu semua!!" protes Nana kesal
"Kan bisa kamu rapikan Nana..."
"Aku tidak mau... Nanti kalau ada barang penting yang tidak sengaja ku buang kamu pasti akan menyalahkanku, lebih baik kamu sendiri yang merapikannya!!!" gerutu Nana menarik tanganku
"Baik.. Baik..." desahku mengikuti langkah kaki Nana
"Sani kamu mau kemana?" tanya Samuel menatapku
"Aku mau ke asrama" gumamku pelan
"Lalu aku kemana?"
"Eemmm Dewa kan bisa ke kamar anda... "
"Tapi... Hmmm tidak, aku ada urusan selama dua minggu kedepan" desah Samuel berjalan memdahului kami
"Na, kenapa kamu sangat sopan dengan Samuel?"
"Mmm sopan ya? Tidak juga"
"Tapi kamu benar - benar terlihat sopan loh"
"Aahh itu menurutmu saja Sani, aku biasa saja gak sopan - sopan banget.. Apa lagi dia dewa tertua..." gumam Nana berpindah ke kamar kami
"Dewa tertua?" gumamku terduduk di tempat tidurku
"Kamu tidak tahu siapa dia?"
"Tidak sama sekali..." gumamku pelan
"Ya nanti kamu akan tahu sendiri kok... Yang penting kamu urusin itu barang- barang berdebumu..."
"Hmmm tinggal gini aja kenapa ribet coba" gumamku menjentikkan tanganku dan seluruh barangku kembali bersih dan rapi
"Untung ya kamu dewa" desah Nana pelan
"Kamu juga dewa kok, ngomong - ngomong kenapa kamu bisa dari iblis jadi dewa?"
"Ceritanya panjang Sani.."
"Ceritalah Na..."
"Hmmm apa kamu serius ingin mendengar ceritaku?"
"Ya, ceritalah"
"Mmm aku dulu emang seorang iblis, karena tuntutan kerajaan iblis yang menuntutku agar kuat jadi aku berlatih lah di sebuah hutan, aku membunuh siluman iblis wujud hewan di hutan itu. Tapi tidak aku sangka aku membunuh dewa binatang, karena kecerobohanku, dewa agung mengangkatku menjadi dewa binatang sampai sekarang"
"Oh benarkah? Enak ya diangkat, aku sendiri karena ..."
"Aku sudah tahu ceritamu Sani, kalau kamu bukan dewa pasti kamu menjadi raja vampir senior" gumam Nana memotong pembicaraanku
"Walaupun aku dewa tapi aku tetap raja vampir..." gumamku merubah wujud vampirku
"Dan wajahku jadi berbeda karena aku tetaplah seorang raja" gumamku pelan
"Tapi Sani, kamu sangat cantik di wujudmu vampir yang sekarang, berbeda dengan wujud vampirmu sebelumnya"
__ADS_1
"Tidak juga, mungkin efek aku seorang raja mungkin ya jadi terlihat berbeda..."
"Ya mungkin saja, seperti Steven... Dia dulunya raja yang sangat tampan..."
"Tapi kan dia sampai sekarang juga tampan Nana"
"Mmm benar juga, oh ya Sani... Kenapa kamu mau menjadi raja, kata kamu tidak berminat?"
"Karena... Aku memang tidak berminat, tapi kakek memaksaku terus... Apa boleh buat... Yang penting di saat aku di alam dewa, Steven yang menggantikanku, apapun yang terjadi dia seorang raja ..."
"Mmm ya sih tetua vampir kalau udah bilang A ya harus A gak mau kalau di ganti B" gumam Nana memejamkan matanya
"Ya benar... Na, kalau aku rubah semua susunan tiga alam apa yang akan terjadi?"
"Maksudnya?"
"Kalau aku mengubah tatanan tiga alam sesuai keadaan semula apa yang akan terjadi?"
