Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 35 : Kembali Ke Dunia Manusia


__ADS_3

Sudah tiga hari Samuel tidak tersadarkan dan membuatku sedikit khawatir, Lyla dan Alan membantuku untuk merawat Samuel. Aku masih tidak menyangka kekuatan Alan bisa sekuat ini padahal dia masih kecil.


"Ibu ada apa?" gumam Alan menatapku bingung


"Ti... Tidak ada apa - apa nak"


"Alan mari makan..." ucap Lyla masuk ke dalam kamar


"Ibu tidak makan?" gumam Alan menatapku


"Makanlah dulu nak"


"Oh baiklah..." guman Alan berjalan bersama dengan Lyla


Aku mengambil sebuah majalah dan membaca majalah itu di sebelah Samuel, majalah tentang kehidupan laut dalam ini


"Sani... kamu kenapa ada disini?" gumam Samuel menatapku


"Huuhh akhirnya kamu siuman Samuel" gumamku terkejut


"Apa kamu yang menjagaku?" gumam Samuel pelan


"Tidak juga, kami semua menjagamu"


"Kamu jangan berbohong Sani"


"Tidak, aku tidak berbohong"


"Ya tapi yang menemaniku disini hanya kamu kan Sani?" gumam Samuel berusaha terduduk


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Aku sebenarnya sudah sadar dua hari yang lalu, tapi aku sengaja terbangun saat kamu terlelap Sani"


"Oh benarkah... Kenapa kamu lakukan itu?"


"Ya aku ingin merasakan dirawat oleh kamu Sani"


"Iih ngeselin... Tapi syukurlah kalau kamu sudah sadar sejak lama Samuel, kamu istirahatlah dulu" gumamku beranjak pergi tapi tangan Samuel menahan tanganku


"Tetaplah disini Sani, jangan tinggalkan aku"


"Hmmm baiklah" desahku kembali terduduk di kursiku kembali


"Kamu belum makan kah Sani?"


"Nanti saja, kamu mau makan?"


"Aku maunya makan sama kamu" desah Samuel tersenyum


"Kenapa ingin makan bersamaku?"


"Emang tidak boleh?"


"Mmm boleh sih tapi..."


"Kalau boleh, marilah makan bersama"


"Mmm baiklah..." desahku menjentikkan tanganku dengan keras, di belakangku muncul meja makan yang dipenuhi dengan berbagai macam makanan


"Mari makan Samuel..." gumamku membantu Samuel berjalan ke kursi makan


"Kamu bisa membuat makanan segini banyaknya? Dan itu bukannya darah?"


"Ya, aku vampir jadi aku hanya minum darah saja" gumamku merubah wujudku menjadi vampir


"Tapi kamu tetaplah dewa Sani"


"Ya aku tahu, tapi aku hanya ingin darah saja. Aku tidak mungkin meminum darahmu" gumamku meneguk darah yang ada di gelasku


"Minumlah darahku Sani"


"Tidak, aku tidak suka darah dewa"


"Aku akan merubah wujudku jadi manusia, jadi kamu bisa meminum darahku"


"Tidak mau, nanti kamu kehabisan darah"


"Tidak masalah, anggap saja permintaan maafku kepadamu"


"Tidak perlu Samuel, itu bukan salahmu kok"


"Tapi aku merasa tidak enak denganmu Sani"


"Tidak apa... Lupakan masalah itu" gumamku tersenyum dingin


"Tapi Sani..."


"Tidak apa..."


"Ibu... Ibu lihat ini" teriak Alan memberiku sebuah kristal hitam


"Dari mana kamu dapat?"


"Dari kamar kita ibu"


"Oh makasih anakku, kamu kembalilah bermain"


"Baik ibu!" gumam Alan meninggalkan kamar Samuel


Aku membaca mantra dan muncul sebuah tulisan yang tidak asing bagiku. Tulisan milik Han, aku beranjak dari tempat dudukku sambil membawa kristal itu ke kamarku dan kedua anakku. Sesampai di kamar aku membaca mantraku dan muncul bayangan Han di depanku


"Oke... Bisa jelasin gak kenapa kamu mengirim surat seperti itu!" gerutuku dingin


"Kamu kan bisa baca, kenapa memanggil arwahku coba?"


