Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 31 : Kembali Ke Kerajaan Vampir


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu setelah kabar dari tetua vampir, aku dan Lyla bersiap untuk berangkat ke kerajaan vampir. Kami berdua pergi ke kerajaan binatang untuk menemui Nana dan kembali berangkat ke kerajaan neraka


"Ibu, kerajaan neraka kenapa bisa menakutkan seperti ini?" tanya Lyla merangkulku erat


"Kamu takut?"


"Sedikit ibu..."


"Tenang saja, ada ibu disini" gumamku mengusap lembut rambutnya


"Oh ya Lyla nanti di kerajaan vampir jangan bilang aku ibu ya, panggil aku bibi"


"Kenapa?"


"Aku ingin tahu siapa ayahmu sebenarnya" bisikku pelan


"Oh baiklah ibu..." gumam Lyla tersenyum


"Kalian tidak masuk dulu?"


"Kapan - kapan saja, keburu terlambat" gumamku pelan


"Oh baiklah...Kalau ingin datang, datang saja tidak masalah"


"Iiih ogah, kerajaanmu menakutkan. Anak kecil saja takut berada disini" sindir Nana tertawa


"Kenapa kamu bawa dia Sani?" gumam Steven menatapku


"Dia ingin tahu ayahnya. Dia campuran 3 darah seperti aku, dia hanya ingin tahu ayahnya"


"Oh 3 campuran ya? Serakah banget tuh si Sasha, melakukan itu dengan tiga laki - laki" tawa Steven keras


"Kamu juga sama Steven" sindirku kesal


"Haish kamu membahasnya sih" gerutu Steven mengubah wujudnya menjadi vampir


"Wanita sampai kapanpun tetep ingat kesalahan laki - laki tahu!!" protes Nana kesal


"Haish kamu juga ikut - ikut dasar iblis!!" gerutu Steven kesal


"Dasar vampir.."


"Haish kalian berdua ini, udah ah jangan berantem mulu..." protesku kesal dan mengubah wujidku menjadi vampir


"Ka.. Kamu bertambah cantik Sani..." gumam steven menatapku tampa berkedip


"Ya benar, kenapa kamu bisa tambah cantik Sani..." gumam Nana sambil merubah wujudnya ke wujud iblis


"Aah udah ah, apa sih kalian berdua!!" gerutuku menjentikkan tanganku dan kami berdiri di depan kerajaan vampir


Aku merasa saat aku berada di kerajaan vampir ini penampilanku menjadi aneh bahkan aku memakai jubah dan mahkota milik Steven secara otomatis


"Selamat datang yang mulia" gumam seluruh vampir di depanku


"Eeh.. Mmm... I.. Iya terimakasih" gumamku terkejut tapi aku berusaha biasa saja. Di depanku terdapat seorang laki - laki yang sudah sedikit tua yang berdiri di dalam ruang tamu


"Selamat datang cucuku..." gumam tetua vampir senang


"Kakek..." gumamku berlari dan memeluk kakek


"Aah cucuku susah besar ya, apa itu anakmu?"


"Bukan kakek... Dia..."


"Dia anakku" gumam seorang laki - laki tampan berjalan di tangga


"Anakmu?" tanya kami semua terkejut


"Apa dia anakmu dengan Sani?"


"Bukan tetua.."


"Apa Kamu ayahku?" tanya Lyla terkejut


"Ya aku ayahmu nak" gumam laki - laki itu serius


"Ayaaaah... Aku sangat merindukan ayah" teriak Lyla memeluk laki - laki itu


"Aku juga sangat merindukanmu anakku" gumam laki - laki itu menggendong Lyla


"Aah sekarang kamu sebesar ini ya" gumam laki - laki itu tersenyum


"Ya ayah, bibi merawatku dengan baik..."


"Terimakasih Sani kamu bersedia merawat anakku"


"Ti... Tidak masalah, mmm ngomong - ngomong kamu siapa? Kenapa kamu tahu namaku?" tanyaku terkejut


"Aku Sain kembaranmu"


"Tunggu, Sain? Tapi kenapa kembaranku laki - laki?" tanyaku terkejut


"Suamimu memberikanku kesempatan berinkarnasi, aku kira aku akan menjadi manusia biasa tapi malah menggantikanmu di dunia vampir" gumam laki - laki itu berdiri di depanku


"Walaupun aku kembaranmu, tapi aku tetaplah laki - laki Sani dan aku bukan kembaranmu yang dulu..." gumam laki - laki itu mengangkat daguku ke atas


"Siapa namamu?"


"Aku Can Huan. Sepupu Steven Huan dan Alex Huan" gumam laki - laki itu menyentuh bibirku dengan tangannya


"Tidak aku sangka kamu sangat cantik Sani.."


"Apa sih kakak dulu juga tahu aku kok"


"Kakak? Hmmm sejak kapan aku jadi kakakmu, walaupun ada sedikit jiwaku milik kembaranmu tapi aku tetaplah Can Huan dan jiwa kembaranmu tidak bisa bangun sampai kapanpun"


"Apa karena jumlahnya kalah banyak?"


