Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 25 : Memulangkan Lyla


__ADS_3

Sambil menunggu Lyla selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya aku mencari beberapa barang yang masih tertinggal di rumah ini. Ya walaupun tidak sebagus berabad yang lalu


"Sayang kamu ingin kemari bukan karena anak kecil itu kan?" protes Han di belakangku


"Tidak, aku juga terkejut ada seseorang di rumahku ini" gumamku mengambil barang di laciku


"Aku hanya ingin melihat rumahku ini, setelah Steven dan Leo membunuh seluruh keluarga besarku aku tidak pernah lagi datang kemari" gumaku pelan


"Hmmm aku mengerti Sayang" desah Han mengusap lembut punggungku


"Lalu kamu mengumpulkan apa?"


"Aku hanya mencari barang - barangku yang masih bagus"


"Buat apa?"


"Buat kenang - kenangan, apalagi sekarang aku benar - benar sendiri" desahku pelan


"Hmmm kan ada aku sayang kamu tidak akan sendirian lagi sekarang" gumam Han mengelus rambutku


"Ya, hanya kamu yang aku punya sekarang" desahku pelan


"Paman Bibi aku sudah selesai" teriak Lyla berlari mendatangi kami


"Sudah selesai?"


"Ya, nih.." gumam Lyla menunjukkan buku PR nya kepadaku


"Mmm bagus benar semuanya" gumamku mengembalikan buku PR itu


"Emang kamu ngerti?"


"Ngerti lah, kan aku sekolah ya" gerutuku pelan


"Ya aku tahu kamu kan memang pintar"


"Hmmm kamu suka banget menyanjungku. Kamu sudah makan Lyla?"


"Mmm belum..."


"Kamu harus makan dulu tahu" gumamku menjentikkan tanganku dan muncul sebuah meja yang di penuhi makanan


"Tapi..."


"Tidak apa makanlah" gumamku tersenyum


"Terimakasih bibi" gumam Lyla senang dan langsung melahap makanan di depannya


"Kamu baik banget sama anak orang" gerutu Han kesal


"Ya tidak masalah Han, dia masih kecil jadi tidak masalah aku memberikannya makan"


"Hmmm kamu memang berhati baik walaupun sangat dingin dan keras kepala" desah Han mengacak rambutku


"Oh ya Lyla, rumahmu dimana?"


"Di istana langit"


Di istana langit ya" desahku pelan


"Mau masuk kesana sesikit sulit loh sayang"


"Tidak masalah, aku tahu caranya masuk ke istana langit"


"Oh benarkah. Aku kira kamu tidak bisa memasukinya"


"Bisa, aku pernah masuk ke istana langit" gumamku memasukkan barang - barangku dulu ke dalam tasku


"Paman ... Bibi aku sudah selesai" gumam Lyla tersenyum manis kepadaku


"Pa... Paman? Kamu memanggilku paman?" protes Han terkejut


"Cocok juga untukmu, untung anak ini tidak memangilmu kakek" sindirku tertawa


"Kamu ini suka banget mengejekku" protes Han mencubit pipiku


"Au sakitlah!!" protesku kesal


"Salah sendiri mengejek suamimu sendiri"


"Hmmm maaf... maaf, jangan marah aku bercanda saja..." desahku pelan


"Baiklah mari Lyla" gumamku membaca mantraku dan kami berpindah ke istana langit, karena aku pernah ke istana langit jadi aku tahu cara ke istana langit karena untuk memasukinya harus punya mantra khusus agar bisa masuk ke dalam istana langit


Di istana langit aku melihat Sony dan Sasha sedang bertengkar di ruang tengah.


"Udah percaya kan kalau ayah dan ibu sering berantem" gumam Lyla dingin


"Hmmm..." desahku


"Ehem permisi" ucapku keras yang membuat Sony dan Sasha menatapku


"Kamu kenapa bisa masuk ke istana langit!!" protes Sasha kesal


"Itu tidak penting"


"Apa yang kamu inginkan!!" gerutu Sasha kesal


"Aku tidak menginginkan apapun, aku cuma ingin mengembalikan anak kalian. Dia tinggal di rumah lamaku yang sudah setengah roboh itu, aku suruh dia pulang tapi dia ngotot tidak mau" gumamku mengelus rambut Lyla


"Kamu menculiknya?" protes Sasha kesal


"Tidak, aku tidak mau menculik anak kalian" gumamku dingin


"Jangan berbohong kamu!!!"