"Udah gak usah cerewet, bagi tahu aku ada apa?"


"Mungkin kita tidak akan bertemu untuk beberapa waktu"


"Kenapa?" tanyaku terkejut


"Aku melakukan kesalahan besar jadi arwah dewaku kembali ke tubuh asliku..."


"Kesalahan besar?Apa itu?"

__ADS_1


"Aku rencananya ingin memberikan setengah kekuatanku untuk Alan, tapi aku salah perhitungan jadi arwahku kembali ke tubuh asliku"


"Tubuh asli? Dimana tubuh aslimu?"


"Kamu akan tahu nanti, aku harus merahasiakannya darimu..."


"Kenapa kamu rahasiakan dariku Han?"


"Kamu akan tahu nantinya, hanya kamu yang tidak tahu dimana tubuh asliku tapi seluruh dewa tahu loh" gumam Han tertawa genit


"Dasar jahat!!" protesku kesal


"Aku bersungguh - sungguh sayang, kamu tidak perlu tahu saat ini... Yang terpenting kamu harus menjaga dirimu, kamu harus bisa mengurus dua dewa yang bertengkar itu dan juga dewa iri dengki... "


"Tapi Han bagaimana aku bisa ketemu denganmu?"


"Mungkin beberapa tahun atau abad kedepan kamu tidak akan bisa bertemu denganku, kalau dengan tubuh asliku kamu akan bertemu kok..."


"Aku akan terus mengawasimu Sani, jangan nakal - nakal ya sayang. Kamu bisa mengatasi dua dewa itu dan dewa iri dengki bersama dengan Samuel. Semangat ya sayang, jaga Alan dan Lyla ya" gumam Han dan menghilang di depanku


"Oh... Mmm baiklah, dasar Han seperti biasa ngeselin" desahku pelan dan keluar dari kamarku menuju kamar Samuel


"Kamu dari mana Sani?" Samuel menatapku dengan tatapan bingung


"Aku hanya ke kamar aja"


"Apa yang kamu dapat dari kristal hitam tadi?"


"Bukan sesuatu yang penting" gumamku kembali meminum darahku


"Kata Han kamu akan membantuku ya?"


"Membantumu apa?"


"Membantuku mengurusi dua dewa yang sedang bertengkar tuh!!"


"Oh itu..." desah Samuel membaca mantra dan muncul sebuah layar besar di kiri kami, dilayar itu terlihat Sony dan Sasha sedang bertarung satu sama lain yang membuat langit tempat mereka berdiri berubah menjadi warna hitam pekat


"Ya aku akan membantumu, sekalian membantumu mengatasi dewa iri dengki yang menyebalkan itu" gumam Samuel kesal


"Tunggu mereka berdua berpindah tempat lagi?" gumamku terkejut saat melihat Sony dan Sasha sudah tidak di alam lain


"Ya, mereka ada di dunia manusia... Kalau berada di dunia manusia tidak mungkin kita bisa melerainya secara langsung, kekuatan Sasha lebih kuat di dunia manusia jadi tidak akan mungkin kita bisa melerai mereka"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kamu kembali kuliah sambil mengawasi Sony dan Sasha sedangkan aku akan mengawasi kalian dari jauh, mereka akan bertarung lagi setelah jam kuliah kalau pas jam kuliah para dewa mereka akan belajar..."


"Oh kamu gak kuliah kenapa?"


"Aku terkecuali, aku sudah tidak layak untuk menempuh pendidikan lagi"


"Kenapa?"


"Karena aku dewa ag... Eee... Mmm..." gumam Samuel memutar matanya


"Dewa apa? Ngomong yang jelas!"


