Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 34 : Kerajaan Siluman Air


__ADS_3

Hujan terus mengguyur dengan lebat yang membuat kami semua terjebak di gua yang lembab ini. Aku terus terduduk di depan mulut gua dan menatap hujan yang terus mengguyur seharian


"Kamu tidak mengantuk apa seharian tidak tidur?" gumam Gio terduduk di sampingku


"Tidak, aku vampir aku bisa tidak tidur.."


"Vampir kan tidur kalau siang"


"Ya tapi aku jarang tidur" gumamku pelan


"Hmm kayak si Win dia juga tidak tidur seharian" desah Gio pelan


"Bentar lagi hujan akan berhenti, lebih baik kita siap- siap mencari petinggi sebelum petinggi itu mati"


"Apa maksudmu?" tanya Gio terkejut


"Mereka jadi tawanan dan kalau mereka tidak segera di selamatkan mereka akan dibunuh" gumamku beranjak dari tempat dudukku


"Mmm kalau benar ada kerajaan siluman air dan semua petinggi menjadi tawanan bisa jadi ucapanmu benar..." desah Gio beranjak dari tempat duduknya


"Hei mari kita segera selesaikan ini!!" teriak Gio kencang


"Bukannya di luar masih hujan?" gumam Leo menatap Gio


"Udah tidak sederas kemarin!! Kalau kita tidak segera menemukan takutnya mereka akan mati!!" teriak Gio yang membuat semua raja terkejut


"Oh benarkah? Kalau begitu kita harus cepat!!" gumam Win melangkahkan kakinya dan diikuti oleh raja lainnya


Semakin lama hujan semakin reda tapi langit hitam pekat terus menghiasi alam lain yang yang membuatku khawatir dengan alam dewa apalagi hanya Han yang ada di sana


"Sani, apa kamu khawatir?" gumam Candra menatapku


"Ya hanya Han dewa tertinggi yang ada di alam dewa, aku takut..."


"Tenang saja, setelah menyelesaikan ini kita kembali ke alam dewa"


"Oh baiklah" desahku pelan


Kami semua berjalan meninggalkan gua itu menuju ke pinggir pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh. Saat kami melangkah kaki kami ke pasir pantai, tiba - tiba muncul beberapa laki - laki menggunakan pakaian bersisik dan memegang senjata di tangannya


"Siapa kalian?" teriak salah satu laki - laki berdiri di depan kami


"Kalian siapa?" gumam Leo dingin


"Kami pengawal kerajaan siluman air dan kalian sudah menginjak wilayah kerajaan siluman air jadi kalian harus di hukum!!" teriak salah satu laki - laki dingin


"Berani - beraninya kalian ingin menghukum kami!!" teriak Win kesal


"Siapa kalian?"


"Kami raja - raja dari alam lain, kami ingin meminta petinggi kami di bebaskan!!" teriak Gio dingin


"Hahaha... Hahaha" tawa seorang laki - laki tampan berdiri di depan kami


"Raja di alam lain? Heeh kalian saja tidak bisa menggunakan kekuatan di wilayahku kok, jangan sok kuat kalian!!" gerutu laki - laki itu dingin


"Siapa namamu?" gumamku berdiri di depan laki - laki itu


"Aku Didi raja kerajaan siluman air, dan pasti kamu raja vampir senior kan?" gumam Didi menatapku dingin


"Ya aku raja vampir senior, dan ini kristal kalian kan?" gumamku menunjukkan kristal ungu di tanganku


"Kristal ungu? Jadi kalian yang mengambil kristal ungu kami!!!" teriak Didi kesal


"Mengambil? Tidak, kamu yang menjatuhkan sendiri kristalmu. Jangan salahkan orang kalau tidak tahu yang sebenarnya!!" gerutuku kesal


"Heeh kalian raja - raja lemah, gak perlu sok - sokan... Pengawal tangkap mereka!!" teriak Didi dan ratusan pengawal berlari kearah kami, aku membaca mantraku dengan cepat dan semua pengawal itu terjatuh ke tanah


"Ba... Bagaimana mungkin? Kalian tidak memiliki kekuatan" teriak Didi terkejut


"Kalian itu yang terlalu lemah" sindirku dingin


"Apa kamu bilang?" teriak Didi kesal dan menyerangku.