"Mereka tidak menculikku, mereka sangat baik dan peduli kepadaku"gumam Lyla membelaku


"Kamu berpihak kepada wanita ini!!" teriak Sasha kesal


"Aku mengatakan yang sebenarnya ibu!!!"


"Hmmm... Benarkan mereka jadi salah menilaiku, kembalilah ke rumah jadi kamu jangan kabur lagi ya" gumamku tersenyum


"Gak mau, aku mau tinggal dengan bibi" protes Lyla memelukku erat


"Apa!!" teriak Sony dan Sasha terkejut


"Kamu tidak bisa tinggal bersamaku apalagi di kerajaanku atau di kerajaan dewa agung..."


"Dimana saja boleh yang penting jangan disini"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku tidak mau mendengarkan orang berantem mulu"


"Hei!! Aku ibumu kenapa kamu malah ingin tinggal dengan dia?" protes Sasha kesal


"Ibu dan ayah jahat, hanya paman dan bibi yang baik dan perhatian kepadaku"


"Paman? Bibi?" gumam Sony Terkejut


"Aku jahat apa kepadamu anakku?" gumam Sasha mencoba bersikap halus


"Kalian berdua mencampakkanku bahkan melupakanku dan memilih berantem terus" gumam Lyla memeluk kakiku


"Ayah dan Ibu berjanji tidak akan bertengkar lagi jadi kamu harus tinggal disini ya"


"Gak mau"


"Kami berjanji kepadamu"


"Hmmm..." gumam Lyla menatapku


"Tidak apa kembalilah, kalau mereka bertengkar lagi kamu bisa datang kepadaku" gumamku tersenyum


"Nama bibi siapa?" gumam Lyla menatapku


"Aku Sani, dewa penyeimbang. Kamu bisa mencariku kalau kamu membutuhkanku. Oke" gumamku tersenyum


"Baiklah..." desah Lyla melepaskan pelukan di kakiku


"Sani..." desah Sony menatapku dengan tatapan sedih, aku tersenyum kepada Sony ya walaupun sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengannya tapi aku datang ke kerajaannya tanpa ijin jadi ya aku mau tidak mau harus menatapnya seenggaknya hanya tersenyum


"Hmmmpp... Kalau ingin menemui suamiku bilang saja tidak perlu berlagak mengantarkan pulang anakku. Dasar mengganggu hubungan orang" gerutu Sasha kesal saat dia tahu aku tersenyum kepada Sony


"Tidak. Buat apa aku mengganggu hubungan orang, bukannya situ ya yang mengganggu hubungan orang" gumamku dingin


"Kamu!!" protes Sasha hampir menamparku tapi Han langsung menangkis tangan Sasha


"Siapapun yang melukai istriku, akan aku lenyapkan" gumam Han dingin


"Hmmmpp..."


"Sudah di bantu malah tidak mengucapkan terimakasih!!" protes Han kesal


"Sudah lah" desahku menenangkan Han


"Tidak bisa seperti itu lah, seenggaknya punya hati. Kamu dewa tertinggi seenggaknya dia sedikit menghargaimu" protes Han kesal


"Sudahlah Han mari kita pergi" gumamku menjentikkan tanganku dan kembali ke kamar dewa agung


"Memang menyebalkan" gerutu Han kesal berdiri di depanku


"Udahlah sayang, emang sifatnya seperti itu masa kamu tidak mengerti" desahku menatap Han


"Sebagai dewa bilang terimakasih kek atau bilang maaf kek malah hampir menamparmu!! Kamu derajatnya lebih tinggi tahu!!" protes Han kesal


"Sudahlah sayang"


"Hmmm kamu terlalu baik Sayang"


"Tidak juga, aku cuma ingin menjaga suasana hatiku saja, kalau aku marah nanti tiga alam mengalami kekacauan"


"Hmmm benar juga" desah Han terduduk di sebelahku


"Ya aku sangat terkejut, sumpah..."