"Eeehh.. Mmm ya aku dewa laut jadi aku tidak mungkin kuliah dewa"


"Kamu harus bersekolah... Kalau tidak aku aduin Han!!"


"Ya lah, diantara seluruh dewa hanya kamu yang tidak bersekolah dewa. Itulah cara agar seluruh dewa bisa mengenalmu tahu!!" protesku kesal


"Tapi Sani..."


"Gak ada tapi - tapian!!"


"Steven oh Steven!!" teriakku keras dan muncullah Steven di dekatku


"Ada apa manggil - manggil?" protes Steven yang sedang memakai piyama


"Kenapa Samuel tidak kamu ijinkan bersekolah?"


"Samuel? Mana ada Samuel?... Samuel sudah..."


"Eehhheeemmm..." deheman Samuel yang membuat Steven terkejut dan terdiam beberapa menit


"Samuel sudah apa?" tanyaku bingung


"Eee.. Mmmm... Tidak tidak, Eee kalau dia mau bersekolah dewa harus ada persyaratannya dan dia tidak mungkin bisa untuk melakukannya..."


"Kenapa tidak bisa?" tanyaku terkejut


"Apa kamu tidak tahu dia sebenarnya siapa?" tanya Steven menatapku


"Tidak, yang aku tahu kalau dia Samuel selain itu aku tidak tahu... Emang dia siapa?" tanyaku terkejut


"Dia itu ...."


"Uhhuukk... Kamu tidak perlu mengatakan kepadanya Steven" gumam Samuel menatap Steven dingin


"Tapi dewa?"


"Nanti aku akan memberitahukannya sendiri, kalau ini permintaan Sani lakukan saja"


"Apa anda yakin?"


"Ya ... Kalau itu permintaannya tidak masalah" desah Samuel memakan makannya


"Oh baiklah kalau anda inginkan itu" desah Steven pelan


"Tunggu sebentar!! Apa yang kalian sembunyikan dariku?" protesku menatap Steven dan Samuel dingin


"Tidak ada apapun, hanya permasalahan laki - laki saja...Kamu perempuan tidak boleh ikut campur" gumam Steven berjalan meninggalkan kamar Samuel sedangkan Samuel makan dengan santainya


"Ada apa sebenarnya Samuel?'


"Tidak ada apa - apa kok"


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Tidak ada..." gumam Samuel meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya


"Apa kamu sudah selesai makan? Kalau sudah mari ke dunia manusia"

__ADS_1


"Tunggu, Alan dan Lyla bagaimana?"


"Mereka aman disini, Can dan adikku akan menjaganya"


"Tunggu adikmu? yang raja siluman air itu?"


"Ya benar..."


"Candra dan Steven sudah menyadarkannya jadi dia sudah tersadar kok"


"Kenapa kamu bisa tahu sedangkan aku tidak tahu, dan lagi kenapa semua orang tidak kaget melihatmu terbangun bahkan anakku juga?" gumanku bingung


"Karena aku tersadar saat semua berkumpul Sani sedangkan kamu masih terlelap saat itu jadi semua tidak berani mengganggu tidurmu"


"Kenapa semua yang melihatmu terbangun tidak mengatakannya kepadaku!!" protesku kesal


"Ya mana aku tahu, mungkin kamu tidak bertanya kepada mereka" gumam Samuel berjalan ke tempat tidur


"Mmm mungkin saja sih, aku terlalu fokus merawatmu..." desahku pelan


"Kenapa kamu mau merawatku Sani, padahal aku hampir membunuhmu" gumam Samuel menundukkan kepalanya, aku berjalan ke arah Samuel dan terduduk di depannya sambil menggenggam tangannya


"Tidak apa, ini juga anggap saja balas budi kamu sudah mengobatiku saat aku terluka parah dulu Samuel"


"Kamu masih ingat?"