"Kamu akan mati tahu!! Jangan lakukan hal aneh - aneh!!" protes Nana menatapku dingin
"Tidak, aku hanya bertanya saja... Capek jadi dewa penyeimbang, sana ada masalah disini ada masalah apalagi sekarang ada dua dewa yang sedang berkelahi... Aku ingin jadi manusia biasa aja gak ada kekuatan, gak ada masalah, hidup aman nyaman dan tentram..." gumamku pelan
"Ya memang, aku melihat manusia terlihat seperti tanpa beban ketawa kesana kemari tanpa beban sama sekali berbeda dengan dewa yang punya banyak tanggung jawab" gumam Nana pelan
"Ya begitulah hidup Na..." gumamku pelan
"Kamu sepertinya sangat bersedih Sani? Mau jalan - jalan?"
"Kemana?"
"Kemanapun yang kamu inginkan"
"Aku ikut kamu lah, kan kamu yang mengajakku!!"
"Baiklah, mau ke cafe?"
"Mmm boleh lah" gumamku mengubah penampilanku menjadi wujud manusia
"Baiklah kita jadi manusia saja lah ya, hari ini ada perayaan natal. Jadi bakal banyak orang yang berlalu lalang di jalanan" gumam Nana mengubah wujudnya jadi manusia
"Oh benarkah? Ayo kita pergi Na, aku ingin sekali ke pesta itu..." gumamku semangat
"Ya udah mari..." gumam Nana berjalan keluar kamar dengan senang sedangkan aku mengikutinya dari belakang
Di lingkungan asrama juga sangat ramai mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar asrama, karena ini natal jadi banyak sekali orang yang berlalu lalang di jalanan. Di suatu jalanan yang di penuhi orang - orang, aku melihat ada seseorang yang berwajah mirip Han dan juga mirip Samuel seperti sosok yang sering aku lihat dalam beberapa abad terakhir. Tapi setiap kali aku mengusap kedua mataku dan menatap sekali lagi sosok tersebut menghilang.
"Ada apa Sani?" tanya Nana menatapku
"Sani kamu mau beli apa?" guman Nana menatapku
"Mmm aku..." desahku menatap sebuah kios yang menjual pernak pernik natal, di antara pernak pernik itu aku melihat ada satu bola kristal yang sama dengan bola kristal yang di berikan ayah dan ibu saat aku kecil. Aku berjalan ke kios itu dan mengambil bola kristal itu
"Ini berapa ya bu?"
"Ini 250 dollar nak"
"250 dollar ya..." desahku mengambil uang di dompetku
"Ini bu..."
"Ini uang lama nak, uang sejak berabad - abad yang lalu... Kenapa kamu masih punya uang ini?" gumam penjual itu terkejut
"Eeee... Mmm maaf bu saya lupa tidak membawa dompet saya malah membawa dompet ayah saya. Kalau begitu..."
"Eehh ti.. tidak apa, saya mengambil uang ini saja. Harga uang ini setara dengan 250 dollar sekarang" gumam penjual itu mengambalikan uangku dan mengambil 2 dollar saja
"Apa ibu yakin?"
"Ya, uang langka, banyak yang mencari... Eehh terimakasih ya anak muda" gumam penjual itu senang
"I.. iya ibu sama - sama" gumamku membawa pergi bola kristal itu ke arah Nana"
"Ada apa Sani kok lama banget?"
"Tadi aku lupa kalau aku mengeluarkan uang berabad - abad yang lalu, untungnya penjual itu mau menerimanya walaupun dia hanya mengambil 2 dollar saja"
"Ya uang lama banyak yang mencari, kalau begitu ibu itu jujur kalau tidak pasti kamu di bohongi Sani"
"Aku dibohongi juga tidak masalah, yang penting aku dapat barang ini" gumamku menatap bola kristal di tanganku
"Kamu hanya membeli itu saja?"
"Ya aku hanya ingin ini, jadi apa kita jadi ke cafe?"
"Tidak, cafenya penuh banget..."
"Kalau begitu makan disana saja" gumamku menunjuk sebuah kios sushi di depan kami
"Ide yang bagus" gumam Nana berjalan mendahuluiku
Aku melihat Nana langsung memesan makanan dengan semangat, aku terduduk di bawah tenda dan meletakkan bola kristal di depanku. Aku menatap bola kristal itu yang membuatku mengingat masa kecilku saat masih menjadi manusia
__ADS_1
"Sani..."