"Sejak kapan mereka punya anak?" gumamku penasaran


"Mereka sudah punya anak sebelum pesta ulang tahuku kemarin" gumam Han menatapku


"Kamu tahu?"


"Tidak, cuma kalau dilihat dari umurnya bocah itu memang sekitar segituan"


"Tapi kan itu masih baru beberapa tahun saja" gumamku bingung


"Itu sudah lama tahu"


"Oh aku baru tahu" desahku pelan


"Apa kamu sedih melihat kaisar langit sudah mempunyai anak?"


"Tidak, aku hanya kaget. Aku sama sekali tidak kecewa atau sedih"


"Benarkah? Kenapa kamu bisa sesantai itu?"


"Ya kan aku sudah bilang, aku sudah punya suami buat apa aku sedih ataupun kecewa. Hal itu sudah terjadi dan ini keputusanku" gumamku tersenyum


"Hmmm sayang" desah Han mengelus rambutku


"Oh ya, kalau dewa menikah itu apa harus di rayakan?"


"Tidak, kalau dua pasang dewa sudah mengikat janji suci di perbatasan surga dan neraka sudah dikatakan menikah"


"Benarkah? Jadi berbeda dengan kaum manusia dan kaum lain ya?"


"Ya benar, jadi bisa dibilang kamu istriku saat ini" gumam Han tersenyum kepadaku


"Oh begitu ya..." desahku pelan


"Kamu nantinya ingin punya anak laki - laki atau perempuan?" tanya Han menatapku


"Mmm dua duanya"


"Oh kamu pengen punya dua anak?"


"Ya benar, aku ingin punya anak pertama laki - laki dan anak kedua perempuan"


"Kenapa kamu inginkan itu?"


"Ya biar kakaknya bisa melindungi adiknya seperti kamu melindungiku" gumamku tersenyum


"Aahh boleh boleh bagus juga, aku setuju denganmu" gumam Han mengelus rambutku dengan lembut


"Tumben kamu bertanya tentang itu?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja"


"Oh.." desahku menyandar di bahu Han


"Han, apa kamu mencintaiku?" gumamku pelan

__ADS_1


"Ya, aku sangat mencintaimu"


"Sejak kapan kamu mencintaiku?"


"Sejak bertemu denganmu langsung di pesta ulang tahunku"


"Apa yang membuatmu mencintaiku?" gumamku pelan


"Tidak tahu, aku tidak punya alasan mencintaimu. Yang pastinya aku hanya ingin menikah denganmu, dan ya syukurnya hal itu benar - benar terjadi" desah Han merangkulku lembut


"Oh ... Ya syukurnya benar - benar terjadi" gumamku pelan


"Ya benar, seperti mimpi disiang bolong aku bisa menikah dengan wanita cantik dan hebat sepertimu. Semoga anak kita mirip dengan kita sayang"


"Ya semoga saja sayang" desahku pelan


"Kamu belum makan sama sekali tahu, kamu harus makan!!"


"Hmmm baiklah, mau makan apa?"


"Kamu mau makan dimana?"


"Aku ingin makan di alam manusia boleh?"


"Mmm boleh saja, kamu boleh makan dimanapun yang kamu mau"


"Nanti dulu aja deh"


"Kenapa? Kamu harus makan sekarang!!"


"Nanti, bentar lagi"


"Gak boleh, kamu harus makan seka..." protes Han dan aku langsung mencium bibir Han lembut


"Bisa tidak kamu enggak bawel" gumamku menatap matanya


"Kamu harus makan, kamu belum makan sama sekali tahu"


"Ya sayang aku tahu..." gumamku mengeluarkan barang - barang yang aku ambil dari rumah orang tuaku


"Kamu mau apa?" tanya Han bingung


"Aku mau menyimpannya ke kerajaanku dulu" gumamku membaca mantra dan barang- barang di atas lantai itu menghilang


"Oh aku kira kamu mau melakukan apa" desah Han menggelengkan kepalanya


"Kamu kenapa tidak ingin orang tuamu mengingatmu di saat mereka berinkarnasi? gumam Han bingung


"Aku tidak mau menjadi beban mereka lagi. Kalau mereka ingat denganku, aku takut mereka terus memikirkan aku. Aku juga ingin orang tuaku akan hidup bahagia setelah berinkarnasi, aku tidak mau mereka menderita sepertiku dulu" gumamku berdiri menatap Han


"Apa kamu sangat menderita?"


