
"Sani tunggu!!" teriak Nana menggenggam tanganku
"Hmmm ada apa Nana?" desahku memendam emosiku
"Hei kita akan mengobrol ingat..."
"Oh baiklah... " desahku melanjutkan langkahku
"Mmm apa kamu mau ke sebuah cafe Sani?" tanya Candra pelan
"Boleh, kemanapun terserah kalian"
"Baiklah..." gumam Nana menarik tanganku keluar dari area kampus ke cafe kesukaan kami
Seperti biasa setelah memesan minuman, Nana langsung mengajak kami ke lantai dua yang sepi dari pembeli. Tidak lama kemudian seorang pelayan mendatangi kami.
"Permisi ini minumannya"
"Terimakasih" gumamku dan pelayan itu meninggalkan kami. Setelah minuman kami datang Nana dan Candra menatapku dengan serius
"Kenapa kalian menatapku seperti itu" gumamku meminum minumanku
"Coba ceritakan Sani" gumam Nana penasaran
"Kenapa kalian ingin tahu?"
"Ya karena kamu dan Sony jadi tidak seperti biasanya, makanya aku penasaran" gumam Candra bingung
"Hmm..." desahku membaca mantra dan membuat dinding penghalang transparan yang tidak bisa dilihat siapapun selain manusia
"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan?" gumamku pelan
"Sani, apa benar berita yang bilang mereka bertiga bercumbu dengan manusia?" tanya Nana serius
"Ya memang..."
"Haah serius?" teriak Candra dan Nana tidak percaya
"Kalau tidak percaya tanya sendiri kepada orangnya" gumamku dingin
"Jadi kamu memutuskan hubunganmu dengan dua orang itu bahkan bencana alam di hutan iblis itu terjadi karena kamu...." tanya Candra terkejut
"Aku tidak tahu masalah bencana alam yang kalian maksud.." desahku pelan
"Tapi memang benar, aku memutuskan hubunganku dengan tiga dewa itu"
"Jadi kamu sekarang bukan istri kaisar langit?"
"Bukan..."
"Haaah? Semudah itu!!" terik Nana tidak percaya
"Ya begitulah"
"Lalu, hubunganmu dengan wali kelas apa?" tanya Nana kaget
"Kalian tidak tahu siapa wali kelas itu sebenarnya?" tanyaku terkejut
"Tidak..." gumam Nana serius
"Aku sih tahu..." desah Candra santai
"Haduh, dia itu dewa agung tahu!!" gumamku pelan
__ADS_1
"Dewa agung? Serius?" tanya Nana terkejut
"Memang dia Dewa Agung..." desah Candra meminum minumannya
"Ya kalau tidak percaya tanya saja sendiri kepada dia... " gumamku melirik Han yang berjalan kearah kami
"Wa... Wali kelas?" gumam Candra dan Nana terkejut
"Ada apa Sani?" tanya Han terduduk di sebelahku
"Mereka tidak percaya kalau kamu dewa agung"
"Ya pastilah karena wujudku aku rubah, tapi kalau seperti ini pasti kalian mengerti" gumam Han merubah tubuh manusianya menjadi tubuh dewa
"De... Dewa agung... Mmm hormat kami dewa agung" gumam Candra dan Nana membungkukkan badannya
"Santai saja" gumam Han santai tapi Candra dan Nana terdiam tanpa berani bergerak sama sekali
"Kenapa kalian terdiam kayak batu seperti itu?" gumamku bingung
"Di... Dia dewa agung Sani" gumam Candra pelan
"Memang dia dewa agung, tenang saja kalian tidak akan dilenyapkan oleh dia kok" gumamku santai
"Tenang aku tidak akan melakukannya kepada temannya Sani" gumam Han santai
"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan?" gumam Han santai
"Mmmm maaf dewa agung, kami sangat penasaran tentang hubungan anda dengan ..." gumam Candra pelan
"Dengan Sani ya? Ya dia istriku, kamu yang menjadi dewa senior pasti tahu masalah itu kan Candra" gumam Han santai
"Yang masalah anda dan kaisar langit bersaing mendapatkan dewa penyeimbang itu?"