"Sani!!" teriak Nana yang membuatku terkejut
"Eemmm.. Apa?" gumamku terkejut
"Kamu dari tadi ku panggil loh!!"
"Maaf, ada apa Nana?"
"Ini makananmu..." gumam Nana menaruh sepiring sushi di depanku
"Oh makasih ..." gumamku memakan makananku.
Disela aku memakan makananku, aku melihat sosok yang sama seperti sosok yang sering datang di manapun dan kapanpun aku ada
"Ada apa Sani?"
"Aku melihat ada sosok yang mirip Samuel dan Han..."
"Dimana?"
"Di sana" gumamku menunjuk ke sosok tersebut berdiri
"Hanya ada manusia Sani"
"Tidak... Dia seperti..."
Taaaaaaakkkkk
Aku mendengar suara benda yang retak, aku menatap cincinku yang ternyata retak dengan tiba - tiba. Aku menatap sosok itu lagi dan sosok itu semakin lama semakin menghilang, hanya senyum manis milik Han yang terlukis indah di wajahnya. Aku meneteskan air mataku yang membuat Nana terkejut melihatku
"Sani kenapa kamu menangis? Kenapa cincinmu retak?" tanya Nana terkejut
"A... Arwah Han menghilang Na... Dia... Dia tiada Na!!" gumamku menundukkan wajahku
"Tidak Sani, dia masih hidup..."
"Tidak... Tidak mungkin, beberapa tahun ini aku diawasi seseorang yang wajahnya mirip dengan Han dan Samuel... Aku percaya itu ..."
"Ya itu memang arwah dewa agung" desah Nana pelan
"A... Apa?" teriakku terkejut
"Ya memang itu benar - benar dewa agung Sani, arwah dewa agung kembali ke tubuh aslinya yaitu tubuh Samuel. Jadi Samuel adalah Han dan Han adalah Samuel..."
"Apa? Tidak mungkin!!!" teriakku tidak percaya
"Ya itulah yang sebenarnya terjadi, kami semua dewa tahu Sani, hanya kamu yang tidak tahu permasalahan itu..."
"Jadi Samuel dewa laut itu?"
"Ya dia juga dewa agung, dia dewa terkuat dan terbesar di seluruh dunia. Hanya dia hakim teradil di seluruh alam dewa" gumam Nana serius
"Tapi... Kenapa cincin pernikahan kami retak?" gumamku pelan
"Aku tidak tahu Sani, coba tanyakan Samuel"
"Percuma, dua minggu kedepan dia pergi..." gumamku pelan
"Emang kamu tidak bisa melacaknya?"
"Sama sekali tidak bisa" gumamku pelan
"Tenang saja Sani, nanti saat dia kembali. Kamu tanyakan kepadanya"
"Hmmm baiklah..." desahku pelan
"Ya udah habiskan makananmu"
"Gak mau, kamu saja yang makan... Aku gak berselera makan lagi" gumamku meletakkan sumpitku
"Oh baiklah, aku makan ya" gumam Nana melahap semua sushi di atas piringku
"Aku mau pulang dulu Na" gumamku menjentikkan tanganku dan berpindah ke dalam kamarku
Aku merebahkan tubuhku dan menatap langit - langit kamar yang sangat gelap ini
"Heei Sani, kamu melupakan bola kristalmu tahu!!" gerutu Nana meletakkan bola kristalku di atas lemari
"Makasih..." desahku pelan
"Apa kamu kepikiran?"
"Ya..." desahku pelan
"Tenang saja, masih ada waktu Sani...Jangan bersedih terus, percaya kepadaku kalau dewa agung masih hidup"
"Ya, makasih Na" gumamku pelan
"Ya udah aku tidur dulu ya, kebanyakan makan jadi ngantuk" gumam Nana tertidur di atas tempat tidurnya
__ADS_1
Aku hanya menatap Nana dan kembali menatap langit - langit kamar, aku melihat kembali cincinku. Aku masih kepikiran apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa cincin pernikahan kami bisa retak secara tiba - tiba seperti ini. Otakku terus berpikir tapi aku tetap tidak mendapatkan jawaban yang membuatku sangat kesal