Aku lupa kalau aku tidak bisa melakukan apapun dengan wujudku saat ini. Didi menyerangku dengan kekuatannya tapi tiba - tiba ada yang menghalang kekuatan Didi dan membuatku terselamatkan


"Kenapa kamu menggangguku!!" protes Didi kesal


"Ini perintah dewa Samuel, kamu tidak boleh melukainya!!" protes laki - laki di depanku


"Tunggu bukannya kamu ikan - ikan itu ya?" gumamku terkejut


"Benar dewa, dewa Samuel menunggu anda di kerajaan siluman air" gumam laki - laki itu menundukkan badannya


"Tunggu? Dewa? Dia dewa?" teriak Didi terkejut


"Ya aku dewa, kenapa?" gumamku dingin


"Benarkah?" gerutu Didi sambil mengangkat alisnya


"Menurutmu" gumamku mengubah wujud dewaku


"Ma... Maafkan saya dewa, saya tidak tahu kalau anda dewa" gumam Didi membungkukkan badannya ke arahku


"Jadi ini wujud dewamu Sani?" gumam Gio menatapku

__ADS_1


"Ya..." desahku pelan


"Jadi nama anda Sani? Kakak sudah menunggu anda di kerajaan" gumam Didi menatapku serius


"Mari kami antarkan dewa" gumam laki - laki itu membaca mantra dengan pelan


"Mari silahkan masuk ke kerajaanku tuan - tuan" gumam Didi masuk ke dalam lautan


"Masuk ke laut? Apa kamu bercanda?" gumam Vin terkejut


"Tenang saja, kalian tidak akan tenggelam" gumamku melangkahkan kakiku masuk ke dalam laut


Aku mengikuti bawahan Samuel dan Didi menuju ke kerajaan siluman air, laut yang sangat bersih berbeda dengan laut yang ada di dunia manusia


"Maaf akan kelancangan saya dewa" gumam Didi pelan


"Ya tidak apa" gumamku pelan


"Dimana kerajaanmu?" tanya Tomi bingung


"Itu dibawah kerajaanku" gumam Didi menunjuk ke sebuah kerajaan di dasar laut, kerajaan yang megah dan terbuat dari kumpulan air yang padat


"Eeh tapi kenapa aku baru tahu kalau ada kerajaan siluman air ya?" gumam Win pelan


"Ya karena tempat kami jauh dari wilayah kalian dan kalian melupakan kami kaum siluman air" gumam Didi sedih


"Eeeh maaf kami tidak tahu..." gumam Candra pelan


"Ya tidak apa tuan, dengan kehadiran seluruh raja yang datang ke kerajaanku bisa membuat seluruh kaum alam lain mengetahui akan adanya siluman air" gumam Didi menapakkan kakinya ke dasar laut dan berjalan menuju ke dalam kerajaannya


"Selamat datang yang mulia" ucap seluruh bawah Didi dengan sopan


"Yang mulia, makanan sudah tersedia" gumam salah satu bawahan Didi


"Terimakasih, mmm mari semuanya silahkan masuk" gumam Didi melangkahkan kakinya memasuki kedalam kerajaan itu, di dalamnya kami melihat sebuah kerajaan yang besar dan mewah yang membuat seluruh raja bergumam di belakangku


"Didi dimana Samuel?" gumamku menatap sekitar


"Dewa Samuel ada di sebuah ruangan khusus, saya akan mengantarkan dewa ke ruangan itu" gumam laki - laki bawahan Samuel dengan sopan


"Aku ikut Sani!!" gumam Steven serius


"Mohon maaf dewa, dewa Samuel hanya ingin dewi penyeimbang yang ditemuinya"