"Ya bagaimana aku tidak ingat kebaikan seseorang kepadaku"


"Oh... Mmm ya aku mengobatimu karena melihatmu sangat terluka, aku tidak tega melihatnya jadi aku mau membantumu Sani" Samuel mengusap lembut rambutku sambil tersenyum manis kepadaku


"Auramu seperti Han ya..." gumamku pelan


"Auraku? Seperti Han? Hahaha kamu ada - ada aja"


"Aku serius, usapanmu di rambutku sama seperti usapan Han di rambutku" gumamku pelan


"Kamu kenapa terlihat bersedih?"


"Tidak apa - apa kok..."


"Ceritalah kepadaku Sani" gumam Samuel membantuku terduduk di sebelah Samuel


"Tidak ada kok"


"Ceritalah... Apa karena Han?"


"Hmmm ya, dia melakukan kesalahan dan arwahnya kembali ke tubuh aslinya jadi ya aku tidak akan bertemu dengannya kalau aku tidak bertemu dengan tubuh aslinya" gumamku pelan


"Tenang saja, ada aku... Aku akan menemanimu dan melindungimu, apalagi ini juga perintah Han, jadi aku akan melakukan yang terbaik Sani... Tenang saja"


"Hmmm baiklah..." desahku pelan.


"Mari kita ke dunia manusia Sani..." gumam Samuel menjentikkan tangannya dan kami berdua berpindah ke dunia manusia


"I... Ini dimana?" tanyaku bingung saat melihat aura jahat di sekeliling bangunan besar


"Ini di kampus, kamu lupakah?"


"Bukan... Tapi kenapa sangat berbeda" gumamku melihat sekelilingku


"Ya karena pertarungan Sony dan Sasha seperti inilah akibatnya" gumam Samuel berjalan mendahuluiku


"Kamu mau kemana?"


"Kekelas lah..."


"Tapi kan kamu masih baru disini!"


"Aku tahu tapi... kelasku bersama denganmu kok" gumam Samuel menunjukkan kertas di tangannya


"Oh begitu ya..." desahku melangkahkan kakiku kembali


"Kamu tidak senang kita sekelas?"


"Aku biasa saja kok Samuel" gumamku pelan


"Oh benarkah, kalau kamu tidak suka aku akan kembali saja"


"Aku suka kok, kamu jangan ngambek kayak gitu dong"


"Hmmm baiklah"


Aku terus berjalan menuju ke kelasku bersama dengan Samuel, dari depan kelas aku melihat sosok Han yang sedang mengajar di depan kelas yang membuatku terkejut


"Han?" gumamku terkejut


"Dia bukan Han asli, itu hanya bayangan Han yang dulu di buat Han untuk mengajar kelas ini"


"Oh... Ya aku baru ingat" desahku membuka pintu kelas dan merubah wujudku ke wujud manusia


"Maaf aku terlambat" gumamku berjalan ke kursiku


"Kamu kenapa terlambat?"


"Kamu juga tahu kan Han, tidak perlu bertanya" gumamku membuang mukaku


"Hmmm, apa kamu marah?"


"Menurutmu?"


"Hmmm..." desah Han pelan


"Oh ya katanya ada mahasiswa baru ya, pasti kamu?" gumam Han menatap Samuel


"Ya dewa..."


"Perkenalkan dirimu kepada teman - temanmu"


"Ooh.. Mmm aku Samuel, salam kenal ya..."


"Ya salam kenal juga..." ucap semua teman - temanku senang


"Baiklah Samuel kamu bisa dusuk di kursi kosong itu..."


"Terimakasih dewa..." gumam Samuel duduk di kursi milik Han, walaupun aku tahu itu kursi milik Han tapi percuma saja aku membelanya kalau aku tidak tahu dimana tubuhnya yang sebenarnya

__ADS_1


"Baiklah... Mari kita lanjutkan..." gumam Han kembali mengajarkan kami


Semua teman - temanku belajar bersungguh - sungguh sedangkan aku hanya menatap keluar jendela sambil mendengarkan apa yang di jelaskan bayangan Han itu ...


__ADS_2