"Ya... Betul sekali, hanya kenangan dan sedikit kekuatan milik kembaranmu yang ada di dalam tubuhku selain itu tetap jiwaku yang asli yang ada. Apa kamu paham?" gumam Can mendekatkan wajahnya di wajahku


"Seharusnya kamu menikah denganku saja wanitaku" gumam Can pelan


"Dia wanitaku dan tetap wanitaku!!" protes Steven mendorong Can


"Dia wanitaku!!"

__ADS_1


"Dia wanitaku!!"


"Dia wanitaku!!"


"Hei kalian berdua selalu saja bertengkar!!" protes tetua vampir kesal


"Si Can ini loh kakek. Itulah kenapa aku tidak mau kembali ke kerajaan kakek!!" protes Steven kesal


"Ya sudah pergi sana biar Sani yang tinggal disini"


"Maaf aku tidak bisa..." gumamku pelan


"Kenapa?"


"Karena aku sudah menikah dan aku tidak bisa tinggal di kerajaan" gumamku pelan


"Menikah? Menikah dengan siapa?"


"Bibi menikah dengan dewa agung ayah" gumam Lyla menatap Can dengan tatapan polos


"Kenapa? Kenapa kamu menikah dengan dia Sani!!"


"Ya suka - suka aku lah!! Hidupku aku yang menentukan bukan kamu kok" gerutuku dingin


"Seharusnya kamu menikah dengan kaum vampir juga!!"


"Aku tahu, tapi aku tidak mau..." gumamku berjalan ke arah tetua vampir


"Kakek kenapa mencariku?" gumamku menatap tetua vampir


"Kemarilah cucuku, aku ingin berbicara tentang suatu hal" gumam tetua vampir berjalan membelakangiku


"Ajak sekalian Steven dan Nana" gumam tetua pelan


Kami mengikuti tetua vampir ke sebuah ruangan yang tersegel, ruangan yang sangat rahasia bahkan jika tidak dengan tetua vampir mungkin kami tidak bisa melihat pintu itu


"Masuklah" gumam tetua vampir memasuki ruangan rahasia itu


"Ada apa kakek?"tanyaku penasaran


"Saat ini alam lain sedang ada masalah"


"Masalah apa?" tanya terkejut


"Ada seorang laki - laki yang menguasai alam lain dan dia selalu membuat keonaran di alam lain beberapa abad ini"


"Laki - laki siapa itu?"


"Dia seorang raja peri, dia dulunya baik tapi terhasut oleh salah satu dewa jadi dia ingin menguasai dunia"


"Tunggu? Dewa? Siapa dia?" tanyaku penasaran


"Siapa lagi wanita yang suka bikin keonaran itu" gumam Steven santai


"Maksud kamu Sasha?"


"Ya siapa lagi.."


"Bukannya aku sudah menghukum dia ya?" gumamku bingung


"Haah siapa itu?" tanyaku terkejut


"Nia dewa iri dengki..."


"Nia? Hmmm aku tidak pernah mendengarnya"


"Karena dia jarang ada di alam dewa dan lebih suka di alam lain dan alam manusia. Apalagi kamu dan dewa agung dalam beberapa abad ini lebih fokus mengurusi Alan jadi kalian tidak menyadarinya Sani"


"Ohh... Mungkin saja sih" desahku pelan


"Apa hanya raja peri itu saja korbannya"


"Ya, karena kerajaan peri jarang ada yang mengakuinya itulah sebabnya dia mudah di hasut"


"Mmm bagaimana aku bisa bertemu dengan dia?" tanyaku penasaran


"Bertemu dengan siapa? tanya Steven menatapku


"Nia itulah siapa lagi.."


"Bukan raja perinya yang kamu tangani?"


"Kita harus menangani sumbernya dulu baru korbannya. Kalau tidak begitu Nia akan mencari mangsa baru"


"Coba tanyakan dewa agung..." gumam Nana menatapku


"Oh ya..." desahku menjentikkan tanganku dan muncul Han di depanku


"Ada apa memanggilku?" tanya Han yang sedang menggendong Alan


"Ibu..." teriak Alan berusaha merangkulku, aku mengambil Alan dari gendongan Han


"Apa dia anakmu cucuku?" tanya tetua vampir terkejut


"Ya kakek..."


"Sini kakek gendong cucuku..." gumam tetua ramah dan Alan langsung mengangguk senang


"Namamu siapa?"


"Alan kakek..."


"Waah Alan pasti anak yang hebat kan"


"Iya dong kakek..." gumam Alan senang


"Jangan menyusahkan ibu dan ayahmu ya..."


"Baik kakek..."


"Mari bermain dengan kakek" gumam tetua vampir berjalan menjauhi kami dan Alan hanya mengangguk senang


"Hei ada apa memanggilku?" guman Han mencubit pipiku


"Kamu tahu tentang dewa iri dengki?"

__ADS_1


"Tahu... Ada apa?"