"Huummp .." gerutu Steven kesal


"Baiklah antarkan aku ke ruangan itu" gumamku pelan


"Mari dewa" gumam laki - laki itu berjalan mendahuluiku ke sebuah pintu yang sangat besar


"Dewa Samuel ada didalam" gumam laki - laki itu menundukkan badannya


Di dalam ruangan aku melihat meja yang di penuhi dengan banyak makanan dan seorang laki - laki tampan di ujung meja itu


"Akhirnya kamu datang Sani" gumam Samuel memotong daging di piringnya


"Silahkan dewa" gumam bawahan Samuel


"Ya, apa kamu menungguku?" gumamku terduduk di kursi depanku


"Menurutmu?" gumam Samuel menatapku dingin


"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?"


"Ya kamu pasti tahu alasannya kan?"


"Apa karena Sony dan Sasha?"


"Yups betul sekali, selain itu dewa agung harus bertapa selama berabad - abad lamanya dan menyuruhku untuk menemanimu"


"Han akan bertapa? Kenapa dia harus bertapa?" tanyaku terkejut


"Alam dewa sedang kacau sekarang, dewa kehancuran berulah dan dua pasangan suami istri itu juga memperkeruh suasana, kalau dewa agung tidak bertapa maka tidak akan mungkin bisa mengatasinya walaupun kamu hebat Sani" gumam Samuel menatapku dingin


"Kalau begitu kembalikan para petinggi alam lain biar aku bisa kembali ke alam dewa" gumamku dingin


"Masalah petinggi itu urusan adikku bukan urusanku"


"Kamu kakaknya, pasti kamu..."


"Tidak, dia terlalu sakit hati karena tidak dianggap di alam lain. Sepertiku yang tidak dianggap selama di alam dewa"


"Kami menganggapmu Samuel, kami juga mengakui kalau dewa laut itu ada!!"


"Hanya beberapa yang mengakui itu selain itu tidak ada yang tahu apa itu dewa laut!!" protes Samuel dingin


"Tunggu jangan bilang kamu terhasut dewa iri dengki" gumamku terkejut, Samuel berjalan ke arahku dan mengangkat daguku tinggi


"Memang, benar kata Nia.. Kalau aku bisa menjadi kuat dan diakui seluruh dewa jika aku bisa memilikimu" gumam Samuel dingin


"Samuel kamu dewa, tidak mungkin kan kamu terhasut!!!" protesku terkejut


"Aku terhasut atau tidak bukan urusanmu Sani..."


"Bukan urusanku? Itu juga urusanku!!" protesku kesal

__ADS_1


"Urusanmu ya?" gumam Samuel menarik tanganku dan mendorong tubuhku ke dinding


"Kamu tidak perlu mengurusi urusanku, jadilah wanitaku yang penurut saja" gumam Samuel menciumku dengan lembut


"Wanitamu? Apa maksudmu?" teriakku terkejut


"Jadilah istri dewa laut Sani..."


"Istrimu? Aku sudah menikah Samuel dan kamu tahu akan hal itu!!" protesku


"Aku tidak peduli, kamu tetap milikku. Kamu harus menjadi bagian dari kami kaum laut..." gumam Samuel membaca mantra yang membut tubuhku sangat kesakitan


"Ja.... Jangan Samuel..." rintihku kesakitan


"Aku tidak peduli, kamu harus jadi milikku!!" teriak Samuel kesal


"Sa... Sakit Samuel..." rintihku kesakitan


Aku tidak tahu apa yang sedang samuel lakukan, tapi tubuhku terasa sangat sakit dan itu sangat menyakitkan. Tiba - tiba aku terkejut ada yang mendorong Samuel sampai Samuel terjatuh dan membuatku terlepas dari mantra yang menyakitkan itu


"Ibu... Ibu tidak apa - apa?" gumam Lyla dan Alan menatapku


"A.. Alan ... Lyla kenapa kalian bisa kemari?" desahku menatap Lyla dan Alan yang sangat khawatir