"Ya seluruh alam dewa tahu masalah itu dewa agung, bahkan rumor kalau kaisar langit dari dulu itu memiliki banyak permaisuri" gumam Candra pelan
"Banyak permaisuri?" tanyaku terkejut
"Benar, tapi aku juga masih bingung kenapa dewi penyeimbang terdahulu tetap bertahan dengan kaisar langit" desah Candra pelan
"Jadi perkataan Han yang bilang dewa penyeimbang seharusnya istrinya dewa agung apa benar?" tanyaku terkejut
"Iya, benar Sani" desah Candra pelan
"Apa kamu sudah percaya perkataanku" gumam Han santai. Aku menundukkan kepalaku dan tidak menjawab pertanyaan Han
"Mmm dewa agung, apa bencana kemarin terjadi karena Sani sangat marah?" tanya Nana terkejut
"Ya benar"
"Tapi bukannya yang bisa melakukan hal itu hanya dewa kehancuran ya?"
"Tidak juga, Sani ataupun aku bisa melakukannya.."
"Oh benarkah? Kalau dewa penyeimbang bisa melakukan hal yang sama dengan dewa kehancuran tapi kenapa dari dulu dewa kehancuran dan dewa penyeimbang sering bertarung?" tanya Nana bingung
"Itu karena dewa penyeimbang bertugas menyeimbangkan tiga alam sedangkan dewa kehancuran hanya bertugas membuat bencana alam sehingga membuat kehancuran di tiga alam" gumam Han mengusap rambutku dengan lembut
"Jadi mereka bertolak belakang, itulah kenapa mereka tidak bisa akur" desah Candra serius
"Ya benar kata dewa kebangkitan"
"Dan tanpa adanya dewa penyeimbang, aku sebagai dewa agung juga tidak bisa melakukan tugasku dengan baik"
__ADS_1
"Sepertinya tugas tuan sangat berat ya?" gumam Nana
"Ya begitulah, tapi aku bersyukur saat ini punya dewa penyeimbang yang sangat kuat seperti Sani. Dia lebih kuat dari pada dewa penyeimbang sebelum - sebelumnya"
"Ya saya juga merasa seperti itu dewa agung" gumam Candra pelan
"Oh ya dewa agung, bukannya besok ada pertemuan agung ya?" tanya Candra menatap Han
"Ya benar, kamu juga datang?"
"Saya dewa kebangkitan pasti hadir, dewa agung"
"Oh baguslah, aku kira kamu gak akan datang"
"Ya semua dewa tertinggi datang termasuk Sani juga" gumam Candra meminum minumannya
"Aku tidak ikut.."
"Kenapa?" tanya Han terkejut
"Karena memang tidak mau saja"
"Hmmm kalau aku memintamu untuk menemaniku saja apa kamu tidak tidak mau?"
"Tidak.."
"Kamu menolak permintaanku nih?" tanya Han mengangkat tangannya
"Kalau kamu mau melenyapkanku, lenyapkan saja aku. Aku bilang tidak mau ikut ya tidak"
"Hmmm..." desah Han mendekatkan bibirnya di telingaku
"Ini menyangkut masa depan kita dan juga pertemuan ini juga dilakukan untuk memberikan inkarnasi kepada arwah yang sudah mati"
"Inkarnasi?"
"Ya, bagi arwah yang sudah menunggu berabad - abad dan punya catatan baik akan di inkarnasi besok"
"Kalau yang tidak punya?"
"Langsung di lenyapkan"
"Tapi ..." desahku bingung
"Nanti ada ayah dan ibumu, kamu tidak ingin memberikan sepatah kata kepada mereka?"
"Ayah.. Ibu?" gumamku terkejut
"Ya benar, kamu bisa memberi sepatah kata terakhir untuk mereka"
"Oh begitu ya, baiklah aku ikut" desahku mengalah
"Nah bagus..."
"Mmm baiklah dewa agung, waktunya sudah hampir malam. Saya dan Nana ijin pamit" gumam Candra beranjak dari tempat duduknya
"Ya silahkan" desah Han tersenyum dan mereka berdua meninggalkan kami berdua
"Baiklah sayang, kita pergi juga" gumam Han menggandeng tanganku
"Iya... " desahku menggenggam tangannya dan melangkahkan kaki kami berpindah dari cafe itu
Aku sedikit terkejut ternyata memang benar - benar aku adalah istri dari Han yang asli, walaupun sedikit syok tapi mau tidak mau ternyata hidupku sebelumnya keluar dari takdirku, tapi apa aku bisa mengubah takdirku?
__ADS_1