"Tidak juga, cuma memang sangat menderita. Aku tidak tahu ibu angkatku sekarang masih hidup atau tidak"


"Nyonya Shin ya? Dia sekarang bukan lagi manusia"


"Haaah maksudnya?" tanyaku terkejut


"Dia hantu terendah"


"Hantu terendah? Maksudnya?"


"Ya dia sekarang menjadi hantu tapi tingkatannya terendah"


"Emang ada gitu kaum hantu?"


"Ada lah, kalau gak ada siapa yang aku panggil untuk menakuti anak si kaisar langit yang sok pemberani itu" gumam Han santai


"Oh aku kira itu hanya ilusi"


"Hmmm tidak lah sayang"


"Emang ada ya kerajaan hantu?"


"Tidak ada, hantu - hantu itu berada di bawah kekuasaan raja kegelapan"


"Kenapa mereka bisa menjadi hantu?" gumamku bingung


"Ya itu karena kejahatan seorang manusia lebih berat dari pada kebaikannya. Biasanya mereka tidak bisa merasakan rasanya inkarnasi atau surga"


"Oh, surga di bawah kekuasaan kaisar langit kan?"


"Ya benar, kamu pernah kesana?"


"Pernah, dulu kaisar langit mengajakku kesana sekali sebelum aku inkarnasi"


"Oh benarkah? Nanti aku ajak ke sana kalau kamu mau" gumam Han menarik tanganku dan membuatku terjatuh di pelukan Han


"Emang kamu bisa mengajakku kesana?"


"Bisa, kemanapun kamu mau aku bisa mengajakmu sayang"


"Benarkah? Kemanapun?"


"Ya benar, apapun yang kamu minta aku akan memenuhinya" gumam Han menciumku


"Benarkah?"


"Ya sayang, kan aku sudah berjanji kepadamu. Kamu milikku dan aku milikmu" gumam Han mendorong tubuhku ke tempat tidur dan menekanku dari atas


"Apapun yang kamu inginkan aku penuhi, aku akan selalu melindungimu dan menjagamu, apapun yang terjadi hanya kamu istriku satu - satunya" gumam Han menatapku dengam serius


"Mmmm, apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku terkejut, tekanan tubuh Han sangat kuat bahkan tanganku tidak bisa bergerak sama sekali


"Menurutmu?"


"Kamu akan membunuhku ya?" gumamku terkejut


"Tidak lah, buat apa aku membunuhmu!! Kamu istriku tahu!!" protes Han kesal


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" gumamku menatap mata Han di atasku


"Hmmm..." desah Han mendekatkan bibirnya di telingaku


"Kamu harus melakukan kewajibanmu sebagai istri tahu" bisik Han di telingaku


"A... Apa? Aku belum siap ..." gumamku terkejut


"Aku tidak peduli, aku suamimu dan kamu istriku jadi kamu harus melakukan kewajibanmu kepada suamimu ini" protes Han menggenggam erat tanganku


"Ta.. Tapi... A... Aku..." gumamku terkejut dan Han langsung menciumku dengan lembut

__ADS_1


"Sudah jangan protes, lakukan saja kewajibanmu, istriku" gumam Han menciumku kembali


Walaupun aku sangat menolak tapi Han menekanku dengan kuat, tapi aku juga tidak bisa menolak apapun yang diinginkan dewa agung satu ini. Dia suamiku dan aku yang sebagai istrinya hanya bisa menuruti apapun keinginan yang diinginkan oleh si dewa agung ini


__ADS_2