"Bagaimana aku bisa bertemu dengan dia?"


"Kenapa kamu ingin bertemu dengan dia?"


"Karena dia menghasut raja peri yang membuat kekacauan di alam lain"


"Emang dia sering membuat kekacauan.."


"Bagaimana aku bisa bertemu dengan dia?"


"Mungkin dengan umpan"


"Umpan?"


"Ya benar..."


"Kenapa harus dengan umpan?"


"Karena dia sangat sensitif apalagi denganmu dewa penyeimbang, dia suka bersembunyi di alam manusia dan alam lain"


"Apa dia tidak akan ikut survival?"


"Dia ikut tapi ya gitu dia akan pergi tanpa jejak"


"Kenapa gak kamu musnahkan saja sekalian sih"


"Dewa iri dengki sudah seperti itu dari dulu juga, jadi percuma aja memusnahkannya sayang. Ya sama halnya dewa kehancuran, dimusnahkan bagaimanapun juga dia akan tetap menghancurkan"


"Oh... Mmm bagaimana ya?" desahku bingung


"Mending kamu mengatasi raja peri itu dulu setelah dia sadar baru dewa iri dengki yang kamu tangani" gumam Han santai


"Hmmm kakek bagaimana caraku bisa bertemu dengan raja peri itu?" gumamku menatap tetua vampir yang sedang bermain dengan Alan


"Hari ini ada pertemuan para raja, kamu datang saja dengan Steven perwakilan kerajaan vampir. Biasanya Steven juga yang mewakili kamu, steven akan memberi arahan kepadamu" gumam tetua vampir pelan


"Tapi kamu harus berhati - hati , jangan sampai terbongkar identitasmu menjadi dewa" gumam tetua vampir menatapku serius


"Kenapa kakek?"


"Karena dewa iri dengki akan datang juga"


"Oh benarkah? Mmm kakek boleh tidak aku membawa suamiku?"


"Tidak bisa, aku dewa agung dan aku bukan vampir pasti dia akan menyadarinya sayang" gumam Han menatapku


"Kalau dewa iri dengki itu tahu apa yang akan terjadi?"


"Kamu akan kehilangan jejaknya dan juga dia akan menghasut seluruh orang dengan iri dan dengki apalagi manusia lebih rentan terhasut"


"Oh baiklah, makasih sayang" gumamku pelan


"Tidak masalah sayang, hei dewa neraka kalau kamu sampai tidak melindungi istriku awas saja" gumam Han dingin


"Tidak masalah dia wanitaku dan aku bisa..." gumam Steven memandang Han dingin sedangkan Han langsung menarikku ke pelukannya


"Heeh tidak akan aku biarkan" gerutu Han kesal


"Liat saja nanti.." sindir Steven kesal


"Kamu harus hati - hati sama si dewa neraka satu ini tahu!!" protes Han menatapku


"Hmmm Han kamu suamiku jadi tenang saja ya" gumamku tersenyum


"Tapi..."


"Iya - iya sayang aku akan menjaga diriku oke.." gumamku menatap Han serius dan Han mengangguk pelan


"Oh ya kakek pertemuan itu berapa hari?"


"Pertemuan itu sekitar seminggu.."


"Seminggu ya, hmmm lama juga" desahku pelan


"Ya sudah kamu bisa pulang sayang"


"Hmmm baiklah, Alan mari pulang..."gumam Han menatap Alan yang asik bermain


"Aku ingin bermain sama kakek!"protes Alan kesal


"Tapi Alan!!"


"Udah tidak apa dia disini, kamu boleh menginap disini sampai Sani kembali. Apalagi pasti Sani akan membutuhkan bantuanmu dewa agung"


"Oh hmmm baiklah tuan"


"Jangan panggil aku tuan, panggil aku kakek saja"


"Baiklah kakek. Tapi saya tidak bisa menjadi vampir..."


"Pakai kalung ini dewa agung" gumam tetua vampir memberikan Han kalung krisral merah dan Han langsung memakainya. Tetua vampir langsung membaca mantra dan Han berubah menjadi vampir murni


"Sudah dewa agung"


"Terimakasih kakek"


"Oh ya kakek, kenapa kakek dan nenek memberiku kristal peninggalan kerajaan vampir dan iblis?" tanyaku menatap tetua vampir


"Ya biar aman saja, soalnya kerajaan siluman kristal hijaunya hampir diambil oleh seseorang"


"Seseorang siapa itu kakek?" tanyaku penasaran


"Sandy adiknya raja peri"


"Buat apa dia mengambil itu?"


"Ya untuk menguasai alam lain, jadi simpanlah baik - baik"


"Baiklah kakek, mmm aku berangkat dulu kakek, suamiku, Alan" gumamku menatap Alan


"Baik ibu, hati - hati dijalan" gumam Alan sambil bermain dengan tetua vampir


"Hmmm baiklah" desahku menjentikan tanganku dan pergi dari kerajaanku dengan Steven

__ADS_1


Aku masih bingung apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan dua orang itu


__ADS_2