"Kami mengkhawatirkan ibu, ibu tidak apa - apa?" gumam Alan menatapku


"Ya, ibu tidak apa anakku" gumamku berusaha tersenyum


"Kamu tidak apa Sani?" gumam Can membantuku berdiri


"Aku tidak apa kakak..." gumamku pelan


"Kakak kenapa ada disini?" gumamku terkejut


"Dewa agung yang memintanya, dia sudah memprediksi akan hal ini. Makanya aku menemani kedua anakmu untuk menolongmu" gumam Can menatapku serius


"Samuel terkena kegelapan hati dari dewa iri dengki yang membuat dia kehilangan jati dirinya yang asli jadi tubuh dan pikirannya di kuasi kegelapan hati itu" gumam Can pelan


"Kakak bawa Lyla dan Alan pergi, dia bukan tandingannya Samuel" gumamku terkejut melihat Lyla dan Alan sedang melawan Samuel


"Tenang saja kedua anakmu dewa apalagi Alan calon dewa agung jadi dia bisa mengatasinya" gumam Can membantuku terduduk di kursi


"Tapi kakak!!"


"Tenang saja, aku jamin. Tinggal menghilangkan kegelapan hati itu saja bisa membuat Samuel tersadar kembali"


"Hmm baiklah kakak" desahku pelan


Aku menatap kedua anakku yang sedang bertarung dengan Samuel, aku tidak menyangka kedua anakku sangat hebat. Walaupun Lyla bukan anak kandungku tapi aku sudah menganggapnya anak kandungku sendiri


"Kamu menyukai Lyla?" gumam Can menatapku


"Ya, dia sangat berbakti dan penurut walaupun aku bukan orang tua kandungnya, bahkan dia tidak segan - segan membantu mengurusi Alan. Ya andaikan dia anakku" gumamku pelan


"Kalau kamu mau, kamu bisa menganggap Lyla sebagai anakmu"


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak ingin dia mengikutiku di alam lain karena akan sangat bahaya untuknya"


"Hmmm baiklah, aku akan menjaganya kak"


"Panggil aku Can saja, aku bukan kakakmu!!"


"Bodo amat, ada jiwa kakakku di tubuhmu jadi kamu tetap kakakku!!"


"Hmmm terserah lah"gerutu Can kesal


Pertarungan mereka sangat sengit dan bertahan lama, tidak lama kemudian aku melihat Alan yang menyerang Samuel dengan kekuatannya yang membuat Samuel pingsan dan terjatuh ke lantai


"Ke... Kenapa bisa?"tanyaku terkejut


"Kan sudah ku bilang anak - anakmu hebat"


"Ya kak, aku sangat bangga dengan anak - anakku" gumamku beranjak dari kursi


"Kamu mau kemana?" tanya Can terkejut


"Aku ingin melihat kondisi Samuel" gumamku berusaha berjalan menuju ke Samuel


Aku membaca mantra dan menghancurkan kegelapan hati yang ada di dalam tubuh, wajah merah Samuel berubah menjadi wajah yang sangat pucat


"Kak tolong bawa dia ke kamarnya" gumamku pelan


"Oh baiklah" desah Can membopong tubuh Samuel


"Bagaimana dengan adiknya kak?"


"Tidak tahu, pasti dia sedang di tangani dua dewa itu"


"Oh nanti aku akan melihatnya, tapi aku harus menyelamatkan Samuel terlebih dahulu. Kekuatan Alan membuatnya tidak sadarkan diri sama sekali"


"Baiklah.." desah Can pelan sambil terus berjalan ke sebuah lorong


"Dewa... Dewa kenapa?" gumam bawahannya terkejut

__ADS_1


"Dia pingsan, dimana kamarnya?"


"Kamarnya sebelah sini dewa" gumam bawahannya itu membuka pintu besar di dekat kami dan Can menidurkan Samuel di atas tempat tidurnya. Aku segera mengobatinya dan mencoba menyadarkannya, ya hanya ini yang aku mampu semoga saja Samuel terselamatkan


__ADS_2